CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN

CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN
33. Di putuskan hubungan.


__ADS_3

Grey pum datang dengan anak buahnya, betapa terkejutnya Grey melihat Ibunya sudah tak bernyawa.


"Masih ada beberapa kelompok yang melarikan diri, cepat kerahkan anak buahmu menghabisi mereka!" Perintah Gala.


Grey segera memerintah anak buahnya untuk mengejar mereka yang kabur. Setelah itu Grey menggendong tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa. Beberapa anak buah Grey membawa Zero dan orang - orang yang terluka.


Gala segera membawa Lily dengan kudanya kembali. Sepanjang perjalanan Lily terus menangis sambil menyalahkan dirinya yang bodoh.


"Paman, aku membunuh Ibu dan teman baikku, hiks hiks hiks." Lily sangat merasa bersalah.


Gala hanya diam, dia juga menyesal karena terlalu santai. Jika dia lebih pagi lagi mengajak Lily ke kota. Semua ini juga tidak akan terjadi.


Setelah sampai Gala pun mengabarkan pada semua keluarganya bahwa ibu Lily sudah tiada.


Keluarga Jimmy, keluarga Leon dan juga keluarga Petter saat itu juga langsung berangkat menuju basecamp Zero.


Grey segera mengurus pemakaman ibunya dan juga beberapa orang yang gugur dalam tugas itu.


Zero benar-benar terpukul dengan kejadian itu, Zero terus menangisi istrinya yang akan segera di semayamkan.


Lily mendekati peti ibunya, untuk melihat ibunya sebelum di makamkan. Gala pun setia mendampingi Lily.


Namun saat akan menyetuh peti ibunya, Zero menghalanginya.


"Jangan sentuh peti ibumu!" tegas Zero.


"Ayah maafkan-- ." belum selesai bicara Lily sudah mendapatkan tamparan keras dari Zero.


Ini pertama kalinya Lily mendapatkan tamparan dari ayahnya, memang setiap hari ayahnya marah-marah karena kenakalannya, tapi baru kali ini Lily ditampar begitu keras, sakitnya sampai ke dalam hati. Apalagi wajahnya begitu terlihat membencinya.


"Teruslah berbuat seenaknya sendiri, sampai orang - orang yang menyayangimu habis mati karenamu!" Suara Zero terdengar lantang dan sangat menyakitkan ditelinga Lily.


"Om ... " Gala langsung pasang badan untuk Lily.


"Tuan Muda, kali ini tolong jangan menghalangi saya mendidik putri saya, jika tidak hidupnya hanya akan menyusahkan orang lain saja." Zero merendahkan suaranya saat berbicara pada Gala.


Gala melihat ke arah Lily yang terlihat tak berdaya, tapi bagaimana pun Zero adalah ayahnya.


"Ayah, maafkan Lily." Lily terlihat sangat menyesal.


"Mulai sekarang jangan pernah memanggilku Ayah, lihatlah mereka!, apa kau puas!" Zero benar-benar memutuskan hubungannya dengan Lily di depan peti istrinya.


"Ayah, itu keterlaluan!" Grey tidak terima dengan keputusan ayahnya.


"Tuan Muda, saya berikan putri saya pada Anda, terserah bagaimana Anda mau mengurusnya, saya tidak ingin melihatnya lagi!" Zero mendorong Lily hingga jatuh.


"Ayah, ku mohon jangan lakukan itu pada Lily, Ibu akan sedih." Grey masih memohon pengampunan ayahnya untuk adiknya.

__ADS_1


"Tutup mulutmu, mulai hari ini Ayah hanya memilikimu seorang, kau bertanggung jawab besar untuk menggantikan Ayah mulai sekarang." Zero segera mendekat pada istrinya.


Grey pun tidak bisa membujuk ayahnya lagi.


Gala langsung meraih Lily dan membawanya ke paviliunnya. Lily menangis sejadi-jadinya, kesalahannya sangat fatal sehingga dia tidak hanya kehilangan ibunya dia juga kehilangan keluarganya.


"Lily, mulai sekarang Paman yang akan menjaga Lily." Gala mencoba menghibur Lily yang sedang terpuruk.


"Paman, Lily sudah tidak punya keluarga lagi, Ayah memutuskan hubungannya dengan Lily, hiks hiks hiks, Lily tidak punya Ibu, hiks hiks, teman baik Lily satu-satunya juga pergi."


Hari itu hari yang paling menyakitkan untuk Lily dan semua orang.


"Aku bisa menjadi Ayah untukmu, aku akan menjadi Ibu untukmu, aku juga bisa menjadi satu-satunya temanmu, apapun yang kau inginkan aku akan melakukan yang terbaik untukmu." Gala memeluk Lily dengan kehangatannya.


Lily menangis sampai tertidur, Gala meminta Oddie menjaga Lily, sementara Gala juga harus mengantar Auntynyanke tempat peristirahatan terakhir.


