
Pagi ini sesampainya di kantor. Seperti biasa sebelum jam kantor di mulai, Biqha akan ke pantry untuk membuat teh hangat. Perlahan Biqha melangkahkan kakinya menuju pantry. Saat dia sampai di ambang pintu ruangan tersebut, Biqha melihat ada dua orang karyawati dari divisi keuangan sedang sarapan.
Saat ingin melangkahkan kakinya masuk. Tiba-tiba Biqha urung melakukannya, karena melihat gerak bibir mereka terbaca sedang membicarakannya. Meski hanya melihat dari arah samping, tapi jelas terbaca di matanya mereka membicarakan dirinya yang baru saja resmi menjadi karyawan tetap di kantor.
Sebenarnya Biqha sudah tidak heran lagi dengan hal tersebut, karena ini bukan pertama kalinya dia melihat mereka membicarakannya. Sama halnya dengan Desi dan Lina dari divisinya, yang dulu juga suka mencibir dirinya.
" Heran deh kok bisa sih.... Orang kayak dia lolos jadi karyawan tetap di perusahaan ini? Udah gitu bu Diana suka muji-muji dia lagi."
ucap salah satu karyawati yang Biqha ketahui bernama shasi.
" Ya jelaslah bu Diana muji-muji dia, dekingnya kan orang no 1 di sini shas.... " Jawab rekannya itu sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Kayaknya gue gak percaya deh sama apa yang Desi dan Lina bilang, kalo mereka cuma sahabatan sewaktu SMA. Masa pak Yoga sampe segitunya merekayasa hasil interview, sampe maksain manager HRD dan kabag. keuangan untuk nerima dia sih? Jangan-jangan mereka ada affair lagi? " Lanjut shasi dengan prasangkanya.
" Hush..... Sembarangan lo. Ya gak mungkin lah. Secara pak Yoga kan udah punya calon istri yang nyaris sempurna itu. "
Seketika Biqha yang mengintip dari balik pintu masuk ruangan pantry itu, mengernyitkan keningnya berusaha menajamkan pengelihatannya. Namun belum sempat dia melihat kelanjutan obrolan di antara mereka, sudut mata Bigha menangkap sosok yang sedang melangkah mendekat. Orang itu adalah Erick.
Takut ketauan oleh Erick, kalau dia sedang mengintip di balik pintu. Biqha pun segera berlari menuju toilet, untuk bersembunyi. Dengan cepat Biqha memasuki toilet wanita yang berada di seberang toilet pria.
Erick yang melihat Biqha berlari terburu-buru memasuki toilet, jadi tersenyum lucu.
" Kebelet banget ya sampe harus lari terbirit-birit gitu? " Gumamnya pelan sambil terkekeh.
Erick yang bermaksud ke pantry untuk membuat minumannya sendiri, karena office girl yang biasa menyiapkan minuman untuknya sedang cuti.
Erick melangkah maju dengan santainya. Sama seperti Biqha, Langkahnya pun terhenti di samping pintu ruang pantry. Karena mendengar dua orang karyawati yang membicarakan Biqha, bahkan namanya pun ikut terbawa dalam pembicaraan mereka.
" Gak ada yang namanya persahabatan antara pria dan wanita. Salah satunya pasti ada yang memiliki perasaan lebih. "
" Ya.... Tapi gak mungkin kalau pak Yoga atau pak Erick yang punya perasaan lebih itu. Mereka pasti cuma kasian aja sama si Biqha. Kalau pun ada yang punya perasaan lebih, itu pasti si Biqha nya lah yang ngarep. Menghalu bakal jadi pendamping salah satunya. "
Kemudian terdengar suara tawa membahana di ruangan tersebut. Erick mengeratkan rahangnya hingga gigi-gigi di dalam mulutnya saling beradu dengan kuatnya, karena merasa emosi mendengar perkataan kedua orang yang ada di dalam sana.
" Tapi kalau yang namanya cowok itu kan ibaratnya kucing garong Tia.... Jangankan disuguhin ikan segar, ikan asin juga di lahap. Apalagi kan yah..... tampangnya lumayan cantik. Kalau gak... belum tentu dia bisa di terima disini. Apalagi sampe bertahan dan jadi karyawan tetap disini. "
Erick menepalkan tangannya semakin kesal mendengar ocehan mereka. Ingin rasanya dia langsung melabrak kedua wanita yang ada di dalam, namun dia berusaha menahannya. Karena tidak mau ada keributan di kantor pagi-pagi begini. Apalagi itu dikarenakan dirinya yang meladeni ocehan wanita-wanita itu.
" Tapi masa' iya sampe segitunya shas? "
" Ya kali aja..... Soalnya kan cari kerjaan susah. Terus katanya si Biqha itu juga udah lama kan, gak dapat kerja dari semenjak lulus kuliah. Jadi siapa tau aja... dia pake jalan pintas gitu supaya dapat kerja. "
Mendengar perkataan mereka yang terakhir, amarah Erick seakan ingin meledak. Dia tidak bisa lagi menahannya dan mentolerir dugaan kotor mereka terhadap Biqha, Yoga sahabatnya, juga dirinya.
