Cinta Dalam Tragedi

Cinta Dalam Tragedi
Bab 35. Kebenaran


__ADS_3

Yoga sangat terkejut dan menjadi panik, saat mengetahui kedatangan ayahnya di kantor, lebih tepatnya di ruangan manager keuangannya dari Biqha. Ketika dia sedang berusaha membujuk gadis yang dia cinta via chat, agar mau makan siang bersamanya. Biqha malah menulis pesan yang membuatnya shok.


// Apa kamu gak punya rencana makan siang sama papa kamu? //


// Btw, apa perusahaan sedang ada masalah? Atau pertemuan tadi malam dengan klien dari luar itu, tidak berjalan lancar ya? Sampai papa kamu datang kesini langsung menemui manager keuangan? //


Yoga bangkit dari duduknya kemudian berlari, ingin segera keluar untuk menghampiri Biqha, Lalu membawanya pergi dari sana. Dia takut papanya akan berbuat kasar pada Biqha. Tapi seketika dia menghentikan langkahnya dan berpikir sejenak. Tidak mungkin dia melakukannya, karena ada banyak karyawan yang akan melihat.


Yoga berjalan mondar- mandir dengan paniknya. Kemudian dia berusaha berpikir dengan tenang, lalu kembali melihat chat dari Biqha dan membacanya.


' Keruangan manager? Untuk apa papa menemui Erick? Apa yang sebenarnya ingin papa lakukan? Apa papa bermaksud memerintah Erick untuk menyingkirkan Biqha? Aku harus bicara dengan Erick.....'


Yoga melihat arloji ditangannya. Jam makan siang kurang sepuluh menit lagi.


' Erick masih bersama papa. Lebih baik aku bawa Biqha pergi lebih dulu dari sana. Mungkin saja.... papa sengaja menemui Erick untuk bicara dengan Biqha siang ini.'


Yoga segera menulis pesan kembali pada Biqha.


// Sayang.... Aku tunggu kamu di restoran XX. Ada hal yang ingin aku bicarakan sama kamu. Sekarang juga kamu keluarlah....! Aku juga akan kesana sekarang juga. //


Meski Yoga belum tau pasti apa yang akan dia katakan pada Biqha, namun satu hal yang harus dia lakukan saat ini adalah menghalangi papanya menemui Biqha. Tentang apakah dia sanggup untuk berkata jujur pada Biqha atau tidak, itu biar jadi urusan nanti. Yang penting dia harus membawa Biqha keluar kantor saat ini. Namun dia juga tidak mungkin menemuinya langsung.


Setelah mengirim pesan itu, Yoga langsung keluar dari ruangannya. Kemudian menghampiri sekretarisnya, meminta sekretarisnya itu memesan private room di restoran yang dia sebutkan pada Biqha tadi.


" Saya langsung berangkat sekarang. Kamu kabari saya secepatnya ya....! "


Yoga berbalik dan bergegas ingin pergi, namun sekejap kemudian dia kembali berbalik arah.


" Satu lagi.... Kalau papa saya datang kesini, bilang saya keluar. Tapi jangan beritau dia saya kemana. Kalau sampai dia tau, kamu saya pecat."


Sementara di lain tempat.....


Sebelum sempat Biqha membalas chat dari Yoga, pintu ruang manager disebelahnya terbuka. Biqha pun urung membalas pesan Yoga tersebut, dan langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku blezernya.


Sorot mata Biqha tak sengaja bertemu dengan tatapan tajam ayah Yoga. Meski merasa tak nyaman dengan tatapan ayah Yoga, Biqha mengukir senyum sembari sedikit menundukkan kepalanya. Berusaha bersikap ramah dengan sopan santunnya.


Namun Ayah Yoga bersikap sebaliknya, ia langsung memalingkan wajah dan berlalu begitu saja mengacuhkan Biqha. Di ikuti Erick di belakangnya, yang juga sempat beradu tatap dengan Biqha. Namun tatapan Erick sulit diartikan, membuat Biqha semakin merasa tidak nyaman, seakan ada yang salah dengan dirinya.


' Kenapa papanya Yoga dan Erick memandangku seperti itu ya? Apa aku melakukan kesalahan? Atau cuma perasaanku aja ya...?!'


Biqha lalu teringat pesan chat yang Yoga kirimkan. Dia kembali mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan chat itu.


