Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 14. Menjaga jarak


__ADS_3

Erick bergegas turun ke lantai sepuluh, tempat dimana ruangannya berada. Sebelum memasuki ruangan, pandangannya menangkap punggung Biqha dari jarak yang tidak terlalu jauh. Erick terpaku menatap Biqha dari belakang.


Erick kembali teringat obrolannya bersama Yoga, entah kenapa masih ada keraguan di hatinya mendengar semua jawaban Yoga. Dia khawatir Yoga masih memiliki perasaan pada Biqha. Dan alasan dibalik keberadaan Biqha disini, adalah karena keinginan Yoga untuk kembali dekat dengan Biqha seperti dulu. Ia khawatir akan terjadi masalah nantinya.


Karena status Yoga kini sudah memiliki calon istri. Dan hubungan ini bukan hanya hubungan asmara biasa, tapi juga menyangkut bisnis kedua keluarga mereka. Kedua keluarga itu tidak akan membiarkan hubungan yang terjalin putus begitu saja. Apalagi bila mereka tau adanya pihak ketiga, terlebih bila itu orang seperti Biqha.


Meski itu privasi mereka. Tapi sebagai orang yang mengenal dekat Yoga juga Biqha, Erick merasa perlu memperingatkan mereka.


' Apa lebih baik aku kasih tau aja ke Biqha juga tentang masalah ini ya? Tentang status Yoga yang sudah bertunangan. Dengan begitu Biqha bisa mengambil sikap, kalo Yoga mencoba mendekatinya.'


Erick berpikir untuk berbicara juga dengan Biqha, tapi sedetik kemudian dia ragu.


' Tapi apa yang akan dia pikirin nanti? Kalau tiba-tiba gue membicarakan masalah ini.... Apa dia gak akan jadi salah paham nantinya? Dia kan selalu salah paham denganku..... Kemarin aja kalau bukan karena Rendra, rasanya dia gak akan mau ngobrol sama aku. Jangankan ngobrol, nyapa pun gak. Dia selalu menganggapku orang yang menyebalkan, yang suka buat dia kesel. Kalau aku tiba-tiba ngomong begitu sama dia, dia pasti bakal berpikir aku gak suka dia ada di sini. Apalagi ini hari pertamanya bekerja.....'


Erick masih terus menatap punggung Biqha. Tanpa ia sadari banyak pasang mata yang keheranan, melihatnya terdiam sambil menatap ke arah karyawan baru di divisi ini. Beberapa karyawan disana saling pandang bergantian, seolah bertanya pada rekannya tentang sikap aneh manager mereka itu.


Sementara itu, Erick masih sibuk sendiri dengan pikirannya.....


' Yah..... Lebih baik aku biarkan aja dulu. Aku udah memperingatkan Yoga. Dia pasti gak kan gegabah lagi, dan akan berpikir berulang-ulang kalau mau bertindak macam-macam. Rasanya dia juga gak mungkin mutusin hubungannya dengan Alin gitu aja. Karena Yoga memutuskan menerima perjodohan mereka juga karena dia jatuh hati pada Alina. Yah.... mungkin ini hanya kecurigaanku aja. Yah.... stop it Erick..! Berhentilah over thinking kayak gini.'


Setelah perdebatan batin yang cukup panjang, Erick memutuskan mempercayai Yoga dan menasehati dirinya sendiri agar tidak lagi menaruh curiga pada Yoga.


Seketika itu Erick juga menyadari tindakan bodohnya, yang terpaku sembari memandangi Biqha dari belakang. Sadar telah menjadi pusat perhatian dari para karyawan di sana. Erick pun langsung kikuk sendiri dan bergegas masuk ruangannya, dengan perasaan malu yang berusaha ia tutupi.


****


Jam makan siang pun telah tiba. Biqha telah menyelesaikan semua pekerjaan yang diberikan padanya tepat waktu. Kini ia mulai bermain dengan ponselnya mencoba mengirim pesan singkat pada Yoga. Dan mengajaknya makan siang bersama.


Biqha ingin mengucapkan rasa terima kasihnya secara langsung pada Yoga. Karena sudah memberinya kesempatan untuk bekerja di perusahaan ini. Kemarin Biqha sudah mengucapkan rasa terima kasihnya lewat pesan singkat dari ponselnya, tapi dia merasa itu tidaklah cukup.


