
Oddie pun segera tidur di lantai karena Lily memarahinya.
"Nah, bagus." Lily segera naik ke ranjangnya lagi dan segera lanjut tidur.
...****************...
Keesokan harinya.
Gala masih dalam rangka mengajak Lily berjalan-jalan agar Lily cepat beradaptasi dengan cepat.
Lily sudah bisa membeli makanan tanpa masalah, menggunakan mastercard dengan baik. Sebenarnya Lily ini mudah belajar jika dia mau, apalagi itu hal-hal baru.
"Paman, itu lampunya boleh di beli?" tanya Lily menunjuk lampu hias di pinggir jalan karena bisa berganti-ganti warna.
"Tidaklah, nanti beli sendiri di toko lampu untuk di kamarmu." ujar Nando.
" Oh baik." ujar Lily, setiap kali melihat sesuatu yang lucu dan unik Lily langsung mau membelinya.
"Paman, itu kenapa ada gerobak pakai lampu, itu jualan lampu?" tanya Lily lagi melihat becak wisata di pinggir jalan.
"Itu bukan gerobak, itu becak hias untuk putar-putar area wisata tempat tongkrongan ini." Jelas Gala.
"Kita beli ya Paman, untuk di rumah." pinta Lily.
"Okey, nanti kita beli Lily." Pokoknya selagi itu bisa dibeli, dibeli lah oleh Gala untuk Lily.
"Paman itu ada Doraemon bisa jalan, besar sekali, Paman itu kita bisa beli kan, itu aku mau minta apapun dengan kantong ajaibnya." Lily sangat heboh melihat orang yang memakai kostum Doraemon.
"Lily, kalau yang ini tidak bisa dibeli, dia hanya memakai kostum saja, dia bukan doraemon asli, tidak ada Doraemon asli di dunia ini, apa kau mengerti?" tegas Gala.
"Beli kostumnya di mana?" tanya Lily.
"Paman juga tidak tahu, apa kau mau kostum doraemon?, untuk apa?" tanya Gala.
"Untuk Paman." jawab Lily.
"Tidak usah, kenapa untuk Paman?" Gala merasa bingung dengan maksud Lily.
"Memang benar tidak ada Doraemon nyata, tapi Paman kalau pakai kostum itu, jadi nyata, karena Paman selalu memberikan apapun yang Lily mau, Paman itu seperti Doraemon untuk Lily." Lily terlihat begitu semangat menjelaskannya.
Jadi aku hanya seperti Doraemon untuknya
Dalam hati Gala.
" Baiklah tunggu di sini." Gala pun segera menghampiri orang yang mengenakan kostum Doraemon itu.
Gala berniat untuk membeli kostum itu dengan harga yang sesuai dengan kesepakatan keduanya.
__ADS_1
Akhirnya Gala mendapatkan kostum itu, Lily sangat senang dan meminta pamannya memakai kostum doraemon itu. Dengan terpaksa sekali Gala menggunakan kostum itu dan lanjut berjalan-jalan dengan bergandengan tangan bersama Lily.
Lily pun tidak lupa mengambil gambarnya bersama Gala yang memakai kostum Doraemon.
Sampai pulang pun Gala harus memakai kostum itu.
" Paman terimakasih Lily sangat bahagia." Lily segera berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian dan segera pindah kamar Gala untuk tidur.
Oddie yang melihat Gala sangat bingung, baunya seperti tuannya tapi kenapa wujudnya berbeda.
Gala melepaskan kostumnya, yang membuat Oddie semakin terkejut dan lari.
"Hah Oddie kau sialan, ekspresimu sangat mengesalkan." ujar Gala segera melepaskan kostumnya dan pergi ke kamarnya untuk mandi karena sangat berkeringat karena kostum itu.
Rasanya sangat merepotkan, kapan kerepotan seperti ini akan berakhir, benar - benar Gala kualahan dengan Lily.
...****************...
Keesokan paginya.
Gala agak bangun kesiangan karena kelelahan, Gala segera meregangkan tubuhnya.
Gala melihat ranjang Lily kosong, Gala pun terbangun karena mencium bau enak yang menusuk hidungnya.
"Siapa yang memasak ?" Gala segera bangun dan melihat ke arah dapur.
