CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN

CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN
32. Kebodohan Lily


__ADS_3

"Lily ikut ya Abang." Ujar Lily.


"Lily, siapa suruh kau malas belajar bela diri?, jika kau ikut kau akan menyusahkan ayah dan ibu." Ujar Grey pada adiknya.


Lily kembali diam, dia segera masuk ke kamar.


Lily sebenarnya sangat senang Gala datang, hanya saja itu sudah terlambat karena terlalu lama Gala kembali.


Lily sudah tidak ada minat lagi ke kota, dan sudah tidak ingin lagi kecewa, menunggu itu sangat membosankan.


Jika dia tidak bertemu dengan Helmi, sudah pasti hari-harinya akan sangat sepi dan membosankan. Helmi sangat baik padanya dan slalu menjaganya dengan sangat baik.


Karena Helmi sangat sepemikiran dengan Lily. Dan lagi tidak pernah membiarkan Lily menunggu apalagi ingkar janji.


Sekarang Lily sangat dilema, dia tidak ingin menjadi beban untuk orang tuannya, tapi juga tidak ingin meninggalkan Basecamp.


Sangking lelahnya berpikir, Lily sampai ketiduran di sofa.


Zero berbincang tentang beberapa kelompok yang mulai meresahkan itu pada Gala.


"Kalau begitu biar aku tangani Om." ujar Gala.


"Hanya masalah sepele, kenapa harus melibatkan Tuan muda, saya hanya ingin menitipkan Lily saja pada Anda." ujar Zero.


Karena Lily sangat ceroboh, takutnya saat keluar hutan dia malah tidak sengaja bertemu dengan kelompok aneh itu.


"Baiklah, kalau gitu aku akan membawa Lily ke kota Om, Om, apa Om kenal dengan Helmi?" tanya Gala.


"Oh, dia anak didik Grey, ada apa?" tanya Zero.


"Berarti besok dia ikut juga memberantas kelompok sesat itu?" tanya Gala.


"Ya dia sangat aktif dalam membantu menumpas bandit dan kelompok - kelompok sesat." ujar Zero.


Gala pun tidak menanyakan banyak hal tentang Helmi, karena kedengarannya anak itu bukan anak yang buruk.


Zero pun segera pamit karena harus menyiapkan dan mengarahkan orang - orangnya untuk besok.


Sementara Grey nanti yang akan siaga di basecamp.


Karena Zero tidak mau melibatkannya Gala segera istirahat.


Besok setelah Zero dan rombongannya berangkat, dia juga baru akan berangkat ke kota bersama Lily.


Keesokan paginya.


Gala bangun dan melihat ke arah gerbang, melihat kedua orang tua Lily sudah berangkat.


Sekarang giliran dia yang bersiap dan berangkat ke kota bersama Lily.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 Gala sudah siap dan segera menghampiri Lily di kediamannya.


Gala memanggil nama Lily terus menerus tapi anak itu tidak keluar atau pun menjawab panggilannya. Gala pun masuk dan melihat ke kamar Lily dan memeriksa semua ruangan Lily tidak ada di rumah.


Gala segera berlari ke gerbang utama, barangkali Lily mengantar kedua orang tuanya berangkat.

__ADS_1


"Tuan Muda, anda mau berangkat?" tanya Grey santai.


"Iya Grey, di mana Lily?" tanya Gala.


"Lah tadi dirumah Tuan." ujar Grey.


"Tidak ada, aku sudah memeriksanya." Gala sudah mengecek semua ruangan tapi tidak menemukan Lily.


"Mungkin sedang di kandang Oddie Tuan." Grey segera menyuruh orangnya untuk melihat Lily di kandang Oddie.


Perasaan Gala mulai tidak tenang,.


"Tuan Grey, Nona tidak di sana Grey ini masih di sana, saya bawa kemari." menyerahkan Oddie pada Gala.


"Sialan!" Grey baru ingat jika Lily ingin ikut memberantas kelompok sesat itu.


Melihat gelagat Grey, Gala tahu jawabannya.


"Ambilkan kuda! " pinta Gala.


Dengan kilat orang Grey mengambilkan kuda untuk Gala.


"Ke arah mana Om Ze pergi?" tanya Gala.


"Sana Tuan." Tunjuk Grey yang terlihat tidak tenang.


Gala segera pergi dengan kuda Oddie pun mengikuti Gala.


Benar saja, Lily menyusup ke dalam rombongan yang sudah di atur ayahnya. Dia memutuskan untuk tetap tinggal di Basecamp dan tidak ingin tinggal bersama Gala.


