Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 37. Obsesi cinta


__ADS_3

Diruangan yang berbeda, tepatnya di bawah lantai VVIP. Duduk diantara meja yang sudah dipenuhi makanan dan minuman, Yoga dengan resah menanti kehadiran Biqha. Jemarinya terus saja bermain di layar ponselnya. Berusaha melakukan panggilan video pada Biqha, namun tidak juga terjawab. Bahkan panggilan terakhirnya ditolak.


' Ditolak..? Kenapa panggilanku ditolak? Ada apa ini?'


Yoga semakin cemas. Karena sebelumnya Biqha tidak pernah melakukannya.


' Sayang... kamu sebenarnya dimana? Kenapa belum datang juga? Sudah hampir 1jam aku menunggu.....'


Yoga semakin gelisah menanti kehadiran Biqha. Yoga mencoba mengirim pesan berkali-kali pada Biqha, tapi belum juga terbaca. Membuatnya kian panik, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


' Apa mungkin papa dan Erick menghalangi Biqha untuk datang kesini? Dan sudah memberitaukan semuanya pada Biqha? Bagaimana ini?'


Yoga mengusap wajahnya kasar, dan mengacak-ngacak rambutnya.


' Aku harus memastikannya. Lebih baik aku


segera kembali ke kantor. Apapun caranya aku harus bicara dengan Biqha. '


Yoga bangkit dari duduknya, namun seketika pikirannya berubah.


' Bagaimana kalau dia sudah dijalan? Kalau dia sampai, aku tidak ada disini.... Bagaimana? Akhhh..... Kamu dimana sih sayang.... Angkat dong VC aku....!'


Lagi, Yoga bicara dengan ponselnya. Yoga mencoba kembali melakukan panggilan pada Biqha. Namun sebelum melakukannya, Yoga melihat pesannya baru saja bercentang biru. Yoga merasa sedikit lega, karena setidaknya Biqha sudah membaca pesannya. Dengan semangat dia kembali melakukan panggilan. Namun hingga nada sambung terhenti, panggilannya tetap tidak terjawab.


" Sayang... Angkat dong.....! Biar aku tau kamu dimana. Kalau perlu aku akan jemput kamu sekarang."


Yoga masih belum mau menyerah. Dia kembali melakukan panggilan video pada Biqha. Namun sedetik kemudian, pintu ruangan tersebut terbuka. Yoga merasa lega. Dengan senyum yang mengembang dia berbalik badan, ingin menyambut kekasih hatinya.


" Akhirnya kamu sampai sayang. Aku......."


Seketika senyumnya memudar, berganti dengan ekspresi keterkejutan yang tidak bisa ia tutupi.


" E.... E.... Erick....? Lo.... Disini?"


Yoga berusaha mengendalikan kegugupannya dengan mencoba berbasa-basi. Namun Erick hanya diam. Kemudian Erick melangkah masuk sembari menutup pintu ruangan tersebut. Sementara Yoga mulai kembali menduga-duga apa yang terjadi di dalam hatinya.


' Kenapa Erick bisa ada disini? Dia pasti sengaja mencariku untuk membahas apa yang sudah papa katakan padanya. Sialan.... Sekretaris itu.... Akan kupecat dia nanti. '


" Lo sengaja cari gue kesini Rick? A...Ada apa?"


Erick masih saja terdiam. Dia melihat hidangan yang ada di meja dengan tatapan sendu. Disana ada dua porsi makanan dan minuman, yang Erick tau persis hidangan itu adalah makanan favorit kedua sahabatnya. Kemudian beralih memandang Yoga dengan tatapan yang sama.


" Baiklah... langsung aja. Sebelum kesini... gue memang sengaja mau cari lo."


Ucap Erick sembari menarik salah satu kursi dan duduk disana. Yoga terpaksa mengikutinya, namun pikirannya semakin resah memikirkan keberadaan Biqha.


' Sialan ...... Gimana nih? Kalau Biqha datang bagaimana? Kenapa Erick harus mencariku sampai kesini sih? Bisa berantakan semua kalau Erick sampai ketemu Biqha disini.... Semua gara-gara sekretaris sialan itu.'


