Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 60. Pelangi setelah hujan


__ADS_3

Di dalam apartemen yang sangat nyaman, Yoga terbangun dengan senyum yang merekah, mendapati wanita yang dia cintai tidur dalam dekapannya. Merasakan hangat pelukan dan lembut kulitnya membuat perasaan Yoga sangat bahagia, hingga rasa sakit di kepalanya akibat mabuk itu tak dirasakannya.


" Ini bukan mimpi..... Kau nyata ada disisiku saat ini. "


Yoga membelai lembut rambut hitam Biqha yang terurai berantakan di dadanya. Posisinya yang tertidur di atas dada Yoga, membuat Yoga tidak bisa melihat wajahnya. Hanya rambut hitam yang sedikit berantakan yang terlihat oleh Yoga. Namun itu pun cukup membuat perasaannya kembali menggelora. Dipeluknya erat tubuh yang masih polos itu di dalam selimut, sambil kembali memejamkan mata.


Diciumnya kepala Biqha dan dihirupnya dalam-dalam aroma harum dirambutnya. Membuat anggota tubuh bagian bawah Yoga yang sejak tadi sudah berdiri tegak semakin mengeras, karna terpancing gairah.


" Aku mencintaimu sayang..... Aku sangat mencintaimu......"


" ekhmmmm........"


Biqha mulai mengeliat, terbangun karna dekapan erat Yoga.


" Selamat pagi sayang...... I love You. "


Ucap Yoga mesra menyambut wanita pujaan hatinya itu, kala wanita itu mulai mengangkat wajahnya ke atas.


" Love you too honey....."


Seketika mata Yoga melotot saat wajah yang masih memejamkan mata itu, terpampang di depan matanya dengan jarak yang sangat dekat. Seketika setelah tersadar wanita yang di dekapnya bukanlah Biqha. Yoga langsung menghempaskan tubuhnya dan bangun dari posisi tidurnya.


" A.... Alin. Kau...... Kenapa kau.....? Bagaimana bisa....? "


Yoga sangat shok dan menjadi panik seketika, dengan memegangi kepalanya yang kini terasa seperti ditusuk-tusuk belati yang sangat tajam. Dadanya terasa sesak karna tidak mampu menerima kenyataan di depan matanya.


" Kenapa sayang.....? "


Alina pun ikut terbangun dengan tubuh bagian atasnya yang terbuka, karna selimut yang dipakainya melorot ke bawah saat dia bangun. Hingga buk*t k*mbarnya terekspose nyata dengan bercak peninggalan dari Yoga di sekitarnya.


" Kamu kenapa? Kepala kamu sakit ya....? "


Alina berusaha ingin membantu memijat kepala Yoga, namun Yoga menangkis tangannya.


Belum selesai keterkejutannya mendapati Alina lah yang menghabiskan malam bersamanya bukan Biqha, Yoga kembali dikejutkan dengan suara pintu kamar yang tiba-tiba terbuka.


Tak hanya Yoga, Alina pun sangat terkejut, hingga refleks menarik selimut menutupi dadanya.


" Alin..... Yoga..... Kalian......"


" Mami...... Apa yang mami....."


Yoga tidak bisa berkata apapun sama sekali. Bahkan dia merasa sangat sulit bernafas saat ini.


" Cepat bersihkan tubuh kalian ! Mami tunggu diluar. "


Mami Alina pun menutup pintunya kembali. Sementara Yoga langsung menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Sangking shoknya, otak Yoga rasanya begitu sulit mencerna apa yang terjadi.


" Sayang....."


Alina berusaha menenangkannya dengan menyentuh lembut pundak Yoga. Namun bukanya tenang, Yoga justru merasa jijik dan menjadi emosi. Yoga menghempaskan tangan Alina dari pundaknya. Lalu menarik selimut dengan sangat kasar, untuk menutupi tubuhnya dan segera melangkah cepat ke arah toilet di kamar itu.


Sampai di dalam Toilet, Yoga langsung membanting selimut yang menutupi tubuhnya ke lantai.


' Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana bisa Alin yang bersamaku bukan Biqha? Tidak..... Ini salah. Ini tidak seharusnya terjadi.....'


Yoga berteriak di dalam hatinya sembari mondar-mandir dengan sangat gelisah.

