CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN

CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN
54. Tidak tahu Hantu


__ADS_3

Cintanya pada Emily tidak pernah luntur sedikitpun meskipun terhalang jarak, waktu dan juga mungkin dinding tebal sekalipun.


Keesokan paginya.


Grey sudah sampai di depan kediaman Gala.


Gala segera menyambut kedatangan sahabatnya satu ini lagi.


" Tuan Muda." Grey memberi hormat pada Gala.


" Sudahlah, jangan terlalu formal kita ini bukan anggota, santai saja ayo masuk!" ajak Gala.


Grey pun segera masuk ke dalam kediaman Gala.


" Di mana Lily?" tanya Grey.


" Masih tidur dia, hari ini dia ambil libur lagi, katanya capek." ujar Gala.


Grey meminta maaf pada Gala karena adiknya sangat merepotkan hidup Gala.


" Dia itu segalanya untukku Grey, dia itu hidupku!" ujar Gala.


Grey tersenyum, betapa beruntungnya Emily karena dicintai oleh orang luar biasa seperti tuan mudanya.


"Bagaimana kabar ayahmu?" tanya Gala.


" Dia sehat dan baik-baik saja, sebenarnya Ayah merindukan Emily, tapi dia sudah mengatakan putus hubungan dengan Emily, dia repot sendiri sekarang, dia tidak berani menemui Emily meskipun sangat rindu!" ujar Grey.


"Emily sangat merindukan ayahnya juga, seharusnya Om Zero melupakan emosi sesaat itu, bila ada waktu harus melihat putrinya!" ujar Gala.


"Hal seperti itu sudah di sampaikan ayah ibu anda, tapi Ayahku memang sangat sulit!" ujar Grey.


"Ya sudah, memang masih butuh waktu untuk Ayahmu!" ujar Gala.


"Paman, aku lapar!" Lily yang baru bangun dan masih mengusap kedua matanya.


" Apa kau masih tidak bisa memasak?" sahut Grey.


Emily langsung membuka matanya, betapa senangnya Emily melihat Grey.


" Abang ... " Emily langsung memeluk abangnya Grey.


" Sekarang kau berat sekali Emily?" Grey mencubit hidung mungil Lily gemas.


Grey merasa sangat lega karena adiknya hidup dengan baik di bawah tangan Gala.


"Aku pesan makan saja ya." ujar Gala.


Gala pun segera memesan makanan yang banyak untuk menyambut sahabatnya itu.


Tak lama Baratha tiba bersama Deya, mereka pun berbincang banyak hal tentang apa yang akan mereka rencanakan.


Sementara Deya dan Emily makan sambil menonton film, karena ada Grey mungkin Deya tidak terlalu terlibat dalam misi yang bisa dikatakan cukup serius ini.


Mereka bertiga sedang membicarakan poin-poin penting yang akan dia kerjakan bersama.


"Kita jalan-jalan saja yuk!" ajak Deya bosan.

__ADS_1


Setelah seminggu menjalani hukuman Deya tentu sangat bosan akhirnya tanpa sepengetahuan mereka bertiga yang sangat sibuk menyusun strategi, Deya dan Lily keluar.


Deya menganjak Lily ke markas Bonie.


"Lily, apa kau mau tahu orang yang aku sukai?" tanya Deya.


" Mana kak?" tanya balik Lily.


Tak lama Bonie muncul dan menghampiri keduanya.


" Kak Bonie, kenalkan ini wanitanya Bang Gala!" ujar Deya.


Bonie terkejut, rupanya selera Tuannya sangat muda sekali.


" Hai Nona, salam kenal ya saya Bonie." ujar Bonie.


" Ya Kak, ..." jawab Lily.


Lily sudah tahu harus menjaga jarak dengan pria lain kecuali Gala, dia tidak pernah berjabat tangan dengan lawan jenisnya selain Paman Galanya.


Lily terus bersembunyi di belakang Deya.


" Apa Nona takut?" tanya Bonie.


" Tidak kata Paman, Lily harus menjaga jarak satu meter dengan pria selain Paman." jawab Lily tanpa ekspresi.


Bonie dan Deya pun terkekeh mendengar ucapan Lily yang sangat polos dan dari sana sudah jelas bahwa Tuan Gala adalah pria posesif.


Jadi Bonie sudah tahu harus bagaimana dengan Emily.


" Mau kemana kita Deya?" tanya Bonie.


Bonie menggandeng tangan Deya, Deya langsung menggandeng tangan Lily.


Mereka pergi ke bioskop, tentu saja mereka sangat suka film horor.


" Lily kau takut hantu?" tanya Deya.


" Hantu itu apa Onty?" tanya Lily yang tidak kenal hantu.