Yoga terus mengumpat kesal pada sekretarisnya di dalam hati. Sementara itu, Erick memperhatikan ekspresi kekesalan Yoga dengan menatapnya lekat. Menyadari Erick memperhatikannya, Yoga langsung merubah ekspresi dengan sedikit menarik sudut bibirnya.


" Hari ini bokap lo datang nemuin gue di kantor. Dia cerita sama gue soal kejadian semalam ...."


Yoga langsung menanggapi serius perkataan Erick, dengan menatapnya lekat. Erick pun menatap balik padanya tak kalah serius.


" Apa lo udah pikirin matang-matang semuanya Ga? Apa lo pernah berpikir, seberapa besar masalah ini akan mempengaruhi kelangsungan perusahaan keluarga lo nantinya? Ga, ini bukan main-main.... "


Yoga menarik nafas panjang demi mengendalikan emosinya yang mulai terpancing, mendengar perkataan sahabatnya.


" Dari awal gue udah peringatkan sama lo, jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk bertunangan dengan Alin. Tapi waktu itu lo dengan tegas bilang, kalo lo cinta sama dia dan yakin ingin hidup bersama Alin selamanya. Sekarang apa? "


Yoga memalingkan wajah dari Erick, karena merasa muak dengan perkataan Erick yang mulai menggurui dirinya.

__ADS_1


" Cukup Rick.... Ini masalah gue. Lo gak perlu ikut campur. Sebagaimana gue gak pernah ikut campur dengan masalah lo selama ini, gitu juga gue harap dari lo."


Erick mengernyitkan kedua alisnya, tidak percaya Yoga akan mengatakan hal seperti itu padanya.


" Gimana gue gak ikut campur, kalo kenyataannya bokap lo udah nyeret gue ke dalam masalah lo?! Bokap lo ngira.... gue yang mempengaruhi lo untuk ambil keputusan itu." jawab Erick mulai terbawa emosi.


" Ga... Dengerin gue. Pikirin lagi keputusan lo itu ! Ini gak bener Ga.... "


Erick tetap berusaha menasehati Yoga, namun Yoga justru menatap nyalang padanya.


" Mungkin menurut kalian ini gak bener. Tapi gue gak bisa menentang kata hati gue Rick. Yah..... Mungkin papa bener. Gue belajar semua ini dari lo. Sama halnya dengan lo yang lebih milih ikutin kata hati lo, daripada melanjutkan hubungan lo dengan Fey. Karena lo gak bisa cinta sama Fey, gitu juga dengan gue Rick...... Gue gak bisa lagi mencintai Alin."


" Jelas ini masalah yang berbeda. Karna apa yang gue lakukan adalah hal yang bener, yang harus gue lakukan...."


Erick terpancing emosi saat Yoga membawa-bawa masa lalunya. Matanya memerah saat dia membantah pernyataan Yoga. Namun Yoga tidak mau kalah.


" ITU MENURUT LO...... Tapi menurut yang lainnya? "


Erick terdiam, dia benar-benar tidak menyangka Yoga sahabatnya akan berkata selantang itu padanya.


" Sama aja kayak gue sekarang Rick.... Menurut kalian apa yang gue lakukan adalah salah. Tapi bagi gue... Ini adalah hal yang benar. "


Yoga menarik nafas sembari menyandarkan tubuhnya pada kursi yang dia duduki.


" Gue akui gue salah Rick.... Karna dulu gue terburu-buru mengambil keputusan. Gue salah mengartikan perasaan gue ke Alina. Gue pikir... Gue cinta sama Alin. Tapi ternyata......"


" Ternyata apa? Ternyata lo sadar kalo lo belum bisa move on dari obsesi cinta masa lalu itu... Setelah lo ketemu lagi sama Biqha, iya.....?!"


Erick langsung memotong pernyataan Yoga dan berhasil membuatnya terdiam.


