
" Tuan, ayo bawa aku keluar dan pulang!" ujar Kirana.
" Haduh, rasanya aku harus muntah Sekarang!" ujar Tantan memegangi perutnya, karena mual.
Gala membuka gembok jeruji itu, lalu segera masuk, Kirana langsung memeluk Gala karena senang.
Tantan sangat kesal, berani sekali Kirana itu memeluk putranya dengan tidak tahu diri, Tantan langsung melangkah, namun langkahnya terhenti karena Tantan melihat putranya mendorong Kirana begitu keras lalu menamparnya berkali-kali.
" Tu--tuan ..." Kirana sangat terkejut karena Gala benar - benar memukulinya.
Zidan melihat Nona di pukul langsung berlutut memohon ampunan pada Gala.
" Tuan, pukul saja saja ... Aku mohon." pinta Zidan.
Gala langsung beralih ke sell milik Zidan, Gala langsung memukul Zidan tanpa ampun, Zidan sudah pasrah saja tidak melawan, asalkan nonanya tidak dipukuli.
Kirana hanya diam saja, tidak meminta ampun untuk Zidan sama sekali.
" Dia sudah mengorbankan dirinya untuk dipukuli, apa kau tidak mau memohon pada putraku untuk mengampuninya, ini salahmu bukan?" ujar Tantan.
" Itu sudah tugasnya, karena dia hanya seorang pengawal saja, tidak lebih berarti dariku." Jawab Kirana tanpa berperasaan.
Zidan cukup terkejut dengan jawaban Kirana, bagaimana bisa dia begitu menilai dirinya sepele dan tidak berharga.
" Lihatlah, dia yang kau bela mati-matian, apakah kau masih mau membelanya?" Tantan menarik rambut Kirana dengan erat.
" Aghh, aghhh, aghh, ... " Kirana merintih kesakitan.
Zidan tak berani menjawab, air matanya mengalir begitu deras.
Gala membisikan sesuatu pada Zidan, Zidan tampak sangat terkejut.
" Kirana apa kau mau Zidan yang menanggung kesalahanmu?" tanya Gala.
" Biarkan aku yang menanggungnya, tolong lepaskan aku Tuan, aku tidak bersalah, ini semua idenya bukan ideku, bagaimana mungkin aku membahayakan ayahmu sendiri!" ujar Kirana, dia harus melindungi dirinya sendiri.
" Apa kau bersedia mati untuk Kirana?" tanya Gala pada Zidan.
" Aku bersedia, tapi aku tidak pernah mengkhianati Anda Tuan." ujar Zidan.
" Bohong, kau tidak boleh berbohong!" Teriak Kirana menyangkal.
" Nona, saya tahu saya hanya pengawal, hidup mati saya, saya dedikasikan untuk anda, bukannya demi anda tapi demi janjiku pada Tuan Kennan, saya harus melindungi anda dengan nyawa saya." ujar Zidan.
__ADS_1
" Bagus, maka cepatlah mati!" ujar Kirana.
" Tentu saja, saya bersedia tapi saya bukanlah penghianat, saya selalu menepati janji saya, itu yang harus saya tegaskan pada Tuan Gala." ujar Zidan.
Hatinya sangat sakit, betapa tidak berharganya dia saat ini, memang benar kita bisa melihat hari orang lain itu ketika nyawa mereka berada di ujung tanduk.
" Tuan Anda bisa membunuh saya!" ujar Zidan.
Gala segera mengeluarkan pistolnya, Gala tanpa ragu mengarahkan pistolnya ke kepala Zidan.
" Doooorrrr!!"
Kirana melihat dengan mata kepalanya sendiri Gala membunuh Zidan tanpa mengedipkan mata, darah pun bercucuran begitu deras dari kepala Zidan.
Kirana langsung syok, melihat Zidan tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir sangat deras sampai mengalir di bawah kakinya.
Mata Kirana berkaca - kaca melihat kejadian itu, sangat menakutkan sekali, seluruh tubuh Kirana bergetar begitu hebat.
" Agggggggggggggghhhhhhhhhh .... " Kirana langsung mundur dan ketakutan, dia sangat takut pada Gala sekarang, dia benar-benar ketakutan, jika Zidan tidak bersedia mati untuknya, dia sudah pasti akan bernasib begitu tragis.
Kirana terus menjerit histeris sambil menarik-narik rambutnya dengan keras.
