
" Lily kita beli es boba yuk, kau pasti belum pernah coba ya?" ujar Deya.
"Apa itu es Boba kak?" Deya mana tahu es boba.
"Kita keluar saja bagaimana?" ajak Deya.
Tentu saja Lily tidak akan menolak ajakan Deya, itu pasti seru keluar tanpa Gala. Mereka sungguh melupakan peringatan Gala untuk tidak meninggalkan kediaman.
Deya segera mengajak Lily pergi berkeliling ke tempat yang dekat-dekat saja, dan tentunya membeli es boba.
Lily sangat heran dengan perkotaan, begitu ramai.
Setelah membeli boba, Deya juga membeli banyak cemilan dan juga kue untuk mereka makan, karena hobby Deya adalah jajan, Deya sangat suka jajan, makanan di pinggir jalan.
"Pak mau telur gulungnya 20 ya." pinta Deya.
Lalu Deya bergeser ke penjual lain, hampir semua dia beli.
" Lily jika kau ingin makan sesuatu pesan saja sesukamu!" pinta Deya.
Lily langsung bersemangat, dia segera melihat-lihat apa yang ingin dia coba.
Deya terlalu sibuk dengan pesanannya sampai lupa kalau Lily tidak terlihat lagi.
"Mampus dimana anak itu?" Deya segera mencari Lily, matilah jika terjadi sesuatu pada Lily.
Karna Deya tahu Lily adalah harta berharga milik abangnya Gala.
Terlihat ada gerombolan orang yang sedang mengeroyok orang, tidak tahu kenapa, Deya terus fokus mencari Lily karena Lily lebih penting dari apapun sekarang.
Deya sudah mecari di sekitar tempat itu berputar sampai 3 kali, tapi tidak menemukan Lily, Deya pun bertanya pada orang sekitar dengan menunjuk foto Lily.
"Loh ini kan gadis yang mencuri boneka doraemon di tok boneka tadi." ujar orang tersebut.
"Eh, mana mungkin, dia tidak mungkin mencuri." ujar Deya.
"Benar kok Nona, dia di bawa ke pos keamanan." Ujarnya orang itu begitu yakin.
Deya segera berlari menuju pos keamanan, benar saja Lily sudah diborgol dan mau diangkut ke kantor polisi.
"Tunggu Pak, ini keponakan saya." teriak Deya.
"Nona keponakan anda mencuri, harus di proses ke kantor polisi." ujar seorang petugas yang mengamankan Lily.
"Aunty, katanya Lily bisa mendapatkan apa yang Lily inginkan, tapi mereka mengatakan Lily pencuri." ujar Lily polos.
Astaga aku lupa jika berbicara dengan Lily harus lebih jelas lagi.
__ADS_1
" Maaf Pak, kita selesaikan secara kekeluargaan saja, kami mampu kok membayar bonekanya." ujar Deya segera mengeluarkan uang untuk membayar.
"Nona tidak boleh seperti itu, keponakan anda harus diberi pelajaran, jika tidak dia akan mengulanginya lagi." Pemilik toko itu tetap ingin menuntut Lily.
"Tapi keponakan saya ini tidak bermaksud mencuri pak, di kampung halamannya berbeda dengan di kota." ujar Deya.
Pemilik toko itu malah mengira Deya dan Lily bersekongkol, dengan alasan yang tidak masuk akal, di kampung mana pun juga pasti sama ada penerapan jual beli.
Akhirnya Lily dan Deya di bawa ke kantor polisi.
"Nona keponakan anda dari mana?, apa dia tidak membawa kartu identitas?" tanya petugas kepolisian.
"Dia baru 17 tahu bulan ini pak, baru mau buat." Deya membuat alibi.
"Berikan nomer wali kalian." pinta petugas itu.
"Pak, saya kan juga bisa menjaminnya, berapa yang harus saya bayar?" tanya Deya.
"Tidak, ini bukan masalah uang jaminan, tapi pemilik toko itu hanya ingin memberikan pelajaran pada kalian untuk merasakan tidur di sel, agar kapok tidak mengulanginya lagi." ujar petugas itu.
"Pak, kok gitu?, buktinya apa kalau saya terlibat?" Deya sangat kesal dengan petugas itu.
" Barang bukti adalah boneka yang di bawa keponakanmu, itu sudah cukup." ujar petugas itu.
Deya merasa tidak masuk akal dengan petugas itu, bagaimana bisa menarik dirinya terlibat dalam kasus yang belum tentu kebenarannya.
Dalam hati Deya.