' Apa yang ingin Yoga bicarakan berkaitan dengan kedatangan papanya kesini?'


Tiba-tiba Biqha membulatkan matanya, saat terpikirkan satu kemungkinan yang sedang terjadi.


' Apa mungkin Yoga sudah memberitau orang tuanya tentang hubungan kami? Kemarin Yoga bilang dia akan memakan kue buatanku bersama orang tuanya, dan mengatakan pada mereka kalau kue itu buatan calon menantu mereka. Apa mungkin karena itu papa Yoga datang kesini? Untuk mencari tau tentangku dari Erick. Ya Allah..... Apa yang sedang aku pikirkan....?! Tapi jika itu benar, sepertinya papa Yoga tidak merestuinya berhubungan dengan gadis sepertiku. '


Biqha mulai gelisah memikirkan kemungkinan itu, namun ia tidak mau tenggelam dalam dugaan-dugaannya sendiri. Karena itu dia memutuskan untuk pergi menemui Yoga. Dia membuat alasan dengan rekan-rekannya kalau dia sedang ada keperluan lain siang ini, jadi tidak bisa makan siang bersama mereka.


Sedangkan Erick, setelah mengantarkan om Adi hingga masuk ke dalam lift, dia tidak kembali ke ruangannya. Melainkan memasuki lift yang lain menuju kantor CEO. Dia hendak menemui Yoga dan memastikan langsung masalah ini.


Namun saat dia sampai di tempat tujuannya, sang sekretaris CEO mengatakan kalau Yoga baru saja keluar untuk makan siang. Tapi dia tidak memberitaukan kemana Yoga pergi. Karena itu Erick juga memutuskan untuk pergi makan siang lebih dulu. Setelah itu dia akan kembali menemui Yoga, dan mencoba bicara dengannya.


Pintu lift yang Erick gunakan terbuka di lantai tempatnya bekerja. Disana ada Biqha dan ke empat rekannya. Kemudian mereka masuk dan turun bersama ke lantai dasar. Di dalam lift, Desi mencoba membangun komunikasi dengan managernya, sekaligus mencoba memenuhi rasa penasarannya.

__ADS_1


" Tadi pak Adi ada keperluan apa kesini pak? Tumben-tumbenan. Padahal setelah pak Adi mengangkat pak Yoga menjadi CEO menggantikannya, pak Adi gak pernah kan masuk kantor lagi."


" Mau masuk gak masuk ya terserah beliau.... Kan beliau pemilik perusahaan ini. Memangnya ada yang berani mengatur beliau disini? "


Jawab Erick santai dengan senyum manis terukir di wajahnya, namun juga terdengar tegas oleh para karyawannya. Membuat Desi terdiam dan tersenyum malu. Begitu juga ketiga rekannya yang tidak bisa menahan diri menertawakan dirinya.


Disela tawa kecil mereka, Erick melihat Biqha yang ada di dekat pintu lift. Dalam hati ia menimbang-nimbang pemikiran, apakah perlu memastikan masalah ini lebih dulu pada Biqha atau tidak. Erick merasa ragu dan enggan melakukannya. Karena jika dia meminta bicara empat mata denganya, rekan-rekan Biqha akan curiga dan bertanya-tanya.


Sementara itu, Biqha menyadari Erick melirik ke arahnya dari ujung ekor matanya. Tatapannya sama seperti tadi saat dia bersama papanya Yoga, begitu sulit diartikan. tatapannya lekat, namun tersirat kesenduan. Kemudian Erick berpaling, dan terlihat menarik nafas panjang. Biqha tidak mengerti mengapa Erick memandangnya seperti itu.


Setelah pintu lift kembali terbuka, mereka berpisah. Melangkah ke tujuan masing-masing. Erick langsung menuju pakiran dan masuk ke dalam mobilnya.


Saat mobil Erick melaju perlahan sampai di pelataran gedung kantor, Dia terkejut melihat Biqha berdiri di depan pagar kantor. Seketika Erick menghentikan laju mobilnya. Kemudian dia melihat seorang ojol menghampiri Biqha.


" Mau kemana dia? Kenapa dia gak bareng-bareng temennya seperti biasa?"


