
" Ghakh yhakh.... Khalhau phun khamhuh ghakh shukha bholhos, hakhu phasthi bhisha jhadhi jhuarha humhum. " ( Gak ya.... Kalau pun kamu gak suka bolos, aku pasti bisa jadi juara umum.)
Biqha tidak mau kalah. Dia pun membalas Erick. Kilatan permusuhan itu terlihat jelas dari sorot mata mereka yang tajam satu sama lain. Mereka seakan lupa kalau mereka harus menjaga sikap di depan rekan mereka. Apalagi Erick sebagai Bosnya.
" Alllaaahhhh... Buktinya sekali pun gue suka bolos, tetep gue yang lebih sering menduduki posisi terbaik. Udah lah Bi.... Akuin aja kekalahan lo. Gak perlu malu dapat peringkat ke dua. "
Erick bahkan tanpa sadar sudah bicara dengan bahasa yang tidak lagi formal, di depan bawahannya.
" Henhak hadjhah. Hakhu yhang lhebhih sherhing jhadhi jhuharha humhum. " ( Enak aja. Aku yang lebih sering jadi juara umum.)
" Gue Bi.... " Bantah Erick.
" Hakhu... " ( Aku....)
" Gue... "
" Hakhu... " ( Aku...)
Fajar, Doni, Lina, dan Desi sampai melongo melihat mereka bergantian. Mereka tercengang melihat dua orang dewasa bertingkah seperti bocah itu.
" Gue Bi.... Ni dengerin ya! Semester pertama gue yang jadi juara umum. Kedua lo, ketiga gue. keempat elo, terus kelima gue lagi. Semester akhir gak ada juara umum karna kita kelulusan." Ucap Erick sembari menegaskan dengan menunjuk satu persatu dari kelima jarinya.
" 3-2 buat gue. Jelas gue yang menang. " Tambah Erick dengan bangga.
" Heh.... Shemhesther hakhir nhilhai Huhen hakhu yhang therthingghi. " (Eh... Semester akhir nilai UN aku yang tertinggi.)
" Itu gak masuk itungan Bi..... Soalnya kan...gak di umumkan sebagai juara umum. Jadi itu gak termasuk. "
" Henhak hadjhah.... " ( Enak aja....)
Erick melambaikan tangannya di depan wajah Biqha, sebagai tanda penolakannya atas pernyataan Biqha. Dengan kesal Biqha menarik tangan Erick, bahkan mencengkram dan meremasnya.
" Akkhhhhhh..... Sakit. Kebiasaan banget sih... Kalo udah kalah pasti main fisik. Kalo gak ngeremet pasti nyubit. Sakit tau...."
Erick menjerit sambil menarik tangannya, lalu mengusap-usap bekas cengkraman Biqha tadi.
keempat rekanan itu pun sampai tercengang melihat tindakan Biqha. Mereka speechless dengan keberanian Biqha pada atasan mereka. Bahkan suara jeritan Erick sampai menarik perhatian pengunjung lain, yang mulai di dominasi anak-anak sekolah itu.
" Bhiarhin.... Khamhuh yhang mhulhai. " (Biarin.... kamu yang mulai.)
" Elo yang mulai. Bilang-bilang gue tukang bolos. Lagian udah jelas gue yang lebih sering juara umum, gak mau ngaku kalah. "
" Yhakh... Ghakh bhisha lhah. Mhasha shemhesther hakhir ghakh dhihithung. Khamhuh yhang ghakh mhahu khalhah. " ( Ya... Gak bisa lah. Masa semester akhir gak dihitung. Kamu yang gak mau kalah. )
" Elo... "
" Khammhhuhhh... " ( Kammmuuuhhh...)
Pusing plus malu melihat tingkah atasan dan rekannya itu, Fajar pun bertindak. Fajar menepuk pelan pundak kedua orang itu.
" Tiga sama. Artinya seri. Ok...! "
Erick dan Biqha pun terdiam. Fajar melirik ke kanan memberi kode pada kedua orang itu, kalau mereka sudah menjadi pusat perhatian di sana.
Malunya sampai ke ubun-ubun. Karena terpancing emosi satu sama lain, mereka tidak menyadari keadaan warung yang sudah ramai. Erick dan Biqha tertunduk, kompak berdehem karena salah tingkah.
