Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 55. Aku mohon.....


__ADS_3

Memasuki ruangan Erick, Yoga langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Yoga mulai berpikir bagaimana caranya agar Biqha mau kembali padanya.


" Aku harus bisa meyakinkan Biqha untuk kembali padaku. Aku gak akan pernah rela kalo sampai Biqha menjadi milik orang lain. Apalagi Si Fajar itu. Dia tidak sebanding denganku dan dia tidak pantas bersama dengan Biqha. Gak..... aku gak boleh kalah darinya. Biqha hanya akan menjadi milikku. Dia milikku....."


Kecemburuannya pada Fajar membuatnya benar-benar resah, dan memaksanya membuat alasan seperti ini. Dan Yoga benar-benar bertekad untuk kembali memenangkan hati Biqha. Dia akan menggunakan kesempatan ini untuk bicara dari hati ke hati dengan Biqha.


Yoga pun memainkan laptopnya sembari menunggu Biqha selesai mengerjakan proposal itu. Sementara diluar ruangan, Biqha dengan cermat berusaha mempelajari proposal-proposal yang dibawa Yoga.


Dengan penuh ketekunan Biqha memeriksa dan merevisi rincian proposal tersebut. Baru sekitar pukul sembilan malam Biqha berhasil menyelesaikan semua tugasnya. Sejenak Biqha meregangkan tubuhnya, untuk melemaskan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, karna tidak berhenti bekerja hingga malam hari.


" Halhamdhulhillhah..... Hakhirnyha shelheshai jhugha." (Alhamdulillah.... Akhirnya selesai juga.)


Setelah itu dia memegang perutnya yang terasa perih karna lapar. Biqha pun bergegas membereskan semuanya agar dia bisa cepat pulang. Biqha mengetuk pintu ruang manager dan menunggu sesaat sebelum membuka pintunya.


" Bi.... Apa kamu sudah selesai? "


Tanya Yoga begitu Biqha membuka pintu.Biqha pun menganggukkan kepalanya. Dan berjalan mendekat untuk menyerahkan proposal tersebut pada Yoga. Yoga menerimanya dengan senyum yang mengembang.


" Shebhelhumnyha shayha jhugha shudhah mhenghirhimkhan rhinchihannyha phadha phak Ehrhik mhelhalhui chet. Haghar dhia jhugha bhisha mhemherhikshanyha, dhan bhisha shechephatnyha mhenyhemphurnhakhan bhaghihan yhang khurhang phas. Thaphi bhelhum therkhirhim. Shepherthinyha phonshel phak Ehrhik shedhang thidhak hakthif. "


( Sebelumnya saya juga sudah mengirimkan rinciannya pada pak Erick melalui chat. Agar dia juga bisa memeriksanya, dan bisa secepatnya menyempurnakan bagian yang kurang pas. Tapi belum terkirim. Sepertinya ponsel pak Erick sedang tidak aktif.)


Yoga sempat terkejut mendengar penjelasan Biqha, bahwa dia memberitaukan perihal ini pada Erick. Namun kalimat terkahir membuatnya bernafas lega.


" Itu tidak perlu Bi.... Aku rasa proposal ini sudah bagus. Aku yakin Erick juga setuju. Terima kasih atas bantuanmu hari ini Bi....."


" Khalhau bheghithu shayha phermhishi phulhang phak...." ( kalau begitu saya permisi pulang pak.....)


" Bi tunggu.....! "


Dengan cepat Yoga bangkit, dan berusaha menahan kepergian Biqha.


" Biar aku antar sekalian ya.....! Ini kan udah malam, bahaya kalo kamu pulang sendirian. "


" Ghak hushah phak. Shayha shudhah pheshan hojhol khok. Phermhishi......" (gak usah pak. Saya sudah pesan ojol kok. Permisi....)


Biqha bergegas ingin melangkah pergi, namun sebelum itu Yoga berhasil meraih lengannya dan menahannya kembali. Dan dengan refleks Biqha melepaskan lengannya dari pegangan Yoga.


" Bi.... Ku mohon izinkan aku mengantarmu pulang ! Anggap ini sebagai ucapan rasa terima kasihku atas bantuanmu hari ini. "


" Mhahaf phak......shebhelhumnyha therhimha khashih, thaphi hithu thidhak pherlhu. Hithu shudhah mhenjhadhi bhaghian dharhi phekherjhahan shayha. Jhadhi bhaphak thidhak pherlhu bhertherhimha khashih shepherthi hithu. Mhahaf...... Shudhah mhalham. Shayha harhus phulhang phak, phermhishi...."


( Maaf pak.... Sebelumnya terima kasih, tapi itu tidak perlu. Itu sudah menjadi bagian dari pekerjaan saya. Jadi bapak tidak perlu berterima kasih seperti itu. Maaf.... Sudah malam. Saya harus pulang pak, permisi....)