"Pak, yakin mau saya berikan nomer wali saya?" tanya Deya pada petugas itu.
"Ayolah jangan buang waktu, cepat!" Petugas itu hilang kesabaran dengan Deya yang tidak sat set.
Deya langsung menuliskan nomor Jimmy dan juga Bara.
"Dari tadi kenapa?" Petugas itu segera mengambil kertas itu dan segera menghubungi nomer yang tertera di sana.
Deya hanya bisa meminta bantuan Bara dan Jimmy, jika meminta bantuan Gala, Deya sudah tahu akan akhir dalam hidupnya nanti.
Lily dan Deya pun di masukkan ke sel tahanan sementara, menunggu walinya untuk mengambilnya.
Mereka berpikir Deya dan Lily ini seumuran karena wajah Deya sangat baby face, karena Deya juga tidak membawa kartu identitas, jadi petugas mengira mereka anak-anak nakal yang bersekongkol, dan mencurigai uang milik Deya juga bukan miliknya karena itu terlalu banyak.
Tiba-tiba semua orang di kantor polisi heboh karena kedatangan orang nomer satu dan juga seorang Panglima.
Mereka berpikir ada kunjungan mendadak dari presiden. Mereka segera merapikan pakaian dan juga tempat kerja mereka, lalu memberi penghormatan pada Jimmy dan juga Panglima.
Pemimpin di kantor itu segera menyambut kedatangan mendadak dari Jimmy dan Panglima.
__ADS_1
"Bapak dan Panglima benar - benar berkunjung, maaf jika sambutan kami begitu berantakan dan kurang berkenan." ujar pemimpin itu.
"Memang sambutan kalian tidak berkenan, beraninya kalian menangkap anak dan keponakanku!" tegas Jimmy terlihat sangat marah.
Semua terkejut, kasus apa yang melibatkan anak dan keponakan presiden ini bisa masuk penjara.
"Di mana adikku?" tanya Bara.
Semua orang langsung mencium, mereka tidak tahu siapa yang berani menyinggung orang yang berpengaruh tinggi itu.
" Ma-- af, jika boleh tahu, siapa nama anak dan keponakan anda?" tanya kepala bagian di kantor itu.
" Deya Narashima dan Emily Ileana. " jawab Jimmy.
"Bukankah itu 2 gadis yang mencuri boneka." ujar salah seorang petugas.
"Mana mungkin mereka mencuri, aku lun sanggup memberikan negara ini untuk mereka!" tegas Jimmy.
"Saya akan mengurusnya, dan memanggil petugas itu untuk menghadap anda Bapak." Kepala bagian itu segera mencari petugas yang menangkap Lily dan Deya.
"Bob, Bapak kepala memintamu menghadapnya ke kantor di sana ada bapak presiden dan juga Panglima." Ujar seorang rekan memanggil petugas yang menangkap Deya dan Lily.
Wah ada apa ini?, ini saat yang baik untuk mencari muka pada atasan.
Dalam hati Bobby.
Bobby segera menuju ke ruangan kepala bagian, semua orang menatapnya dengan aneh.
Apa mereka iri kalau mungkin aku akan naik jabatan dengan cepat?.
Dalam hati Bobby.
Bobby segera mengetuk pintu dan segera masuk setelah asa perintah masuk.
"Bob, apakah kau yang menangkap gadis bernama Deya Narashima dan juga Emely Ileana?" Tanya kepala bagian itu.
"Benar Pak, mereka bersekongkol mencuri boneka, gadis yang bernama Deya itu juga bermaksud untuk berdamai, dengan memberikan uang tapi saya tidak mau, pasti uang itu juga di dapat dari mencuri." ujar Bobby penuh dengan percaya diri.
Sementara kepala bagian sudah keringat dingin dengan jawaban dari Bobby.
Terlihat wajah Bobby sangat berbangga, karena bisa menangkap pencuri dan dia juga menegaskan bahwa dia bersih dari sogokan.
" Sebaiknya pencuri seperti itu diberikan pelajaran pak, agar jera, dan tidak mengandalkan uang untuk menyelesaikan masalah, padahal uang itu juga tidak jelas dari mana asalnya." Bobby terus berbicara dengan penuh percaya diri.
Bobby, seharusnya kau menahan lidahmu, kau memang tampak bersih dari sogokan, namun mencari muka seperti itu, juga sama saja.
Dalam hati Kepala bagian itu, berharap Bobby tidak banyak bicara omong kosong, orang semacam Bobby benar - benar akan membuat reputasi buruk untuk kantor yang menjadi tanggung jawabnya.
__ADS_1