CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN

CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN
44. Bertugas


__ADS_3

"Hua ... Paman sudah pergi ." Lily segera masuk kembali ke dalam.


Lily masuk ke kamar Gala dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Rasanya sangat sesak karena pamannya pergi bertugas memabntu Bara.


Lily melihat sekeliling, lalu bangkit dan pergi ke ruang baca pamannya. Lily duduk di meja milik Gala. Terlihat ada foto Lily saat masih berusia 5 tahun.


Lily tersenyum senang ternyata pamannya masih menyimpan foto masa kecilnya.


Lily membuka laci meja Gala, di sana banyak foto Lily dari bayi hingga sekarang.


Lily senyum-senyum sendiri membaca setiap kata yang ada di belakang foto dirinya. Lily sangat bahagia karena ada seseorang yang menganggapnya begitu special.


"Paman terimakasih." Lily jadi teringat sejak kecil pamannya itu selalu menjaganya dengan baik, pamannya sungguh pahlawan super untuknya.


Mengingat Gala, jantung Lily kembali berdebar kencang, Lily sudah panik dan segera menghubungi Bryna, karena takut mati.


Bryna pun langsung datang, ke kediaman Gala.


"Onty, cepat Lily mau mati." Bryna langsung memeriksa Lily yang panik itu.


"Apa ini?, kau sehat tidak sakit!" ujar Bryna.


"Lily, kau baru saja melihat foto-foto Pamanmu?" tanya Bryna yang melihat banyak foto kebersamaan Gala dengan Lily.


"Iya Onty, kenapa?" tanya Lily.


"Selama Pamanmu tidak di sini, jangan kau menyentuh apapun yang berhubungan dengan Pamanmu, apa kau mengerti?" tanya Bryna.


"Kenapa?" Lily jadi bingung.


"Itu akan menyebabkan jantungmu berdebar, kau alihkan saja dengan pergi bersama teman-temanmu atau sibukkan dirimu dengan kegiatan lain!" ujar Bryna.


"Ya Onty. " Lily tidak tahu jika hal yang berhubungan dengan pamannya akan menyebabkannya sakit jantung.


Bryna juga tidak bisa menjelaskan banyak pada anak polos itu.


Bryna mengajak Lily keluar agar dia lebih tenang.


Setelah Lily terlihat tenang, Bryna pun baru mengantar pulang, namun Lily meminta Bryna untuk mampir menjemput kedua temannya untuk tinggal di kediaman Gala.


" Lily, kalau begitu Onty pulang ya." ujar Bryna.


Bryna pun segera pulang.


"Lily, rumahmu bagus sekali, apa kami sungguh boleh tinggal?" tanya Kristin.


"Boleh, kalian masukan barang kalian ke kamarku!" Lily membuka kamarnya.


Keduanya langsung heboh melihat kamar Lily begitu besar dan mewah, seperti kamar tuan putri.

__ADS_1


"Lily kami tidur di ruang tamu saja deh." tiba-tiba kristin merasa tidak enak.


"Ya, kami tidur di ruang tamu saja Lily!" sambung Keinara.


"Loh kenapa?" tanya Lily bingung.


"Lily kami takut nanti dikira menumpang hidup denganmu, kamu tidak mau seperti itu Lily." ujar Kristin.


Lily menarik kedua temannya masuk ke kamar dan segera mengunci pintu.


"Kalian bicara apa?, aku tidak mengerti, yang jelas jika pamanku menyetujui aku berteman dengan kalian, berarti kalian memang teman yang baik untukku, kalian adalah tamu, kata Paman kita harus menjamu tamu dengan baik, jika kalian tidur di ruang tamu berarti aku tidak menjamu kalian dengan baik." ujar Lily.


Mereka langsung memeluk Lily, mereka sangat senang bisa mengenal Lily, meski dia memiliki segalanya, tapi Lily tidak seperti anak orang berada pada umumnya.


"Sekarang apa kalian lapar?, bagaimana jika kita membuat sesuatu di dapur." ajak Lily.


"Oh iya, ayo !" mereka bertiga segera pergi ke dapur, untuk Kristin dan Keinara sudah terbiasa memasak di dapur, berbeda dengan Lily yang masih harus banyak belajar.


...****************...


Di perbatasan.


Gala pergi bersaman Deya.


