
Hari ke dua di kantor....
Biqha bersiap memulai pekerjaannya. Tak lama kemudian Erick pun tiba di kantor, dengan raut wajah yang terlihat sedikit kurang fit. Biqha memperhatikan gerak-gerik mantan rivalnya itu dengan tatapan sedikit heran. Karena dia terlihat sedikit lesu tidak seperti kemarin.
Sementara Erick memasuki ruangannya, dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa depan meja kerjanya. Erick memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut nyeri. Meski tadi dia sudah meminum obat sakit kepala. Entah mengapa sejak bangun subuh tadi, kepalanya terasa sakit.
Apa karena semalam dia jadi telat makan malam? Atau karena kelelahan bekerja? Tadi malam dari rumah Yoga, ia menyempatkan menyambangi outletnya. Setelah itu baru kembali ke apartemen. Sampai di apartemennya, dia memasak mie instan untuk makan malamnya. Karena merasa tidak berselera makan.
Setelah itu dia masih melanjutkan pekerjaannya, juga memeriksa laporan penjualan dari beberapa outlet miliknya. Dan mengurus anggaran belanja bahan-bahan yang akan ia serahkan pada Neta.
Hingga tengah malam, Erick baru menyelesaikan pekerjaannya. Dan subuh tadi saat terbangun ia merasa kepalanya terasa berat dan sedikit pusing. Sampai sekarang rasa sakit di kepalanya belum juga reda, bahkan setelah meminum obat pun rasa sakitnya masih terasa.
Erick memijit-mijit kepalanya juga bagian belakang lehernya. Berusaha meredakan rasa sakit di kepalanya. Saat ia merasa tidak tahan lagi, ia memutuskan untuk menelepon pantry. Mencoba meminta bantuan OG atau OB untuk membelikan sesuatu yang bisa menghangatkan kepala dan lehernya.
Namun saat Erick hendak mengambil telpon kantor di atas meja kerjanya. Tiba-tiba ia teringat pada Biqha, yang dulu punya kebiasaan selalu membawa minyak kayu putih di dalam tasnya.
Biqha memang berbeda dari cewek-cewek lain di sekolah dulu. Kalau teman-teman cewek di sekolahnya dulu suka membawa parfum, bedak dan juga liptint, dia malah selalu membawa minyak kayu putih di dalam tasnya.
Itu Erick ketahui karena setiap ada teman yang sedang sakit, Biqha selalu berusaha membantu dengan memberi minyak kayu putih yang selalu dia bawa. Hal itu juga yang membuatnya dulu suka meledek Biqha dengan sebutan bayi kolot.
Erick berpikir daripada dia meminta tolong pada OB akan lebih cepat kalau dia meminta bantuan pada Biqha. Siapa tau Biqha masih melakukan kebiasaan lamanya itu.
Erick pun keluar dan menghampiri meja kerja Biqha. Lalu ia menjentikkan jari di depan wajah Biqha, agar Biqha mengalihkan padangan ke arahnya. Sebab sedari tadi Biqha fokus pada pekerjaannya dan tidak menyadari saat Erick menghampirinya.
" Bisa bantu saya sebentar? "
Tanya Erick pada Biqha, yang membuat karyawan lain juga memperhatikan mereka. Biqha menaikkan alisnya, memandang Erick penuh tanya. Namun sedetik kemudian dia menganggukkan kepalanya.
" Ikut saya ke ruangan sebentar...! "
Perintah Erick kemudian berbalik arah kembali masuk kedalam ruangannya. Dan Biqha pun mengikutinya masuk ke dalam ruangan managernya itu.
Setelah mereka berada di dalam ruangan, Erick langsung duduk di sofa dan Biqha berdiri di sampingnya.
" Biqha... Lo masih suka bawa minyak kayu putih gak sekarang? "
Tanya Erick to the poin dengan bahasa yang tidak lagi formal, seperti tadi saat di depan banyak karyawan lain. Karna Biqha adalah teman lamanya, jadi Erick merasa tidak perlu menggunakan bahasa formal pada Biqha jika mereka sedang berdua.
Biqha menaikkan alisnya lagi, dengan mata terbelalak. Bingung dengan maksud dari pertanyaan Erick.
" Kepala gue pusing banget Bi.... Gak tau kenapa? Padahal udah minum obat, tapi belum reda juga. " Jelas Erick pada Biqha.
" Dulu.... Lo kan suka tuh bawa minyak kayu putih waktu sekolah, sekarang masih gak? Kalau masih, boleh bagi gue dikit dong! Kepala gue pusing banget Bi.... "
Sambungnya lagi sambil kembali memijit-mijit kepalanya.
' Kirain butuh bantuan apa? Gak taunya cuma mau minta minyak kayu putih doang. Kenapa gak langsung bilang aja dari tadi? Pasti karena gengsi depan karyawan yang lain. '
Gumam Biqha dalam hatinya. Namun dia juga tidak tega melihat Erick yang terlihat menahan rasa sakitnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Biqha langsung berbalik keluar. Mengambil minyak kayu putih yang ada di dalam tasnya. Lalu kembali masuk ke dalam ruangan Erick. Tanpa dia sadari gerak-geriknya mencuri perhatian karyawan lainnya.
