
Sejak saat itu Yoga berusaha keras memenuhi janjinya untuk tidak lagi mengusik Biqha. Bahkan sekalipun mereka tidak sengaja berpapasan di kantor, Yoga bersikap seolah tidak mengenalnya. Namun pada kenyataannya, Hati dan pikirannya masih saja terfokus pada Biqha.
Meski sudah hampir dua bulan berlalu, Yoga masih belum bisa mengubur perasaannya terhadap Biqha. Diam-diam dia masih memperhatikan dan memantau Biqha dari kejauhan. Itu sungguh membuatnya tersiksa, karna harus menahan rasa rindu dihati. Serta harus terus bersandiwara di depan semua orang, termasuk juga Biqha.
Terlebih pagi ini, hati Yoga terasa seperti terbakar melihat kebersamaan Biqha dan Fajar di lobi kantor. Saat itu Biqha nyaris jatuh karena tertabrak oleh OB, yang sedang membawa beberapa tumpukan kertas. Namun secara spontan Fajar menangkapnya, dengan melingkarkan kedua tangannya pada bahu Biqha.
" Br*ngs*k.... Bisa-bisanya dia memeluk Biqhaku. Bahkan aku sendiri belum pernah sekali pun memeluk Biqha seperti itu. "
Yoga meluapkan amarah dengan memukul meja kerjanya, begitu dia memasuki ruangannya.
" Ini gak bisa dibiarin. Si Fajar itu.... dia selalu mencari-cari kesempatan untuk bisa dekat dengan Biqha. Akan ku pecat dia, akan ku buat dia menjauh sejauh-jauhnya dari Biqha. "
Tak ingin mengulur waktu lagi, Yoga langsung meraih telphon di atas meja kerjanya. Berniat memanggil manager HRD untuk membicarakan pemutusan hubungan kerja atas Fajar. Namun tiba-tiba Yoga menghentikan jemarinya sebelum menyentuh tombol telphon.
" Tunggu dulu. Aku harus punya alasan yang tepat untuk memecatnya, kalau tidak.... Biqha akan curiga. Kalau dia tau aku melakukannya karna aku tidak ingin dia dekat-dekat dengan si fajar itu.... bisa-bisa dia marah dan mengajukan surat resign lagi. Gak....gak....gak. Aku gak mau Biqha pergi menjauh dariku. "
Yoga meletakkan kembali gagang telphon itu.
" Belum lagi aku harus menghadapi Erick. Karna memecat bawahannya tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengannya. Khaghrr ... Aku harus bagaimana sekarang?! "
Yoga mengacak-acak rambutnya dengan kasar, karena merasa sangat frustasi.
' Aku gak bisa kalo harus merelakan Biqha dekat dengan pria lain. Aku gak akan sanggup melihatnya. '
Seketika ratapan di hati Yoga yang senantiasa membuat bola matanya memerah, menjadi teralihkan karena suara ketukan pintu.
Yoga dengan cepat merapikan rambutnya, sebelum sang sekretaris masuk. Kehadiran sang sekretaris yang mulai membacakan agendanya yang padat hari ini, membuat Yoga harus mengesampingkan perasaannya.
Sekarang tiba saatnya Yoga bersiap untuk rapat bersama klien sembari makan siang. Yoga berjalan diiringi oleh sekretaris dan asprinya memasuki lift eksekutif. Saat lift terbuka di lantai dasar, mood Yoga kembali berubah ketika melihat sosok lelaki yang membuatnya terbakar cemburu.
" Kalian tunggu saya di mobil ! " perintah Yoga pada kedua bawahanya itu.
Yoga melangkahkan kakinya mengikuti langkah Fajar dan Doni yang sepertinya menuju kantin. Fajar terlihat begitu ceria dengan menyungging senyum diwajahnya, kala rekannya itu menggodanya. Rasa kesal sekaligus penasaran dengan pembicaraan mereka, membuat Yoga melangkahkan kakinya dengan cepat mendekat pada mereka tanpa mereka ketahui.
" Emang menurut lo... Biqha bakal mau nerima gue? "
DEG.....
Jantung Yoga seperti terhantam dengan kerasnya, mendengar nama Biqha disebut oleh Fajar. Seketika rahangnya mengeras dibarengi dengan kedua tangannya yang mengepal.