Ternyata semua keluarganya sudah hadir, tentu sudah pasti ibunya pasti sangat sedih, karena ibu Lily adalah orang yang sangat berarti untuknya. Ibunya menangisi peti yang akan dikuburkan.


Tentu saja hari itu adalah hari yang begitu menyedihkan untuk semuanya. Karena Nisa adalah orang yang baik hati. Dia benar - benar menjadi pendamping yang selalu membantu suaminya dalam tugas apapun.


"Gala, di mana Lily?" tanya Bara.


"Di paviliunku, Deya tolong kau jaga Lily untukku." pinta Gala pada Deya.


Deya pun segera ke paviliun Gala untuk menemani teman kecil yang sudah lama tidak ia jumpai, Deya sangat mengerti bagaimana menjadi Lily, karena setiap hari kerjaan Deya juga membuat masalah.


Dan lagi, Deya sudah lama tidak bertemu Oddie.


Leon, Petter dan juga Jimmy menemani Zero yang masih terpuruk atas kepergian istrinya.


"Kenapa kau malah memutus hubungan anakmu?, bagaimana pun dia putrimu!" tegas Jimmy gemas sekali dengan Zero.


"Jimmy, kau diamlah jangan banyak bicara!" tegas Leon.


"Itu karena kesalahan dia sendiri, kenapa menyalahkan anaknya." sahut Jimmy.


" Kau bisa diam tidak?!" Petter menyimpal mulut Jimmy dengan apel.


"Benar, itu salahku, aku sudah tidak bisa lagi menjaganya, ku harap Tuan Muda menepati janjinya." ujar Zero.


"Okey, mulai sekarang dia menjadi tanggung jawab Gala, kami juga sedih dengan kejadian ini, tapi bagaimana pun kau harus melanjutkan hidupmu." ujar Leon.


" Tuan, bisakah saya mengikuti anda lagi?, saya tidak bisa tinggal di sini tanpa istriku." pinta Zero.


"Iya ikutlah denganku, dan kau bisa melepaskan tanggung jawabmu pada Grey." Leon sangat mengerti keadaan Zero.


"Pengecut, hadapilah kenyataannya!" sahut Jimmy.

__ADS_1


Kali ini Petter membungkam mulut Jimmy dengan kaos kaki.


"Jimmy, sebentar lagi kau tidak memiliki kekuasaan, sebaiknya mulutmu difilter!" ujar Leon kesal pada sahabatnya itu.


Tantan, Suzy dan juga Ria datang pada Lily, mereka bertiga menenangkan hati Lily yang sangat sedih.


"Lily, ini semua sudah takdir, ini bukan salah Lily." Tantan memeluk Lily dengan erat.


"Ya Lily, jangan menyalahkan diri sendiri, ibumu akan sedih nanti." sambung Suzy.


"Lily anak baik, kami bertiga juga Ibu Lily, meskipun kami tidak sebaik Ibu Lily." sahut Ria.


"Aku juga saudaramu!" Deya juga tidak akan membiarkan Lily terpuruk.


Mereka saling support satu sama lain, meskipun mereka sudah tidak berdekatan.


3 hari berlalu, semua segera kembali pada aktivitas masing - masing. Leon membawa Zero bersamanya.


Bara dan Deya sudah kembali lebih dulu begitu juga keluarganya.


Gala menemani Lily menziarahi makam ibu dan juga teman baiknya sebelum Gala membawa Lily ke kota.


"Grey, sekarang tanggung jawabmu besar, jangan mengecewakan ayahmu." ujar Gala.


"Iya Tuan, saya titip Lily pada Anda, meskipun Grey bukan kakak kandungnya, tapi Grey sangat menyayanginya melebihi nyawa Grey sendiri." Grey berharap Lily bisa lebih baik lagi dibawah pengawasan tuan mudanya.


"Kau kira aku tidak?, tenanglah semuanya akan baik-baik saja." jawab Gala.


Grey menjadi lebih tenang sekarang.


Setelah selesai berziarah Lily segera menghampiri Abangnya.


"Abang, maafkan Lily ya." Lily memeluk Grey dengan erat.


Grey membalas pelukan Lily dan mengusap kepala Lily dengan lembut.


"Lily tidak salah, kau tetaplah adik kesayanganku, justru abanglah yang minta maaf karena tidak menjagamu dengan baik." Grey mengecup kening Lily.


"Mulai sekarang Tuan Muda yang menjagamu, jika Abang senggang Abang akan melihatmu." ujar Grey.


"Grey, kami pergi dulu." Gala segera membawa Lily dan Oddie ke kota.


Sekarang orang yang benar-benar bisa Lily andalkan hanyalah pamannya Gala.


...****************...


JANGAN LUPA MAMPIR DI KARYA BARU AKU

__ADS_1


(ISTRI KESAYANGAN SI TUAN LUMPUH)



__ADS_2