
"Baik, aku berjanji akan menjaganya seumur hidupku!" Ujar Gala, tanpa berpikir panjang.
Zero dan Nisa sangat Lega, karena mereka berdua yakin jika putrinya akan baik-baik saja di bawah pengawasan Gala di masa depan.
" Siapa namanya?" tanya Gala.
"Namanya adalah Emily Ileana." jawab Nisa.
" Artinya apa?" tanya Gala lagi.
" Bunga matahari." jawab Zero.
Terlihat Gala begitu menyukai Emily.
" Tuan apa kau mau menjadikannya istri?"
tanya Zero bergurau
" Istri?" Gala masih tidak mengerti apa itu istri.
"Tuan, akan menikah dengannya saat sudah dewasa, kau hanya akan hidup dengannya seumur hidup memiliki keluarga yang bahagia!" Jelas Zero pada Gala, siapa yang tidak mau memiliki menantu seperti Gala.
"Suamiku, Tuan muda akan terbebani, biarkan Tuan menikah dengan siapapun yang Tuan inginkan." Nisa merasa itu akan membuat Gala terbebani, karena ke depannya kita tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi.
"Aku mau." Gala menjawab tanpa ragu-ragu.
Zero sangat senang mendengar jawaban Gala. Sedangkan Nisa malah tidak enak hati dengan Gala.
Karena sudah larut, Gala mengembalikan Emily pada ibunya kembali. Dia pun segera berpamitan untuk kembali beristirahat.
Keesokan harinya.
Mereka berempat berlatih, di bawah tangan Panglima
Sementara Zero melatih Oddie.
"Bara, benarkan kuda-kudamu! " Tegas Panglima sambil menendang kakinya.
" Gala tegakkan badanmu!" Panglima juga memukul punggung putranya.
"Bagus Grey." Grey tidak diragukan lagi, karena memang dia sangat unggul karena setiap hari tidak berhenti berlatih dengan ayahnya.
"Deya apa yang kau lakukan?, aku bilang pasang kuda-kuda bukan jongkok!" Panglima memukul ringan kaki Deya, Deya langsung terjatuh.
"Berdiri! " Bentak Panglima. saat melatih tidak ada toleransi bagi Panglima.
Deya segera berdiri dan memasang kuda-kuda dengan benar.
Mereka dilatih selama 2 jam tanpa istirahat, setelah selesai panglima pun segera menemui Zero.
Panglima pun penasaran dengan putri Zero, dia menanyakan di mana putrinya. Zero dengan senang hati menunjukkan putrinya pada Panglima. Mereka berjalan menuju halaman belakang Paviliun milik Zero.
Terlihat Nisa sedang menimang putrinya sambil bersenandung.
__ADS_1
" Sayang, Panglima juga ingin melihat Emily." ujar Zero.
Nisa langsung memberikan putrinya pada Zero, dan Zero langsung memberikan Emily pada Panglima.
Panglima juga sangat mengaggumi kecantikan seorang Emily. Bapak dan anak memiliki selera yang sama.
Zero memberitahu Panglima, jika Gala juga sangat menyukai Emily, dan mau menikahi Emily di masa depan.
" Panglima, mengenai pernikahan itu jangan dianggap serius, suamiku suka bercanda." Ujar Nisa sangat tak enak hati pada Panglima.
" Jika putraku mengatakan mau, maka dia harus bertanggung jawab di masa depan. "
Ujar Leon.
" Jangan Panglima, kita tidak tahu ke depannya, aku tidak ingin membuat Tuan Muda menjadi sulit. " Nisa benar -benar tidak mau membuat Gala kesulitan. Karena hati itu tidak bisa dipaksa.
"Iya, aku tahu ... tapi Gala akan tetap menjaganya di masa depan." Panglima menenangkan Nisa.
Panglima sangat senang, rupanya hati putranya tidak begitu keras, karena Gala ini sangat mirip dengannya, dari semua aspek.
"Aku juga merasa sangat sedih, karena dia juga begitu dingin pada ibunya. " Ujar Panglima mengeluhkan sikap putranya.
"Saya akan bantu berbicara dengan Tuan Muda nanti Panglima!" ujar Nisa.
