Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 45. Alina dan Biqha


__ADS_3

Biqha tidak berani menatap mata Alina. Pertanyaan yang Alina ajukan membuatnya merasa tersentil, hingga rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya. Meskipun sesungguhnya Biqha juga tidak bisa dipersalahkan seutuhnya, namun tetap saja dia merasa bersalah pada Alina. Karena pernah menjadi orang ketiga diantara Yoga dan dirinya.


" Shayha mherhasha ghakh henhak hathi shamha mbhak, kharhenha homhonghan mherhekha thadhi phasthi mhelhukhai hathi mbhak Halhin. " (saya merasa gak enak hati sama mbak, karena omongan mereka tadi pasti melukai hati mbak Alina.)


" Tunggu....tunggu.... Bukannya tadi kamu bilang... Kamu gak dengar apa yang mereka bicarakan?! "


" Shayha mhemhang ghakh dhenger mbhak. Thaphi.... Shayha lhihat phanthulhan bhayhanghan mherhekha dhi phinthu lhift. Jhadhi shedhikhit bhanyhak shayha thahu. " (saya memang gak denger mbak. Tapi.... Saya liat pantulan bayangan mereka di pintu lift. Jadi sedikit banyak saya tau.)


Alina melebarkan matanya. Dia merasa cukup takjub dengan kemampuan Biqha.


" Lalu kenapa kamu diem aja? Harusnya tadi kamu membantah semua tuduhan mereka kan?! Tapi kamu malah membiarkan mereka bicara seenaknya. "


Biqha menundukkan kepala sejenak. Menyesali ucapannya, namun Biqha harus menjelaskan semuanya agar Alina tidak curiga.


" Shayha shudhah phernhah mhenchobha mhenjhelhaskhan phadha bhebherhapha ohrhang, yhang mhempherthanyhakhan lhangshung phadha shayha. Thaphi.... Thidhak shemhua mhempherchayhai shayha bheghithu shajha. Therlhalhu mhelhelhahkhan, khalhau harhus mhenjhelhaskhan phadha shathu pershathu ohrhang yhang hadha dhishinhi. Mhakhanyha shayha mhemhilhih dhiham. "


(Saya sudah pernah mencoba menjelaskan pada beberapa orang, yang mempertanyakan langsung pada saya. Tapi.... Tidak semua mempercayai saya begitu saja. Terlalu melelahkan, kalau harus menjelaskan pada satu persatu orang yang ada disini. Makanya saya memilih diam. )


" Iya kamu bener. Pasti sangat melelahkan. "


" Yhang phasthi shayha dhan phak Yhogha thidhak mhemhilhikhi hubhunghan khushuh, shepherthi yhang mherhekha khathakhan. " (Yang pasti saya dan pak Yoga tidak memiliki hubungan khusus, seperti yang mereka katakan.)


Alina tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pada Biqha. Biqha membalas senyuman Alina sembari berkata dalam hatinya.


' Ya.... Saya dan Yoga tidak akan pernah memiliki hubungan apapun lagi. Saya janji mbak..... Saya gak akan pernah mengganggu hubungan kalian lagi. Maaf.... Maafkan saya yang sebelumnya.....'


Mata Biqha memerah dan sedikit berlinang.Kemudian hening sesaat. Tak lamu pintu lift pun terbuka di lantai 10, tempat Biqha bekerja. Sebelum keluar, Biqha memberanikan diri melihat ke arah Alina sekali lagi.


" Shemhogha hubhunghan mbhak Halhin dhan phak Yhogha lhanggheng, bhahaghia shelhamhanya. Dhan shemhogha phernhikhahan khalhian nhanthi lhanchar. Shakhinhah mhawhadhah dhan wharhohmhah..... Hamhinnn. " ( Semoga hubungan mbak Alin dan pak Yoga langgeng, bahagia selamanya. Dan semoga pernikahan kalian nanti lancar. Sakinah mawadhah dan warahmah..... Ammiinnn. )


Alina kembali tersenyum pada Biqha.


" Terima kasih...."


" Shayha dhulhuan mbhak....." (saya duluan mbak...)


Mereka pun saling melempar senyum kembali sebelum berpisah. Alina masih terus memandangi kepergian Biqha.


' Cantik. Bukan hanya fisik tapi hatinya juga. Pantas saja kamu begitu menggilainya. Tapi hampir dua tahun ini, akulah yang ada disisimu Ga...... Selama hampir Dua tahun ini akulah yang kamu cintai. Semudah itu hatimu berubah. Ini gak adil.... Setelah menemukannya kembali, kamu ingin menyingkirkanku. Salahkah aku yang ingin tetap bertahan? '


Alina meneteskan airmatanya dalam diam, sambil terus menatap punggung Biqha yang perlahan menghilang. Dengan lembut Alina menghapus airmata yang meleleh dipipinya.


