
" Kalian tidak boleh melaporkan kejadian ini pada abangku!" tegas Deya pada para penjaga di kediaman Baratha.
Mereka pun mengangguk dan segera berjaga kembali.
Deya pun segera masuk ke dalam kediaman mencari keberadaan abangnya, tapi rupanya abangnya tidak ada di kediaman.
Deya pun bisa menebaknya, berada di mana abangnya berada.
Deya segera menyusul abangnya ke tempat yang sudah pasti abangnya di sana. Benar saja abangnya berada di makam ibu Saga.
Cintanya pada Ibu Saga tidak pernah lekang oleh waktu, meskipun jam 12 malam lebih jika abangnya merindukan ibunya Saga maka dia akan datang.
Abangnya pasti akan bercerita tentang semua hal di atas makam ibu Saga.
"Abang ..." Deya memanggil abangnya yang masih berbicara sendiri itu.
"Deya, kau sudah kembali?" Bara segera berdiri dan menghapus sedikit air di sudut matanya.
Deya pun mengajak abangnya kembali, dan melaporkan semua keadaan diperbatasan.
"Abang, apa kau tidak mau membuka hatimu lagi untuk orang lain?" tanya Deya.
"Belum bisa." jawab Bara.
"Ya sudahlah, abang cepatlah istirahat!" Deya pun segera masuk ke kamar, situasinya sangat tidak tepat untuk menggoda abangnya itu.
Besoknya Deya benar - benar menemui Kirana dengan Bonie.
Wajah Zidan tampak kesal tapi juga takut dengan Deya. Tentu saja Deya tidak suka Nonanya dimanfaatkan oleh orang lain, tapi di sisi lain Zidan tidak bisa menyinggungnya.
Kirana dengan senang membawakan barang yang diinginkan oleh Deya, dan itu benar-benar asli bukan kw.
Akhirnya dia menukar tas itu dengan kisah Baratha di masa lalu. Mendengar kisah Baratha itu membuat Kirana menangis terisak-isak karena sangat menyedihkan.
"Deya sudah waktunya kita pergi!" ujar Bonie.
"Ya hanya sampai di sini dulu ya Kirana aku bercerita, lain kali kita sambung lagi, aku masih ada urusan!" ujar Deya.
__ADS_1
" Oh ya, maaf sudah mengganggu waktu kakak yang sibuk, lain kali kalau kakak ingin sesuatu katakan pada Kirana ya, nanti kita sambung lagi ceritanya!" Kirana masuk dalam perangkap Deya.
Memang Deya sengaja mengajak Bonie untuk menemaninya dan memintanya untuk berakting seakan ada urusan mendesak, agar Deya bisa memanfaatkan Kirana untuk lain hari.
Setelah mendapatkan semua, Deya dan Bonie pun segera pergi.
" Nona, apa anda tidak terlalu berlebihan?" tanya Zidan.
"Selagi itu tentang Panglima, maka hidup dan matiku juga akan kuberikan!" ujar Kirana.
Kirana sudah terlanjur menyukai Baratha setengah mati.
Semenjak itu Kirana sering menanyakan keberadaan Baratha pada Deya, tentu saja Deya tidak cuma-cuma memberitahu keberadaan abangnya, Kirana pun selalu memberikan apa yang di inginkan oleh Deya tanpa pikir panjang yang terpenting adalah dia bisa menguntit kegiatan Baratha setiap harinya.
Saat itu Baratha dan Manggala sedang pergi berdua, mereka pergi dengan seragam yang sama postur tubuh yang sama, sampai Kirana tidak bisa membedakan keduanya.
Namun saat mengikuti di tengah jalan yang sepi, mobil Kirana di hadang oleh segerombolan bandit yang menyerang mobil Kirana.
Bukan hal yang tepat untuk Zidan keluar mobil karena mereka cukup banyak.
Zidan pun memundurkan mobilnya dengan paksa untuk keluar dari kepungan para bandit itu.
" Dari mana mereka ini datangnya?" Zidan benar-benar terkejut.
Namun rupanya bandit itu semakin banyak mengepung mobil mereka.
