
Bara benar-benar susah ditangani kali ini, bahkan jasad Mala pun tidak ada yang boleh menyentuhnya. Bara masih menunggu Mala terbangun.
Jimmy dan Ria sangat putus asa dan meminta bantuan Gala untuk mengurus Bara. Dan meninggalkan tugasnya untuk sementara.
Gala datang langsung memukul Bara berkali-kali, Bara tidak melawan Gala sama sekali.
"Apa kau akan membiarkannya menderita?, semayamkan sekarang!" Gala terlihat menakutkan saat sudah marah dan lepas kendali.
"Jangan, aku takut tidak bisa melihatnya lagi." ujar Bara.
Bara terlihat sangat menyedihkan, Jimmy sangat mengkhawatirkan Bara, hal ini diluar perkiraan Jimmy bahwa pria-pria dingin itu ternyata bisa jatuh cinta.
Bara terus memeluk tubuh Mala yang sudah dingin dan kaku itu.
"Kau jangan bodoh, kau hanya akan menyusahkannya, biarkan dia beristirahat dengan tenang" ujar Gala.
"Dia anak nakal, sebentar lagi dia akan bangun Gal. " ujar Bara.
Bara masih tidak mau menerima kenyataan yang ada.
Gala pun tidak bisa melakukan apapun, Gala keluar dari kamar Bara.
"Minta Uncle Petter untuk membawa Deya kembali, mungkin Deya bisa mengatasi kegilaan Abangnya." ujar Gala.
Gala duduk di samping Ria yang terus mendekap anak dari Mala.
"Apa hasil DNAnya?" tanya Gala penasaran.
"Dia Putraku!" Jimmy langsung mengakui jika anak yang berada di dekapan istrinya itu adalah darah dagingnya.
"Dia adik kami?" Tanya Gala sambil melihat ke wajah bayi itu. Ria terlihat sangat bahagia mendekap bayi itu.
"Iya dia adik kalian, kalian harus membantu kami menjaganya." ujar Ria.
"Apa dia sudah punya nama?" Tanya Gala lagi.
"Namanya Sagara." jawab Jimmy.
Sebenarnya Gala sangat bahagia melihat kedua orang tua angkatnya itu akhirnya memiliki keturunan. Tapi juga sedih karena Bara menjadi tidak tergendali seperti itu.
Mereka bertiga menunggu keputusan dari Petter, apakah setuju untuk membawa Deya kembali.
Terdengar suara ponsel Jimmy berbunyi, Jimmy pun mengangkat panggilannya.
"Ya sebaiknya malam ini sampai di sini!" tegas Jimmy.
__ADS_1
Dan panggilan pun berakhir.
"Deya dan orang tuanya akan datang malam ini!" Jimmy memberitahu.
Mereka pun merasa sedikit lega dan berharap Deya bisa membantu memberi pengertian pada Bara.
Pukul 9 malam.
Petter, Suzy san juga Deya tiba di kediaman Jimmy.
Suzy dan Ria langsung berpelukan, karena sudah malam tidak bertemu, Ria juga memeluk Deya yang kini sudah tumbuh besar dan sangat cantik.
"Abang ... " Deya langsung memeluk Gala.
Gala tersenyum senang melihat adik perempuannya itu tumbuh dengan baik.
"Deya sudah tumbuh tinggi ya." ujar Gala mengukur tinggi badan Deya.
"Iyalah, di mana Barat?" tanya Deya.
"Nah aku memintamu datang ke sini untuk membantu abangmu itu." Jimmy dan Ria pun menjelaskan semuanya pada mereka dengan terperinci.
Suzy dan Petter pun baru tersadar jika mereka sudah tua dan anak-anaknya sudah dewasa.
Keluarga Bara pun segera masuk ke kamar Bara, Bara terlihat sangat menyedihkan. Bara terduduk di lantai dan memegangi tangan Mala.
"Apa sudah ada yang bisa menggantikan posisiku dihatimu? " ujar Deya.
Bara terkejut bukan main ada seorang wanita tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Siapa kau?, lepaskan atau aku bunuh!" ancam Bara.
Deya langsung melepaskan pelukannya dan berdiri di samping Bara.
"Apa kau sudah melupakan aku, karena aku memukul kepalamu dengan kayu, apa kau jadi hilang ingatan?, aku minta maaf aku tidak bermaksud menyakitimu, sudah belasan tahun kenapa mulutmu masih kejam pada adikmu sendiri." Deya berteriak di wajah Bara air matanya pun mengalir deras.
Sungguh pemandangan yang melankolis, semua merasa bersedih.