" Ga... Lo gak bisa seenaknya kayak gini. "


" Terserah lo mau ngomong apa. Ini masalah gue, dan gue akan urus semuanya sendiri. Jadi lo jangan ikut campur!"


" Lo pikir Biqha akan merendahkan harga dirinya demi cinta?"


Kalimat yang Erick lontarkan, sukses membuat Yoga menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik menatap tajam pada Erick.


" Gue gak yakin akan hal itu Ga...."


Erick pun berdiri dan melangkah mendekati Yoga.


" Gue gak yakin Biqha akan tetap menerima lo setelah dia tau yang sebenarnya..... Setelah dia tau kalo lo udah bohongin dia selama ini."


Yoga terbelalak.... Matanya memerah dan mulai berlinang. Dia menjadi panik mendengar ucapan sahabatnya.


' Kenapa Erick bisa ngomong begitu? Apa papa bener-bener menemui Biqha dan bicara padanya? Atau papa memaksa Erick....' gumamnya dalam hati.


" Gue sama Biqha saling cinta Rick. Jadi please.... Gue mohon sama lo, bantu gue Rick...! Biqha gak boleh tau soal ini. Setidaknya kalo papa sampe menemuinya dan menceritakan semuanya. Lo bisa bantu gue jelasin ke Biqha, kalo gue terpaksa menerima perjodohan ini. Please Rick... Gue mohon sama lo! Gue gak bisa kehilangan Biqha lagi Rick...."


Yoga mencoba menarik rasa empati Erick, dengan memohon bantuan padanya. Namun Erick mengelengkan kepalanya lemah.


" Sory Ga.... Gue gak bisa. Gue udah ceritain semua ke Biqha. Gue udah ungkapin kebenaran yang selama ini lo tutupin dari dia."


" Apa....?"


Yoga mengernyitkan dahinya, tak percaya Erick bisa melakukannya. Sedang sedari tadi dia berpikir papanya lah yang mungkin akan melakukannya.


" Kenapa lo lakuin itu Rick? PADAHAL LO YANG PALING TAU, SEBERAPA BESAR GUE MENCINTAI BIQHA RICK..... "


Emosi Yoga kembali meledak. Erick hanya bisa memperhatikan dan menerima kemarahan sahabatnya.

__ADS_1


" Kenapa lo tega ngelakuin ini ke gue?"


Yoga merasa seperti ditikam belati dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Dia merasa Erick sudah melewati batas sebagai seorang sahabat.


" Karna apa yang lo lakuin ini gak bener Ga. Apapun alasannya dan sebesar apapun cinta lo sama Biqha, tetep aja ini salah. Karna lo udah tunangan. Dan lo gak bisa pungkiri itu....."


Erick mencoba menjelaskan dengan tegas, namun juga dengan kepala dingin pada Yoga. Mencoba membuat Yoga mengerti kalo jalan yang dia pilih itu salah.


" Lo mikir gak sih Ga... Tindakan lo ini akan membuat Biqha dalam masalah. Lo gak mikir sanksi sosial yang akan Biqha terima di kantor? Dia masuk kerja dengan rekomendasi dari lo aja, udah banyak yang menggunjing dan mencemooh dia. Apalagi kalo sampe masalah ini terungkap. Bukan hanya dikantor, bisa jadi dia akan mendapat perundungan dimana pun."


Yoga terdiam. Dia hanya bisa merenung, memikirkan kemungkinan yang dimaksud Erick.


" Alina adalah seorang public figure Ga.... Apa yang terjadi padanya akan menjadi sorotan. Dan bukan tidak mungkin jika suatu saat kehadiran Biqha di tengah-tengah kalian akan menjadi sorotan juga. Apa kamu gak kasian sama dia Ga.... Dia udah gak punya orang tua. Kepada siapa dia akan berlindung? Sementara dia juga masih harus menjadi sandaran bagi adiknya."


Yoga semakin tertunduk. Namun dengan cepat Yoga kembali mengangkat kepalanya dengan penuh keyakinan.