"Aku sudah berbicara padanya, dia sudah sedikit berubah, tolong kau bicara juga padanya karena kau yang ada di samping istriku saat itu, dia akan semakin tahu dan percaya hal itu, aku ingin merubah sikap dinginnya pada ibunya!" Panglima sangat tidak ingin jika putranya begitu keras pada ibu yang sudah memberikannya kehidupan.
Panglima baru ingat, jika dia lupa memberitahu istrinya tentang kelahiran Emily.
" Hahaha, sudah pasti Nyonya akan marah."
ujar Zero.
Karna tragedi sarapan keasinan, membuat Panglima lupa memberitahu istrinya yang keburu merajuk.
Mereka pun membicarakan masalah Jimmy dan Ria yang masih belum dikaruniai seorang anak.
" Jimmy mungkin mandul." ujar Panglima.
Panglima terlihat sangat kesal, saat membicarakan Jimmy.
"Kesal aku, dia slalu meracuni Manggala dengan hal-hal tidak baik." Keluh Panglima sangat kesal.
Zero dan Nisa juga heran, itu sudah berapa tahun, dendam mereka masih berlanjut.
"Sudah Panglima, membahas kalian itu tidak akan kelar. Ujar Zero.
Panglima teringat sesuatu, dia mengembalikan Emily pada Nisa dan mengajak Zero pergi.
Tak lama Gala datang, dia meminta Emily agar di pangkuannya.
Nisa memberikan Emily pada Gala, wajah dingin itu langsung menghangat ketika melihat wajah Emily, Gala memandangi wajah menggemaskan itu.Setiap Emily menggeliat, Gala akan tersenyum sampai terlihat giginya.
Nisa ikut tersenyum melihat Manggala tersenyum.
__ADS_1
" Bunga matahari sedang menghangatkan gunung es!" Gumam Nisa lirih.
" Tuan, anda sudah lelah istirahat di sini saja, tidurkan Emily di sini dan berbaring lah di samping Emily." ujar Nisa.
" Bolehkah?" Tanya Gala terlihat senang.
" Boleh, karena Tuan Muda di sini, saya titip Emily ya, saya mandi sebentar." ujar Nisa.
Manggala mengangguk, Nisa pun dengan tenang meninggalkan putrinya bersama Gala.
Zero pun tiba, Zero terkejut melihat pemandangan yang begitu manis, melihat Gala tertidur di samping Emily dan tangan Emily menggenggam telunjuk kecil Gala.
Tanpa pikir panjang, Zero segera memotret pemandangan indah itu dan membaginya pada Panglima.
Panglima yang menerima gambar dari Zero tertawa. Panglima benar-benar seperti melihat Kloningnya saat kecil.
Panglima segera mengirim gambar itu pada istrinya di tambah caption.
" Mereka adalah Saudara"
"Bajiiingan, wanita mana yang kau hamili?, aku sudah yakin kau jarang pulang karena kau punya simpanan! "
Balasan dari Tantan sudah berapi-api.
Panglima menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa aku ini seperti itu di pikiran istriku? mengerikan sekali." Gumam Panglima.
Ponsel Panglima langsung berdering.Panggilan masuk dari Nyonya Panglima.
" Sayang, kau salah paham." ujar Panglima.
" Salah paham apa, kau memang bajiingan, aku tidak mau tahu kau pilih aku atau dia! " Nada bicara Tantan sudah terdengar sangat kecewa dan marah.
"Tentu saja aku memilihmu." jawab Panglima.
" Lalu bagaimana dengan anaknya? " tegas Tantan.
" Astaga sayang, itu anak Nisa dan Zero."
" Apa?" Tantan sangat terkejut, dia juga malu ternyata itu bukan anak haram Panglima. Tapi Tantan tetap marah karena suaminya tidak memberitahu kelahiran anak Zero dan Nisa.
" Kenapa kau tidak memberitahuku?" ujar Tantan.
"Aku juga tidak tahu, hamil saja juga tidak tahu kapan, pas tiba di sini sudah lahir saja." Panglima berbohong.
Tapi tetap saja Tantan tidak mempercayai Panglima.
" Apapun Alasannya kamu salah!"
Tantan langsung mengakhiri panggilannya begitu saja.
Panglima mengelus dada, istrinya memang yang super istimewa. Tapi bagaimana pun modelan istrinya Panglima tetap cinta mati Dan siapa pun tidak akan ada yang bisa menggantikan istrinya dihati.
__ADS_1