
Gala pun memakaikan kalung itu pada Lily, memang sangat cocok untuk si bunga matahari itu.
" Tuan ayo silahkan pesan makanan, oh ya siapa nama Nona ini?, hallo saya Kirana!" Kirana mengulurkan tangannya.
" Hai, Saya Lily salam kenal ya!" ujar Lily.
Saat Lily tersenyum memang tampak menyejukkan hati, pantas saja Gala memperlakukan Lily ini seperti seorang ratu, sungguh sangat beruntung sekali Lily ini.
Dalam hati Kirana.
" Nona, apakah ada lagi yang ingin anda bicarakan, selain makan dan memberikan kalung ini?" tanya Gala.
" Tidak ada, ... " Apa yang ingin dibicarakan oleh Kirana lagi, sudah jelas Gala menunjukkan pada dirinya jika tidak ada celah untuk dirinya.
Namun, Kirana pun juga masih bingung dengan hatinya.
"Kalau tidak ada saya langsung pamit saja ya Nona, saya menerima ketulusan hati keluarga anda, Lily ayo ucapkan terima kasih pada Nona!" ujar Gala.
Lily pun mengucapkan terimakasih dengan senyum indahnya.
" Oh ya Nona, karena membantu anda adik Panglima kini sedang dihukum oleh Panglima, kalau begitu kami pergi!" ujar Gala memberitahu.
" Apa?, itu salahku aku akan bicara pada Panglima!" ujar Kirana merasa bersalah.
" Sebaiknya begitu, Lily ayo kita pulang!" Ajak Gala dengan lembut.
Gala langsung membawa Lily meninggalkan tempat itu.
"Nona, anda tidak apa-apa kan?" tanya Zidan.
Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya, kenapa kali ini dia tidak pantang menyerah, malah menyerah begitu saja.
Padahal sebelumnya dengan Panglima dia sangat ingin menerjang apapun untuk mendapatkan Panglima.
Sekarang kenapa Kirana tidak maju, padahal saingannya justru seumuran dia.
" Zidan, kenapa orang lain begitu beruntung?, sedangkan aku tidak." ujar Kirana.
"Nona, kita tidak tahu juga apa yang telah dilalui oleh orang lain, sehingga mereka terlihat lebih beruntung dari kita, Nona anda juga termasuk orang beruntung, karena tidak semua bisa hidup serba berkecukupan seperti anda." ujar Zidan.
"Benar kau benar." Kirana seharusnya tak membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Kirana pun segera meminta diantar oleh Zidan untuk pergi ke kediaman Panglima.
Setelah berusaha keras meminta izin masuk akhirnya Kirana dan Zidan diperbolehkan masuk oleh Baratha.
__ADS_1
"Nona, ada perlu apa?" tanya Bara.
" Sebelumnya, maafkan aku Panglima karena membuat keributan yang cukup besar untuk anda, dan sudah salah mengenali anda sebagai penyelamat saya." ujar Kirana.
" Ok." jawab Bara singkat.
"Lalu tolong maafkanlah Nona Deya, karena saya yang memaksanya, jangan hukum dia." pinta Kirana.
" Tidak bisa, Deya sudah berani menerima suap, itu akan berdampak tidak baik jika aku tidak menghukumnya, hal seperti ini tolong jangan Nona lakukan lagi, sebenarnya kami tidak kekurangan uang sama sekali, semua ini karena ketamakan adikku, jadi memang harus diberi pelajaran!" tegas Bara.
Kirana tidak bisa berkata lagi, tapi semua itu terjadi karena dirinya.
" Tapi kali ini tolonglah Panglima, lepaskan Nona Deya!" ujar Kirana.
" Nona anda juga tidak boleh seperti itu loe, menyuap orang itu juga bisa masuk tindak pidana." ujar Bara.
" Saya salah, saya tidak akan mengulanginya lagi Panglima, tapi kali ini saja tolong bebaskan Nona Deya." Kirana masih berusaha membantu Deya.
Bara pun meminta anak buahnya membawa Deya keluar dari gudang.
Deya pun di bawa kehadapan Kirana, Deya yang melihat Kirana langsung menghampiri Kirana, karena merasa bersalah.
" Nona, apa anda ada yang terluka?" tanya Deya.
" Tidak, ini karena aku sangat tamak, abangku benar aku tidak boleh lemah karena sesuatu yang berkilau, aku sangat bodoh maaf membahayakan anda Nona." ujar Deya.