Sementara Bara dia mengurus prahara di perkotaan.


Gala dan Deya sedang menyelesaikan konflik yang terjadi di perbatasan.


"Tidak sendirian, kau tenang saja ... " Jawab Gala sambil tetap memantau pergerakan targetnya.


"Bonbin sudah bergerak belum?" tanya Gala.


Deya terkikik mendengar Boni di panggil Bonbin oleh Gala.


"Abang jahatnya." ujar Deya.


Gala memperhatikan Deya yang senyum-senyum saat ada kata Bonie dia akan tersenyum.


"Deya Bonie tidak cocok untukmu!" ujar Gala.


"Kenapa?" Wajah Deya berubah serius.


"Menikahlah dengan pria biasa Deya." ujar Gala.


"Memangnya Bonie Super hero?, dia juga orang biasa dia juga bukan Dewa." Deya agak kesal, karena kedua abangnya ini sama saja.


"Ya sudah, lakukanlah sesukamu Deya, lanjutkan tugasmu !" Gala sudah menyampaikan pendapatnya selanjutnya terserah pada Deya saja.


"Abang aku bergerak sekarang!" Deya segera melompat turun.

__ADS_1


Gala tersenyum melihat kecepatan Deya lebih unggul dari abangnya Bara.


Diperbatasan terjadi konflik perebutan wilayah antara penduduk asli dan pendatang.


Setiap hari banyak laporan orang hilang, yang sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya.


Deya mengenakan pakaian adat orang asli di perbatasan itu. Kampung itu tampak sepi tidak ada aktivitas, seperti kampung mati.


"Di mana orang - orang di sini?" Gumam Deya.


"Masuklah rumahmu, bila kau tidak ingin hilang." Terdengar suara namun tidak tahu siapa, karena sangat sepi.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, Deya segera bersembunyi di tempat yang menurutnya aman.


Terlihat pria besar hitam dengan wajah cukup menyeramkan berjalan seakan mencari-cari sesuatu, dia menghancurkan rumah - rumah yang terbuat dari rotan dengan membabi buta.


"Ini menyelesaikan konflik atau memecahkan misteri?" gumam Deya.


Pria bertubuh besar itu terus merobohkan rumah-rumah, sampai dia menemukan penghuni yang bersembunyi di dalamnya.


Terdengar suara teriakan dari seorang ibu dan anak yang terlihat cukup ketakutan.


Deya menghadang pria itu, dan meminta ibu dan anak itu segera lari, Deya tentu langsung ditangkap oleh pria kekar itu.


"Ada barang bagus rupanya!" ujar Pria berbadan kekar itu.


Deya sangat tenang, karena ada Abangnya Gala yang akan menyelamatkannya pastinya.


"Kenapa kau mengganggu pribumi di sini?" tanya Deya.


"Mereka tidak mau mengikuti aturan, harus di singkirkan!" jawab pria itu.


Deya dibawa cukup jauh dari permukiman warga di perbatasan itu.


Deya dibawa ke dalam hutan gelap oleh pria itu, bau amis, anyir tidak sedap langsung menusuk kedua lubang hidung Deya.


Deya melihat banyak mayat berserakan di hutan yang sangat gelap itu, hutan itu sangat lebat dan pohon-pohon besarnya sangat rapat, hingga cahaya matahari pun tidak dapat menjangkau tempat itu.


"Bos, ini ada barang bagus sekali!" pria kekar itu menurunkan Deya, dan memegangi erat rambut Deya agar tidak kabur.


Terlihat orang tua yang cukup menggelikan, dan terlihat sangat mesum.


"Kau dapat dari mana?, itu seperti bukan orang perbatasan!" ujar orang tua yang duduk disinggah sananya itu, dia memangku 2 gadis belia yang terlihat sangat tertekan.


"Di kampung perbatasan Bos!" jawabnya.


"Simpan dulu, mandikan sampai bersih dan harum aku ingin bermain dengan mereka dulu." pria tua itu merabahi tubuh gadis - gadis itu.


Deya merasa sangat kasihan pada 2 gadis itu, mungkin sebentar lagi mereka akan menjadi tumpukan mayat di sepanjang hutan gelap tadi.

__ADS_1


Deya segera menekan tombol daruratnya agar Bonie dan Gala segera datang lebih awal untuk menyelamatkan 2 gadis itu.


__ADS_2