" Des.... Lo liat gak tadi si Biqha ngambil apa di tasnya? "
Tanya Lina dengan suara setengah berbisik pada Desi, rekan kerja sekaligus rekannya bergosip di divisi ini.
" Iya gue liat. Minyak kayu putih kayaknya. Ngapain ya dia bawa minyak kayu putih ke dalam ruangan pak Erick? Jangan bilang dia mau mijitin pak Erick.... Soalnya pak Erick keliatan gak fit kayaknya hari ini. "
Ucap Desi mulai menduga-duga. Seketika langsung dibantah oleh Lina.
" Sembarangan lo Des. Ya kali pak bos ganteng mau di pijitin sama si Biqha itu." Jawab Lina dengan ketus.
__ADS_1
" Terus ngapain dia bawa itu ke dalam?"
" Mana gue tau. " Jawab Lina lagi.
" Eh... Lin, jangan-jangan pak Erick punya hubungan lagi sama si Biqha? " Ucap Desi semakin menduga-duga.
" No way.... "
Jawab Lina cepat dengan ekspresi garangnya, seolah tidak terima dengan apa yang dikatakan Desi.
Tiba-tiba bu Diana juga keluar dari ruangannya dan mencari Biqha.
" Nabiqha kemana? " Tanya bu Diana pada karyawan yang lain.
" Di ruangan pak Erick, bu. "Jawab beberapa karyawan nyaris bersamaan.
" Di ruangan pak Erick? " Tanya bu Diana lagi karena merasa heran.
" Iya bu..... Tadi pak Erick memanggilnya. "
Jawab Fajar rekan yang posisi meja kerjanya tepat di hadapan Biqha. Mencoba menjelaskan kepada bu Diana.
" Oh..... Nanti kalau dia sudah keluar, suruh dia ke ruangan saya ya....! "
Perintah bu Diana.
" Baik bu..." Jawab Fajar lagi.
Di dalam ruangan Erick, Biqha langsung memberikan minyak kayu putihnya pada managernya itu. Erick pun langsung mengambilnya dan menggosokkan minyak itu di dahi bagian samping kanan dan kiri ujung alisnya. Erick juga menggosoknya di bagian belakang leher nya.
" Thank U....."
Erick mengembalikan minyak kayu putih itu kepada Biqha, namun Biqha tidak menerimanya.
" Ok. Gue pinjem dulu ya....! Thank's Bi....."
Ucap Erick kemudian melangkah ke meja kerjanya dan mendudukkan tubuhnya di sana.
" Mhashih hadha yhang pherlhu dhi bhanthu lhaghi phak? "
( Masih ada yang perlu di bantu lagi pak? )
Tanya Biqha dengan sikap canggung dan formalnya pada sang manager. Membuat Erick sedikit menarik sudut bibirnya, tersenyum lucu.
" Gak perlu terlalu formal lah kalau lagi gak ada yang lain. Aneh rasanya dipanggil pak sama temen sendiri. "
Erick menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, karena masih merasa kepalanya sedikit berat.
" Hinnih khan mhashih jham khanthor dhan khammuh hathashan dhi shinnih. Mhashakh mhahu phangghil nhammhah hadjhah...." ( Inikan masih jam kantor dan kamu atasan di sini. Masa mau panggil nama aja.... )
Jelas Biqha yang sebenarnya juga merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
" Ya... Yaa...... Terserah. Lo boleh balik sekarang. "
Mendapat perintah seperti itu, Biqha pun bergegas keluar.
Sampai di meja kerjanya, Biqha langsung melihat notes yang tertempel di meja kerjanya. Biqha mengambil dan membacanya.
Nabiqha, tadi kamu dicari bu Diana dan di minta ke ruangannya.
Fajar.
__ADS_1
Biqha pun beralih ke arah rekannya yang bernama Fajar. Melihat Fajar tersenyum padanya, Biqha pun membalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya.
" Mhakhashih.... "
Dari kejauhan Biqha mengucapkan terima kasih tanpa mengeluarkan suara, sembari sedikit menundukkan kepalanya. Kemudian Fajar membalas dengan menggunakan bahasa isyarat yang mengatakan 'sama-sama'.
Biqha pun terkejut sekaligus senang mendapati kenyataan, bahwa ada seorang rekan di divisinya yang memahami SIBI (sistem bahasa isyarat indonesia). Begitu pun dengan rekan yang lainnya, sepertinya juga sangat terkejut melihat Fajar menggunakan bahasa isyarat.
Biqha pun menghampirinya....
" Khamuh bhishah bhahasha isharhat? "
( Kamu bisa bahasa isyarat?)
Tanya Biqha karena merasa takjub, melihat rekan dihadapannya tadi menggunakan bahasa isyarat.
" Tidak terlalu.... Hanya paham beberapa isyarat saja. Karna aku punya tante yang sama sepertimu juga. "
Jelasnya pada Biqha. Biqha pun manggut-manggut mendengar penjelasannya.