Setelah lift tertutup, Alina menyandarkan tubuhnya pada dinding lift bagian belakang. Pikirannya melayang ke beberapa hari yang lalu. Pada pagi hari setelah pesta kejutan yang berakhir menyakitkan baginya.


Pagi itu dia menyambangi kediaman Hermawan, bermaksud untuk mencurahkan kesedihannya pada sang calon mama mertua. Sekaligus ingin mencari kejelasan akan perubahan sikap Yoga terhadapnya.


Namun sebelum dia sempat menanyakan langsung pada mama Hani. Tanpa sengaja dia mendengar percakapan kedua calon mertuanya itu di meja makan. Dalam percakapan itu dia mendengar satu nama. Nabiqha Azzahra. Mama Hani menyebutnya sebagai cinta pertama Yoga, yang belum kesampaian.


Cinta pertama yang sangat didamba oleh Yoga. Namun juga pernah menghancurkannya, saat komunikasi mereka terputus ketika Yoga kuliah di London. Yoga sampai menjadi pecandu alkohol, karena frustasi kehilangan jejak Biqha dan tidak bisa menemukan keberadaannya.


Hingga Yoga terjebak pergaulan bebas dengan seorang wanita. Yang kemudian mengaku mengandung janinnya. Namun ternyata wanita itu hanya menipunya, demi uang. Beruntung Erick berhasil mengungkap kebohongan itu, dan membuat Yoga tersadar.


Hati Alina hancur mendengar kenyataan itu. Namun hal yang membuatnya merasa begitu sakit adalah pernyataan mama Hani, yang mengatakan semua itu hanya karena satu orang. Yaitu Nabiqha.


Airmata Alina terus mengalir, menemani kesendiriannya di dalam lift. Saat pintu lift mulai terbuka, dengan cepat Alina menghapus airmatanya. Alin mengambil kaca matanya dari dalam tas, lalu memakainya untuk menutupi matanya yang basah. Kemudian melangkah dengan penuh percaya diri, seperti saat sedang berada di catwalk.


Sampai di ruangan Yoga, Alina langsung duduk di atas sofa depan meja kerja Yoga. Sementara Yoga menyambutnya dengan raut wajah yang tidak mengenakkan.

__ADS_1


" Sudah berulang kali ku katakan.... Beritau aku terlebih dulu, kalau kamu mau datang kesini. " Ucap Yoga berusaha menahan emosinya.


" Maaf kalau kedatanganku mengganggumu. Aku kesini atas perintah papa dan mama. Memangnya mereka tidak memberitaumu tentang jadwal hari ini? " Jawab Alina dengan acuh.


Yoga langsung membuka ponselnya dan memeriksa pesan masuk. Sejak tadi papa dan mamanya memang meneleponnya, namun Yoga mengabaikannya. Setelah membaca isi pesan dari mamanya, Yoga menyandarkan tubuhnya lemah pada kursi kebesarannya seraya mendengus kesal.


" Mereka menjadwalkan kita bertemu kembali dengan vendor dan beberapa desainer setelah jam makan siang ini. Jadi aku pikir....kenapa tidak sekalian aja kita lunch bareng? Udah lama banget kan kita gak lunch bareng."


Alina berusaha bersikap sesantai mungkin menghadapi Yoga, yang terlihat menahan emosinya. Yoga ingin sekali membantah dan menolak, namun ancaman papanya membuat dia tidak bisa berkutik.


" Alin aku mohon..... Tidak bisakah kamu berusaha membujuk kedua orangtua kita lagi, untuk membatalkan rencana ini? Ya..... Setidaknya tidak untuk sekarang. Aku...."


" Lalu kapan? "


Alina memotong cepat ucapan Yoga, seraya beranjak dari duduknya. Kemudian melangkah mendekati meja kerja Yoga.


" Dan kenapa harus aku yang membujuk mereka? Bukankah kamu yang tidak menginginkan pernikahan ini terjadi? Bahkan jika kamu mengatakan pada mereka, kalau kamu ingin mengakhiri hubungan kita, aku juga tidak akan menghalangimu lagi Yoga.... Tapi aku harap kamu bisa bersikap jujur, dan mengakui alasan yang sebenarnya. Bukan dengan melimpahkan kesalahan padaku. "


Yoga terdiam, sembari melirik tajam pada Alina. Kemudian berpaling seraya menggelengkan kepala pelan. Mengadu gigi-giginya, hingga terlihat rahangnya mengeras.