Tidak perlu waktu lama pesan chat Biqha pun langsung di balas oleh Yoga.


Yoga :


//Maaf Bi. Aku gak bisa.


Aku harus meeting sama klien sekalian makan siang.


Lain kali aja ya kita makan siang barengnya.//


Biqha menarik nafas dan menghembuskannya pelan setelah membaca pesan dari Yoga.


' Iya... ya. Sebagai pimpinan perusahaan dia pasti sibuk banget. Apa aku buatkan sesuatu aja buat dia ya... ? Sebagai ucapan terima kasih...?!'


Saat Biqha sedang sibuk berpikir ingin memberikan sesuatu untuk Yoga, Erick keluar dari ruangannya.


Melihat Biqha yang tinggal seorang diri di ruangan itu dan terlihat termenung, Erick menghentikan langkahnya.


' Ngapain dia bengong sendirian begitu....? Sekarang pun dia masih terlihat menyedihkan seperti dulu kalo begitu.'


Erick bertanya dalam hatinya sembari mengamati Biqha. Kemudian menghampiri Biqha, dan mengibaskan tangannya di depan wajah Biqha. Biqha pun terkejut karenanya.


" Ngapain bengong? Gak mau makan siang? Ntar maag lo kambuh, lagi..... Gara-gara telat makan."


Tanya Erick pada Biqha yang menatapnya canggung.


" Yuk makan siang bareng gue ! Ya.... itu kalo lo mau. Kalo gak... Ya udah...."


Ucap Erick yang juga terdengar canggung di akhir kalimat. Sementara Biqha langsung cemberut mendengar ucapan Erick.


' Ih... Ni orang niat gak sih ngajakin makan siang? Dasar nyebelin. Tapi kalo makan sendirian di kantin rasanya canggung banget. Karna pasti bakal ada yang bisik-bisik. Tapi kalo bareng dia... Pasti dia bakal abis-abisan nih ngeledekin aku.'


Biqha bimbang dalam hatinya.


" Mau ikut bareng gue gak....? Malah bengong lagi. "

__ADS_1


Erick kesal melihat Biqha hanya terdiam tidak menanggapi. Namun pada akhirnya Biqha mengangguk.


" Ya udah... Yuk.! "


Biqha bergegas bangkit dan hendak mengambil dompet dari tasnya, namun tiba-tiba Erick menyentuh lengan Biqha. Biqha pun menoleh padanya.


" Bawa aja tasnya..." Perintah Erick.


" Hemmhang mhahu mhakhan dhimmhannah? " ( Emang mau makan dimana?)


Tanya Biqha bingung. Karena awalnya Biqha berpikir mereka akan makan di kantin kantor saja.


" Udah ikut aja. Gak usah banyak nanya. Bosen tau makan di cafe bawah."


Biqha pun langsung membawa tasnya lalu melangkah mengikuti Erick.


Sementara di sisi lain.....


Yoga terus memandang poselnya, yang memperlihatkan pesan chatnya dengan Biqha. Kemudian dia meremas ponselnya dengan kesal. Lalu menelangkupkan kedua lengannya di atas kepala. Merasa sangat kesal karena hari ini tidak bisa berjalan sesuai harapannya.


Padahal sebelum sampai di kantor, dia sudah membayangkan betapa menyenangkannya hari yang akan dia jalani dengan Biqha. Apalagi bila sampai mimpinya tadi malam menjadi kenyataan. Dimana Biqha menerima cintanya, seperti yang ia harapkan sejak dulu.


Tapi semuanya harus tertunda untuk sementara waktu. Dia harus menjaga jarak terlebih dahulu dengan Biqha, demi menghindari rumor seperti yang Erick katakan. Mau tidak mau dia harus melakukannya.


Dengan langkah lunglai, Yoga melangkah keluar ruangannya untuk bergegas meninggalkan kantor. Mencoba menghilangkan rasa penat dan kegundahan hatinya sembari makan siang di luar. Siapa tau suasana diluar kantor bisa membuatnya sedikit merasa terhibur.