" Ya.... kalo lo gak bertindak, ya lo gak akan pernah tau Jar. Biqha itu bukan tipe cewek yang bisa dengan lugas mengekspresikan perasaannya. Dan gue yakin, Biqha juga pasti gak mau cari pacar, tapi carinya calon suami yang baik. Jadi kalian itu cocok. Lo juga pernah bilang kalo lo gak mau main-main pacar-pacaran lagi, melainkan cari calon istri. Klop kan...?! "
Yoga menghentikan langkahnya, karna merasa tidak sanggup lagi mendengar ocehan mereka yang membuat hati dan jiwanya seakan melepuh. Seketika Yoga berbalik arah dengan kesalnya pergi berlalu.
Sekuat tenaga Yoga berusaha berkonsentrasi pada pekerjaannya, namun pada akhirnya tetap tidak bisa. Bahkan rapat siang tadi nyaris berantakan, karna pikiran Yoga benar-benar terganggu dengan pembicaraan dua lelaki itu. Beruntung Yoga memiliki asisten dan sekretaris yang cekatan dan cukup handal. Hingga rapat itu bisa terselesaikan dengan baik.
Kini Yoga masih saja termenung, kalut memikirkan pembicaraan antara Fajar dan Doni. Dia benar-benar tidak bisa fokus bekerja, dan kehilangan semangat untuk melakukan apapun. Bahkan kepalanya terasa mulai berdenyut nyeri karena terus berpikir tanpa mendapatkan solusi sama sekali.
Yoga menyanggah kepalanya dengan kedua tangan, yang sikunya bertumpu pada meja kerjanya. Tak lama kemudian pintu ruangannya di ketuk kembali.
" Masuk....! "
Yoga memberi perintah tanpa mengubah posisi tubuhnya. Bahkan sampai sang aspri Fahmi ada dihadapannya, Yoga masih saja menelangkupkan wajah pada kedua tangannya. Karena beban yang ada di pikirannya begitu berat.
" Pak ini proposal yang akan kita ajukan pada klien baru dari singapore itu besok. Silahkan bapak periksa dulu, agar bisa kami revisi kembali bila ada yang tidak sesuai. Atau bapak ingin saya memberikannya pada pak Erick, agar beliau memeriksanya lebih dulu, seperti biasa? "
Fahmi meletakkan proposal itu diatas meja kerja tepat dihadapan Yoga, namun Yoga tetap tidak berkutik sedikit pun.
" Pak.... Anda baik-baik saja? "
Yoga dengan lemah mengangkat wajahnya, dan mengangguk pelan sembari meyandarkan tubuhnya.
__ADS_1
" Saya hanya sedikit pusing. "
" Apa perlu saya siapkan obat atau.... saya hubungi dokter? "
Yoga menggelengkan kepalanya.
" Tolong kamu minta Lisa untuk mencarikan obat pereda sakit kepala saja untuk saya ! Dan proposal ini.... Saya sendiri yang akan memeriksanya, dan saya sendiri yang akan menemui Erick untuk meminta bantuannya jika saya merasa ada yang kurang tepat. Kalian pulang lah.....! "
Yoga memerintah sang asisten untuk pulang karna waktu menunjukkan jam kantor sudah hampir usai. Setelah sang asisten berlalu, Yoga langsung menghubungi Erick untuk meminta bantuannya.
// Gimana kalo besok aja pagi-pagi gue periksa semuanya? Soalnya sekarang gue lagi buru-buru. Gue ada janji sama pemilik cafe sore ini. //
" Oh.... Lo jadi.... mau memperluas bisnis lo itu dengan buka cafe? "
// Ya... Bismillah bro.... Rencananya gue mau join dulu, sambil belajar sampe gue paham dan bisa menguasai marketnya, setelah itu baru deh.... Gue buka cafe atau restoran gue sendiri. //
" Lo memang hebat Rick. "
// Ga sory, gue harus tutup nih. Pemilik cafenya udah nelpon lagi, gue harus berangkat sekarang.//
" Ok, goodluck bro. Eh... Tunggu. Laporan keuangan untuk rapat bulanan besok harus beres dulu, jangan sampe ada kesalahan gara-gara lo sibuk ngurusin bisnis lo sendiri."
// Tenang.... semua pasti beres. Tim accounting juga akan lembur hari ini untuk menyelesaikan laporannya. Dan besok sebelum rapat dimulai gue akan pastikan semua laporan keuangan bulan ini sempurna seperti biasanya.//
Mereka pun menutup pembicaraan via telpon tersebut. Yoga kembali menyandarkan kepalanya pada kursi kebesarannya sembari memejamkan mata. Seketika Yoga kembali menegakkan tubuhnya, lalu dia menatap proposal yang ada diatas mejanya.