" Gue yang akan melindungi dia Rick....! Gue gak akan biarin siapa pun nyakitin dia. Gue akan lakuin apapun untuk Biqha."


" Dengan cara apa lo akan ngelindungi dia? Sedangkan lo aja gak tau kan apa yang akan lo lakuin setelah ini? Melindungi diri lo sendiri aja lo belum tentu bisa Ga?"


Yoga langsung menatap nyalang pada Erick. Karena merasa tersinggung dengan ucapannya.


" Apa maksud lo? Lo pikir gue gak bisa apa-apa, hah....?"


" Dengerin gue Ga.... Lebih baik lo jauhi Biqha! Jangan berkomunikasi dengannya lagi sebelum semua masalah lo selesai. Bila perlu keluarkan dia dari kantor. Atau mutasikan dia ke kantor cabang. Kalau...... "


" Cukup Rick..... CUKUP! Kalo lo gak bisa bantu gue, paling gak, lo jangan ikut campur urusan gue. Lo gak punya hak buat ngatur-ngatur gue Rick."


Erick kembali terdiam dengan ucapan Yoga. Dia sadar posisinya sekarang bukan lah siapa-siapa.


" Bukan gitu maksud gue Ga.... Dengerin gue dulu.... "


" Gak perlu.... Gue gak butuh nasehat lo. Gue bisa atasi semua ini sendiri. Sekarang lebih baik lo pergi!"


Yoga dengan tegas memerintahkan Erick untuk keluar dari ruangan tersebut. Tangannya menunjuk lurus ke arah pintu.


" Ga.... Pikirin masalah ini dengan bijak. Jangan hanya mikirin perasaan lo sendiri. Gunakan akal sehat lo Ga....."


" GUE BILANG GUE GAK BUTUH NASEHAT LO RICK. PERGI.....!"


Yoga dengan sangat lantang membantah ucapan Erick. Dia tidak bisa menerima masukan dari siapa pun sekarang. Pikirannya hanya tertuju pada Biqha yang saat ini pasti kecewa dan marah padanya.


" Ok.... Gue pergi."


Akhirnya Erick menyerah. Dia melangkah mendekati pintu, dan segera membuka pintu tersebut. Namun Erick kembali memalingkan wajah ke belakang melihat sahabatnya, sebelum dia keluar.


" Gue ingetin sekali Ga.... Kalo lo terus-terusan ngikutin obsesi cinta lo yang berlebihan itu, suatu saat obsesi lo itu bisa aja menghancurkan lo, Ga...."


Erick berlalu setelah melihat Yoga memalingkan wajah darinya setelah mendengar kata-katanya. Sedangkan Yoga yang masih merasa kesal, mencoba menenangkan diri dengan berkali-kali menarik nafas panjang untuk melegakan dadanya yang terasa sangat sesak.


Beberapa detik kemudian Yoga tersadar, kalau dia harus segera pergi mencari Biqha. Untuk menjelaskan semuanya dan meyakinkan Biqha untuk tetap disisinya.


Yoga langsung berlari keluar. Namun saat keluar dari private room yang dia pesan, Yoga melihat Erick memasuki lift. Namun lift yang dia masuki menuju lantai atas. Seketika pikiran Yoga kembali menduga-duga.


' *Kenapa dia malah menuju lantai atas? Bukannya turun dan segera keluar dari sini? Apa jangan-jangan.....'


* Minal aidin wal fa' izin.... Mohon maaf lahir dan batin ya readers.....!!!


Bener-bener mohon maaf banget....banget....banget! Karena udah kepanjangan cuti lebarannya. Maaf ya....!


Abisnya sampe akhir bulan semalam pun, masih aja harus siapin acara halal bi halal dirumah, sekaligus arisan keluarga. Capek banget, jadi gak bisa konsen buat nulis. Dari kemarin coba nulis lagi, tapi gak dapet moodnya karena badan rasanya remuk redam.

__ADS_1


Sekali lagi mohon maaf ya....!!!!


Tetep dukung aku ya....., kasih like and komennya! 💖💖💖💖*


__ADS_2