"Saya juga salah, maafkan saya juga ya Nona, apakah kita bisa tetap berteman baik?" tanya Kirana.
" Tentu saja Nona, saya senang mengenal anda, anda tidak perlu khawatir karena saya dihukum, hukuman ini tidak ada apa-apanya kok!" ujar Deya.
"Jika sudah cukup berbicara, kau bisa kembali ke gudang!" Tegas Bara pada Deya.
" Panglima, apa anda tidak melepaskan adikmu yang sudah meminta maaf?" Tanya Kirana.
" Jika maaf itu berguna, maka tidak perlu ada kantor polisi dan penjara, cepat bawa Nona kalian kembali!" pinta Bara.
" Jika anda sudah tidak ada urusan, anda bisa kembali!" ujar Bara.
" Oh tunggu sebentar!" Bara pun segera bangkit dan masuk ke ruang bacanya lalu dia keluar dengan membawa kotak pink yang pernah di berikan oleh Kiran.
" Ini aku kembalikan, karena pada dasarnya itu untuk Gala bukan untukku!" Bara menyerahkan pada Kirana lalu memintanya segera meninggalkan kediaman Panglima.
Mau tidak mau Kirana segera pergi membawa hadiahnya yang diberikan pada Panglima.
Raut wajah Kirana tampak kusut karena bingung, dia merasa sedih karena Bara menolaknya, lalu Gala sudah memiliki Lily yang sangat cantik.
__ADS_1
Kirana pertama kali jatuh cinta, namun kisahnya cukup tragis, salah jatuh cinta, dan di tolak pula.
" Hiks hiks hiks ... Apa aku ini jelek?, kenapa tidak ada yang mau menerima hatiku?" ujar Kirana menangis sesenggukan.
Ternyata jatuh cinta sesakit itu, dan lagi cintanya salah alamat, diabaikan pula.
"Nona, masih banyak pria baik dan hebat lainnya, anda masih sangat muda, sebaiknya anda fokus sekolah jadilah wanita yang luar biasa, sampai tidak ada satupun pria yang bisa menolak anda!" ujar Zidan.
Kirana pun tersadar, jika dia ini hanya anak manja, dan tidak ada kelebihan lain selain ngeyel dan suka menghabiskan uang, siapa yang ingin hidup dengannya, apalagi dia berangan-angan ingin menjadi pendamping orang hebat seperti Gala dan Bara.
Rupanya mimpi Kirana terlalu jauh.
"Kita kembali yuk!, Zidan tolong urus lagi pindahan sekolahku, aku mau sekolah sungguh-sungguh lalu lanjut ke perguruan tinggi!" ujar Kirana.
Zidan tersenyum, ya rupanya dibalik kejadian ini semua ada hikmahnya, Nonanya menjadi tercerahkan dan terpacu menjadi lebih baik lagi.
Zidan pun segera membukakan pintu mobilnya kembali dan segera membawa nonanya kembali ke kediaman Gruvy.
Setelah sampai kembali ke kediaman Gruvy Zidan menyampaikan semua keinginan nonannya pada Tuan besarnya Kenan.
Kenan tampak senang karena putrinya berubah begitu cepat.
"Putriku seleranya cukup tinggi, tapi kalau dia mau bersanding dengan Tuan Manggala sangat tidak mungkin." ujar Kenan.
Sebenarnya bukan hanya Gala itu, tapi juga Panglima, dua orang itu menggalaukan hati Nona, bisa-bisanya mereka begitu sempurna.
Dalam hati Zidan.
"Nona sangat cantik Tuan, mereka saja yang seleranya buruk!" ujar Zidan.
" Mereka siapa?" tanya Kenan.
" Eh, maksud saya, Tuan Manggala." sahut Zidan.
Wah, hampir saja keceplosan.
Dalam hati Zidan.
"Tidak, pernah mendengar dia jatuh cinta pada teman masa kecilnya, dan mungkin yang dibawa itu memang teman masa kecilnya." ujar Kenan.
" Lah tapi usianya saja cukup jauh Tuan, gadis itu seumuran dengan Nona." sahut Zidan.
"Oh, begitu ... Aku juga hanya dengar saja, tidak tahu itu benar atau tidak, ya sudah kau bantu nonamu mengurus kepindahan sekolahnya lagi." Pinta Kenan.
Zidan pun segera melakukan permintaan Kenan.
__ADS_1