__ADS_1


" AKHGGGRRRHHHHHH "


Yoga berteriak meluapkan amarahnya dan memukul dinding dengan sangat keras.


" Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang harus kulakukan sekarang? "


Yoga terduduk lemah diatas lantai, tubuh polosnya yang menyentuh langsung ubin toilet itu, bahkan tidak bisa merasakan dingin sama sekali karna pikirannya yang teramat kacau.


" Aku seharusnya mempertanggungjawabkan perbuatanku pada Biqha dan menikahinya. Kenapa sekarang aku justru malah terjebak dengan Alin? Kenapa ini bisa terjadi? Aku sangat yakin tadi malam itu Biqha.... Kenapa.....? "


Yoga terus memegangi kepalanya dan *******-***** rambutnya dengan kuat. Diiringi dengan airmatanya yang luruh membasahi pipinya. Perlahan otaknya mulai berpikir dengan keras dan mengingat serta mengulur setiap kejadian semalam.


Dimulai dari tindakan bejatnya terhadap Biqha, yang berakhir terkaparnya ia karna amukan Erick. Kemudian dua orang security datang membantunya dan membawanya kerumah sakit.


Setelah mendapat perawatan, Yoga justru kembali ke kantor menemui dua orang security tersebut. Mengancam mereka dan memberikan sejumlah uang yang sangat besar bagi mereka untuk tutup mulut.


Dan setelah itu, Yoga pergi ke club malam, karna suasana hatinya jadi kacau balau. Karna rencananya yang terbersit secara spontan itu, gagal dia eksekusi dengan baik karna kemunculan Erick.


Disana dia minum sebanyak-banyaknya demi menghilangkan rasa sakit dibadannya, dipikirannya dan dihatinya. Membayangkan Biqha akan membencinya dan meninggalnya, membuatnya prustasi. Namun Yoga bertekad akan memohon ampunan Biqha dan mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan segera menikahinya.


Setelah itu Yoga tidak tau apa yang terjadi. Tapi samar-samar dia mengingat ada seorang wanita dengan rambut yang terikat asal sedikit berantakan memapahnya, dan dia mengira itu adalah Biqha.


" Bodoh..... Bagaimana bisa aku berpikir itu Biqha. Biqha tidak mungkin ada di club. Biqha tidak akan pernah melangkahkan kakinya ke tempat terkutuk seperti itu. Bodoh..... Bodoh...... Bodoh......"


Yoga memukuli kepalanya berulang kali dengan terisak, menyesali kekeliruannya yang berakibat sangat fatal. Dan lebih parahnya lagi, apa yang telah terjadi ini juga sudah diketahui orang tua Alina. Tamatlah sudah. Yoga tidak akan bisa lari lagi dari Alina.


****


Siang hari yang cerah, Erick, Rendra dan Biqha berada di dalam mobil dengan wajah mendung. Setelah baru saja mereka keluar dari kantor polisi, untuk membuat laporan atas tindak pelecehan yang dilakukan Yoga terhadap Biqha.


Erick dan Rendra merasa terpukul, mendengar Biqha menceritakan kronologi dari tragedi yang menimpanya di depan polisi dengan berurai airmata. Terlebih Rendra, dia juga tak henti menangis dan juga kembali terbakar amarah mengetahui semua kejadian itu secara keseluruhan. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Didalam mobil, Erick menyetir sembari sesekali memandang Biqha yang terus menundukkan kepalanya di belakang melalui center mirror. Meski airmatanya tak lagi menetes, namun kesedihan masih terpancar jelas di wajahnya. Bukan hanya itu, ada kemarahan dan kebencian yang terpendam dalam sorot matanya.


Erick kembali teringat pembicaraannya dengan Biqha saat di rumah sakit pagi tadi. Meski dengan tatapan yang menunduk dan berlinang airmata, sorot mata Biqha tajam menyiratkan amarah dan kebencian mendalam saat menyampaikan keputusannya.


" Dhia harhus mhempherthangghungjhawhabkhan pherbhuhathannyha phadhakhu. Hakhu inghin dhia mhendhaphat ghanjharhan yhang shethimphal hathas pherbhuhathan khejhinyha therhadhapkhu. Dhia harhus dhihukhum ! Hakhu inghin dhia dhihukhum Rhik......."


( Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya padaku. Aku ingin dia mendapat ganjaran yang setimpal atas perbuatan kejinya terhadapku. Dia harus dihukum ! Aku ingin dia dihukum Rick......)


" Apa lo yakin Bi....? Dengar...... Kalo lo mau, gue bisa coba bicara dengan Yoga dan keluarganya. Gue akan coba sebaik mungkin untuk menyelesaikan masalah ini dengan......."


Sorot mata yang berkaca-kaca itu langsung menatap tajam ke arah Erick, hingga Erick terdiam seketika. Meski dulu mereka sering bertengkar, dan sering kali Biqha menatapnya tajam karna kesal dan marah. Namun Erick merasa tatapan Biqha kali ini jauh berbeda. Tatapan kemarahannya terasa begitu menusuk hingga ke relung hatinya.


" Ghak..... Dhia bhukhan lhaghi Yhogha yhang khukhenhal dhulhu. Dhia shudhah bherhubhah mhenjhadhi hiblhis. Hakhu ghak hakhan phernhah mhemhahafkhanyha Rhik..... Hakhu ghak hakhan phernhah bhisha mhemhahafkhannyha......."


( Gak..... Dia bukan lagi Yoga yang kukenal dulu. Dia sudah berubah menjadi iblis. Aku gak akan pernah memaafkannya Rick.... Aku gak akan pernah bisa memaafkannya.....)


Biqha dengan tegas membantah Erick dengan deraian airmatanya.


" Please, Jangan salah paham dulu Bi..... Gue cuma gak mau lo semakin terluka nantinya. Jalan yang akan lo tempuh ini gak akan mudah Bi......"


" Shebherhapha phun shulhitnyha hakhan hakhu jhalhanhi. Kharnha hakhu yhakhin hakhu bhenhar. Hakhu bhenhar khan Rhik.....? Hakhu bhenhar khan? " ( Seberapa pun sulitnya akan aku jalani. Karna aku yakin aku benar. Aku benar kan Rick......? Aku benar kan?)


Melihat deraian airmata Biqha, membuat Erick tak bisa berkata-kata. Erick terdiam menatap pilu gadis malang itu.


" Khenhapha khamhu dhiham Rhik? Bhukhankhah thadhi khamhu bhilhang khamhu hakhan hadha dhi shishikhu? Khamhu hakhan mhendhukhungkhu? Hapha hithu hanyha shekhedhar khatha-khatha phenghibhur? " ( kenapa kamu diam Rick? Bukankah tadi kamu bilang kamu akan ada di sisiku? Kami akan mendukungku? Apa itu hanya sekedar kata-kata penghibur? )

__ADS_1


Erick menggelengkan kepalanya.


" Gak.... Lo bener Bi. Dan gue akan dukung lo. Gue pasti akan ada di sisi lo. Gue janji.... Gue akan selalu ada disisi lo. "


" Therhimha khashih......."


Mata Erick kembali berkaca-kaca, mengingat ucapan terima kasih dari Biqha dengan tangis pilunya yang menyayat hati.


Erick kembali mencoba fokus pada jalanan di depannya. Namun sesekali fokusnya kembali teralih pada pria muda yang ada di sampingnya, yang sedari tadi diam membisu dengan tatapan kosong ke arah samping.


Kekosongan ini membuat Erick terkenang keceriaan mereka dulu. Merindukan suasana hangat yang selalu dia lihat diantara mereka. Bahkan terakhir kali mereka berkumpul bersama beberapa bulan lalu, keceriaan pria muda itu masih jelas dalam ingatan Erick. Kini keceriaan itu telah menghilang.


Mobil Erick kembali terparkir di area parkir rumah sakit. Mereka harus kembali ke rumah sakit, karna Biqha harus menjalani proses visum untuk melengkapi bukti yang bisa menguatkan tuntutan hukumnya terhadap Yoga. Setelah menyerahkan pakaian Biqha sebelumnya sebagai bukti, kini dia juga harus melengkapi bukti lainnya melalui visum.


" Ayo..... Gue antar lo pulang. "


Ucap Erick begitu Biqha menyelesaikan proses panjang yang dia jalani dan pastinya sangat melelahkan itu.


" Ghak hushah Rhik..... Hakhu bhisha phulhang bharheng Rhendrha. Khamhu ghak pherlhu rhephot-rhephot lhaghi hanthar hakhu phulhang. Therhimha khashih hunthuk sheghalhanyha......" ( gak usah Rick..... Aku bisa pulang bareng Rendra. Kamu gak perlu repot-repot lagi antar aku pulang. Terima kasih untuk segalanya......)