" Sekarang kita makan! Waktu terus berjalan. Bisa-bisa kita telat nih balik kantor. "
Mendengar Ucapan Fajar, dua orang yang bertingkah seperti bocil tadi pun tertunduk patuh. Mereka memakan baksonya dalam diam. Namun tidak di dalam hati mereka.
' Sialan. Wibawa gue sebagai manager bener-bener jatuh sekarang. Kenapa gue gampang banget kepancing sama si Biqha sih.... '
' Ya Allah.... Malu banget. Dasar Erick nyebelin.... Nyesel banget tadi sempet simpati sama dia. "
Saat sedang membatin satu sama lain, tatapan tajam mereka kembali beradu. Erick mulai menggerakkan bibirnya tanpa bersuara.
__ADS_1
" Semua gara-gara lo... "
" Khamhuh. " (kamu)
Biqha tidak mau kalah dan langsung membalasnya tanpa bersuara juga.
Beberapa menit berlalu, keheningan masih terjadi diantara mereka. Hingga makanan mereka hampir habis, kecanggungan masih terasa. Desi yang merasa bosan, akhirnya memecah kesunyian itu.
" Emm... Pak Erick. Boleh nanya gak? "
Semua menoleh ke arah Desi. Begitu pun Biqha yang mengikuti arah pandang yang lain. Sementara Erick mengangkat alisnya, kemudian mengangguk.
" Pak Erick tertarik sama motor barunya mas Doni itu, karena modelnya yang limited edition, modifnya yang keren, atau karena motor itu dulunya milik Ericko Danuatmadja? "
Mendengar pertanyaan dari Desi, ekspresi Erick pun seketika berubah. Namun Erick berusaha sebisa mungkin bersikap biasa. Erick berusaha tersenyum menanggapinya.
Sementara Biqha meski masih merasa kesal, dia tetap memperhatikan perubahan ekspresi Erick. Dia juga bisa melihat senyum yang dipaksakan oleh Erick.
" Kok kamu nanyanya begitu Des? " Tanya Lina.
" Soalnya kan nama mereka sama. Cuma beda belakangnya doang. Wajahnya juga mirip. "
Jawaban Desi membuat Erick tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri. Biqha dengan sigap segera memberinya air.
" Jujur waktu pertama kali pak Erick masuk kantor, aku kira pak Erick itu Ericko Danuatmadja loh.... Soalnya mirip banget. Yah... Walaupun cuma pernah liat sedikit dari samping. " Lanjut Desi menjelaskan.
Erick memalingkan wajahnya, membelakangi mereka. Biqha yang melihat reaksinya itu, langsung menendang pelan kaki Erick dibawah meja. Dengan mimik wajahnya, Biqha berusaha memberitau Erick untuk bersikap tenang.
" Ehkhemmmm.... Masa sih?? "
Erick berdeham, mencoba mengendalikan situasinya dengan masuk ke dalam perbincangan itu.
" Iya pak. Tapi ya.... saya langsung berpikir. Gak mungkin kan seorang pebisnis muda dengan kerajaan bisnis yang udah merambah kemana-mana, tiba-tiba kerja jadi manager di perusahaan yang levelnya masih dibawahnya. Kalo gak salah, Atmadja Group juga punya saham 30% di perusahaan kita kan?! " Jelas Desi lagi.
" Kok lo bisa tau banyak soal yang gitu-gitu sih Des.... " Tanya Doni.
Seketika semua tersenyum lucu mendengar pernyataan Lina.
" Kalian tau gak si Ericko Danuatmadja itu terkenal misterius. " Ucap Desi.
" Misterius...??"
Ucap ketiga rekannya secara serentak. Tapi tidak dengan Biqha dan Erick. Mereka hanya menyimak dan mengamati.
" Iya. Dia tuh gak suka terekspose. Lebih anehnya lagi, tahun lalu semua datanya dihapus dari situs pencarian. Kalo dulu kita ketik nama dia aja, Udah muncul tuh banyak info tentangnya. Sekarang sama sekali gak ada. Terus katanya tiba-tiba dia juga menghilang. Berita yang tersebar sih, katanya dia kembali ke Inggris. Tapi gak sedikit juga rumor yang tersebar lainnya. " Desi mulai pada mode on bergosipnya.