Biqha kembali berbalik arah, namun Yoga dengan cepat melangkah lebih dulu menghalangi Biqha.


" Tapi aku sudah membuatmu harus lembur sampai selarut ini Bi..... Kamu juga pasti belum makan kan ?! Jadi bagaimana kalau kita makan....."


" Thidhak pherlhu phak " ( Tidak perlu pak.)


Biqha langsung memotong ucapan Yoga, karna dia merasa kesal dan menjadi sangat tidak nyaman dengan sikap Yoga. Sejenak Yoga terdiam karna nada tegas yang keluar dari mulut Biqha. Yoga memandang bola mata yang terlihat kesal itu dengan sendu. Hatinya terluka dengan penolakan Biqha.


" Phermhishi....."


Untuk kesekian kalinya Biqha pamit dan bergegas pergi. Tapi lagi-lagi Yoga menghentikannya. Kali ini Yoga mencekal lengan Biqha dan tidak mau melepasnya, meski Biqha berusaha keras melepaskan lengannya.


" Bi..... Ku mohon ! Biarkan aku mengantarmu, kali ini aja Bi..... "


" LHEPHAS....! "

__ADS_1


Dengan susah payah, Biqha akhirnya bisa melepaskan lengannya dari cengkraman Yoga.


" Bi aku hanya ingin mengantarmu. Aku.... Aku sangat merindukanmu Bi. Tidak bisakah kamu memberiku waktu sebentar.... aja ! "


Kini bukan hanya merasa tidak nyaman, namun rasa takut juga mulai menyelimuti pikiran Biqha, melihat sikap Yoga yang kembali seperti beberapa waktu lalu. Apalagi tidak ada seorang pun yang ada disekitar mereka saat ini.


Tak ingin masalah ini berkepanjangan, Biqha melangkah dengan cepat untuk meraih handle pintu. Tapi Yoga tetap tidak mau menyerah dan mengejarnya, Yoga bahkan langsung memeluk Biqha dari belakang.


" Bi.... Ku mohon sebentar aja. Izinkan aku bersamamu. "


Tubuh Biqha seketika menjadi kaku, dia merasa shok dengan perlakuan Yoga. Seumur hidup, ini pertama kalinya Biqha dipeluk oleh laki-laki selain ayah dan adiknya. Perasaan takut semakin menghantui Biqha, hingga tubuhnya seketika menggigil.


" Lhe...lhephaskhan ! "


Sementara Yoga merasakan sensasi yang luar biasa. Salah satu hal yang sudah lama menjadi fantasinya selama ini, akhirnya bisa menjadi nyata. Rasa hangat, bahagia dan menenangkan begitu membuat Yoga terlena.


Dihirupnya aroma tubuh Biqha dengan sisa-sisa wangi parfum yang masih melekat di pakaian Biqha, membuat Yoga makin terbuai dan semakin memeluknya dengan erat. Membuat Biqha semakin mengigil ketakutan.


Dan seketika itu Biqha berusaha melawan ketakutannya dengan memberontak, berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari Yoga. Namun semakin Biqha memberontak, Yoga pun kian memeluknya dengan erat.


" Lhe...LHEPHAS....!!! "


Teriakkan Biqha membuat Yoga tersadar, dan seketika melepaskan pelukannya. Dan dengan segera melangkah ke hadapan Biqha.


" Ma...maaf. Aku gak bermaksud kurang ajar sama kamu Bi..... Aku cuma minta waktu sebentar......aja ya...! Kasih aku waktu sebentar aja buat ngomong Bi...."


Meski pelukan Yoga sudah terlepas, namun tubuh Biqha masih terasa kaku. Tubuhnya menjadi dingin karna rasa takut. Matanya memerah dan mulai berlinang. Dadanya juga terasa sesak. Biqha berusaha sebaik mungkin mengendalikan perasaannya, melawan rasa takutnya dengan berpikir positif.


" Hapha yhang pherlhu dhihomhonghin lhaghi? Phekherjhahan shayha shudhah shelheshai khan phak ? " ( apa yang perlu diomongin lagi? Pekerjaan saya sudah selesai kan pak?)


" Bi..... Tolong....."


Tiba-tiba ponsel ditangan Biqha berdering, dengan cepat Biqha mau menjawab panggilan video itu, namun Yoga lebih dulu merebutnya. Ternyata itu panggilan dari ojol yang dipesan Biqha. Dengan cepat Yoga mematikan ponsel Biqha tersebut.


Biqha berusaha merebut kembali ponselnya. Namun Yoga justru mempersulitnya dengan menyembunyikan ponsel itu dibalik badannya. Biqha tetap bersikeras ingin mengambil ponselnya, membuat tubuh mereka semakin berdekatan.