Saat Erick memalingkan pandangannya sejenak dari Biqha sembari berpikir. Erick melihat ada dua orang pria diatas motor dengan helm dan memakai masker di wajahnya, seperti sedang memperhatikan Biqha dari jarak yang tidak terlalu jauh. Gerak-gerik mereka cukup mencurigakan bagi Erick.


Dan benar saja, begitu ojol yang ditumpangi Biqha melaju, mereka langsung mengikutinya. Melihat hal itu, tanpa pikir panjang Erick pun mengikuti mereka dari belakang. Meski laju motor dan mobil tidak sebanding, namun Erick berusaha menjaga kecepatan laju mobilnya. Agar tidak kehilangan jejak mereka.


" Siapa mereka? Kenapa mereka mengikuti Biqha?"


Tanya Erick pada dirinya sendiri. Kemudian dia teringat perkataan om Adi padanya tadi.


' Kalau sampai terbukti mereka menjalin hubungan selama ini, om pasti akan bertindak '


Bola mata Erick melebar mengingat hal itu.


" Apa mungkin om Adi sengaja menyuruh orang mengikuti Biqha dan memata-matai gerak-geriknya? "


Erick semakin cemas memikirkan kemungkinan itu.


Erick terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Namun sedetik kemudian Erick menyangkal pemikirannya sendiri.


' Gak.... Biqha bukan tipe gadis seperti itu. Kalau selama ini dia dengan teguh memegang prinsipnya untuk gak pacaran sebelum memenuhi harapan sang ayah, gak mungkin dia bersikap rendah dengan menjadi ketiga. '


Erick bermonolog dalam hatinya. Sambil terus mengikuti mereka, sampai memasuki area restoran mewah. Tempat yang dulu sering dia kunjungi untuk bertemu dan menjamu klien-klien penting perusahaannya. Atau sekedar makan malam bersama seseorang di masa lalunya.


" Mau apa Biqha kesini? "


Erick tampak kecewa melihat Biqha ada di sana. Erick merasa kecurigaannya mungkin saja benar. Lalu Erick melihat salah satu orang yang mengikuti Biqha tadi, mengambil gambar Biqha yang sedang berjalan menyusuri pekarangan restoran itu dengan ponselnya. Kemudian menelphon seseorang.


Erick keluar dari mobilnya dan bergerak cepat setengah berlari menuju pintu masuk restoran, berusaha menyusul Biqha. Begitu memasuki restoran, Erick melihat Biqha sedang bicara dengan seorang waitress. Tanpa pikir panjang lagi, dengan cepat Erick menghampirinya dan langsung menarik tangan Biqha.


Biqha sangat terkejut, namun belum sempat dia mengatakan apapun. Erick sudah menyeretnya berjalan memasuki lift. Dan waitress itu pun mengikuti mereka, setelah Erick memperlihatkan sebuah kartu akses khusus untuk mendapatkan pelayanan VVIP.


Erick terpaksa menggunakan akses khusus itu, untuk bisa bicara empat mata dengan Biqha secara leluasa. Dia bahkan tidak memperhitungkan resiko apa yang akan dia tanggung, jika sampai papanya tau dia sudah melanggar kesepakatan. Dengan menggunakan fasilitas mewah sebagai bagian dari Atmadja Group.


Erick terus memegang erat tangan Biqha, tanpa memperdulikan Biqha yang berusaha keras melepaskan cengkraman tangannya.Sampai di lantai 3, di area private room VVIP, Erick menghentikan langkahnya.


" Dimana? " Tanyanya pada waitress itu.


" Bapak tinggal pilih mau ruangan yang mana. Karena saat ini semua ruang VVIP sedang kosong."


" Baik, terima kasih. "

__ADS_1


Erick membuka pintu ruangan yang terdekat.Namun sebelum masuk, Erick berbalik ke arah waitress.


" Jangan ada yang masuk sebelum saya panggil." perintahnya pada waitress.


" Baik pak."


Kemudian menyeret Biqha masuk dan kembali menutup rapat pintu itu. Saat Erick lengah, dengan cepat Biqha menarik tangannya.


" Hapha-haphahan shih? Khenhapha khamhu thibha-thibha bhawha hakhu khe shinhi? Khamhu mhau hapha?" (Apa-apaan sih? Kenapa kamu tiba-tiba bawa aku ke sini? Kamu mau apa?)


" Harusnya gue yang nanya. Mau apa lo disini? Siapa yang mau lo temuin disini, Hah?"


