CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN

CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN
30. pencapaian


__ADS_3

Semua keluarganya pun datang dipelantikan Bara.


Tentu saja Petter dan Suzy sangat bangga karena anaknya sekarang sudah melebihi dari apa yang mereka harapkan.


Petter pun memberi wejangan pada Bara, bahwa ini bukan akhir dari perjuangannya, tapi melainkan ini adalah awal darinya dalam menjadi seorang pemimpin pasukan besar dan bertanggung jawab dalam keselamatan dan keamanan negaranya dan seisinya.


Leon dan Tantan pun juga hadir memberikan selamat pada Bara. Bara sangat senang karena Idolanya datang, semua itu karena obsesinya ingin menjadi seperti pamannya Leon.


"Kau sudah mencapai titik ini, jangan menyerah!" ujar Leon.


"Paman, sebenarnya gelar ini lebih pantas untuk Gala, dari pada Bara." Bara cukup tahu diri bahwa impiannya tidak akan terwujud tanpa bantuan Gala.


"Kemampuan tidak akan berguna, bila tidak ada keinginan." Sahut Leon.


Leon juga memberikan nasehat pada Bara, Leon sangat bangga pada Bara, yang kini mewarisi gelarnya, menjadi Panglima adalah impian Petter dulu, namun malah Leon yang di angkat menjadi Panglima.


Sekarang Bara dapat mewujudkan Impian Petter. Leon turut bahagia dengan itu, meskipun anaknya tidak memiliki ambisi dalam dunia militer, Leon juga bangga pada putranya. Putranya memiliki solidaritas tinggi pada orang dekatnya.


Meskipun rasanya kurang puas karena Leon tidak mendidik anaknya sendiri. Karena Jimmy mengambil alih hati anaknya. Sehingga Leon tidak mampu mendidiknya sepenuh hati. Tapi hasil didikan Jimmy juga tidak buruk.


Setelah pelantikan selesai, semua berkumpul di kediaman Jimmy, karena mereka ingin melihat anak Jimmy. Semua berkumpul kecuali Bara.


Bara mendatangi tempat peristirahatan Mala, Dia menunjukan pada Mala, bahwa dia kini telah menjadi seorang Panglima.


Bara membawakan buket bunga untuk Mala, lalu meletakan topi yang baru saja di pakainya itu di atas nisan Mala.


"Semua ini untukmu, apa kau bangga padaku?, tapi ini semua bukan kerja kerasku sendiri Mala, ini juga kerja keras adikku dan juga belahan jiwaku yaitu Gala, setengah hati dan hidupku itu adalah Gala, lalu setengahnya lagi ku berikan padamu, semuanya sudah habis, bila nanti aku menemukan seseorang yang cocok, maka itu hanya melanjutkan hidup saja dengannya, kau cinta yang tidak akan aku lupakan, kau senang tidak mendengarnya? " ujar Bara.


Mata bara tak dapat membendung air matanya, meskipun sangat singkat pertemuan mereka, namun Mala langsung menempati hatinya. Dan Bara tidak akan bisa melupakan cinta pertamanya yang singkat itu.


"Aku akan merawat ibumu dengan baik, kau bisa tenang dan bahagia." Bara pun segera kembali ke kediaman Jimmy.


Selama ini Ria dan Jimmy tidak hanya merawat Sagara dengan baik, tapi juga merawat nenek Sagara dengan baik, saat senggang Bara dan Gala akan menemani nenek Sagara di rumah sakit.


Di kediaman Jimmy.


Gala sudah bersiap - siap untuk kembali ke Basecamp Zero.


"Gala, kau mau kemana Nak?" tanya Tantan pada putranya, yang mempersiapkan beberapa perlengkapan kecil.

__ADS_1


"Bibi, Gala mau membawa Lily ke kota." ujar Bara yang baru datang.


"Siapa, Lily?" sahut Leon.


"Ayah, Ibu aku mau menikahi Lily." tegas Gala.


Gala terlihat sungguh - sungguh, tidak main-main.


Suzy dan Petter sangat terkejut, rupanya Gala sama persis seperti Leon.


"Gala, umur Lily memang berapa sekarang?" tanya Suzy.


" 17 tahun Bibi." jawab Gala.


"Memangnya Lily mau sama kamu Gal?" tanya Leon.


"Mau tidak mau, aku akan menikahi Lily jika usianya sudah menginjak 20 tahun nanti, aku mau mengikatnya dulu." ujar Gala.


