
Bonie sudah memasuki hutan Gelap itu karena Boni sudah berada di perbatasan lebih dulu untuk memasang beberapa senjata darurat secara diam-diam.
Sesuai perintah Gala, jika tidak bisa di selamatkan makan musnahkan tak tersisa.
Bonie mendapatkan signal darurat dari Gala, dan segera mengejar Deya yang di duga sedang dalam bahaya.
Bonie pun segera mengikuti arah GPS yang menunjukkan titik letak di mana Deya berada.
Sementara Gala masih sampai di dekat perbatasan, Gala segera menyusun strategi untuk penyerbuan tempat di mana Deya memberikan signal darurat.
Setelah menyusun strategi Gala segera mengerahkan pasukan miliknya untuk mulai bergerak.
Bonnie pun sampai pada titik Deya melemparkan signal.
"Oh sial bau busuk!" ujar Bonnie yang mulai melewati jalan bertumpuk mayat.
"Siapa kau berani masuk ke wilayahku?" Seorang penjaga bertubuh besar menghadang Bonie.
"Sialan tubuhnya besar sekali!" Gumam Bonie.
"Aku mencari wanitaku, aku melihat mereka membawanya ke arah sini!" ujar Bonie.
" Wanitamu, orang yang sudah masuk ke wilayah ini sudah menjadi orang tuanku!" ujar orang berbadan besar itu.
"Dan kau juga akan menjadi tumpukan mayat seperti itu karena mengacau!" tambahnya.
"Aku tidak takut, bawa aku masuk!" pinta Bonie.
"Siapa kau memerintahku, wanitamu mungkin sedang melayani bosku, kau sebaiknya mati saja di sini!" Pria kekar itu segera menarik pedangnya dan segera menyerang Bonie.
Bonie tidak terlalu pandai bertarung, dia hanya bisa menghindar terus untuk mengalihkan penjagaan agar orangnya dan anak buah Gala bisa masuk dengan mudah.
Bonie dapat menjatuhkan pedang musuh, namun Bonie terkena pukulan dan terlempar cukup jauh.
"Mati sudah aku!" ujar Bonnie.
Merasakan tubuhnya melayang ke udara membuat Bonie pasrah untuk hidup dan matinya.
Namun tiba-tiba ada tangan yang menopangnya dan membawanya mendarat dengan selamat.
"Komandan." Rupanya Gala datang di saat yang tepat.
"Kenapa kau sangat lemah?, carilah Barnes ke arah Utara, dia akan mengobatimu!" ujar Gala.
" Jika tidak kau tunggu sebentar di tempat yang aman!" tambah Gala.
__ADS_1
Gala segera maju dengan cepat, tanpa banyak bicara Gala mengambil pedang musuh dan orang berbadan besar itu langsung terbelah menjadi dua bagian dalam hitungan detik.
Bonie langsung syok, karena kali pertama melihat orang membelah tubuh dengan sekali tebas tanpa berperasaan, tubuh Bonie langsung menggigil karena ketakutan, selama ini dia memang menjual senjata peledak tapi dia sendiri juga tidak begitu kejam dengan orang.
Bonie menyadari jika saat itu dia tidak tunduk mungkin nasibnya tidak jauh berbeda dengan pria berbadan kekar itu.
"Komandan tidak bisa disentuh!" Gumam Bonie gemetaran.
Gala segera masuk ke dalam, rupanya anak buahnya sudah masuk dan menyerbu ke dalam, peperangan terjadi cukup besar Gala mencari keberadaan Deya, melalui alat pelacaknya.
Rupanya ada di sebuah Goa, Gala pun masuk tanpa ragu.
"Abang, akhirnya kau datang!" teriak Deya yang tangan dan kakinya sudah di rantai.
Gala segera melepaskan adiknya dan menggendongnya segera membawa keluar dari tempat itu.
"Abang, orang tua itu menjijikan, aku takut menjadi mangsanya!" Deya memeluk Gala dengan erat.
" Baik aku akan memotongnya, apa kau mau lihat aku memotong tubuhnya?"
tanya Gala.
"Ueeeek, tidak tidak!" Deya sudah sangat tidak nyaman berada di tempat yang banyak sekali mayat berserakan.
Gala pun segera membawa keluar, rupanya Bonie masih terduduk di tempat yang sama.
Gala memperhatikan tangannya yang sudah kosong dalam sekejap, Deya seakan menghilang dalam kedipan mata, rupanya anak itu sudah berada di dekat Bonie karena khawatir.
"Siapa yang baru saja merengek ketakutan, sekarang sudah memperdulikan orang lain!" Gala menggaruk kepalanya.
