CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN

CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN
6. Bayik Cantik


__ADS_3

Mendengar suara rengekan Tantan yang begitu menggelegar membuat Deya terbangun dan segera keluar dari kamarnya.


" Bibi,siapa yang membuat bibi bersedih?"


Tanya Deya sambil mengusap kedua matanya.


"Hiks hiks tidak ada Deya." jawab Tantan.


"Deya bangunkan abang ya, suruh abang ikut latihan dengan Panglima dan juga Gala." pinta Suzy.


"Aku juga ikut ya, Bu." ujar Deya.


"Ya sudah sana siap-siap, setelah itu katakan pada Panglima, Bibi Tan di sini menenangkan diri." ujar Suzy pada putrinya.


"Siap!" Deya pun segera masuk ke kamar abangnya, Deya masuk ke dalam kamar mandi mengambil air dengan gayung lalu segera mengguyurkan air ke muka abangnya.


Bara yang tersiram air sumber kehidupan itu pun gelagapan dan langsung bangun.


" Deya ... !"


Teriak Bara sangat kesal.


"Abang kata ibu, kita harus ikut latihan dengan Panglima!" Deya segera berlari kabur keluar.


" Apa? " Bara yang pura-pura tidak dengar.


"Tidak ada siaran ulang, aku mau siap-siap ke tempat abang Gala! " Deya lari keluar kamar Bara. Deya segera menuju kediaman Panglima, begitu juga dengan Bara kali ini dia tidak akan mempermasalahkan ulah adiknya, karena jarang sekali Panglima ada waktu melatih mereka.


" Ibu, di mana Deya?" tanya Bara.


" Sudah ke tempat bibimu." jawab Suzy.


" Loh Bibi kenapa? " Tanya Bara khawatir.


" Tidak papa kok, cepat nanti ditinggal lagi" Tantan memburu Bara agar segera menyusul.


Bara dengan semangat segera ke kediaman Panglima. Rupanya dia sudah mau di tinggal, mobil Jeep Panglima sudah berjalan.


" Tunggu." Teriak Bara sambil berlari mengejar mobil Leon.


"Loh, katanya nggak ikut?" Ujar Leon bertanya.


Bara segera masuk ke dalam mobil Panglima.


Rupanya Deya membohongi Panglima, mengatakan jika Abangnya tidak ikut karena masih mengantuk.


Kedua kakak beradik itu ribut lagi di dalam mobil.


"Sudah ayo, duduk diam!" tegas Panglima.


Mereka berdua langsung terdiam.


" Paman, kita mau ke mana? " tanya Bara.


"Kita mau ke Basecamp om Zero, kalian sudan lama tidak bertemu Grey bukan? " jawab Leon.

__ADS_1


Ketiganya langsung senang, karena Grey sebenarnya juga masuk dalam squad mereka, karena dulu keluarga Grey juga tinggal di kota. Tapi keluarga Grey harus kembali ke basecamp karena sesuatu yang penting. Jadi mereka sudah berpisah 3 tahun lamanya.


"Kasihan ya, kak Grey dia harus jadi orang hutan!" ujar Deya.


" Pfffttt, bukan orang hutan juga kali Dey, kau ini. " Panglima rasanya ingin mencubitDeya dengan gemas.


"Oh, aku tahu dia menjadi Tarzan ya? " sahut Deya lagi.


"Kau terlalu banyak nonton film Tarzan." Gala rasanya juga sangat ingin mencubit ginjal Deya.


Gala menjelaskan pada Deya, meskipun Grey tinggal di hutan, tapi hutan yang Grey tinggali itu tidak jauh beda seperti di kota, hanya saja penduduknya buka orang - orang biasa, semua terlatih dari sejak dini untuk berperang. Deya menjadi sangat berantusias dia terus bertanya pada Gala karena penasaran.


"Sudah kau ini cerewet sekali diam saja kenapa sih, awas ya aku belum membuat perhitungan denganmu." Bara merasa risi dengan adiknya.


Keduanya bertengkar lagi, sampai bergulat di belakang.


"Sudah ayo kalian jangan bertengkar! " Tegas Leon melerai kedua adek kakak itu.


Keduanya kembali terdiam lagi dan patuh.


"Kalian tahu tidak, Grey baru saja punya adik perempuan. " Panglima memberitahu.


Mereka bertiga tampak senang, apalagi Deya. Deya akhirnya memiliki teman bermain boneka.


"Ayah, kenapa Gala tidak punya adik sendiri? " Ujar Gala bertanya.


" Gala, keadaan ibumu dengan yang lain berbeda, Ayah dan Ibu sudah bersyukur memiliki Gala." Panglima jadi merasa bersalah, karena dialah yang membuat istrinya menjadi seperti ini. Karena dia tidak mampu melindungi istrinya dengan baik.


"Gala kau mau adik?" tanya Bara.