Sesampainya di parkiran kantor, Yoga melihat mobil Erick melaju tak begitu jauh darinya. Bahkan ia masih sempat melihat siapa yang berada di samping Erick didalam mobilnya itu, sebelum kaca mobil itu tertutup.


' Biqha...... Kenapa dia pergi sama Erick? Apa Erick mau memberitahukan semuanya sama Biqha? Gawat.... aku harus ikuti mereka.'


Yoga berlari menuju mobilnya. Dengan segera menyalakan mesin dan melaju cepat, berusaha menyusul mobil Erick. Yoga terus mempercepat laju mobilnya agar bisa mengikis jarak dengan mobil Erick dan tidak kehilangan jejak.


Yoga terus mengikuti mobil Erick dari belakang. Sampai di persimpangan, Yoga terpaksa menghentikan laju mobilnya, karena lampu lalu lintas berwarna merah menyala. Dan ia pun kehilangan jejak mobil Erick.


Yoga sangat kesal hingga memukul-mukul setir mobilnya sendiri. Yoga bingung harus bagaimana sekarang. Yoga mencoba menghubungi Erick, namun Erick tidak menjawabnya. Yoga semakin kesal dibuatnya. Yoga semakin kalut saat mencoba panggilan kedua.


Ponsel itu terjatuh ke bawah, dibagian depan kursi penumpang di sebelah Yoga. Entah bagaimana nasib ponselnya, Yoga tidak perduli. Yang ada dalam benaknya hanya Biqha dan Erick. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, bila Erick benar-benar memberitahu Biqha tentang statusnya.


***


Erick melajukan mobilnya menyusuri jalanan kota mencari tempat makan siang untuk dirinya dan juga Biqha.


Awalnya Erick berencana makan di cafe kantor. Tapi saat melihat Biqha termenung sendirian di kantor, dia jadi iba dan memutuskan mengajaknya makan siang bersama di luar. Erick tau Biqha pasti merasa tidak nyaman makan di kantin kantor, karena dia pasti menyadari cibiran karyawan lain terhadapnya.


Karena itu Erick memilih membawanya makan siang diluar kantor. Meski dia bingung mau makan dimana. Sampai akhirnya ia terpikir bakso favorit mereka jaman sekolah dulu. Sudah lama juga Erick gak mampir ke warung bakso favoritnya itu. Meski jaraknya agak sedikit jauh dari kantor, tapi Erick berpikir itu tidak masalah.


Erick menyentuh pundak Biqha yang sedang melihat ke arah jalanan, agar bisa bicara dengannya. Menyadari sentuhan tangan di pundaknya membuat Biqha menoleh.


" Biqha.... Kita makan di bakso mang Udin aja mau gak?"


Tanya Erick pada Biqha yang sedari tadi hanya diam. Seperti menghindari obrolan dengannya.


" Hah...? Bhakhso mhang Hudhin khan jhauh dharhih shinnih. Hemhang khebhuruh?"


( Hah...? Bakso mang Udin kan jauh dari sini. Emang keburu? )


" Gak papa lah... Agak lama dikit balik kantornya. Gue lagi pengen makan bakso soalnya. Udah lumayan lama gue gak makan bakso disana."


Jawab Erick dengan pandangan lurus ke depan.


" Khammuh ghak phaphakh, kharnhah khammuh mhenhejher. Thaphih hakhuh khan bharhuh mhashuk kherjhah, mhashakh udhah thelhat bhalhik khanthor phas mhakhan shihang....? Nhanthih hakhuh bhishah dhaphat theghurhan." ( Kamu gak papa, karna kamu manager. Tapi aku kan baru masuk kerja, masak udah telat balik kantor pas makan siang...? Nanti aku bisa dapat teguran.)


Jawab Biqha sedikit khawatir kalo nanti mereka akan telat balik ke kantor. Ini hari pertamanya bekerja, dia tidak boleh melakukan kesalahan. Bila ingin bertahan di perusahaan ini.


" Tenang aja.... Gak akan ada yang berani negur kamu. Kan ada Yoga.... "

__ADS_1


Jawab Erick dengan entengnya sambil tersenyum.


Seketika Biqha menjadi kesal mendengar ucapan Erick.