Sementara itu, di balik pintu masuk toilet wanita. Biqha berusaha mengintip kembali. Memeriksa apakah kedua karyawati itu dan Erick sudah keluar dari pantry atau belum. Namun yang dia lihat justru Erick yang terpaku di ambang pintu ruang pantry tersebut.
Dengan sorot mata tajam dan rahang yang mengeras seperti sedang menahan amarah yang ingin meluap.
' Erick kenapa matung di situ...
__ADS_1
terus keliatan emosi gitu ya? Apa yang mereka bicarain sampe buat Erick emosi banget gitu? '
Tanya Biqha dalam hatinya.
Sedetik kemudian, seorang office girl datang menyapa Erick yang terpaku di ambang pintu.
" Pak Erick..... Bapak sedang apa di sini? Minuman bapak sudah saya letakkan di meja kerja bapak. Apa ada lagi yang bapak butuhkan? "
Ucap office girl yang bernama Fitri rekan dari Aida, office girl yang biasa bertugas menyiapkan minuman untuk Erick. Membuat Erick mengalihkan pandangannya pada OG tersebut. Di dalam ruang pantry Shasi dan Tia terdiam, mendengar suara Fitri yang menyebut nama sang manager.
Mereka langsung kikuk, karena ketakutan menyadari kemungkinan perbincangan mereka terdengar oleh sang menager.
" Oh... Jadi kamu udah siapin minuman untuk saya? "
" Sudah pak. Mbak Aida sudah berpesan pada saya untuk menyiapkan teh yang tidak terlalu manis, cukup satu sendok teh gula saja kan pak..... ? "
" Ya sudah kalau begitu. Terima kasih ya..... "
Ucap Erick dengan tersenyum tipis sekali pada Fitri. Kemudian kembali beralih pada dua wanita yang ada di dalam. Dengan sorot mata yang tajam dan api amarah yang masih terlihat jelas disana. Erick melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sedangkan Biqha yang melihat sikap Erick yang tak biasa itu, menjadi sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Sehingga dia memutuskan untuk mendekat dan mencoba mencari tau. Kembali seperti yang ia lakukan tadi, Biqha mengintip di balik pintu ruang pantry. Mencoba melihat apa yang mereka bicarakan.
" Sudah selesai sarapannya? "
Tanya Erick dengan senyum sinis. Membuat kedua karyawati itu bergidik ngeri melihatnya.
" Su... su...sudah pak." Jawab mereka tergagap dengan kompaknya.
Shasi dan Tia hanya bisa berdiri sambil menundukkan kepala, memdengar perkataan panjang lebar penuh emosi dari Erick.
" Kenapa diam? Ayo katakan...! Jangan hanya gunakan keberanian kalian berpendapat untuk bergosip. Gunakan keberanian kalian dalam berpendapat untuk kemajuan perusahaan ini. "
Lanjutnya yang masih belum mendapatkan tanggapan apapun, dari kedua orang yang seketika merasa menjadi terdakwa yang sedang berada di kursi pesakitan.
Sedangkan OG yang ada di dalam pun ikut terdiam. Namun setelah dia bisa menduga kemana arah pembicaraan itu, karena ia juga sudah sering mendengar mereka membicarakan hal yang sama. Ia pun berpura-pura tidak perduli. Kemudian melakukan pekerjaannya, mencuci piring dan gelas-gelas kotor.
" Kalian meragukan keputusan saya dan bu Diana tentang perekrutan Nabiqha menjadi karyawan tetap di sini? Kalian berpikir keputusan kami bukan murni karena kemampuannya, melainkan karena kami memiliki hubungan pertemanan. Begitu bukan? Maka saya akan menjawab rasa penasaran kalian."
Erick menarik kursi meja makan di ruangan tersebut, dan duduk di atasnya. Sebelum dia melanjutkan ucapannya.
" Iya benar. Saya, Nabiqha dan pak Yoga memang berteman dari semasa SMA. Pak Yoga memang merekomendasikannya bekerja disini karena rasa pertemanan itu. Tapi itu bukan poin utamanya disini. "
Erick dengan santai menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, kemudian menyilangkan kedua lengannya di depan tubuhnya. Duduk dengan penuh wibawa seorang pemimpin.
" Pak Yoga adalah pebisnis. Apa kalian pikir seorang pebisnis bisa sukses dengan merekrut karyawan secara asal-asalan? Tanpa pertimbangan dan penilaian tertentu? Terlebih lagi untuk divisi keuangan dan accounting. Seorang pebisnis handal tidak akan merekrut seseorang yang tidak memiliki potensi di bidangnya. Apalagi untuk menjadi seorang accounting sebuah perusahaan besar. Selain kemampuan juga dibutuhkan kejujuran. Kalian merasa Nabiqha tidak layak, karena dia memiliki kekurangan pendengaran? Dan caranya berkomunikasi yang sedikit berbeda? "
Tanya Erick pada kedua bawahannya tersebut. Namun keduanya hanya mampu tertunduk ketakutan.
" Tidakkah pemikiran kalian itu mencerminkan ketidakpercayaan diri kalian, terhadap diri sendiri? Kalian merasa insecure dan takut bersaing dengannya...."