' Jujurlah Yoga. Katakan apa yang kau inginkan. Tunjukkan padaku betapa besar cintamu untuknya! Kenapa kau harus takut? Apa kau takut kehilangan semua yang kau miliki saat ini? Tapi cinta itu butuh pengorbanan kan..... Kalau kau menginginkannya, maka kau harus siap kehilangan yang lainnya. Jika kau berani mengungkapkan segalanya dengan jujur, maka aku akan mengakui kekuatan cinta kalian. Dan aku akan berusaha merelakan semuanya.'


Alina bermonolog dalam hatinya, dengan mata berlinang dibalik kacamatanya.


" Hentikan Alin. Aku muak dengan kecurigaanmu itu. Inilah alasannya kenapa aku belum siap dan menjadi ragu melanjutkan rencana pernikahan kita tahun ini. Ini juga yang membuat aku berpikir, akan lebih baik kalo kita akhiri saja semuanya. Karena aku merasa tidak ada lagi kecocokan diantara kita. Tidak ada kepercayaan dan tidak pernah ada lagi komunikasi yang baik. "


Alina tersenyum sinis, dengan mata yang makin berlinang dibalik kacamatanya.


' Kau tetap bersikeras menutupi semuanya dan melimpahkan semua kesalahan padaku. Baik, jangan salahkan aku Yoga.... Aku juga akan tetap mempertahankan apa yang harusnya menjadi hakku.'


Ucapnya kembali dalam hatinya. Meski hatinya terluka oleh pengkhianatan Yoga, namun Alina tetaplah wanita yang memiliki ego. Yang tidak ingin kalah dari wanita lainnya, apalagi dari orang ketiga di hubungannya.


" Baiklah..... Aku akan pergi. Aku akan mencoba menyampaikan keinginanmu itu pada kedua orangtua kita. "


Alina melangkahkan kakinya menjauh. Hingga diambang pintu, Yoga memanggilnya.


" Tunggu....."


Alina berbalik menatap Yoga, sementara Yoga memejamkan mata untuk berpikir sejenak. Setelah menarik nafas panjang, Yoga baru berbicara.


" Aku akan ikut denganmu. Kita akan bicarakan ini bersama-sama. "


Yoga dan Alina keluar ruangan bersama. Tidak seperti biasanya, kali ini mereka harus menggunakan lift umum. Karena lift eksekutif dikantornya sedang dalam perawatan.


Lift terbuka saat tiba di lantai 10. Disana sudah ada Erick yang menunggu di depan.


" Hai... Rick." sapa Alina.


" Hai Lin. Kok kalian....."


" Lift eksekutif sedang dalam perawatan." jawab Yoga cepat.


" Oh...."


Saat pintu lift mulai bergerak menutup, Alina dengan cepat memencet tombol pembuka. Karena dia melihat Biqha dan rekan-rekannya berjalan mendekat.


" Hai Nabiqha......"

__ADS_1


Alina melambaikan tangannya pada Biqha. Semua sangat terkejut melihat Alina menyapa Biqha dengan sangat ramah. Terlebih Yoga dan Erick. Mereka bahkan langsung menolehkan pandangan ke arah Alina dengan mata melotot dan tubuh kaku seketika. Sementara Biqha dengan canggungnya tersenyum seraya sedikit menganggukkan kepala, menanggapi sapaan Alina.


" Apa yang kalian tunggu? Ayo cepat masuk ! "


Ucap Alina pada Biqha dan rekan-rekannya, setelah melihat mereka terpaku di depan lift. Kelima rekanan itu saling pandang. Sementara diam-diam Yoga mencuri pandang pada Biqha. Perasaannya campur aduk saat ini. Disatu sisi dia merasa senang bisa melihat Biqha, dan mengobati sedikit kerinduannya. Namun disisi lain dia juga merasa bersalah dan juga panik karena kehadiran Alina disini.


" Gak papa mbak. Kita.... Tunggu lift sebelah aja. " ucap Fajar sembari menunjuk lift yang ada di sebelah kanan.


" Kenapa kalian kaku sekali sih? Sudah, ayo masuk ! Ayolah Nabiqha.......! "


Alina dengan santainya langsung menarik tangan Biqha masuk. Dan keempat rekanan itu pun akhirnya mengikuti, meski dengan perasaan yang amat sungkan. Karena ini pengalaman pertama mereka, berada dalam satu lift bersama CEO dan calon istrinya.


