
Bara pura-pura memakan makanan itu dan segera menjatuhkan diri.
Dia segera menekan tombol darurat di lengannya.
Baru saja Gala sampai di perbatasan, langsung putar balik karena keadaan darurat.
" Sialan!" Gala segera berbalik arah.
Tidak hanya Gala tentu saja Grey dan Deya.
" Abang, ... " Deya malah berpapasan dengan Gala.
" Ssssttt ... " Gala meminta Deya untuk tidak berisik.
Ternyata di depan mereka sudah ada gerombolan pasukan entah dari mana asalnya.
" Siapa mereka Abang?" tanya Deya terkejut.
" Sepertinya mereka menargetkan Bara." ujar Gala.
" Tuan, apakah mereka ini cari mati?" tanya Bonnie.
" Kalian cari arah lain, aku akan mencoba membaur ke dalam gerombolan ini, pastikan tidak gegabah saat menghadapi situasi." ujar Gala mengingatkan.
Deya dan Bonnie pun mencari arah lain untuk menempuh camp milik Bara.
Gala masih mengawasi situasi yang ada, mencari kelemahan mereka untuk bisa menyusup.
Setelah melihat ada satu dua orang lengah Gala segera menargetkan beberapa orang itu, Gala langsung menarik satu orang tanpa di ketahui yang lain.
Orang itu langsung dead di tangan Gala, Gala segera berganti mengenakan pakaian itu dan menyudul gerombolan di depan.
" Kalian cepat kepung Camp di depan, ikat semua pasukan Panglima, karena semua sudah terkena racun.
Semua gerombolan itu menyerbu, Gala ikut menyerbu, mengikat dari mereka tidak erat, sambil berbisik pada pasukan yang diikatnya untuk terus tak berdaya, sampai ada komando menyerang.
Semua pasukan sudah di ikat, termasuk juga Panglima.
Kemudian datanglah seseorang mengenakan topeng.
" Bangunkan Panglima perkasa yang hebat itu!" tegasnya.
Seseorang langsung mengguyur air pada Bara, sehingga Bara tersadar sambil terbatuk-batuk.
" Hahahah, Panglima seperti kau sangat lemah!" ujar pria bertopeng itu.
" Siapa kau ?, tanya Barata.
" Tidak penting!, sekarang aku hanya ingin menawarkanmu kerja sama, tinggalkan Kenan dan bergabunglah dengan kami!" tegas pria bertopeng itu.
" Siapa kalian?, bagaimana aku mau bergabung?, aku saja tidak tahu siapa kalian!" jawab Bara malas.
__ADS_1
"Kau tidak punya pilihan lain, karena jika kau tidak mau maka negeri ini akan kehilangan Panglima perang malam ini!" ujar Pria bertopeng itu.
"Aku tidak takut mati!" ujar Bara.
" Hahahaha, lihat pasukanmu sudah keracunan, kau pun juga masih belagu!" ujarnya.
" Kau terlalu gegabah padaku!" ujar Bara.
Bara mencoba berdiri, namun terjatuh, mencoba berdiri lagi namun terjatuh.
Pria bertopeng itu menertawakan Panglima karena tidak berdaya.
Bara terus berjalan menghampiri pria bertopeng itu meskipun terjatuh berkali-kali, sampai akhirnya Panglima jatuh di kaki pria itu.
Dengan begitu bangganya pria itu menertawakan Panglima yang dia anggap sedang menyembah padanya.
" Hahaha, kau memang harus meletakkan kepalamu yang selalu gagah itu di.kakiku!" ujar pria bertopeng itu.
Karena pria itu cukup lengah, Bara segera melepas ikatanya dan menyandra pria bertopeng itu dengan belati di lehernya.
" Serang!" Gala yang memakai seragam sama dengan lawan itu berteriak mengomando.
Terjadilah peperangan antara pasukan Gala dan juga beberapa pasukan Grey, yang menyerang pasukan lawan.
Pertumpahan darah itu tidak bisa dihindarkan, musuh habis dalam seketika.
Datanglah Deya dan juga Bonie membawa team medis.
Gala langsung membuka topeng pria itu, rupanya itu wakil dari calon kelompok C.
Bonie bernafas lega, dia kira itu saudaranya,
rupanya bukan.
" Bara apa kau tidak apa-apa?" tanya Gala.
" Tidak!" jawab Bara.
" Bagus, sebaiknya kau lebih waspada mereka sangat agresif dan merasa rencana mereka cukup hebat, bukankah ini kebodohan?" ujar Gala menggeleng kepala.