Namun tiba-tiba rombongan mereka di kepung oleh banyak kelompok. Jumlah mereka lebih banyak dari gerombolan yang di pimpin oleh Zero.


"Wah, apakah ini perang?" Lily sudah mulai panik karena semua musuh memiliki senjata tajam.


"Serang!" Pihak lawan segera menyerbu dan masuk bercampur dengan gerombolan Zero.


Lily sangat bingung karena tidak bisa membedakan mana musuh dan mana gerombolannya.


Lily berteriak sambil menutupi telianganya karena takut, terjadi pertumpah darah di hadapannya membuat fokusnya hilang begitu saja. Lily mulai kehilangan keseimbangan dan terdorong ke sana ke sini.


Nisa mendengar suara putrinya, Nisa langsung mencari di mana suara putrinya.


"Lily! " Nisa sangat terkejut.


Bagaimana bisa putrinya masuk dalam rombongannya dan lagi kalo ini lawannya sangat berbahaya.


"Ibu, Ayah " Lily berteriak sekuat tenaga.


"Tidak Lily ... Agh." Nisa menghadang bilah pedang untuk putrinya.


"Ibu ... " Teriak Lily seakan tak percaya ibunya terbelah pedang di hadapannya.


Zero langsung membabi buta menghabisi semua karena marah melihat istrinya terbunuh begitu saja.


Zero membalas berkali lipat pada orang yang sudah membunuh istrinya.

__ADS_1


Lily terduduk memeluk ibunya yang sudah tak bernyawa itu.


" Ibu ... Hiks hiks hiks ..." Lily menangis begitu histeris.


Zero terus melindungi putrinya sekuat tenaga namun kelompok itu terlalu banyak dan tidak bisa di remehkan.


Lily mengambil pedang yang terjatuh, dia berniat untuk ikut membalas dendam atas kematian ibunya.


Lily pun bertempur dengan tekad dan dendam yang membara.


"Aghhhh aku bunuh kalian!" teriak Lily sambil mengayunkan pedangnya. Lily terus mengayunkan pedangnya begitu sembarangan. Zero terus melindungi putrinya.


Benar - benar Lily mengacaukan segalanya Lily membuat Zero tidak dapat fokus menghabisi musuhnya. Lily benar - benar menjadi kelemahan kedua orang tuanya.


"Tidak Ayah!" teriak Lily


Karena di belakang ayahnya ada yang menusukkan pedangnya.


Rasanya sudah tidak mungkin lagi ayahnya menghindar. Suara pedang itu terdengar menusuk dengan nyaring.


Namun seseorang menghadang pedang itu untuk ayahnya.


"Helmi?" Zero sangat terkejut anak muda yang baik itu merelakan nyawanya untuknya.


Lily langsung lemas, pedang ditangannya jatuh, Lily sudah terduduk lemas.


Lily sangat menyesal karena menyusup ke dalam rombongan ayahnya.


Ibu dan temannya meregang nyawa di depan matanya dan ayahnya mati-matian melindunginya dengan segenap jiwanya.


" Dor, dor, ..." terdengar suara tembakan dan rengekan kuda.


Gala benar - benar terlihat seperti ksatria yang datang menyelamatkan rombongan ayahnya.


Gala seorang diri menghabisi ratusan orang itu dalam waktu singkat. Sementara Oddie langsung menghampiri Lily untuk melindungi Lily.


Zero segera melempar pedangnya dan memeluk istrinya yang sudah tidak bernyawa.


"Sayang, jangan tinggalkan aku!" Zero melepas jubahnya dan membalutnya pada tubuh istrinya.


" Maaf, aku tidak melindungimu dengan baik." Zero menangisi istrinya.


"Om awas!" Gala menahan pedang yang akan ditebaskan pada Zero itu dengan tangan.


Gala mengambil belati dan menusuk musuh itu berkali - kali. Gala segera memanggil bantuan dengan menyalakan petasan.


"Tuan Muda, seharusnya kau biarkan aku mati menemani istriku." Ujar Zero dengan wajah menyedihkan.


Gala langsung memukul Zero sampai pingsan karena kesal.


"Paman ... " Lily mengulurkan kedua tangannya pada Gala dengan tak berdaya.


Gala langsung memeluk Lily dengan erat.


Air mata Gala juga mengalir begitu deras, dia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Lily.

__ADS_1


Karena keluarga Lily juga keluarganya.


__ADS_2