Tak ayal hal itu justru membuat Yoga kembali terbuai dengan kecantikannya, dan aroma tubuh Biqha membuatnya kehilangan akal. Dan Yoga pun kembali menangkap Biqha kedalam pelukannya.


" HAPHA YHANG KHAMHU LHAKHUKHAN? LHEPHASKHAN...! LHEPHAS.....!


Biqha memberontak, menggeliat berusaha melepaskan diri dari dekapan Yoga. Namun hal itu justru membuat perasaan Yoga bergejolak.


" Aku gak bisa melepasmu Bi...... Aku teramat sangat mencintaimu. Aku sudah berusaha sekuat tenaga mengubur perasaan ini, tapi yang ada aku semakin merindukanmu. Aku gak bisa Bi...... Aku gak sanggup hidup tanpamu."


Yoga mencurahkan perasaannya dengan mata yang berlinang. Namun Biqha justru semakin ketakutan. Airmatanya mulai mengalir karena rasa takut.


" Yhogha lhephaskhan, khu mhohon ! "


Entah apa yang ada dipikiran Yoga, bukan melepaskannya Yoga justru semakin mendekapnya erat. Membuat Biqha semakin histeris. Sekuat tenaga Biqha berusaha melepaskan diri dengan mendorong tubuh Yoga, bahkan memukuli dadanya. Tapi itu tidak berpengaruh sama sekali pada Yoga.


" Kali ini aku tidak akan melepasmu lagi Bi.... Kamu harus jadi milikku. Selamanya...."


Yoga sengaja mengucapkannya dengan suara yang nyaris berbisik. Dengan keadaan kepala mereka yang menempel disisi samping, membuat Biqha tidak bisa melihat gerak bibirnya.


Kemudian Yoga menenggelamkan wajahnya dileher Biqha yang tertutup lilitan pasminanya, menghirup aroma tubuh Biqha dengan sangat dalam bagai candu. Membuat Biqha semakin blingsatan karna panik.


" YHOGHA LHEPHASKHAN ! HAPHA YHANG KHAU LHAKHUKHAN? LHEPHASKHAN HAKHU..... ! "


Pikiran Yoga benar-benar sudah dikuasai na*su, hingga dia mengabaikan teriakan Biqha. Sedangkan Biqha terlalu lemah, karna lelah bekerja dan juga belum makan. Jadi seberapa pun kerasnya dia berusaha, tidak bisa melawan kekuatan pria yang mendekapnya erat dan mulai mencumbuinya saat ini.

__ADS_1


Yoga kembali mengangkat kepalanya, dan memandang wajah Biqha yang bercucuran airmata. Kemudian dengan cepat Yoga berusaha menci*m bibir mungil Biqha, namun Biqha mengelak. Dan ci*man itu berakhir mendarat di pipinya. Namun Yoga tetap menikmati lembut pipinya, membuat Biqha semakin histeris menangis dan meronta.


" Yhogha khu mhohon lhephaskhan hakhu ! Jhanghan bheghinhi..... Hakhu mhohon ....! "


Yoga tidak memperdulikan Biqha yang menangis menghiba padanya. Gejolak hasrat membuatnya membutakan mata dan menulikan telinganya terhadap tangisan Biqha. Bahkan dengan sebelah tangannya dia berusaha membuka pasmina yang menutupi kepala dan leher jenjang Biqha.


Dalam ketakutannya, Biqha yang sedari tadi berusaha melawan, akhirnya menginjak kaki Yoga dengan heelsnya. Seketika Yoga berteriak kesakitan dan melepas pelukannya. Biqha pun segera berlari. Dan Yoga langsung mengejarnya tanpa memperdulikan rasa sakit dikakinya.


Dengan cepat Yoga meraih pinggang ramping Biqha dan langsung mengangkatnya. Biqha berteriak, memukul dan menarik lengan Yoga yang melilit pinggangnya dari belakang. Tapi Yoga terlalu kuat untuk dia lawan. Kemudian Yoga menjatuhkan tubuh Biqha ke sofa.


Saat Biqha berusaha bangkit, Yoga kembali memeluknya dan mendorong tubuhnya kesofa. Yoga menindih tubuh mungil Biqha, Biqha pun meronta, berteriak, memukuli Yoga sekuat yang dia mampu.


Dan pukulan demi pukulan yang Yoga dapatkan membuatnya jera, hingga akhirnya dia mencengkram kedua tangan Biqha dengan satu tangannya. Kemudian tangan satunya membuka dasinya. Dengan dasi itu Yoga berusaha mengikat tangan Biqha, lalu mengikatnya kembali pada kaki meja yang terbuat dari kayu ulin yang sangat kuat dan berat, sambil tetap menindihnya.


