
Gala pun segera mengajak Lily kembali ke kediamannya.
 Setelah sampai di kediaman Gala meminta Lily untuk membersihkan diri dan beristirahat.
"Jangan lupa kata Barnes, ya." ujar Gala mengingatkan.
"Paman, di mana Oddie?" tanya Lily yang tak tampak Oddie.
"Oddie mulai sekarang aku titipkan di tempat pelatihan anjing milik Bara, di sana dia juga akan belajar untuk beradaptasi, jujur saja Paman sudah kualahan mengurusmu, Paman tidak bisa mengurus Oddie bersamaan denganmu, kita bisa melihatnya saat kita ingin melihatnya, kau tenang saja Oddie tidak akan kesepian di sana." ujar Gala.
Hati Lily pun merasa lega.
"Paman Lily mau ubi bertabur coklat, keju dan juga madu." pinta Lily.
"Paman buatkan." Gala pun segera membuatkan ubi panggang sesuai keinginan Lily. Setelah matang Lily pun memakannya dengan lahap sampai kenyang.
"Paman, ... " tiba-tiba wajah Lily cemberut.
"Ada apa?" tanya Gala mendekati Lily.
"Apa yang dilakukan Ayah saat ini?, lalu Abang Grey sedang apa?" Lily rupanya merindukan ayah dan juga abangnya.
Gala mengatakan pada Lily, jika Gala tidak bisa memberitahu apa yang dilakukan ayah Lily karena memang sudah putus hubungan, tapi kalau untuk Grey Gala berjanji akan mengirimkan pesan pada Grey agar saat senggang Grey menemui Lily ke kota.
Karena Grey saat ini cukup sibuk karena tanggung jawab Zero berpindah di pundaknya sekarang.
"Cuci tanganmu ayo tidur, jangan bersedih semuanya baik-baik saja, tugas Lily hanya bahagia saja okey?" Gala menasehati Lily dengan lembut.
Lily pun mencuci tangan dan segera pergi ke tempat tidurnya di sisi tempat tidur Gala.
Wajah Lily masih tampak murung, pasti sangat sedih bila harus lepas hubungan dengan ayahnya.
"Lily, sinilah!" Gala memanggil Lily untuk pindah ke tempat tidurnya.
"Paman, bukankah harus menjadi suami istri dulu kata Paman?" ujar Lily dengan nada lesu.
Gala tersenyum dan langsung menarik Lily tidur dipelukannya.
"Apa kau tidak mau menjadi suami istri dengan Paman?" tanya Gala.
"Apa boleh Paman?" tanya Lily yang tidak mengerti.
"Boleh saja, ..." Gala menyatukan hidungnya pada hidung Lily.
"Paman kau terlalu dekat." Lily langsung mundur dan salah tingkah dengan perlakuan Gala, hati Lily juga berdegup sangat kencang.
Lily langsung duduk memegangi dadanya dengan wajah syok.
__ADS_1
"Ada apa Lily?" Gala jadi panik melihatnya.
"Paman, cepat panggil dokter Paman!" Lily juga terlihat panik sambil memegangi dadanya.
"Ok ok, tunggu." Gala langsung menghubungi Barnes, namun rupanya Barnes sedang berada di luar kota.
Gala pun segera menghubungi Bryna, Bryna pun segera melesat ke kediaman Gala.
" Tuan Muda anda sakit apa?" tanya Bryna.
"Bukan aku, tapi Lily." menunjuk ke arah Lily yang masih memegangi dadanya dengan wajah cemas.
Bryna pun segera memeriksa Lily.
Setelah memeriksa, Gala segera menanyakan apa yang terjadi pada Lily.
"Apakah karena efek sengatan lebah?" tanya Gala.
"Tuan Muda, tapi Lily tidak kenapa-kenapa, dia meminum obatnya dan vitaminnya tepat waktu, dia hanya mengeluhkan jantungnya berdegup sangat kencang, tapi itu juga bukan karena obat atau efek dari sengatan lebah, dia juga tidak tersengat setrum." ujar Bryna.
"Onty apa Lily akan mati Onty?" tanya Lily panik.
"Apa yang kau bicarakan Lily?" Ujar Gala tidak senang.
"Kau tidak sakit apapun, kau juga tidak akan mati, apa yang kau sentuh terakhir kali, apa yang kau makan terakhir kali?" tanya Bryna.