"Kalau begitu aku akan memberikan Deya untukmu, aku ikhlas dengan senang hati." Bara benar - benar tulus mengatakannya.


" Hahahahaha." Panglima tertawa lepas mendengar Bara memberikan Deya pada Gala.


"Tanpa kau berikan pada Gala, kami sudah menganggap Deya dan kau juga bagian dari keluarga kami." Panglima menggeleng kepala.


"Tapi kenapa Gala tidak kau berikan adik Panglima? " tanya Bara.


"Keadaan Bibimu yang memang tidak memungkinkan Bara, jika dipaksa akan membahayakan nyawa Bibimu." Panglima pun menjelaskan sedikit keadaan Tantan pada mereka. Mereka pun akhirnya paham.


Dalam perjalanan panjang mereka tidak tidur sama sekali. Mereka banyak berbicara dengan Panglima, tapi justru Gala diam saja sampai ke tempat tujuan. Karena Gala lebih suka mendengarkan dari pada banyak bicara.


Akhirnya, mereka sampai di gerbang utama. Basecamp.


Deya benar -benar sangat takjub karena melihat gebang begitu besar dan kokoh di dalam hutan. Apalagi saat gerbang itu terbuka secara otomatis.


Terlihat banyak orang berdiri tegak dengan pakaian serba hitam, di depan gerbang. Dua orang maju menghampiri mereka.


" Kita sudah sampai ayo turun! " ujar Leon.


Mereka pun segera turun dari mobil.


Zero dan yang lainnya segera memberi hormat pada Panglima, begitu juga anak laki-laki di samping Zero yang tak lain adalah Grey.


"Panglima selamat datang." Zero menyambut Leon dengan pelukan hangat.

__ADS_1


"Terimakasih, Grey kau sudah semakin tinggi, ke depannya Gala aku serahkan padamu. " Ujar Panglima sambil menepuk bahu Grey.


"Laksanakan, Panglima!" Jawab Grey dengan tegas.


Grey pun menyapa Gala, Bara dan Deya. Grey segera mengajak ketiganya ke Paviliun yang akan ditinggali mereka.


Bara dan Deya sudah sangat kelelahan rupanya, mereka segera memilih kamar dan beristirahat lebih awal.


Gala dan Grey berbincang, mereka sudah lama tidak bertemu.


"Grey, kata ayahku kau punya adik." ujar Gala.


" Benar Tuan. " jawab Grey.


" Aku boleh lihat?" tanya Gala.


Grey pun mengangguk, Gala segera mandi dan berganti baju, lalu mengikuti Grey ke Paviliunnya untuk melihat adik perempuan Grey. Rasanya Gala sangat iri karena semua memiliki adik sedangkan dia tidak


"Ibu, lihat siapa yang datang." Ujar Grey pada Nisa.


Nisa yang sedang menimang bayi perempuannya sangat terkejut melihat Manggala.


"Tuan muda." Nisa sangat senang melihat Gala.


Gala hanya tersenyum tipis dan mengangguk, Gala memang tidak bisa basa-basi. Gala melihat bayi perempuan yang berada di gendongan Nisa. Mata Manggala langsung terpanah pada bayi cantik di gendongan tantennya.


" Cantik." gumam Gala.


Nisa langsung menawarkan Gala untuk menggendong putrinya.


"Apa boleh aku menggendongnya? " Seakan tak percaya jika Gala boleh menggendong bayi cantik itu.


Nisa langsung memberikan bayinya pada Gala.


Wajah Gala langsung ceria, melihat bayi kecil cantik yang kini berada dalam gendongannya itu. Seakan tak percaya jika ada seorang bayi yang begitu cantik dan menggemaskan. Rasanya Gala ingin menggigit pipi gembul bayi cantik itu.


Zero yang baru kembali cukup terkejut melihat putrinya ditatap begitu kagum oleh Manggala. Zero dan Nisa pun saling memandang melihat ekspresi Manggala.


"Apa kau menyukai anakku Tuan muda? "


tanya Zero.


" Om ... dia sangat cantik dan menggemaskan." Gala memegang jemari kecil bayi itu dengan telunjuknya, bayi itu langsung menggenggam erat telunjuk Gala.


Jantung Gala langsung berdetak kencang tak beraturan.


" Sepertinya anakku menyukaimu Tuan Muda, kalau begitu aku akan menitipkan anak perempuanku padamu di masa depan." ujar Zero.


"Ya tolong jaga dia ya Tuan Muda." sambung Nisa.


"Kan, bayimu ada Grey? " ujar Gala.


"Tuan muda, saya bertanggung jawab menjagamu dan saya menitipkan adik saya pada anda boleh?" sahut Grey.


Gala tersenyum lebar, rasanya sangat bahagia karena mendapatkan tanggung jawab menjaga bayi kecil yang sangat cantik dan begitu menggemaskan itu. Gala mengaggapnya itu hadiah dari Tuhan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2