Tapi tidak ada siapapun, lalu Gala berjalan keluar, rupanya bau itu dari taman depan.
"Paman, aku menangkap ikan di kolam dan membakarnya, ini untuk Paman." Lily memberikan ikan panggang pada Gala.
Wajah Gala langsung pucat, melihat ikan Koi jenis S Legend yang harganya puluhan milyar di panggang Lily.
Tangan Gala sudah gemetaran, ikan itu mau dibeli dengan harga 100 M saja tidak diberikan, kini sudah menjadi ikan bakar.
Benar kata orang-orang itu, kalau peliharaan kita ditawar orang dengan harga tinggi, sebaiknya diberikan dari pada mati.
Sekarang ikannya sudah menjadi bakaran.
Gala segera meminta bawahannya untuk menghancurkan kolam ikan itu karena sangking kesalnya, dia lampiaskan pada kolam ikan saja.
"Lily ini buka untuk di makan, buang saja ya, ini beracun." ujar Gala membohongi Lily.
Lily langsung membuang ikan itu, sambil bernafas lega.
"Huft, untung Lily belum makan, kalau tadi Lily makan apa Lily akan keracunan?" tanya Lily.
"Ah, untung itu Lily yang panggang ikannya ya, coba kalau orang lain, pasti sudah masuk ke liang kubur." Ujar Gala sangat geram.
__ADS_1
"Wah untung saja ya Paman." ujar Lily dengan wajah tak berdosanya.
Sudah mulai membuat kesal ternyata Lily, tetap saja itu mengesalkan untuk Gala, tapi Gala tidak bisa marah dengan Lily, sungguh membuat tekanan batin, harus kemana Gala melampiaskan amarahnya kali ini.
"Lily, nanti Lily ke tempat Paman Jimmy dan Bibi Ria dulu ya, Paman ads urusan." Ujar Gala.
Lily mengangguk, setelah itu Gala menitipkan Lily pada Jimmy dan Ria setelah itu dia pergi ke penjara, Gala menghajar semua tahanan dengan sangat kesal.
Gala melampiaskan semua kekesalannya pada tahanan itu sampai babak belur, padahal itu hari libur penyiksaan.
"Gal, kau kenapa?" tanya Bara heran.
"Lily memanggang ikan koiku Bar." jawab Gala.
Bara yang mendengarnya tertawa sampai guling - guling tidak karuan.
"Hahahahah, bukankah ikan itu sudah ditawar 100 M oleh teman Daddy?" ujar Bara tertawa begitu renyah.
"Diam kau!, jangan mengungkitnya lagi!" tegas Gala.
"Ya sudahlah, itu kan Lily yang panggang, bukan apa-apa untukmu bukan?" ujar Bara.
Memang bukan apa-apa, tapi juga lumayan nyesek juga untuk Gala, karena ikan itu dibesarkan Gala sendiri sampai begitu cantik dan ditawar mahal.
"Aku numpang menenangkan diri dulu di sini." ujar Gala.
Segera mengambil tempat untuk merebahkan tubuhnya.
"Dia dan Deya tidak bisa dijadikan satu, kau malah menitipkan pada Daddy dan Mommy." ujar Bara.
"Seharusnya Deya tidak mengajaknya yang tidak-tidak lagi, setelah kejadian lalu itu." ujar Gala memejamkan matanya
Dia apa lupa dengan sifat Deya, mana ada anak itu kapok?, Deya dan Lily itu sudah seperti pinang dibelah dua kelakuannya.
Dalam hati Bara.
Bara juga tidak mau mengganggu Gala yang sedang ingin menenangkan dirinya, dari pada mereka terlibat baku hantam.
Bara pun meninggalkan Gala di ruangannya, baru akan membuka pintu.
Ponsel Bara berdering.
"Ya Mom?" jawab Bara.
"Apa Gala bersamamu?, kenapa dia tidak bisa dihubungi?" tanya Ria pada Bara.
Bara melihat ke arah Bara yang tertidur karena kelelahan fisik dan pikiran habis-habisan. Bara segera keluar dan menutup pintu secara perlahan agar tidak menggangu Gala yang sedang istirahat.
__ADS_1
"Bara yang akan mengurusnya Mom." ujar Bara segera mengakhiri panggilannya.
Bara memegangi keningnya dan segera masuk ke dalam mobil dan pulang.