"Apa? Pfffft ... " Bryna menahan tawa sekuat tenaga.
"Onty apa yang lucu?, apakah ada obatnya?" tanya Lily.
"Hahah, Tuan Muda anda nakal rupanya, Lily obatnya ada pada Pamanmu, mintalah Pamanmu agar kau tetap terus hidup." ujar Bryna sambil terkekeh.
Lily sangat lucu, pantas saja Tuan mudanya jatuh hati padanya.
"Kau bisa pulang Bryna." pinta Gala tersenyum.
"Baik, aku juga tidak ingin menjadi obat nyamuk, Lily Onty pulang, ingat obatnya ada pada Pamanmu." ujar Bryna sebelum pergi.
"Paman, berikan obatanya, Lily tidak ingin mati." Dengan wajah yang tak berdaya dan penuh harapan tinggi.
Gala malah tertawa terpingkal - pingkal melihat ekspresi wajah Lily yang sangat lucu dan menggemaskan tapi juga kasihan.
"Hua hua aaaa Paman, Lily tidak mau mati berikan obatnya Paman ... "
Lily merengek mengoyak - ngoyak tubuh Gala.
"Hahaha ... Hahaha ..." Gala masih tertawa lepas melihat tingkah Lily.
__ADS_1
"Baiklah, tenang dulu Sayangku ... " Gala menghapus air mata Lily dengan lembut.
"Hiks hiks hiks, mana obatnya Paman?" Lily terisak-isak terus meminta obat pada Gala.
"Kau tidak boleh menolak obat yang Paman berikan, harus patuh." ujar Gala.
"Iya patuh, patuh ... " Lily benar - benar patuh.
"Pejamkan matamu Lily!" pinta Gala.
Lily pun memejamkan matanya menuruti perintah Gala sambil terisak - isak.
Gala langsung mencium bibir Lily dengan lembut, Lily langsung terbelalak membuka matanya, Lily hendak mendorong Gala, Gala memegangi tengkuk Lily dan tetap mencium bibir Lily, rasanya sungguh Gala ingin menggila, tapi Gala langsung tersadar dan melepaskan ciumannya.
"Pa -- Pa-- Paman, kenapa malah mencium Lily?" Wajah Lily langsung memerah dan terasa panas, jantung Lily semakin berdebar kencang.
" Ah, tidak Paman, Lily mau mati, Paman ..." Lily berguling di ranjang Gala ke sana kemari mengatakan mau mati terus menerus karena debarannya semakin kencang.
"Paman, cepat panggil ambulans, ..." Lily ribut sendiri dengan kepanikannya.
Gala manarik Lily ke dalam pelukannya.
"Jika jantungmu berdetak itu tandanya kau masih hidup, jika sudah tidak berdetak kau baru mati." tegas Gala.
" Tapi, tapi, Paman kenapa tidak memberi Lily obat, tapi malah mencium Lily? " ujar Lily.
"Itulah obat yang Paman berikan padamu, hanya Paman yang bisa mengobati debaran jantungmu, Paman mencium Lily, karena Paman mencintai Lily, orang lain tidak boleh kau harus ingat itu!" tegas Gala.
"Apa dengan begitu Lily tidak akan mati?" tanya Lily.
"Hahaha, tentu saja, hidupmu ada ditangan Paman sekarang, kau harus menurut pada Paman." ujar Gala.
"Iya, iya Lily menurut." Lily mendengarkan Gala dengan baik.
Gala mencium kening Lily dan mengajak Lily segera tidur.
"Sudah merasa tenangkan?" tanya Gala.
"Iya Paman terimakasih." Lily merasa lega karena hatinya sudah tenang.
"Sekarang tidur!" Gala menarik Lily dalam pelukannya.
"Paman kita kan bukan suami istri!" ujar Lily.
"Nanti kita akan jadi suami istri, tenang saja, sekarang pejamkan matamu." pinta Gala.
Lily pun segera memejamkan matanya, dia sangat lelah menangis karena takut mati, dan pelukan Gala memang sangat menenangkan hatinya. Dalam hitungan menit Lily pun terlelap.
__ADS_1
"Pelan-pelan Gala, pelan-pelan... " Gala menenangkan dirinya yang tadi hampir lepas kendali.