' tim accounting akan lembur, itu berarti Biqha juga...... dan Erick tidak ada dikantornya. Ini kesempatan untukku bisa bicara dengannya. Yah.....'
Yoga tersenyum dengan ide yang baru saja terbersit dipikirannya.
***
Pukul 19.00 WIB, Biqha masih berkutat dengan berkas-berkas keuangan dan tabel-tabel dalam layar komputernya. Sementara rekannya yang lain sudah mulai berbenah. Itu dikarenakan sebelumnya komputer Biqha mengalami kendala teknis.
Tanya Lina ketika dia sudah mendekat ke meja kerja Biqha bersama dengan Desi.
" Bhelhum mbhakh. "
" Tenang aja Bi..... kita bakal tungguin kamu kok."
Fajar pun ikut mendekat bersama Doni setelah selesai membenahi meja kerjanya.
" Sory.... gue harus duluan. Soalnya istri gue nyuruh gue cepet pulang, mertua gue dateng dari kampung. "
" Iya...... Kita juga udah ada janji nih. Sory ya Biqha....! " lanjut Desi disertai anggukan kepala dari Lina.
" Ghak phapha mbhak, mhas, Khalhihan dhulhuhan hadjha. Shayha jhugha bhenthar lhaghi shihap khok. " ( gak papa mbak, mas, Kalian duluan aja. Saya juga bentar lagi siap kok.)
" Gimana sih kalian, gak setia kawan banget. " keluh Fajar.
" Ya udah.... lo aja yang temeni Biqha sampe dia kelar Jar. Ok...?! "
Biqha melambaikan tangannya pada rekan-rekannya.
" Ghak hushah. Mhas Fhajhar jhugha khalhau mhahu dhulhuhan, dhulhuhan hajha. Ghak phapha khok. Phalhinghan shethenghah jham lhaghi shayha jhugha udhah khelhar. " ( gak usah. Mas Fajar juga kalau mau duluan, duluan aja. Gak papa kok. Palingan setengah jam lagi saya juga udah kelar. )
" Gak papa Bi.... Saya temeni kamu aja. Kalo dikerjai berdua kan bisa lebih cepet kelarnya. "
" Iya.... Serem tau Bi sendirian disini." ucap Doni menggoda Biqha sekaligus melirik Fajar sambil menaik-turunkan alisnya.
" Ya udah deh kita duluan ya....."
__ADS_1
Doni, Lina dan Desi pun berlalu. Fajar pun langsung menarik kursinya mendekat ke meja kerja Biqha. Meski Biqha merasa sedikit tidak nyaman karna harus berduaan dengan Fajar, namun Biqha tidak punya pilihan lain selain menerima bantuannya. Namun tak lama kemudian Fajar menerima telpon dari ibunya, yang memberi kabar kalau ayahnya dilarikan ke rumah sakit.
" Phapha mhas Fhajhar mhashuk rhumhah shakhit? " ( papa Mas Fajar masuk rumah sakit ?)
" iya Bi, Papa nggak sadarkan diri setelah mengeluh sakit didadanya." Jawab Fajar dengan wajah cemas.
" Yha hudhah, mhas Fhajhar dhulhuhan hajha. Khashihan mhamha mhas Fhajhar phasthi phanhik. " (Ya udah Mas Fajar duluan aja. Kasihan Mama Mas Fajar pasti panik.)
" tapi kamu gimana....?"
" Ghak phapha mhas. Phalhinghan 15 mhenhit lhaghi jhugha khelhar khok." ( Gak papa Mas. palingan 15 menit lagi juga kelar kok.)
" kamu yakin gak papa aku tinggal sendirian?"
" Hiyha ghak phapha. "
Dengan berat hati akhirnya Fajar meninggalkan Biqha sendiri dalam kantor tersebut. Meski suasana jadi sedikit menyeramkan karna keadaan yang sunyi senyap, Biqha tetap fokus melanjutkan pekerjaannya dengan tenang.
Namun beberapa saat kemudian, Biqha merasakan sentuhan di pundaknya. Seketika bulu kuduk Biqha berdiri karena pikiran aneh yang hinggap dikepalanya. Namun dengan cepat pikirannya teralih oleh sosok Yoga yang muncul disampingnya.
" Phak Yhogha? "
Biqha langsung berdiri dengan gugupnya.
" Bi.... Kamu.... lembur sendirian? "
Biqha yang masih kaget, dengan gugup menggelengkan kepalanya.
