
"Bagus, kau sangat berbakat." puji Jimmy sambil menepuk pundak Bobby.
Bobby sudah besar kepala, bayanganya mungkin dia akan menjadi Jenderal bintang dua.
"Tapi yang kau curigai dengan demikian itu adalah anak dan keponakanku, kau memang orang yang sangat berbakat!" ujar Jimmy.
"Ah, Bapak bisa saja, heheheh ... Apa? " Bobby langsung terkejut dengan ucapan Jimmy.
"Kau berani sekali memasukkan adik-adikku ke penjara!" sahut Bara.
Bobby langsung berlutut meminta maaf pada Jimmy dan juga Bara.
"Aku tidak perlu repot membereskanmu, biar pimpinan di sini yang mengurusmu!" tegas Jimmy.
"Pak, tolong Pak saya salah maafkan saya." Bobby masih berusaha meminta pengampunan dari Jimmy.
"Kau tidak cocok menjadi penegak hukum, kau tidak boleh memihak satu belah pihak, kau haru mengetahui jelas dari keduanya!" sahut Bara.
"Aku harap anda tahu maksud kami bapak kepala bagian, Bara bawa adik-adikmu pulang!" pinta Jimmy.
Bara pun segera membawa keduanya keluar dari kantor polisi. Jimmy meminta penjelasan dari Deya, Deya pun memberitahu semua kronologi yang ada, Bara langsung mengomeli Deya karena tidak bisa menjaga Lily dengan baik.
"Kau tahu Lily tidak banyak tahu tentang perkotaan, kau hampir membuatnya dalam masalah besar, bagaimana jika tadi Lily dipukuli masa?" ujar Bara.
"Maaf abang, tapi kan Lily tidak kenapa-kenapa." jawab Deya.
"Bara kau urus sisanya." Jimmy pun segera pergi.
Bara meminta Deya menunjukkan tempat dimana mereka ditangkap.
Mereka pun segera menuju toko boneka tadi.
"Itu Bang, yang melaporkan kami." Deya menunjuk pemilik toko boneka.
Pemilik toko itu langsung berdiri dan menghampiri Deya yang menunjuknya dari depan pintu toko.
"Kenapa kalian sudah keluar?, apa mereka bsrhasil kalian sogok?" ujar pemilik toko boneka itu.
"Pak, lain kali jangan terlalu kaku, mereka adalah adik saya, mana mungkin mencuri di toko anda." ujar Bara.
" Oh jadi kalian ini dari keluarga berada, tapi mencuri itu juga karena penyakit, bukan berarti mereka mampu, apapun alasannya tetap saja mencuri karna mengambil dan tidak membayarnya." Pemilik toko itu merasa benar.
"Saya tidak mencuri, kan gadi tadi saya bilang ke bapak, Pak saya mau itu, lalu Bapak memberikannya padaku sendiri, aku kan tidak mencuri." Ujar Lily membela diri.
"Kau kira ini toko bapakmu!" tegas pemilik toko itu.
__ADS_1
"Ya sekarang toko dan seluruh bangunan ini milik bapaknya." terdengar suara tak asing yang membuat Bara, Deya dan juga Lily menoleh.
"Paman." Lily langsung memeluk Gala.
Memang Gala adalah superhero untuk Lily.
"Siapa lagi ini?" ujar pemilik toko.
"Lihatlah dengan jelas besok tinggalkan tempat ini, aku tidak hanya bisa membelikan boneka saja, tapi sekalian bangunannya, dia tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun, di kampung halamannya semua yang dia inginkan bisa diambil olehnya, Dia hanya gadis polos dan kau tidak mau tahu alasannya main penjarakan saja!" tegas Gala memeberikan surat pengalihan bangunan untuk dibaca oleh pemilik toko.
Pemilik toko itu tak menyangka jika dia akan terusir mendadak karena perbuatannya yang sok bijak dalam memberi pelajaran tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.
"Kenapa kau itu bodoh?, jika dia mau mencuri dia tidak akan memintanya padamu untuk mengambil boneka itu." Gala segera membawa Lily pergi dari sana.
"Bara, bawa Deya ke kediamanku, aku haru membuat perhitungan dengannya." tegas Gala.
Bara langsung menarik Deya dan membawanya ke kediaman Gala.
Dan itu mungkin nasib apes untuk pemilik toko itu.
Di kediaman Gala.
Gala langsung mengomeli Deya, ini pertama kalinya Gala marah padanya, padahal biasanya Gala yang membela Deya saat Bara memarahinya.
"Abang, Deya minta maaf." ujar Deya.
"Kau tidak perlu tinggal di sini, kembalilah di kediaman Daddy Jimmy!" Gala masih sangat marah dengan Deya.