" Astaga, apa di Basecamp kau tidak pernah lihat hantu?" tanya Deya.


" Tidak ada hantu di Basecamp kami Onty." jawab Lily.


" Ya sudah kita lihat saja, nanti kalau Lily takut Lily pejamkan mata saja ya." ujar Deya.


Lily pun mengangguk karena baru pertama kali dia datang ke bioskop jadi masih keheranan melihat kursi begitu banyak dan layar yang begitu besar.


" Onty lihatlah, masak mereka punya begitu banyak kursi dan layar begitu lebar tapi mereka tidaj memiliki satu lampu pun?, gelap dong!" Celetuk Lily begitu keras.


Semua yang mendengar pun tertawa, begitu juga dengan Deya dan Bonie, mereka tidak malu dengan ketidak tahuan Lily.


Deya pun menjelaskan jika bioskop itu memang begitu adanya, jika nanti film sudah selesai baru akan dinyalakan lampunya.


Lily pun mengangguk mengerti, mereka bertiga pun duduk di tempat yang sesuai dengan tiket mereka.


Film hantu pun di putar, rupanya Lily benar - benar tidak takut dengan hantu, hanya saja dia terkejut karena suara di bioskop itu sangat keras sampai ke hati.

__ADS_1


Saat hantu muncul semua orang menjerit, Lily selalu kaget tapi bingung dengan orang - orang, kenapa mereka menjerit karena melihat orang dengan badak tebal dan riasan aneh di muka.


Sepanjang pemutaran film Lily tidak tahu yang dibilang hantu itu yang mana.


" Onty, mana yang dibilang hantu itu?" pertanyaan Lily yang polos itu membuat suasana yang tegang menjadi kocak.


" Bahaha, kamu dari tadi lihat juga tidak tahu hantunya yang mana?" tanya Deya.


" Iya ... kenapa mereka pakai riasan kayak adonan tepung?" ujar Lily heran.


" Wah, kalau pemeran hantunya dengar apa yang kau ucapkan, harga dirinya pasti hilang Lily!" Deya terkekeh sambil menggeleng kepala.


Tontonan hari itu tidak jadi seram karena Lily.


Setelah film selesai Deya pun mengajak makan Lily.


" Tidak seru ya Onty!" ujar Lily.


Tentu saja untuk anak yang hiperaktif dan tidak bisa diam sama sekali itu sangat membosankan duduk di depan layar.


" OMG, Lily kita harus segera kembali!" Deya sudah panik melihat ada 100 panggilan tak terjawab, karena ponselnya di silent.


Panggilan dari Gala dan juga Bara terabaikan.


Saat keluar dari gedung bioskop, Bara , Gala dan Grey sudah berdiri di pintu bioskop.


" Mampus aku!, kakak kau pergi sana dulu!" pinta Deya pada Bonie.


" Tapi, ..."


" Sudah jangan ngeyel!" Deya tidak ingin melibatkan Bonie.


" Lily, nanti jika ditanya kita nonton berdua saja ya!" ujar Deya.


" Ya Onty ." Lily mengerti maksud Deya.


" Abang ... Kalian menyusul?, mau nonton?" Ujar Deya tidak ada merasa bersalah sama sekali.


Bara langsung menjewer telinga Deya dengan gemas, bagaimana bisa mereka sedang membahas hal penting malah dia yang termasuk dari kaki tangan Bara malah santai-santai nonton bioskop.


Melihat Deya di jewer Lily pun merenges menghadapi Gala dan Grey.


" Lily, apa kau ini sangat tidak tahu situasi?" tanya Grey.


" Jangan marahi dia Grey ..." Gala langsung pasang badan untuk wanita kecilnya.


Siapapun tidak boleh memarahi Lily, meskipun dia keluarga Lily, karena Gala sudah mengambil alih Lily untuk di bahagiakan.


" Tapi Tuan ..." Grey merasa Gala terlalu memanjakan Lily.


" Lily, sini ... " Panggil Gala dengan tersenyum, melihat Lily baik-baik saja setelah keluar bersama Deya ada hal yang paling penting.


Karena beberapa kali Lily terluka karena bersama Deya.


Gala menanyakan keadaan Lily apakah ada yang terluka atau mengalami kejadian tidak menyenangkan saat bersama Onty nya.


Jika ada, Gala harus mencari keadilan untuk Lily tentunya.

__ADS_1


" Grey kita kembali dulu dengan Deya, tinggalkan saja orang bucin ini dengan adikmu!" tegas Bara.


Grey pun mengikuti Bara kembali lebih dulu, rupanya memang Gala sangat bucin setengah mati pada Emily.


__ADS_2