" Thi...thidhak phak. Thadhi bhershamha yhang lhain jhugha, thaphi mherhekha shemhuha shudhah shelheshai lhebhih dhulhu. Jhadhi......" ( Ti...tidak pak. Tadi bersama yang lain juga, tapi mereka semua sudah selesai lebih dulu. Jadi....)
" Mereka meninggalkanmu sendirian. Keterlaluan mereka....."
Biqha langsung mengibaskan tangannya kekanan dan kekiri, melihat ekspresi marah dari Yoga.
" Thidhak.... bhukhan bheghitu. Mherhekha phulhang lhebhih dhulhu kharnha hadha hurhushan. Hakhu jhugha shemphet dhibhanthu shamha mhas Fhajhar. Dhia bharu hajha pherghi kharnha dhaphat khabhar hayhahnyha mhashuk rhumhah shakhit. " ( tidak.... Bukan begitu. Mereka pulang lebih dulu karna ada urusan. Aku juga sempat dibantu sama mas Fajar. Dia baru aja pergi karna dapat kabar ayahnya masuk rumah sakit.)
Hati Yoga seperti ditikam belati panas, saat mendengar Biqha menyebut nama pria itu. Yoga langsung menatap lekat pada Biqha.
" Hapha yhang bhaphak lhakhukhan dhishinhi? Hapha bhaphak mhenchari phak Ehrhik? Dhia thidhak hikhut lhembhur harhi hinhi. " ( apa yang bapak lakukan disini? Apa bapak mencari pak Erick? Dia tidak ikut lembur hari ini."
" Ya aku tau. Aku kesini mencarimu Bi....."
Pernyataan Yoga seketika membuat Biqha jadi tidak nyaman. Dan Yoga paham dengan gelagat Biqha, karna itu dia langsung menunjukkan proposal yang sejak tadi dia tenteng.
" Aku butuh bantuanmu untuk merevisi proposal ini Bi..... Tadinya aku sudah bicara dengan Erick, tapi dia bilang besok pagi aja. Masalahnya tiba-tiba klien minta rapatnya dimajukan jadi jam 8 pagi. Waktunya bener-bener mepet. Aku sudah berusaha menghubungi Erick, tapi tidak dijawab. Kalo kamu gak percaya kamu bisa cek ponselku. Lihat ini....! Aku gak bohong Bi.... Aku tidak sedang mencari-cari alasan untuk bicara denganmu. "
Yoga memperlihatkan ponselnya dan menunjukkan chatnya ke Erick pada Biqha, agar Biqha yakin dia tidak hanya mencari-cari alasan. Biqha pun mengambil proposal itu dan memeriksanya. Bila mengenai pekerjaan tentu Biqha tidak bisa menolak.
" Aku harus bisa memenangkan tender ini Bi, Ini pertama kalinya perusahaan mendapat klien dari luar, jadi proyek ini sangat penting bagiku. "
" Thaphi hakhu thidhak bheghithu phaham mhengenhahi prhophoshal bhahjhet unthuk thendher. " ( tapi aku tidak begitu paham mengenai proposal budjet untuk tender.)
" Aku yakin kamu pasti bisa Bi.... Cuma kamu yang bisa mengimbangi kecerdasan Erick disini. Ini aku juga bawakan beberapa contoh proposal yang sudah direvisi dan disempurnakan oleh Erick untuk kamu pelajari. "
" Bhahiklhah.... Hakhu hakhan mhenchobha mhemphelhajharhinyha dhenghan chephat dhan mherevisinyha. Thaphi shebhahiknyha khamhu thethap chobha hubhunghi Ehrhik. Kharnha hakhu ghak yhakhin bhisha mhenyhemphurnhakhan prhophoshal ini shebhahik dhia. " ( baiklah.... Aku akan mencoba mempelajarinya dengan cepat dan merevisinya. Tapi sebaiknya kamu tetap coba hubungi Erick. Karna aku gak yakin bisa menyempurnakan proposal ini sebaik dia.)
" Kamu pasti bisa Bi.... Aku yakin banget sama kamu. "
Biqha menundukkan kepalanya, merasa sedikit kurang nyaman dengan pujian Yoga. Biqha pun segera menyelesaikan pekerjaannya. Namun kehadiran Yoga disana yang terus memandanginya membuatnya menjadi semakin tidak nyaman.
" Bhishakhah....."
__ADS_1
" Akh.... Ya.... Maaf. Aku akan menunggu diruangan Erick saja. Aku juga harus mengerjakan beberapa pekerjaan. "
Yoga pun masuk ke dalam kantor Erick. Dan Biqha pun kembali fokus melakukan tugas yang diberikan padanya.