
Jimmy pun memberikan uang jajan pada Gala lagi. Gaji bulanan sampai tidak tersentuh, karena Gala selalu menggunakan uang jajan dari Jimmy.
Gala tidak membawa oleh-oleh, karena Gala bukan tipe orang yang suka membawa banyak barang bawaan.
Gala mencari hotel terdekat untuk istirahat dan makan, sesuai dengan perintah Jimmy. Dan keesokan harinya Gala baru memulai perjalanan menuju Basecamp Zero.
Gala menggunakan transportasi umum ke pinggiran hutan. Lalu berjalan memasuki hutan. Dia membuang kopernya hanya membawa ransel kecil untuk membawa barang berharganya dan senjata. Gala memasuki hutan itu. Dia tahu di mana jalan pintas untuk sampai ke Basecamp Zero.
Setelah 3 hari 3 malam berjalan kaki, sampailah Gala di depan gerbang Basecamp.
Gala memiliki akses keluar masuk dengan ID card nya.
Melihat Gala memasuki gerbang, orang - orang langsung memberi hormat pada Gala
salah satu dari mereka segera memberitahu Zero kedatangan Tuan muda.
Mendengar hal itu Zero dan Grey segera menjemput Gala di gerbang utama. Karena jalannya masih jauh untuk masuk ke dalam hunian mereka.
" Tuan ... " Zero benar-benar seperti melihat Panglima saat muda.
" Om, Grey ..." sapa Gala.
" Tuan Muda, anda sangat mirip sekali dengan Panglima." ujar Zero.
"Sebenarnya itu kata yang tidak ingin aku dengar, tapi mau bagaimana mana lagi aku ini putranya." Ujar Gala pasrah.
Zero dan Grey tertawa mendengarnya.
Mereka pun segera melanjutkan perjalanan untuk masuk ke hunian mereka.
" Bagaimana kabar Lily?" tanya Gala.
" Tuan Muda, aku tidak mengerti dengan Lily, sebenarnya dia itu anak siapa ya?" keluh Zero.
Gala melihat ke arah Grey, untuk meminta kejelasan dari perkataan Zero.
" Lily sangat nakal Tuan, sekarang dia tidak sekolah, karena gurunya sudah tidak sanggup mendidiknya." ujar Grey.
Gala juga tidak kaget, karena dari kecil sudah membuat masalah, tidak ada Deya, Lily pun jadi kalau soal membuat masalah, dua anak ini adalah jagonya.
Sampailah mereka di permukiman. Gala segera turun, Gala sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Lily. Melihat gelagat Tuan Mudanya Grey sangat mengerti.
" Tuan Muda, Lily seperti biasa jam segini ada di sekitar menara." ujar Grey.
Gala mengangguk, Gala segera berlari menuju menara pohon buatan ayahnya, mencari keberadaan Lily.
Terdengar suara Oddie, menggonggong keras. Oddie rupanya masih berada di kandang, Oddie sudah mendobrak - dobrak ingin keluar kandang karena mencium bau Gala.
__ADS_1
" Apa Lily mengurungmu terus Oddie?" tanya Gala di depan kandang Oddie.
"Siapa kau?, jangan mengganggu anjingku!" teriak seseorang dari belakang.
Gala tahu siapa itu, Gala pun segera menoleh ke belakang. Dia bermaksud memberikan kejutan pada Lily, tapi malah Gala yang terkejut malah Gala melihat Lily yang sekarang.
Lily terlihat sangat cantik mengenakan dress berwarna merah muda selutut, rambutnya sudah panjang, benar-benar seperti seorang putri.
" Kau siapa?, aku tidak pernah melihatmu." ujar Lily bertanya.
" Lily, beraninya kau melupakanku!" ujar Gala.
Lily mencoba mengingat lagi siapakah pria begitu tampan dihadapannya itu, terlihat tidak asing, tapi siapa.
" Oddie adalah milikku." ujar Gala.
Barulah Lily ingat, jika pria tampan dihadapannya itu adalah Manggala, yang dia panggil paman.
" Paman Gala?" tanya Lily memastikan.
" Hemmm." Gala mengangguk, rasanya sangat kesal sekali karena Lily benar - benar melupakannya.
Gala sangat terkejut, karena Lily tiba-tiba memeluknya.
" Paman akhirnya kau kembali, Lily sudah mau menyusul Paman ke kota." ujar Lily.
" Paman, Gendong Lily." Lily langsung bergelantung pada Gala. Jantung Gala semakin berdebar kencang.