"Nona, tidak ada cara lain anda harus meminta bantuan adik Panglima, kita tidak akan bisa keluar jika seperti ini." ujar Zidan.
" Tidak jika begitu, nanti akan ketahuan jika dia membantuku, nanti bagaimana jika dia dimarahi panglima?" Dalam keadaan genting Kirana malah memikirkan Deya.
"Atau jangan-jangan ini jebakan?" ujar Zidan.
"Tidak, mereka tidak akan menjebak kita!" ujar Kirana dengan keteguhan hatinya.
" Nona, aku akan keluar, anda segera kendarai mobil ini kembali, dengan kecepatan tinggi, oke?" ujar Zidan.
Kirana malah menangis tidak mengizinkan Zidan untuk keluar, bagaimana bisa Kirana meninggalkan Zidan sendiri.
__ADS_1
"Jika aku hidup kau harus hidup , jika kau mati aku juga harus mati, huks huks huks" Kirana berbicara dengan tubuh gemetar dan juga air mata yang tiada hentinya.
Kirana sudah pasrah jika dia mati saat ini, maka dia tidak akan menyesalinya, tapi sebenarnya dia juga tidak ingin mati, tapi memang sulit juga untuk hidup jika seperti ini.
Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba ada seorang berseragam Army yang seakan muncul dari pantulan sinar, dia seorang diri dengan gagah perkasa mengalah puluhan bandit berbadan besar-besar itu.
Tapi sebagian bandit tetap merusak mobil milik Kirana.
" Itu pasti Panglima!" Kirana benar - benar yakin meskipun orang itu mengenakan masker, itu sudah pasti Panglima, Kirana sangat senang akhirnya untuk kedua kalinya Bara menyelamatkannya, seperti kisah seorang putri yang diselamatkan oleh seorang ksatria.
"Nona, cepat ikut aku!, kau cepat keluar!"
Kirana dan Zidan segera keluar dari mobil, Zidan pun membantu menyingkirkan sisa bandit yang ada.
Kirana pun di gendong dan di bawa ke tempat yang aman, Zidan pun mengikuti dari belakang sampailah mereka sebuah markas militer.
Benar saja pria yang menggendongnya adalah Baratha, karena baret di seragam itu tertulis jelas Baratha, dan bau tubuhnya mengingatkan jelas Kirana aroma tubuh saat berada di tebing itu.
"Ya ini benar-benar aroma tubuhnya!" Gumam Kirana lirih.
"Manggala, kenapa kau membawa wanita ke markas kita!" Terdengar suara yang tidak asing ditelinga Kirana.
Zidan juga sangat terkejut, kenapa ada 2 panglima di hadapannya.
"Panglima?" Kirana terkejut melihat Baratha berdiri dihadapannya.
Baratha juga terkejut melihat ada Kirana dan juga pengawalnya datang bersama Gala.
Kirana langsung menarik masker yang digunakan oleh orang yang serupa dengan Panglima.
"Jadi kau yang menyelamatkanku di atas tebing?, bukan Panglima?" ujar Kirana sangat terkejut, rupanya dia salah mengenali penyelamatnya.
Gala baru teringat gelang giok putih yang di dapat Bara itu milik wanita yang diselamatkannya di tebing saat itu.
"Oh, jadi ini salah paham, rupannya wanita ini tidak membual, dia salah mengenaliku sebagai Gala." ujar Baratha.
Zidan pun cukup syok, sejauh dia mencaritahu dia tidak mengetahui jika Panglima memiliki Kloningan yang sangat luar biasa, sulit membedakan keduanya, hanya saja dari pengamatan Zidan, kloningan Panglimalah yang lebih mematikan dari pada Panglima itu sendiri.
__ADS_1
Jantung Zidan langsung tidak aman, dia dan Nonanya mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak mereka ketahui, sama saja mereka keluar dari mulut buaya dan masuk ke kandang singa.
Namun itu dia tepiskan dulu, karena tiba-tiba Kirana pingsan karena mendapatkan kenyataan bahwa dia salah jatuh cinta pada orang yang justru bukan penyelamatnya.