Fajar, Doni, Lina, juga Biqha menyimak Desi dengan serius, namun Erick mulai jengah mendengarnya.
" Sempet ada rumor yang menghebohkan banget di Atmadja Group. Katanya si Ericko itu terlibat skandal, yang membuatnya terpaksa di asingkan." Lanjut Desi.
" Skandal..???"
Ketiga rekanannya yang lain kompak berucap kata yang sama, sangking terkejutnya. Biqha bahkan sampai melotot dan melongo. Sedangkan Erick langsung memalingkan wajah. Rahangnya mengeras karena menahan amarah. Matanya memerah dan mulai sedikit basah.
" Skandal apaan Des? " Tanya Lina yang semakin penasaran.
" Gak jelas sih... soal itu. Karena ceritanya masih simpang siur. Gak ada yang tau pasti itu bener apa gak. Tapi yang pasti.... Katanya rencana pernikahannya dengan tunangannya, BA... TAL. Karena setelah dikabarkan dia kembali ke Inggris, tunangannya masih sering terlihat di Indonesia. " Jelas Desi.
" Gila ya... Orang kaya. Ada aja tingkahnya." Ucap Doni.
" Orang kaya mah bebas Don. Tapi itu kan belum tentu bener juga. " Ucap Fajar menanggapi.
" Tapi iya lah. Siapa yang gak mau. Keren, banyak uang, tajir melintir, pasti jadi inceran cewek-cewek. Walau cuma untuk satu malam aja, pasti banyak cewek yang mau nempelin dia demi uangnya." Lina berspekulasi sendiri.
" Emang lo mau kayak begitu Lin? " Tanya Doni menggoda Lina.
__ADS_1
" Ih.... gue sih masih punya harga diri. Gila lo... " Jawab Lina emosi.
Erick merasa tidak lagi sanggup menahan emosinya, berbalik memandang tajam ke arah mereka.
" Udah puas bergosipnya? Kalau sudah, kita balik sekarang...! "
Semua langsung terdiam, merasakan atmosfir aneh yang tiba-tiba muncul dari tatapan tajam sang manager. Biqha yang sedari tadi ikut terhanyut mendengarkan gosip tentang Erick pun tersadar. Bahwa Ericko Danuatmadja yang mereka bicarakan, ada bersama mereka dan mendengar semuanya.
Biqha menatap Erick yang memandang tajam ke arah rekan-rekannya. Sorot mata yang memancarkan amarah, namun juga tersirat kesedihan itu kembali terlihat disana.
Kemudian Erick melangkah ke kasir dan membayar makanan yang mereka makan. Setelah itu, Erick berlalu meninggalkan mereka di belakang. Biqha dan rekan-rekannya pun segera menyusul, dan berjalan di belakangnya.
" Kenapa pak Erick kelihatan kesal dan marah ya..... Setelah mendengar tentang Ericko Danuatmadja? Apa jangan-jangan pak Erick masih kerabatnya? Soalnya lo tadi bilang, pak Erick mirip kan sama Ericko Danuatmadja Des?! " Ucap Doni menduga-duga.
" Masa kerabat namanya sama..?! " Jawab Desi.
" Tapi kalo di pikir-pikir pak Erick juga bukan orang biasa deh. Dia tinggal di apartemen mewah seharga miliaran rupiah. Kalo pun itu bukan miliknya pribadi, harga sewanya aja mencapai ratusan juta. Kalo cuma mengandalkan gaji sebagai manager aja, kayaknya gak akan cukup. " Jelas Doni.
" Jangan-jangan.... pak Erick itu....."
Ucapan Lina masih menggantung, tapi seakan yang lainnya mengerti maksud ucapannya. wajah mereka menjadi pucat pasi.
" Phakh Ehrhik phunyhah hushaha khechil-khechilhan, shebhelhum jhadhi mhenhejher dhi khanthor. " ( Pak Erick punya usaha kecil-kecilan, sebelum jadi manager di kantor. )
Biqha berusaha mematahkan dugaan mereka, agar rahasia Erick tetap terjaga. Mengingat bagaimana Erick berusaha keras menutupi jati dirinya, Biqha yakin itu pasti karena dia sedang mengalami masalah yang pelik. Jadi Biqha memutuskan untuk membantu Erick menutupi rahasianya. Meski di dalam hati dia juga bertanya-tanya.