Biqha terdiam, dia gugup karena tidak tau apa yang harus dia katakan untuk menjawab pertanyaan Erick.


" Tempat ini sama sekali gak sesuai dengan isi dompet lo, Bi. Dengan siapa lo janjian ketemu disini?"


Tanya Erick dengan lantang pada Biqha. Karena melihat gelagat Biqha yang gugup, Erick semakin curiga dan tidak bisa menahan emosinya.


Biqha merasa tersinggung dengan ucapan Erick, namun dia tidak bisa membantah. Karena apa yang Erick katakan adalah benar. Mencurigakan sekali bila orang menengah kebawah seperti dirinya makan di tempat mewah seperti ini. Biqha hanya bisa diam dan menunduk.


Kemudian Biqha merasakan ponselnya bergetar dibalik saku blezernya. Biqha pun mengambilnya dan melihat layar ponsel tersebut. Ternyata Yoga menghubunginya. Biqha tidak mengangkatnya dan berusaha menyembunyikannya dari Erick. Namun tangannya kalah cepat dari Erick.


Erick merebut ponsel Biqha dan melihat layar ponselnya, yang tertera jelas nama dan foto profile Yoga disana. Bola mata Erick membulat sempurna. Dia masih sulit percaya, kalau dugaan om Adi ternyata benar. Kemudian dia tersenyum sinis pada Biqha. Lalu Biqha merebut kembali ponselnya.


" Gue pikir lo wanita cerdas Bi.... Tapi ternyata lo gak lebih dari cewek bego yang gak punya harga diri."


" Mhakhshud khamhu hapha? Jhanghan shehenhaknyha yhah khalhau homhong." (Maksud kamu apa? Jangan seenaknya ya kalau ngomong.)


Biqha tidak terima dengan hinaan demi hinaan yang Erick lontarkan padanya. Matanya sampai memerah dan berlinang. Karena merasa sakit hati dengan ucapan Erick.


" Athas dhashar hapha khamhu bhisha mhenghinha hakhu, shebhaghai chewhek bhegho yhang ghakh phunyha hargha dhirhi?" ( Atas dasar apa kamu bisa menghina aku, sebagai cewek bego yang gak punya harga diri?)


Airmata Biqha semakin terlihat dan nyaris tumpah. Membuat Erick memalingkan wajahnya, karena tidak tahan melihat airmatanya.


Erick menarik nafas panjang, berusaha mengontrol emosinya. Kemudian kembali menatap Biqha.


" Sekarang jawab dengan jujur ! Lo datang kesini karna janjian ketemu sama Yoga, kan? Apa lo selama ini diem-diem menjalin hubungan spesial dengan Yoga, Bi....?"


" Khalhau ihyha ehmhang khenhapha? Ihthu bhukhan uhrhushan khamhu. " ( Kalau iya emang kenapa? Itu bukan urusan kamu.)


Biqha menjawab dengan lantang, dengan nada tak kalah tinggi dari Erick. Mendengar jawaban Biqha, Erick kembali tersenyum sinis.


" Tadi lo dengan lantang gak terima gue sebut cewek bego dan gak punya harga diri. Tapi sekarang apa? Lo dengan bangga mengakui semuanya."


Biqha mengernyitkan alisnya. Dia benar-benar tidak mengerti.


" Jhanghan shbharhanghan khamhu. " ( Jangan sembarangan kamu.)


" Lalu apa sebutan yang pantas buat lo, Bi? "


" CHUKHUP...... Bherhenthi mhenghinhakhu shepherthi ihthu ! " ( CUKUP.... Berhenti menghinaku seperti itu)


Airmata Biqha luluh, akhirnya jatuh membasahi pipinya.


" Mhemhangnyha ahpha shalhahkhu? Shamphai harhus mhenherhimha shemhua hinhahanmhu." ( Memangnya apa salahku? Sampai harus menerima semua hinaanmu.)

__ADS_1


" JELAS LO SALAH BI..... Sejak kapan menjadi orang ketiga, dan merusak kebahagiaan orang lain itu benar? Belajar sama siapa lo, sampe punya pikiran berhubungan sama orang yang sudah bertunangan itu benar? "


Kebenaran yang Erick lontarkan, Bagai petir yang menyambar jiwa Biqha.


__ADS_2