"Kalau begitu, Ayah dan Ibu akan mendukungmu, tapi kau tidak boleh memaksa Lily untuk menikah denganmu, kami akan merestui hubungan itu jika Lily mengatakan sendiri mau menikah denganmu!" tegas Leon.


"Ya, Ayah ... " Gala sendiri sekarang juga tidak yakin, karena Gala mengingkari janjinya pada Lily saat itu.


Gala pun segera pergi menempuh perjalanan menuju Basecamp Zero.


Deya mendatangi Boni yang masih sibuk mengarahkan anak buahnya di tempat di mana dia yang harus menjadi penanggung jawab dalam pembuatan senjata dan juga rakitan peledak atau bom.


"Kak, ... " Deya menghampiri Boni.


"Nona, ... " Boni menunduk tidak berani memandang Deya yang identitasnya tidak biasa itu.


"Kakak, panggil aku Deya saja." ujar Deya.


"Tidak berani, maaf karena ketidak sopanan saya sebelumnya." Boni tidak bisa sembarangan mendekati Deya lagi karena takut pada kedua abangnya dan juga ayahnya.


"Kenapa, kita kan teman Kak." Deya memang tulus berteman dengan Boni. Karena Boni adalah orang yang baik.


"Saya itu hanya orang dengan latar belakang biasa Non, mana pantas berteman dengan Nona." Boni sangat tahu diri.


"Aku sangat tulus berteman dengan Kakak Boni, terlepas dari masalah yang ada, Kakak kan orang baik." ujar Deya.

__ADS_1


Boni juga sebenarnya sangat ingin lebih dekat dengan Deya, namun dia sekarang sadar diri, dia dan Deya itu sangat jauh bagaikan langit dan bumi.


"Nona, maafkan saya, saya sibuk!" Boni terus menghindari Deya.


"Kak, Deya minta maaf ya, tapi kan memang pekerjaan Kakak ilegal sebelumnya, Deya juga sudah membujuk Abang, agar tidak terlalu keras pada Kakak dan teman-teman Kakak, maaf ya Kak." Deya meminta maaf pada Boni.


"Tidak salah kok Nona, Boni berterima kasih, karena Nona, kami bisa menjual semua dengan ilegal dan mendapatkan keselamatan dan juga lahan yang baik untuk membuat senjata, kami tidak perlu sembunyi - sembunyi lagi." Boni memang sangat bersyukur dengan kejadian tidak menyenangkan itu menjadi kebaikan di masa depan.


"Tapi bisakah kita berteman seperti sebelumnya?" tanya Deya.


"Saya tidak berani." Boni benar - benar tidak berani mendekati Deya lagi.


"Kakak, kau jahat ." Deya pun segera meninggalkan tempat itu dengan sangat kesal.


Deya kembali ke kantor Bara dengan wajahnya yang cemberut itu.


"Kenapa mukamu kaya pantat ayam begitu?" tanya Bara.


"Ini semua gara-gara Abang Bara dan Abang Gala!" Deya menyalahkan keduanya.


Bara tidak tahu apa kesalahannya dan Bara. Deya pun memberitahu karena Bara dan Gala terlalu keras pada Boni, Boni pun tidak mau berteman dengan Deya lagi.


Padahal hanya Boni dan orang - orangnya yang asik di ajak berteman.


"Kalau aku tahu aku akan kehilangan teman, lebih baik tidak membantu Abang." ujar Deya merajuk.


"Apa kau menyukai Boni?" tanya Bara.


" Iya, kenapa kalau suka?" Deya malah menantang Bara.


"Sialan!, aku akan membunuhnya!" Bara sangat tidak suka dengan Boni.


"Jika Abang membunuh Kak Boni, bunuh Deya juga!" teriak Deya.


Bara pun langsung mereda, bagaimana bisa Deya menyukai pria bodoh itu, benar - benar membuat hati Bara dongkol.


"Abang ingat ya, jika Abang berani menyentuh Kak Boni, Deya tidak akan membantu Abang lagi!" Deya kini mengancam Bara.


"Kau!" Bara tak bisa berkata-kata lagi, jika Deya tidak membantunya disaat Gala tidak ada itu akan kacau.

__ADS_1


"Ok, asal dia tahu batasannya, aku tidak akan menyentuhnya. Suka ya suka saja jangan pakai hati!" tegas Bara yang tidak rela jika adiknya itu sampai jatuh cinta dengan Boni.


Bara masih memberikan toleransi jika itu masih suka belum cinta.


__ADS_2