Gala meminta anak buahnya untuk membereskan Zidan.
Melihat Gala datang ke arahnya, Kirana terus berteriak.
" Tidak ... Jangan mendekat!" teriak Kirana.
" Tidak, ... Hiks hiks hiks... " Kirana menangis sesenggukan dengan tubuh gemetar dan pandangan yang tak tentu kesana-kemari.
" Sekarang kau sendirian!" ujar Gala segera mengunci kembali sell itu.
Gala dan Tantan segera meninggalkan Kirana sendirian di ruang bawah tanah, darah milik Zidan masih tercium oleh Kirana, kejadian itu masih melekat di ingatan Kirana.
Kirana menangis tiada hentinya,
" Bukan, tidak ... Bukan aku tidak membunuhnya, aku tidak bersalah, dia yang mau mati sendiri untukku!" ujar Kirana.
Dia sangat trauma, itu sudah pasti trauma, rupanya Gala sangat kejam, bahkan menembak kepala Zidan tanpa ekspresi, dan tanpa mengedipkan mata.
Kirana mulai dihantui oleh rasa bersalahnya, tempat itu selalu memutarkan kejadian kejam saat itu di kepalanya terus menerus.
" Gala kau berikan rekaman itu pada Kennan, biar dia bisa menilai sendiri kelakuan putrinya." Ujar Tantan.
__ADS_1
" Sisanya di sini aku serahkan padamu Bu." ujar Gala.
Gala segera kembali ke negaranya, dia harus menunjukan semua rekaman itu sendiri, jika di kirim akan beresiko besar tentunya.
Sebelum Gala menemui Kennan dia mengajak Bara untuk ikut dengannya.
Keduanya pun segera menemui Kennan, yang masih cemas menunggu kabar tentang putrinya.
" Tuan, Gala dan Panglima." Kennan segera menghampiri keduanya.
" Duduklah Tuan Gala dan Panglima." Kennan langsung mempersilahkan keduanya duduk.
Keduanya pun duduk dengan gaya yang sama, dengan kaki naik satu ke kaki yang lain dan bersandar pada sandaran sofa dengan santai.
" Bagaimana Tuan, ada apa?" tanya Kennan.
" Ini adalah solusi yang di berikan oleh Daddy!" Gala membuka laptopnya dan memutarkan rekaman saat Gala menembak Zidan, semua percakapan di dengar oleh Kennan.
Wajah Kennan langsung pucat setelah melihat rekaman mengerikan itu.
" Tu--tuan, kenapa anda malah membunuh Zidan?, bukankah dia tidak bersalah?" tanya Kennan sambil gelagapan.
" Dia yang mau menggantikan nyawa putrimu!" tegas Gala.
"Sebaiknya aku tidak punya putri sepertinya, bagaimana bisa dia sangat kejam, meskipun Zidan ini hanya seorang pengawal, dia adalah anak yang baik." Kennan sangat terpukul oleh putrinya.
" Kau bisa mengambil putrimu!" ujar Gala.
" Tidak, aku sangat malu memiliki putri seperti dia." ujar Kennan dengan mata berkaca-kaca.
" Dia putrimu satu-satunya kan, aku tidak membuatnya buta, tidak membuatnya lumpuh juga bisu, dan dia masih hidup, kau bisa mengambilnya sekarang!' tegas Gala.
Kennan sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, Gala sangat kejam, jika dia berkhianat pada Gala dan Panglima sudah jelas, mati pun bukanlah hukuman berat untuknya, mungkin Gala dan Panglima akan mengulitinya hidup - hidup atau lebih mengerikan lagi.
" Tuan, jika anda tidak mengikuti jejak putri anda, kau dan keluargamu yang lain aman." ujar Baratha.
" Saya tidak mengambil putri saya dulu Tuan saya akan menyelesaikan tugas saya dengan baik." ujar Kennan.
Panglima Baratha mengeluarkan lembaran kertas dan pena, dan meminta Kennan untuk menandatanganinya.
" Bacalah dulu jika ada hal yang tidak kau setujui kami bisa mencari solusinya!" sahuta Gala.
Kennan membaca semuanya sampai habis, inti pada surat perjanjian itu adalah, pemerintah berada di tangan Militer, jika sampai ada salah satu yang mengkhianati maka, haru memenggal kepalanya sendiri.
__ADS_1
Kennan tidak ada pilihan lain selain menandatanganinya, maju - mundur sama-sama tertusuk.