" Usaha apa Biqha? " Tanya Fajar.
" Dhia bhukha houtlhet mhinhumhan bhobha dhi mhol. Bhukhan chumha shatu, thaphi shekharhang dhia phunyhah dhelhaphan houtlhet dhi dhelhaphan mhol bherbhedha dhalham shathu thahun. Bhebherhaphah bhulhan lhalhu, dhiha jhugha bhukha houtlhet bharhu. Nhamhanyha heshkrhim hanhih bhobha, Khalhau ghakh shalhah. "
( Dia buka outlet minuman boba di mall. Bukan cuma satu, tapi sekarang dia punya delapan outlet di delapan mall berbeda dalam satu tahun. Beberapa bulan lalu, dia juga buka outlet baru. Namanya Ice cream honey boba, kalo gak salah. ) Jelas Biqha.
" Wih..... Keren. " Ucap Lina dan Desi bersamaan.
" Lumayan juga tuh. Kalo sehari tiap outletnya bisa ngasilin 100 ribu aja, udah 800 ribu perhari. Sebulan 24 juta. Setahun 288 juta men..... " Ucap Doni memperhitungkan.
Di tengah perbincangan itu, tiba-tiba suara klason motor mengagetkan mereka. Erick yang sudah bersiap di atas motor memanggil mereka dengan membunyikan klakson berkali-kali.
" Buruan sana Biqha.... Udah di panggil noh. " Ucap Lina sembari mendorong Biqha.
" Mhas Dhoni hadjah dheh... yhang bhoncheng phakh Ehrhik. " ( Mas Doni aja deh.... yang bonceng pak Erick.) Bujuk Biqha pada Doni.
" Sori Biqha. Kali ini gue gak berani. Gue biar bonceng Fajar aja deh. "
" Udah sana Bi... Lagian kalian keliatan serasi kok. Apalagi pas di dalam warung tadi. wkwkw. " Ucap Desi yang juga mengundang tawa yang lainnya.
" Sherhashi dharhi hongkhong.... " ( Serasi dari hongkong... ) Jawabnya jengah.
" Sumpah ya Biqha... tadinya kita gak percaya. Waktu dulu lo bilang, lo sama pak Erick itu bukan temen tapi kayak musuh bebuyutan. karena kalian keliatan anteng-anteng aja di kantor. Eh... gak taunya bener loh... Sampe tadi lo ngeremet tangan pak Erick segitunya. Berani banget lo.... Gak takut nanti lo dapat masalah di kantor? " Ucap Lina sambil sedikit tertawa.
Kalimat Lina yang terakhir membuat Biqha terpaku. Dia baru saja menyadari kalau dia telah melakukan kesalahan. Bagaimana pun Erick adalah atasannya di kantor.
" Tuh kan... pasti lo gak nyadar ya tadi? "
" Udah buruan sana.... Sebelum pak bos tambah marah. " Ucap Fajar.
Biqha pun segera mendekat dan naik ke boncengan motor yang akan di kendarai Erick.
" Lama banget sih....? Belum puas menggosipnya? " Ketus Erick pada Biqha.
Biqha hanya bisa terdiam dan menunduk. Dia mengerti saat ini pasti perasaan Erick sedang bergemuruh.
Di perjalanan, tak ada sepatah pun kata yang keluar dari mulut mereka. Erick hanya fokus mengemudi. Sementara Biqha melamun memikirkan gosip yang Desi bilang tadi.
Sebenarnya Biqha meragukan kebenaran rumor itu. Karena Erick yang Biqha kenal bukan tipe lelaki brengsek, playboy, dan suka mempermainkan perempuan. Erick justru terkesan acuh terhadap perempuan. Biqha bahkan tidak pernah melihat Erick menggoda cewek sekali pun.
__ADS_1
' Apa mungkin Erick berubah setelah kuliah di luar negri? Dia jadi terkontaminasi dengan budaya asing, karena itu dia jadi terlibat skandal yang akhirnya membuat dia terbuang seperti ini? '