CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN

CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN
61. Restu


__ADS_3

" Apa itu sungguh terbaca?" gumam Zidan bingung.


 Zidan pun segera kembali kepada Kirana.


Zidan memperhatikan nonanya yang berjuang keras untuk mendapatkan perhatian Gala, sungguh luar biasa.


Tapi apa dia pantas berusaha keras untuk memperjuangkan perasaannya, dia itu siapa?, Zidan cukup tahu diri dengan hal itu, sedangkan selera nonanya seperti Gala.


" Nona, saya ada perlu selama 2 hari, tolong anda jangan keluar rumah dulu, tunggu saya kembali." ujar Gala.


" Tuan, anda mau kemana?" tanya Kirana.


Kirana seakan tidak rela berpisah dengan Gala.


" Tolong lakukan saja permintaan saya!" Gala pun segera pergi begitu saja.


Kirana sudah merasa gelisah, takut jika nanti Gala tidak kembali untuk menjagnya.


Melihat kegelisahan di wajah nonanya, Zidan pun segera menenangkan hati nonanya.


"Nona, Tuan Gala ada pemimpin pasukan putih, yang tidak pernah mengingkari janji, demi keamanan Anda tolong dengarkan petuahnya." ujar Zidan.


" Kau benar Zidan, dia pasti akan kembali." Kirana menjadi tenang karena ucapan Zidan.


Gala pun segera pergi ke camp militer milik Bara.


" Gala, cepat sekali ... " ujar Bara.


" Kalau lambat kau omeli, cepat kau pun juga tetap cerewet!" jawab Gala kesal.


" Maaf Tuan, saya terlambat, maaf Panglima." Grey yang baru tiba.


" Kau tidak terlambat Grey." sahut Bara.


" Syukurlah!" Grey pun segera ikut duduk.


Mereka menunggu Deya tiba, kali ini Bara mulai mengomel karena Deya pasti ini biang lelet.


Bara sudah mengomel begitu banyak yang membuat telinga Gala dan Grey sangat gatal.


" Aku datang!" ujar Deya tanpa rasa bersalah.


" Bagus, sudah terlambat tapi tidak meminta maaf, apa kau ini masih anak TK?" tegas Bara sangat marah.


" Astaga Abang, eling Abang sing eling ..." Deya mencoba menenangkan abangnya.


" Duduk!" tegas Bara.


Deya pun langsung duduk.


Bara langsung meminta Deya melaporkan semua informasi yang dia dapatkan.


Sialan Abang satu ini baru juga sampai, sudah diomeli, ini malah langsung di suruh presentasi.


Dalam hati Deya.


" Ya Abang, sebentar." Deya segera membuka tas dan mengambil laptopnya.


" Jadi pihak B itu tercatat aman, mereka tidak ada perlawanan saat ini, untuk lawan C dan D ini adalah pihak yang paling agresif, sepertinya mereka sudah memiliki rencana berlapis, jadi beberapa rencana yang aku ketahui adalah ... " Deya menjelaskan semua rincian rencana yang dia dapat.

__ADS_1


" Itu Bang yang aku tahu." ujar Deya.


Bara langsung merekam semua dengan jelas di kepalanya.


" Jadi apa pihak B benar-benar tidak melakukan pergerakan?" tanya Grey.


" Justru aku sangat mencurigai pihak B!" sahut Gala.


" Jadi maksudnya pihak B juga memiliki rencana?" tanya Bara.


" Sepertinya pihak B ini lebih menyeramkan dari C dan D." jawab Gala.


Bara pun melihat orang-orang dari pihak B, yang terlihat sangat tenang itu.


" Aku tidak tahu jelasnya, berarti pihak B harus di selidiki secara khusus!" ujar Bara.


" Ini kita bisa meminta tolong pada Bonie, panggil Bonie Deya!" pinta Gala.


" Hah?, bagaimana bisa Abang tahu?" Deya sangat terkejut, padahal Bonie sudah ditinggal Deya sejauh 10 kilometer.


" Deya, kau membawa Bonnie?, kau dan Bonnie ada hubungan apa?" Bara sudah naik darah.


" Bara, sudahlah dia sekarang orangku, tak masalah dia ikut dengan Deya atau tidak!" sahut Gala.


" Lihat saja nanti aku akan mendisiplinkan kalian setelah urusan ini selesai!" ancam Bara.


Gala meminta Deya untuk memanggil Bonnie selang beberapa menit Bonie datang sambil pringas pringis.


" Kau lihat saja!" Bara sedang menahan amarahnya.