" Ya, saat mengantar makanan tadi aku sudah menduga, mereka menyerang secara mendadak tanpa rencana matang!" ujar Bara.
"Aku tidak meragukan daya ingatmu Bara, karena sudah beres aku lanjutkan perjalananku!" ujar Gala segera meninggalkan Camp Bara yang masih berantakan dengan mayat-mayat musuh.
Bara menepuk jidatnya untuk yang ke sekian kalinya, bagaimana bisa sahabatnya itu langsung pergi begitu saja.
" Abang, Bang Gala sudah menyiapkan pasukan cadangan kok, mereka sedang dalam perjalanan." ujar Deya.
" Aku kira dia benar-benar tega padaku!" ujar Bara bernafas lega.
" Panglima, orang bertopeng tadi tidak mau mengakui semua, dia mengatakan itu ide dia sendiri, bagaimana bisa begitu?, kalau dari mana dia memiliki pasukan begitu banyak?, mereka pasti masih memiliki sebagian pasukan lain juga." ujar Grey pada Bara.
__ADS_1
" Mereka terlalu gegabah, tidak mengapa tetap kurung orang itu, Deya cari informasi tentang orang tadi sedetailnya, temukan kelemahannya agar dia mau angkat bicara!" pinta Bara.
" Baik Abang, ..." jawab Deya.
" Lalu kau tetap dalam tugasmu Bonie!" tegas Bara.
" Siap Panglima!" jawab Bonnie.
" Abang kami pergi dulu ya!" Deya dan Bonie pun segera kembali untuk mengemban tugas lanjutan mereka.
Sementara Gala kembali ke kediamannya sendiri.
" Gala?" Jack dan *** yang sedang main catur terkejut melihat kedatangan Gala.
" Uncle, kalian sungguh menjalankan tugas dengan baik di sini!" Sindir Gala.
" Aih, kami hanya menyela sedikit waktu untuk bersantai, lagian Lily sudah tidur, kau datang juga menyela waktu di tengah tugas juga, untuk menemui Lily kan?" ujar Dex.
" Aku sih terang-terangan Uncle, lanjutkan!" ujar Gala tidak menggangu keduanya bermain.
Gala segera masuk ke kamarnya,
" Lily kau belum tidur?" tanya Gala yang melihat Lily sedang menata beberapa barang belanjaan yang tadi dia beli bersama dengan kedua sahabatnya.
" Paman." Lily langsung beranjak dan melompat ke arah Gala.
" Paman kenapa kau tidak jujur pada Lily, jika Paman menemui wanita yang memberikan kalung dulu, kenapa Paman berbohong!" ujar Lily terlihat meluapkan semua isi hatinya.
" Ya itu juga tidak direncanakan, karena awalnya aku harus menjaga ayahnya, tapi rupanya mereka menargetkan putrinya, jadi Paman harus menjaga gadis itu!" ujar Gala jujur.
" Paman, gara-gara foto Paman begitu menempel pada gadis itu, aku di vonis oleh Onty Bryna terkena penyakit cemburu kronis, bagaimana ini Paman?, aku lama-lama penyakitan, hiks hiks ..." keluh Lily pada Gala.
Gala tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Lily.
" Obatnya hanya satu Lily, kau harus percaya pada Paman, Paman ini tidak akan diambil oleh siapapun, tidak akan menjadi milik siapapun kecuali milik Emily seorang!" jelas Gala.
" Tapi Paman jangan terlalu menempel padanya, itu sangat tidak enak dihati!" ujar Lily.
" Baik!, sekarang ayo tidur Paman besok pagi buta harus kembali!" ujar Gala pada Lily.
" Kenapa sebentar saja?" rasanya Lily tidak rela lagi Gala pergi meninggalkanya.
" Biar semua cepat selesai, tapi memang ini agak lama Lily, jadi sabar ya ... setelah Paman kembali, mau tidak kita menjadi sepasang suami istri?" tanya Gala.
" Itu artinya nanti seperti Ibu dan Ayah?, selalu bersama?" tanya Lily.
" Ya, apa Lily bersedia?" tanya Gala.
" Ya bersedia, dengan Oddie juga ya?" jawab Gala.
" Haha Iya sayangku ..." Gala mencium bibir mungil milik Lily karena sangat rindu.
__ADS_1
Ya meskipun yang di cium cuma diem aja kayak tembok karena masih polos, setidaknya sedikit menambahkan power untuk Gala.