" Ghak.... Jhanghan. Lhephaskhan hakhu Gha, hakhu mhohon....! "


Selesai mengikat tangan Biqha, Yoga menatap wajahnya lekat.


" Dengan begini kamu gak akan bisa lari lagi dariku Bi..... Kamu harus jadi miliku. Agar tidak seorang pun bisa merebutmu dariku. "


" GHAK..... HAKHU MHOHON JHANGHAN LHAKHUKHAN HITHU GHA..... ! JHANGHAN...."


Biqha meronta dengan deraian airmata, namun hal itu pun tidak membuat Yoga mengasihaninya. Yoga perlahan membuka hijab Biqha. Kecantikan Biqha dengan rambut hitam panjang yang terikat, membuat Yoga semakin terpesona. Perlahan Yoga membelai lembut wajah Biqha.


Yoga pun mendekatkan wajahnya, ingin mengecap rasa manis bibir tipis merah muda alami yang begitu menggoda itu. Namun Biqha terus mengelak. Membuat Yoga terpaksa mencengkram wajahnya, dan menciumnya dengan paksa. Namun Biqha justru merapatkan bibirnya dengan menggigitnya kedalam.


" Buka mulutmu sayang.... biarkan aku merasakan lembut dan manisnya bibirmu. "


Biqha memalingkan wajahnya sambil terus menggigit bibirnya kedalam dan menangis tersedu.


" Baiklah, tidak masalah sayang. Aku bisa menikmati yang lainya..... "


Dengan bringas Yoga menarik kedua sisi kemeja Biqha, hingga semua kancingnya terlepas. Biqha berteriak histeris, namun Yoga mengabaikanya dan tetap menyesapkan wajahnya ke dada Biqha. Lalu dengan kasar Yoga juga memaksa melepaskan penutup dada Biqha.


" HENTHIKHAN ! HAKHU MHOHON.... JHANGHAN LHAKHUKHAN HITHU YHOGHA.... HENTHIKHAN. HAKHU MHOHON HAMPHUNHI HAKHU... Huhhu..."


Setelah itu dengan sangat rakus Yoga menc*umi dan mengh*sap seluruh bagian dada Biqha tanpa terlewat sesenti pun, hingga meninggalkan jejak-jejak kemerahan.Biqha semakin histeris dan menangis sejadi-jadinya.


Biqha terus menggerakkan seluruh tubuhnya, berusaha melepaskan diri dari Yoga. Namun semua tidak berarti. Semakin lama, Biqha semakin lemas karna lelah melawan dan menagis. Sementara Yoga semakin menggila, gelora hasrat yang memuncak menguasai jiwanya.


Yoga mengangkat tubuhnya dan duduk diatas kakinya yang masih menindih kaki Biqha. Dengan cepat Yoga menyibak rok Biqha, kemudian menarik legging dan ********** sekaligus. Tubuh Biqha makin bergetar ketakutan.


" Thi... Thidhak..... Jhanghan. Hakhu mhohon..... jhanghan....."


Melihat keindahan di depan matanya, membuat Yoga tidak sabar menikmatinya. Dia pun segera menanggalkan kain yang melekat pada bagian bawah tubuhnya. Dan Biqha pun memalingkan wajahnya dan memejamkan mata. Deraian air mata semakin deras mengalir mengiringi kehancuran didepan matanya.


Dalam keputus'asaan, Biqha memanjatkan doa dalam hatinya.


' Ya Allah.... Hamba mohon selamatkan hamba. ulurkanlah tanganMu pada hamba melalui perantara apapun.... Siapa pun. Selamatkan Hamba ya Allah..... Hamba berjanji...."


Sentuhan dipangkal pahanya membuat Biqha tersentak dan kembali histeris. Dia terus menendang-nendangkan kakinya, hingga Yoga mencengkram kedua pahanya dan membukanya dengan paksa.


Perlahan namun pasti, Yoga pun memaksa menancapkan senjatanya pada l*bang kesucian Biqha. Biqha menjerit, merintih kesakitan, namun Yoga tetap memaksa sekuat tenaga menembus pertahanannya.


" HAKKKHHHHH...."


Rasa sakit yang mengoyak raga dan jiwanya, membuat tangis Biqha makin pecah. Sedangkan Yoga tersenyum puas, saat ujung senjatanya berhasil menjebol pertahanan Biqha.


" Tenanglah sayang.... Perlahan rasa sakitnya pasti akan hilang. "

__ADS_1


Yoga pun semakin kuat berusaha menyempurnakan penyatuan mereka, dengan menenggelamkan senjatanya ke dalam tubuh Biqha meski itu sangat sulit. Berkali-kali Biqha menjerit, merintih perih karna rasa sakit akibat dorongan kuat yang dilakukan Yoga.


" Henthikhan..... Hakhu mhohon ! "


__ADS_2