" Sudah sana.... temui bu Diana! Kalau terlalu lama menunggu dia bisa marah. " Sambungnya.
Biqha menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Sebelum dia berbalik dan berlalu, tak lupa ia mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Fajar.
****
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan yang diberikan bu Diana padanya hari ini, Biqha kembali dibuat penasaran dengan sebuah laporan keuangan yang baru saja dia revisi. Di sana tertulis nama manager keuangannya atas nama ' Ericko Ardiansyah '
Biqha bahkan sampai memastikan pada bu Diana, bahwa Ericko Ardiansyah itu adalah benar manager yang sedang menjabat saat ini. Biqha benar-benar dibuat penasaran karnanya. Sebab, yang dia tau nama lengkap Erick adalah Ericko Danuatmadja.
Kenapa sekarang berubah menjadi Ericko Ardiansyah? Kenapa Erick mengubah namanya? Kenapa Erick tidak bekerja di perusahaan keluarganya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus muncul dalam benak Biqha.
Biqha jadi teringat kembali obrolannya bersama Yoga tadi malam. Saat dia menemani Yoga makan malam di sebuah cafe. Ketika itu Biqha yang masih penasaran, bertanya pada Yoga tentang alasan mengapa Erick bisa bekerja di perusahaan miliknya.
" Iya... itu memeng bener sih Bi. Kurang lebih setahun lalu, manager keuangan di perusahaanku sebelumnya terbukti melakukan kecurangan dan penggelapan dana perusahaan. Karena ulahnya itu, perusahaanku sempat mengalami sedikit guncangan. Karna itu aku meminta bantuan Erick. Dan kebetulan Erick juga saat itu belum mendapat pekerjaan baru. Jadi sekalian saja aku minta dia secara pribadi, untuk menempati posisi manager keuangan di perusahaanku. Karna situasinya juga mendesak saat itu. Dan aku rasa akan lebih baik, kalau posisi itu di tempati oleh orang yang bisa ku percaya seperti Erick. Dengan kecerdasannya dan juga pengalamannya dalam berbisnis dengan pengusaha-pengusaha hebat lainnya di negeri ini, jelas aku sangat membutuhkannya untuk memajukan perusahaan keluargaku."
Jelas Yoga saat itu yang masih Biqha ingat dengan mendetail.
" Bahkan sebenarnya dibanding manager, Erick itu sudah seperti wakilku di kantor. Gak jarang dia yang aku utus untuk menghadapi klien-klien besar. Kamu taulah Bi...... otakku tidak secerdas kalian. Jadi.... Aku butuh banyak belajar berbisnis darinya. "
Biqha sempat menanyakan pada Yoga, kenapa Erick tidak bekerja di perusahaan keluarganya sendiri? Tapi Yoga enggan menjawabnya.
" Kenapa kita jadi ngomongin Erick terus sih? Kenapa kita gak ngomongin tentang kita aja?" Dalih Yoga pada saat itu.
Biqha juga sebenarnya tidak mau membicarakan tentang Erick, tapi entah kenapa dia merasa sangat penasaran. Karena baginya ini cukup aneh. Mengingat Erick adalah putra dari keluarga kaya raya. Ditambah lagi kenyataan yang baru saja dia ketahui bahwa Erick telah mengganti nama belakangnya.
' Apa keluarga Erick benar-benar bangkrut ya? Tapi kenapa sampe ganti nama belakang segala sih? Apa keluarganya terlibat masalah? "
Biqha masih saja bertanya-tanya dalam hatinya.
' Duh...... Kenapa aku jadi kepo gini sama masalah orang sih? Tapi seandainya memang bener keluarganya bangkrut....... Kasian juga. Salut juga sama si Erick. Dia bisa survive walau dalam keadaan terpuruk sekalipun. Tapi memang dari dulu, dia juga gak begitu suka menyombongkan dan memamerkan kekayaan keluarganya sih.'
Walau bagi Biqha, Erick sering bersikap menyebalkan terhadapnya tapi Biqha juga gak memungkiri kalau sesungguhnya Erick itu baik dan gak sombong meski dia terlahir dari keluarga kaya.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba pundak Biqha di tepuk pelan oleh seseorang. Biqha pun tersadar dari lamunannya dan beralih pada seseorang yang menepuk pundaknya.
" Kenapa ngelamun? Udah waktunya makan siang nih.... Mau makan siang bareng kita gak? "
Ternyata orang yang menepuk pundaknya itu adalah Fajar. Yang kemudian di susul rekan yang lain di belakangnya, Doni, Lina dan Desi, mengajaknya makan siang bersama.
Biqha cukup terkejut melihat duo bigos itu juga bergabung mengajaknya makan siang bersama. Tapi Biqha tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Berharap setelah saling mengenal, penilaian mereka tentangnya akan berubah lebih baik. Seperti pribahasa mengatakan
__ADS_1
' Tak kenal maka Tak Sayang '
Biqha berharap semoga setelah saling mengenal secara pribadi, mereka bisa menjalin persahabatan dengan baik.