"Deya kau papah Bonie ke tempat Bernas, aku akan pergi ke kampung perbatasan!" ujar Gala.
Deya dengan sigap membawa Bonie ke tempat Bernas.
Gala segera pergi ke kampung perbatasan.
akhirnya Gala mampu meyakinkan para penduduk asli di perbatasan jika dia datang untuk menolong mereka.
Semua penduduk pun keluar dari tempat persembunyiannya, kepala suku mereka menceritakan kepada Gala, jika orang - orang itu datang untuk menjajah penduduk perbatasan, dengan berdalih memberikan kehidupan yang lebih baik, tapi mereka meniduri istri dan anak-anak seenaknya sendiri, lalu meminta para penduduk menyembah bos dari orang - orang itu.
Awalnya orang itu datang karena meminta pertolongan pada penduduk setempat tapi lama kelamaan mereka membawa masuk banyak orang luar dan berniat mendominasi, karena penduduk asli menolak mereka malah menculik anak - anak dan istri mereka, lalu membunuh orang yang melawan mereka.
Gala pun mengatakan jika dirinya sudah memberantas para kaum biadab itu, mereka bisa kembali hidup damai namun harus tetap mengikuti aturan dalam pemerintahan.
Gala dan anak buahnya membantu pembangunan para penduduk yang sudah rusak, lalu mengajarkan beberapa cara berdagang dan membaur dengan orang kota, agar perekonomian mereka bisa terjamin dan memajukan pikiran mereka yang masih premitiv, Gala juga membangunkan gedung untuk sekolah, meminta anak buahnya untuk menjadi pengajar untuk mereka.
__ADS_1
Tidak hanya gedung untuk belajar, Gala juga membangunkan beberapa tempat ibadah lengkap di tempat itu yang semua penduduknya masih atheis.
Mereka bisa memeplajari beberapa agama untuk memilih menjadi orang yang beragama, dengan keyakinannya masing - masing.
Para kaum biadab itu dihabisi tak tersisa, dan Gala meminta anak buahnya untuk berjaga sampai keadaan benar - benar baik dan stabil.
Setelah satu minggu berlalu Gala pun kembali ke kota menepati janjinya pada Lily untuk kembali.
Sementara Deya masih tinggal untuk mengajar bersama Bonie di perbatasan.
Gala duduk di ruangan Bara untuk istirahat sebentar, baru nanti dia akan kembali ke kediamannya.
Tak lama Bara masuk dengan senyum-senyum membawa sebuah hadiah.
"Bar, kenapa kau tersenyum?" Tanya Manggala yang sedang duduk di sofa. Manggala menggunakan pakaian yang sama karena mereka adalah 2 orang yang menjadi satu.
"Tidak." Bara meletakkan hadiahnya di atas meja.
"Apa itu? " Gala sangat penasaran, dengan kotak pink yang di bawa oleh Baratha.
Gala membuka kotak itu, ternyata isinya adalah gelang giok putih. Gala tidak asing dengan gelang itu. Tapi Gala lupa dia pernah melihat di mana.
Baratha menceritakan gadis aneh yang dia temui barusan di depan.
" Aku memiliki daya ingat yang tinggi, sekilas saja aku akan mengingatnya, dia mengarang cerita begitu hebat untuk mendekatiku. " ujar Bara.
"Berhentilah membicarakan wanita, berlatih saja untuk menjadi kuat agar aku tidak perlu menjadi bayanganmu lagi." Tegas Gala melempar kotak itu pada Bara.
"Tidak mau, apa kau sudah menyelesaikan masalah perbatasan Gal? " tanya Bara.
"Sudah, kau tinggal hadir untuk pencitraan saja!" Jawab Gala segera bangkit dari duduknya.
"Terimakasih Gal, tanpamu aku tidak akan bisa mencapai dititik ini, karna menjadi Panglima adalah impianku! " Gala termasuk separuh jiwanya.
"Ehm, aku pergi. " ujar Gala.
"Kemana?, aku hari ini free kita pergi jalan yuk! " ajak Bara.
Gala menolaknya, karena Gala tidak suka nongkrong tidak bermanfaat, dia lebih suka berlatih dan terus berlatih.
Akhirnya Baratha pun ikut.
"Kau hanya ingin menemui anak asuhmu bukan?, kau terlalu keras padanya Gal." ujar Bara.
" Mendiang ibunya, menitipkannya padaku sejak dia lahir, aku akan menjaganya seumur hidupku, itu caraku menjaganya. " Ujar Gala.
__ADS_1
"Dia masih punya abangnya, jangan kau habiskan waktumu untuk Lily! " Ujar Baratha membujuk Gala.
Tapi Gala mengabaikannya.