Yoga dan Erick sangat shock melihat keakraban antara Alina dan Biqha. Kemudian mereka saling lirik. Seolah saling berkomunikasi dalam batin. tatapan mata mereka seolah saling bertanya.


' Bagaimana Biqha dan Alin bisa saling mengenal? Sejak kapan Biqha dan Alin saling mengenal satu sama lain?'


Setelah itu kedua sahabat itu, tanpa sadar langsung mengalihkan padangan pada Biqha.


" Kalian ini kenapa? Katanya sahabat sejak SMA, kenapa bersikap seperti orang yang tidak saling mengenal sih? "


Teguran Alina membuat semua orang menjadi kikuk. Termasuk keempat rekan Biqha yang lain.


" Jaga sikapmu Alin ! ini kantor. "


Ucap Yoga sangat tegas pada Alina, namun dengan suara yang sedikit tertahan. Membuat seisi lift terkejut. Yoga tidak bisa mengendalikan perasaannya yang kalut dan panik, mengetahui bahwa Biqha dan Alin saling mengenal.


" Iya aku tau ini kantor. Tapi masa sama temen sendiri saling sapa aja gak boleh. Kaku banget sih.... "


" Bukan gak boleh Lin.... Tapi yang namanya di kantor, tetap harus ada batasan antara atasan dan bawahan. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan kesenjangan bagi karyawan yang lain. "


Jawab Erick dengan tenang, mencoba menenangkan dan menguasai situasi. Alina mendengus kesal. Sementara Yoga sibuk dengan pikirannya yang diselimuti kecemasan, sedang Biqha hanya bisa menunduk pasrah. Untuk sesaat suasana menjadi hening.


" Rick.... Lo ikut kita aja ya lunchnya. Udah lama banget kita gak jalan bareng. Kemarin saat surprise party si bos ini, lo juga gak bisa ikutan. Siang ini lo ikut kita ya....! " Ucap Alina kembali memecah keheningan.


Erick spontan melirik ke arah Yoga disebelahnya. Sementara Yoga masih saja mencuri pandang ke arah Biqha.


" Bareng Nabiqha juga. Ya Nabiqha ya...! "


Lagi dan lagi, Alina membuat shock Yoga dan juga Erick. Terlebih Biqha, Dia juga sangat terkejut karena Alina tiba-tiba merangkul lengannya dan mengajaknya ikut serta. Bahkan karyawan yang lain pun ikut terperanga melihatnya.


" Ghakh husha mbhak, mhakhashih. Shayha mhakhan shihang bharheng themhen-themhen hajha. " (Gak usah mbak, makasih. Saya makan siang bareng temen-temen aja.)


Dengan sangat canggung Biqha menggerakkan tanganya, serentak dengan gelengan kepalanya menolak ajakan Alina. Erick yang mengerti kepanikan kedua sahabatnya, berusaha mengambil tindakan.


" Sory Lin..... Sepertinya kami tidak bisa. Saat ini kami sedang sangat sibuk. Jadi kami tidak punya banyak waktu...."


" Oh.... C'mon Rick. "


Saat Alin masih berupaya berdebat dengan Erick, pintu lift terbuka. Mereka pun keluar dari lift. Keempat rekan Biqha sedikit menundukan kepala mereka nyaris bersamaan, memperlihatkan rasa hormat mereka pada Erick, Yoga dan juga Alina sebelum mereka berlalu. Saat Biqha hendak menyusul rekan-rekannya, Alina kembali menarik lengannya.


" Ayolah Nabiqha, ikutlah dengan kami...."


" Apa yang kamu lakukan? Ayo pergi. "


Yoga dengan suara tertahan, mencengkram lengan Alina dan berusaha menariknya pergi dari sana. Namun Alina menarik lengannya dari cengkraman Yoga, sambil merintih kesakitan.


" Akhhh....... Sayang apa-apaan sih?! Kok kamu jadi marah-marah gitu."

__ADS_1


Ucapan Alina sontak membuat Yoga membulatkan mata tajam ke arahnya. Setelah itu beralih menatap Biqha sekilas dengan tatapan yang berbeda. Kemudian dia memalingkan wajahnya. Yoga merasa frustasi karena tidak bisa berbuat apa-apa.


' Bre**s*k. Kenapa Alin harus memanggilku dengan sebutan itu di depan Biqha. Biqha pasti terluka. Bagaimana kalau dia salah paham dan semakin membenciku......'


__ADS_2