" Tapi Bi..... Kondisi lo masih lemah. Dokter juga menyarankan supaya lo dirawat semalam lagi disini. Tapi lo bersikeras ingin pulang karna ingin segera membuat laporan ke kantor polisi. Lo pasti lelah setelah menjalani proses yang panjang hari ini kan..... Ini juga udah menjelang sore Bi.... lo juga belum makan siang. Bahkan lo gak menghabiskan sarapan lo tadi pagi. Akan lebih aman kalo lo pulang bareng gue naik mobil. "


" Iya mbak...... Kak Erick bener. Mbak masih lemah juga masih pucat. Lebih baik mbak pulang naik mobilnya kak Erick aja, jadi mbak bisa sandaran dan beristirahat di dalam mobil kak Erick. Rendra akan sekalian beli makanan untuk kita nanti. Mbak mau makan apa? "


Biqha hanya menggelengkan kepalanya pelan.


" Mbhak ghak lhapher Rhen....."


" Tapi lo harus makan ! Kalo gak lo bisa sakit. Maag lo bisa kambuh. Dan lo gak akan punya tenaga untuk menjalani proses selanjutnya nanti. "


Tak mau berdebat lebih lama lagi, Biqha mengikuti kemauan kedua pria yang mencemaskan keadaanya itu.


Di dalam perjalanan pulang, Erick dan Biqha saling membisu. Erick fokus mengemudi, sementara Biqha hanya menatap kosong kesisi kiri tubuhnya. Hingga mobil Erick berhenti di depan gang kontrakan Biqha, baru Biqha membuka suara sebelum turun dari mobil.


" Therhimha khashih.... dhan mhahaf shudhah mherhephotkan. " ( terima kasih.... dan maaf sudah merepotkan.)


" Gue gak ngerasa direpotin sama sekali Bi....."


" Thaphi thethep hajha hakhu harhus bhertherhimha khashih. Khamhu shudhah bhelha-bhelhahin ghak kherjha dhemhi mhembhanthukhu. Phadhahal harhi hinhi hadha rhaphat bhulhanhan dhi khanthor. Bhu Dhihanha phasthi shanghat kherhephothan ghak hadha khamhu. " ( Tapi tetep aja aku harus berterima kasih. Kamu sudah bela-belain gak kerja demi membantuku. Padahal hari ini ada rapat bulanan di kantor. Bu Diana pasti sangat kerepotan gak ada kamu.)


Erick terdiam sejenak, setelah itu dia tersenyum miris.


" Udah gue putusin. Gue akan resign dari kantor Bi....."


Seketika Biqha menatap Erick. Dia tidak menyangka Erick akan mengambil keputusan itu.


" Gue gak mungkin tetep kerja dibawah pimpinan orang yang udah menyakiti lo Bi. Lagipula..... kalo gue gak resign, gue juga pasti akan di pecat setelah mereka tau gue jadi saksi yang memberatkan pimpinan perusahaan. "


Biqha menunduk dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.


" Mhahaf...... "


" Kenapa lo minta maaf? Ayolah Bi...... Maaf, terima kasih..... Maaf, terima kasih. Mau berapa kali lo ucapin dua kata itu ke gue hari ini? Lo kayak bukan diri lo jadinya Bi....."


Erick mencoba mencairkan suasana dengan sedikit bercanda pada Biqha. Namun Biqha justru menatapnya dengan semakin berkaca-kaca. Biqha merasa bersalah karna harus menjerumuskan Erick ke dalam masalahnya. Padahal Erick sudah menyelamatkannya, tapi dia justru memberikan masalah bagi Erick.


Dia sama sekali tidak menyangka, seseorang yang sebelumnya tidak dia sukai dan selalu dianggapnya rival yang menyebalkan, justru telah menyelamatkannya. Bahkan rela mengorbankan banyak hal demi membantunya. Sedangkan seseorang yang dia anggap lebih baik dan sempat dia kagumi, justru kini menghancurkan hidupnya.

__ADS_1


" Jangan menangis Bi...... pasti akan ada pelangi setelah hujan. Lo harus yakin itu. "


__ADS_2