__ADS_1
Penuturan Erick membuat kedua wanita yang berdiri di hadapannya semakin menunduk malu, tak berani berkutik. Sementara itu, Erick bangkit dari duduknya dan menatap tajam pada mereka.
" Kalau kalian merasa bahwa kalian
lebih baik dan lebih layak darinya, maka buktikan ! Bekerjalah dengan baik ! Tanpa harus menjatuhkan orang lain, dan mencari-cari kesalahan orang tanpa bukti yang jelas. "
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Erick melangkahkan kakinya ingin berlalu dari ruangan itu dan meninggalkan mereka. Biqha yang melihat Erick beranjak keluar, secepat kilat berlari kembali ke tempat persembunyiannya tadi.
Di dalam toilet, Biqha berdialog dalam hatinya. Mengingat kejadian yang baru saja dia lihat tadi.
' Ternyata Erick gak seburuk yang aku pikirkan. aku gak nyangka dia mau membelaku di depan karyawan lain. Ya... walaupun alasan utamanya pasti karena menyangkut nama baik Yoga dan perusahaan. Tapi rasanya sedikit terharu juga, melihat Erick yang dulu selalu nyebelin itu mau membelaku. Sampe menegur mereka yang menggunjingku di kantor. Tapi sebenernya apa yang mereka bicarakan sampai membuat Erick semarah itu? '
Jam kerja pun dimulai. Biqha pun berusaha memfokuskan pikirannya pada pekerjaan, walaupun ada hal yang mengganggu pikirannya.
Di sela-sela melakukan pekerjaannya, fokus Biqha sesekali teralihkan oleh ingatan akan kata-kata yang Tia ucapkan kepada Shasi saat di pantry tadi. Dimana Tia mengatakan kalau Yoga sudah memiliki calon istri. Biqha tidak sempat memastikan, apa yang dia baca dari gerak bibir Tia itu benar atau tidak.
Karena pandangannya teralihkan dengan kedatangan Erick. Kalimat itu sedikit menyita pikirannya. Sebab baru tadi malam Yoga kembali mengungkapkan perasaannya pada Biqha, dan menyatakan jika mereka sudah jadian.
Pikiran Biqha menjadi berkecamuk. Jika apa yang dia lihat dari gerak bibir Tia itu benar, mengapa Yoga masih saja mencoba mendekatinya. Dan juga membohonginya dengan mengatakan bahwa tidak ada wanita yang sedang dekat dengannya.
Tidak mau pikirannya semakin berkecamuk dan merusak fokusnya dalam bekerja, Biqha mencoba berpikir positif. Dengan mengatakan pada dirinya sendiri, kalau dia mungkin salah lihat. Karena dia melihat dari samping dan tidak melihatnya sampai selesai bicara. Karena teralihkan oleh Erick yang melangkah mendekat.
Dia juga berpikir tidak mungkin Yoga berbohong padanya. Karena menurutnya jika memang Yoga sudah memiliki calon istri yang nyaris sempurna, tidak mungkin Yoga kembali mengejar cintanya.
Biqha memutuskan untuk mempercayai Yoga, karena merasa mungkin saja itu hanya gosip belaka. Karena kedua orang itu memang suka bergosip ria di kantor.
Dengan berpikiran positif seperti itu, Biqha berhasil memfokuskan kembali pikirannya untuk bekerja. Hingga mendekati jam makan siang, ponsel Biqha di dalam saku blezernya bergetar. Biqha pun memeriksa poselnya. Ada pesan masuk dari Yoga disana.
Yoga :
// Bi nanti kita makan siang bareng ya...! //
Biqha membulatkan bola matanya dan mengangkat kedua alisnya setelah membaca pesan dari Yoga. Dengan cepat dia pun membalasnya.
// gak bisa Ga. aku dah janji mau makan bareng sama temen-temen. Lagian kalau nanti kita berdua ketauan makan siang bareng, bisa jadi masalah kan? //
Tak butuh waktu lama pesan Biqha pun ditanggapi oleh Yoga.
Yoga :
// kamu mau makan siang bareng Fajar lagi?
// Tega banget lebih belain dia daripada pacar sendiri.... //
Biqha tersenyum geli membaca chat balasan dari Yoga, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia merasa sikap cemburuan Yoga itu sangat lucu. Padahal dia sudah menjelaskan berkali-kali kalau dia dan Fajar hanya berteman. Fajar juga tidak memiliki perasaan padanya lebih dari itu. Tidak seperti dugaan Yoga selama ini.
Yoga :
// Pokoknya hari ini kamu harus makan siang sama aku titik. //
__ADS_1
// kamu tunggu aku. Jangan kemana-mana //
* Maklumin ya readers.... Soalnya si Biqha belum pernah pacaran jadi masih merasa lucu dan tersanjung kalau dicemburui dan di posesipin. Apalagi ini baru jadian jadi. masih terasa manis. ntar lama kelamaan juga bakalan kesel kalo dicemburui terus. hehehe.....😁. Thank U buat yang setia baca cerita ini dan juga kasih like dan suportnya. 💗💗💗