Bara segera bangkit, Bara seakan tak percaya jika gadis cantik dihadapannya itu adalah Deya adiknya.
"Deya? " ujar Bara.
"Kau jahat Abang, bagaimana bisa kau mau membunuhku!" Deya langsung memeluk Bara dengan erat. Deya sangat rindu pada sosok yang selalu dia jahili sewaktu kecil.
"Deya, kau kembali?" Bara seakan tak percaya Bara langsung membalas pelukan Deya.
__ADS_1
"Abang sangat menyayangimu meskipun kau nakal dan tidak bisa diatur, kenapa kau meninggalkan Abang?, apa kau tidak mau bertanggung jawab? " ujar Bara.
"Deya takut, Deya takut membuat Abang terluka lagi, Deya meminta Ayah Ibu untuk memutuskan kontak kita, agar Deya tidak menyakiti Abang lagi." Deya benar - benar merasa bersalah dengan Bara.
"Dasar bodoh, jangan ulangi lagi, sekarang kembali ke sisi Abang, kau tidak boleh merepotkan kakek dan Aunty lagi." ujar Bara.
"Iya, tapi Abang tidak boleh sedih lagi, sekarang ada Deya biarkan kakak ipar beristirahat dengan tenang, aku dengar dia gadis yang baik, Ayah, Ibu dan Deya sudah menerimanya sebagai bagian dari keluarga kita, dia akan dimakamkan di pemakaman keluarga kita. Kakak ipar akan dijaga dengan baik oleh leluhur kita nanti di sana, Nanti Deya akan membantu Mommy Ria menjaga Sagara." Deya mencoba membujuk abangnya.
Bara melihat ke arah Mala yang sudah terbujur kaku.
"Putraku sayang, Ibu menerimanya sebagai calon menantu Ibu. " Suzy mendekati putranya yang kini tumbuh tinggi dan gagah.
"Ibu. " Bara langsung memeluk ibunya dengan penuh kerinduan.
"Abang kau tidak boleh marah lagi dengan Ayah Ibu, semua itu karena permintaan Deya." Deya memberi tahu kebenarannya.
Bara pun segera meminta maaf pada Suzy dan juga ayahnya, mereka adalah keluarga yang baik dan hebat tentu saja mereka saling memaafkan.
"Dia menantuku, berikan pemakaman terbaik untuknya!" Petter memerintahkan anak buahnya untuk memberikan upacara pemakaman terbaik untuk Mala.
"Sudah Bara, lanjutkan cita-citamu aku tidak akan membiarkanmu berjuang dan terluka sendiri, apa kau mengerti?" Gala terus memberikan semangat pada sahabatnya.
"Aku mengerti dan maaf sudah membuat semuanya khawatir." ujar Bara.
Setelah Mala di makamkan, Petter dan istrinya pun kembali pulang, sekarang Deya kembali ke sisi Bara dan Gala.
Bara dan Gala segera melanjutkan misinya, sementara Deya membantu Ria untuk merawat Sagara.
Keduanya sudah menyelesaikan misi dengan baik dan kembali ke kediaman Jimmy.
Setiap selesai dalam misi Bara akan mengunjungi Mala untuk bercerita banyak hal, setelah itu baru Bara kembali untuk melaporkan pada Daddynya.
Tapi tetap saja namanya saudara baru beberapa minggu kembali bersama, tetap saja kembali ribut, dan yang diributkan pasti hal-hal tidak jelas.
"Abang, kau menginjak keset kamarku, itu kotor sepatumu!" Deya sudah mengomel.
"Namanya juga keset, memang untuk kotor-kotor, apa kau memakai keset untuk mengelap mukamu?" Bara sangat kesal.
"Sembarangan, Abang itu memang menyebalkan pokoknya aku mau dibelikan keset baru yang sama, itu aku belinya di Prancis." tegas Deya.
"Apaan di Prancis, ini di pasar Senin juga ada, enak aja kau ini, besok aku carikan."
ujar Bara dengan entengnya.
"Barang itu memang dari Prancis Bara, kau lihat logo itu, tidak ada keset seperti ini di pasar Senin, ada-ada saja kau ini." sahut Jimmy.
__ADS_1
"Dari kemarin ribut masalah tidak jelas, membuat orang muak." Ujar Gala segera pergi.
Bara segera mengejar Gala, karena orang tua Gala suka berjalan-jalan, Bara membujuk Gala untuk meminta bantuan ibunya untuk membelikan keset seperti milik Deya. Tapi bukannya dibantu Gala, Gala malah menagih hutang Bara yang belum lunas padanya.