Gala masih syok, karena jelas rasanya sangat berbeda dengan Lily kecil saat itu.
" Paman, kenapa tidak sayang pada Lily lagi?" tanya Lily. Gala dengan tangan agak gemetar membalas pelukan Lily.
" Lily, kau cepat sekali besarnya?, berapa umurmu?" tanya Gala.
" 15 tahun Paman." jawab Lily.
" Bisakah, Lily turun?, Paman sedikit kesemutan tangannya." Gala segera melepaskan tangannya, saat menyentuh Lily seakan ada aliran listrik ke seluruh tubuhnya.
Lily pun segera turun. Lily merangkul lengan Gala dengan sangat manja.
" Paman, bawa Lily bersama Paman ya?, jangan tinggalkan Lily lagi, di sini semua sangat galak pada Lily." Lily mengadu pada pamannya.
Gala tersenyum, mendengar ocehan gadis itu masih sama seperti dulu.
" Paman, kau sangat tampan, apa kau sudah punya pacar?" ujar Lily bertanya.
Pertanyaan Lily justru menusuk hati Gala, dia sengaja tidak ingin berurusan dengan wanita karena sudah berjanji akan menikahi Lily di masa depan pada Zero.
__ADS_1
" Paman kenapa diam saja?" ujar Lily.
" Lily ingin paman menikah dengan wanita lain?" tanya Gala.
" Kata Ibu, semua orang dewasa akan menikah, paman kan sudah dewasa." ujar Lily.
" Lalu Lily apa juga akan menikah?" tanya Gala.
" Tentu saja, aku ingin menikah dengan seorang dokter di masa depan." ujar Lily dengan sangat polos.
Hati Gala semakin tertusuk, saat mendengar Lily menyukai seorang dokter.
" Apa harus dokter?, kenapa tidak menikahi seseorang yang seperti ayahmu?"
" Tidak mau, kehidupan Ayah terlalu beresiko, setiap hari Ayah bisa membunuh puluhan penjahat." ujar Lily.
" Ayahmu seorang super hero, apa itu tidak keren?" ujar Gala.
Lily hanya menggeleng kepala, rasanya cukup patah hati mendengar Lily tidak menyukai pekerjaan seperti ayahnya, padahal Gala bisa lebih kejam dari Zero. Dan lagi Gala buka lah seorang dokter.
" Bagaimana tentang Paman?" tanya Gala.
" Paman adalah orang yang paling baik pada Lily, Lily sangat sayang Paman." jawab Lily.
" Kalau begitu, menikahlah dengan Paman." ujar Gala.
" Memang boleh menikahi Paman sendiri?" ujar Lily.
" Boleh jika yang kau nikahi aku!" jawab Gala.
" Pfffffft, ... " Lily hanya tertawa.
Gala pun juga tersenyum, mau bagaimana lagi. Lily masih 15 tahun. Gala mengeluarkan Oddie dari kandang, Oddie langsung melompat pada Gala, betapa senangnya Oddie bertemu dengan Gala.
Gala mengajak Lily dan Oddie naik ke menara pohon, mereka duduk dan bercerita banyak hal, Lily pun langsung mengadu pada Gala, bagaimana orang tua dan abangnya sangat galak padanya.
Gala mendengarkan ocehan gadis 15 tahun itu sambil senyum-senyum sendiri. Kelakuannya memang sama persis dengan Deya, mereka jika dijadikan satu bisa menjungkir balikan Basecamp.
" Paman, bawa aku ke kota ya." pinta Lily.
" Nanti Paman bicarakan pada orang tuamu dulu, bolehkah mengajakmu ke kota." jawab Gala.
Gala merebahkan tubuhnya di papan kayu di menara itu, merasakan sentuhan angin dan mendengarkan cerita Lily membuatnya mengantuk. Tanpa di ketahui Lily Gala sudah tertidur pulas.
Gala sebenarnya sangat lelah, karena dia berjalan kaki 3 hari 3 malam demi menemui Lily, tentu saja yang harus dia temui lebih dulu adalah Lily dulu baru yang lain.
Karena tidak mendengar sahutan dari Gala, Lily pun menoleh ke belakang, rupanya Gala sudah tertidur pulas begitu juga dengan Oddie, tidur di kaki Gala.
__ADS_1
Lily langsung ikut tidur, di atas dada Gala yang sudah pulas, rasanya sangat nyaman tidur di atas dada Gala sampai Lily pun ikut tertidur.