" Hiks hiks hiks, Abang Deya kan sudah minta maaf Abang, Abang jangan marah dengan Deya, hiks hiks hiks." Deya menangis karena rasanya sangat menyayat hati Gala terlihat marah padannya.
Gala langsung mereda, melihat Deya menangis Deya juga kesayangan Gala.
"Maafkan Abang, Abang juga mengkhawatirkanmu juga, lain kali jangan seperti itu, setiap apa yang Abang minta itu pasti ada alasannya, bukan karena Abang terlalu gila aturan." Gala memeluk Deya agar tidak menangis lagi.
"Iya, lain kali Deya akan mendengarkan Abang." ujar Deya.
"Tapi untuk sementara kau tidak tinggal bersama Lily dulu, Abang yang akan mengurusnya sendiri, jika kau mau bermain ya main saja, tapi Abang hanya mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, karena Lily masih belum mengerti kehidupan di kota." ujar Gala.
"Iya Abang." Deya terlihat menurut sekali dengan Gala.
Bara agak cemburu melihatnya, kenapa adiknya tidak bisa semenurut itu dengan dirinya.
"Sudah aku bawa Deya pulang, kau urus Lily!" Bara langsung menarik Deya dan membawanya kembali ke kediaman Jimmy.
Gala melihat Lily yang menunduk, merasa bersalah.
__ADS_1
"Apa ada yang terluka?" Tanya Gala lembut pada Lily.
"Iya, kaki Lily sakit huhuhuhu ... " Lily langsung merengek menunjuk kakinya yang tak sengaja diinjak Gala.
"Oh maaf, maaf." Gala langsung mengangkat kakinya, karena sangat khawatir sampai tidak sengaja menginjak kaki Lily.
Gala langsung memeriksa kaki Lily.
"Maaf ya, Paman tidak sengaja." Gala segera berdiri mengusap air mata Lily.
Lily langsung memeluk Gala dan menangis.
"Paman, kenapa orang di kota galak-galak semua, Lily kan tidak mencuri." ujar Lily.
"Makanya kan Paman meminta Lily tidak keluar karena Lily belum mengerti aturan di perkotaan." ujar Gala.
"Tapi kok Paman tahu kami di sana!" Lily sangat keheranan.
"Tentu saja paman akan tahu dimana pun kau pergi." ujar Gala.
Tentu saja Gala meninggalkan penjaga bayangan untuk mengawasi Lily.
Saat anak buahnya melapor Gala langsung mencari pemilik tanah itu dan membelinya, urusan yang lain Gala tidak mau tau.
"Paman hebat, Lily sayang Paman." Lily benar - benar senang karena Gala sangat peduli padanya.
"Jika kau ingin sesuatu kau bisa mengatakannya pada Paman, ini Paman belikan ponsel agar kau tidak jenuh." Gala memberikan ponsel yang sudah di setting tentunya sebelum diberikan pada Lily, agar Gala bisa memantau aktivitas Lily.
"Wah, akhirnya aku punya ponsel, terimakasih Paman muach." Lily mencium dan memeluk Gala dengan sangat senang.
"Di sini anak balita juga pakai ponsel, tapi memang bagusnya memberikan ponsel itu jika sudah cukup umur, makanya di basecamp itu anak mudanya jika belum bekerja mereka belum bisa memakai ponsel pribadi, jika ketahuan pasti akan dihukumkan?" ujar Gala.
"Ya, Paman tempat tinggal Lily terlalu ketinggalan." keluh Lily.
"Tidak masalah jika hanya ketinggalan soal gaya, hal itu tidak menjamin masa depan, yang penting tidak tertinggal masalah pola pikir, andaikan kau mau bersekolah dengan baik kau akan mengerti tentang kehidupan perkotaan, jadi kau tidak akan mengalami kejadian seperti tadi, karena itu adalah pelajaran penting di basecamp, selain belajar membaca, menghitung dan fisik, karena mereka akan dikirim ke kota selama 2 tahun prakteknya." ujar Gala.
"Begitu rupanya, kalau begitu Paman tolong ajari Lily agar tidak membuat masalah lagi." Lily terlihat bersungguh - sungguh.
"Iya pelan-pelan saja, besok paman akan mengajak Lily jalan-jalan sambil belajar mengenal kehidupan di kota." ujar Gala.
"Yea ... Paman terbaik." Lily tampak senang sekali.
" Paman ini pakainya bagaimana?" tanya Lily pada Gala.
Gala pun mengajari Lily dengan pelan-pelan dan penuh kesabaran agar Lily bisa mengoperasikan ponsel itu dengan baik dan benar. Beberapa kali Lily tampak kagum dengan kecanggihan benda kotak kecil itu rupanya mampu mencakup banyak hal diluar jangkauannya yang dia ketahui selama ini.
__ADS_1
Melihat Lily tampak senang dengan wajah polosnya itu Gala merasa hatinya seperti digelitik.