" Sudahlah Bara, aku khawatir kau kena stroke di usia muda karena sering marah-marah" ujar Gala.


Gala pun berbicara pada Bonie, dan menanyakan beberapa hal sambil memperlihatkan orang- orang yang ingin dia selidiki.


" Bonie apa dia saudaramu?" tanya Gala.


Gala menunjuk salah satu gambar pada layar laptopnya.


" Bagaimana anda tahu Tuan?" tanya Bonnie.


" Tentu saja, sebelum menerimamu menjadi orang ku aku harus tahu tentangmu!" ujar Gala.


" Tapi saya tidak ada hubungannya dengan saudara saya Tuan." ujar Bonnie ketakutan.


" Aku tahu, karena dia saudaramu, maka tolong cari tahu apa rencana dari bosnya." pinta Gala.


" Tuan, jika nanti saudara saya melakukan kesalahan apakah anda akan membunuhnya?" tanya Bonnie.


" Tergantung seberapa parah kesalahannya!" jawab Gala.


" Baik, saya akan mencari tahu." ujar Bonnie.


" Bagus, ingatlah untuk berjalan lurus jangan memandang ikatan darah, atau kerabat salah ya salah, benar ya benar!" tegas Gala.


" Saya. mengerti!" jawab Bonnie pasrah.


Bonnie hanya bisa berharap agar saudaranya dan bosnya itu tidak salah jalan.


" Karena semua sudah jelas, aku akan menggunakan waktu sehariku untuk menemui Lily, aku akan memberi tahu langkah selanjutnya nanti setelah kembali!" Gala segera pergi dengan kilat.

__ADS_1


" Oh Tuhan, kenapa dia begitu bucin?" Bara menggeleng kepala.


" Kalau begitu saya juga pamit Panglima!" Grey pun juga undur diri.


" Abang kami juga --- " Deya sudah siap untuk pergi.


" Kalian tetap tinggal!" tegas Bara.


Deya dan Bonnie pun duduk diam dengan patuh mendengarkan Bara mengomel dari A-Z.


" Sejak kapan kalian bersama?" tanya Bara.


" Maafkan saya Tuan, ini semua salah saya!" Jawab Bonnie.


" Aku tanya apa, jawabanmu apa?" Bara semakin kesal.


" Abang, kami saling mencintai, kami sudah 3 bulan bersama, tolong Abang restui kami lah!" ujar Deya memohon.


" 3 Bulan?" Ternyata cukup lama mereka menjalin hubungan.


" Abang, tolonglah maklumi, jangan halangi cinta kami!" ujar Deya.


Bara memegangi kepalanya karena pening.


" Kau Bonnie, jika kau berani macam-macam dengan Deya aku akan meremukkan semua tulang keluarga mu!" ancam Bara.


" Saya bersumpah tidak akan membuat Deya menderita!" Bonnie tampak sungguh-sungguh.


" Pergi kalian, lihat sampai pekerjaan kalian terganggu aku akan menggantung kalian hidup!" tegas Bara.


" Siap Ndan!" Deya segera membawa Bonnie pergi sebelum abangnya banyak ceramah lagi.


Benar- benar sangat menakutkan jika sudah membuat Bara emosi.


Tapi Bara juga tidak seegois itu, karena Gala tidak melarang berarti Gala menilai Bonnie tidak buruk.


Jadi tidak ada alasan lagi untuk Bara menghalangi cinta keduanya, toh Deya juga sudah dewasa dan pengalamamnya mungkin lebih banyak dari dirinya ini.


"Haih, Gala ada Lily ... Deya ada Bonie, aku?, aku masih akan sendiri ..." Bara teringat dengan Ibu Saga.


Sampai sekarang Ibu Sagara lah yang masih memenangkan hatinya sepenuhnya.


Pertemuan yang sangat singkat namun kenangannya begitu melekat di hati Bara.


" Panglima, saatnya makan malam." bawahan Bara mengingatkan.


" Kau?" Bara tidak melanjutkan ucapannya.


" Ada apa Panglima?" tanya bawahan itu menunduk.


" Kenapa bukan Peisi yang mengantar?" tanya Barata.


" Peisi sedang sakit, jadi saya yang antar Panglima!" jawab bawahan itu.


" Oh, minta dokter memeriksa Peisi!" perintah Bara.


" Baik!" Bawahan itu segera pergi.


Sialan bagaimana bisa ada penyusup sebodoh ini? makanan ini pasti ada racunnya, pasti beberapa pasukan sudah kena.

__ADS_1


Dalam hati Bara


__ADS_2