' Tuh kan. Mulai... nyebelinnya. Sengaja nyindir-nyindir aku. Karena dia pasti tau aku diterima kerja karena bantuan Yoga. Dasar nyebellliiiinnnnnn...... '


Biqha bergumam kesal dalam hatinya.


' It's ok Biqha. Gak usah di dengerin. Yang penting kamu bisa dapat kesempatan kerja. Untuk membuktikan kemampuan kamu. Biarin aja mereka semua mau bilang apa. Kamu cuma harus buktikan ke mereka, kamu layak dan pantas mendapatkan pekerjaan ini.'


Biqha terus menyemangati dirinya sendiri, agar tidak perlu terpengaruh dengan sindiran Erick.


Sedangkan Erick yang menyadari kesalahan nya, karna melihat Biqha terdiam dengan raut wajah kesalnya jadi salah tingkah sendiri.


' Aduh..... Apaan sih Rick...??? Mulut lo kebiasaan banget gak bisa di kontrol. Jadi sewot kan tuh si cewek sensi.'


Erick mengumpat dirinya sendiri atas kesalahan yang ia lakukan barusan.


Tiba-tiba ponsel Erick berdering, terlihat panggilan dari Yoga disana. Saat Erick mencoba mengangkat panggilan tersebut, panggilan terputus karna ponsel Erick lowbat.


" Yah..... Lupa lagi gue buat ngecharge tadi."


Erick menepok jidatnya sendiri, karena lagi-lagi dia lupa untuk mengisi daya di ponselnya.


" Khennhaphah? Shiaphah yhang thelhephon?" ( Kenapa? Siapa yang telephon?)


Tanya Biqha yang penasaran melihat reaksi Erick seperti itu.


" Yoga. Tapi hp gue lowbat. Lo bawa hp gak Bi...? Bisa tolong hubungi Yoga? Kamu punya nomornya kan?! "


Erick meminta Biqha untuk menghubungi Yoga. Karena khawatir ada hal penting yang mau dibicarakan Yoga padanya. Biqha pun mengambil ponselnya dari kantong roknya. Biqha memang selalu mengantongi ponselnya, agar dia bisa mengetahui jika ponselnya bergetar. Karena panggilan ataupun pesan chat yang masuk.


Biqha mencoba menghubungi nomor Yoga, Namun nomornya tidak aktif.


" Ghakh hakthif... " ( Gak aktif...)


Jawab Biqha sambil menggelengkan kepalanya.


" Kok gak aktif sih? Barusan dia hubungi gue kok."


" Thapphih mhemhang ghakh hakthif. " ( Tapi memang gak aktif)


Jawab Biqha lagi pada Erick. Setelah mencoba menghubungi Yoga lagi, lalu meloudspeakerkan panggilannya agar Erick mendengarnya sendiri.


" Kira-kira kenapa ya Yoga hubungin gue? "


Karena Yoga tidak bisa di hubungi, Erick berpikir untuk menemuinya nanti saat kembali ke kantor setelah makan siang.


Dan karena itu pula, Erick membatalkan rencananya makan di warung bakso mang Udin. Untuk mempersingkat waktu, ia memutuskan makan siang di lokasi terdekat mereka saat ini. Agar bisa secepatnya kembali ke kantor.


Selama makan siang itu pun nyaris tidak ada obrolan diantara Erick dan Biqha. Selain kalimat-kalimat pendek basa-basi semata tentang pekerjaan.


Begitu kembali ke kantor, Erick dan Biqha langsung berpisah. Biqha langsung kembali ke ruangannya di lantai 10 sedangkan Erick langsung menuju ke lantai 12 untuk menemui Yoga.


" Febi.... Pak Yoga udah balik ke kantor?"


Tanya Erick pada sekretaris Yoga.


" Belum pak......" Jawab Febi cepat.


" Apa pak Yoga ada meeting di luar?"


" Tidak ada pak. Jika ada meeting diluar, saya atau pak fahri pasti diminta untuk ikut."


Jawab sekretaris itu lagi.

__ADS_1


" Terus kenapa hp nya tidak bisa di hubungi? Kira-kira ada apa ya?" Tanya nya lagi.


" Ya udah Feb.... Nanti kalau pak Yoga udah balik, tolong kasih tau saya ya...!


__ADS_2