CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN

CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN
55. Membagi Tugas


__ADS_3

" Paman, ternyata menonton bioskop itu tidak seru!" ujar Lily.


" Memangnya apa yang kau tonton?" tanya Gala.


" Kata Onty itu hantu, hantu itu sangat jelek rupanya ya!" ujar Lily.


Gala sangat ingin menggigit bibir mungil Lily yang menggemaskan itu.


" Hahahaha, benar hantu itu sangat jelek, kau tidak takut?" tanya Gala.


" Mereka sangat jelek, seharusnya mereka yang takut padaku karena aku tidak jelek!" ujar Lily.


" Bahahahahahah ... cantik memang menakutkan yah?" ujar Gala.


Baru kali ini Gala mendengar jika cantik itu harus ditakuti.


" Apa kau suka keluar bersama Ontymu?" tanya Gala.


" Onty sedari tadi bergandengan tangan dengan kak Bonie, meskipun tanganku juga di gandeng Onty, tapi rasanya agak gimana gitu!" ujar Lily keceplosan.


" Siapa?" tanya Gala.


" Kak Bonie, eh ... " Lily langsung menutup mulutnya.


" Jadi Bonie pergi bersama kalian?" tanya Gala.


" Iya Paman, Paman jangan marah pada Onty ya?" bujuk Lily.


Lily merangkul lengan Gala dengan manja, agar Gala tidak marah lagi.


" Mau-maunya kau menemani orang berpacaran." ujar Gala.


" Apa bergandengan tangan itu termasuk berpacaran?" tanya Lily.


" Seharusnya begitu, pria dan wanita saat bergandengan itu kebanyakan menjalin hubungan." jelas Gala.


" Kalau begini?" tanya Lily menunjukkan tangannya yang merangkul lengan Gala.


"Ini juga berpacaran!" jawab Gala tersenyum.


" Hah, hanya begini saja dibilang berpacaran, jadi kalau aku menggandeng tangan Om Bara juga berpacaran?" tanya Lily polos.


"Berani kau menggandeng tangan Bara aku patahkan tangan Bara!" tegas Gala.


Gala menghentikan langkahnya.


" Dengar Lily, tidak ada laki-laki yang boleh menyentuhmu meskipun hanya sehelai rambutmu kecuali aku!" tegas Gala.


Gala tampak kesal dengan pertanyaan Lily yang membuatnya cemburu.


" Oh, baik Paman ... Apa Paman marah?" tanya Lily.


Gala langsung memeluk Lily, tidak tahu rasanya memang sulit menghadapi Lily yang beluk begitu mengerti tentang perasaannya, padahal secara fisik mereka termasuk sudah sangat dekat, tapi rasanya hatinya masih terlalu jauh.

__ADS_1


"Lily, ... Jangan memandang pria lain kecuali Paman." ujar Gala.


" Tapi kan di jalan bukan hanya paman seorang yang pria, apa aku harus memejamkan mata, saat di jalan?" tanya Lily.


" Hahaha, ya sudahlah kita pulang." Gala tidak mau pusing menjawab ucapan Lily yang semakin memusingkan kepala.


Gala mengajak Lily kembali ke kediamannya.


Rupanya Bara, Deya dan Grey sudah menunggu di ruang tamu.


Baru datang Bara sudah mengintrogasi Lily.


" Lily dengan siapa saja tadi kalian nonton bioskop?" tanya Bara.


Lily melihat ke arah Deya, yang mulutnya komat-kamit jangan,jangan.


Lily melihat ke arah Gala, Gala hanya mengangkat pundaknya.


" Tadi banyak di dalam bioskop, tapi Lily tidak kenal semua Om, tadi kan juga banyak yang masuk beli tiket,saat Lily duduk sudah banyak sekali orang, dan lagi lampunya itu mati Om, padahal mereka punya layar besar tapi mereka tidak mampu membeli token listrik untuk lampu, jadi yang gimana Lily mau tahu jelas orang - orang di bioskop Om." ujar Lily.


Gala, Deya dan juga Grey tertawa mendengar jawaban dari Lily, terlalu mendetail dan tidak jelas.


" Maksudnya Om itu, selain Ontymu siapa lagi yang berada di dekatmu?" tanya Bara.


Deya sudah tegang, bagaimana jika Lily mengatakan yang sebenarnya.


" Hanya Onty saja Om." jawab Lily.


Yang berharap Bara menghentikan interogasinya.


" Lily kau pasti lelah cepat masuk kamar!" ujar Deya.


Dari pada nanti abangnya bertanya terus-menerus bisa keceplosan Lily nanti.


"Oh, tapi aku tidak capek Onty." ujar Lily.


Lily sebaiknya kau masuk kamar.


Dalam hati Deya.


"Paman Lily masuk dulu deh lelah." Lily pun segera masuk ke kamar Gala dan menutup pintu.


Gala pun bergabung duduk dengan mereka bertiga.


" Gala apa kau membantu mereka?" tanya Bara curiga.


Gala hanya diam tak menjawab, menurut Gala, Bara ini terlalu berlebihan mengurusi urusan pribadi Deya, tapi lebih baik diam saja.


"Lanjutkan rencana kita!" ujar Gala.


Bara hanya menghela nafas panjang, tapi ya sudah karena misinya lebih penting.


Mereka berempat pun menyusun rencana dan membagi tugas masing-masing, kali ini adalah mengamankan Kenan Gruvy dan keluarganya dalam masa pemilihan presiden.

__ADS_1


Tentu saja dalam proses pemilihan seperti ini sangatlah rawan, karena pasti calon lain yang sangat gila ingin duduk di kursi tertinggi akan saling menjatuhkan, bahkan mencelakai keamanan satu sama lain.


Karena masyarakat sudah tidak dapat mempercayakan jalannya pemilihan oleh aparat hukum, maka Jimmy menurunkan para militer untuk mengamankan jalannya pemilihan suara nanti.


Makanya beberapa orang yang berpengaruh menyusupkan orang dalam pasukan Panglima, mereka mengira hal itu tidak akan ketahuan karena ada ribuan pasukan di bawah tangan Panglima.


Bara bertanggung jawab atas pasukannya mengamankan surat suara agar tidak terjadi kecurangan.


Lalu Gala bertanggung jawab dalam keamanan Gruvy dan keluarganya.


Grey, bertugas menghabisi penyusup dalam dalam pasukan Bara.


Sementara Deya bertanggung jawab dalam jalannya berkomunikasi di antara mereka berempat.


Mereka berempat pun segera menghadap Jimmy, untuk melaporkan strategi mereka.


Bara pun segera mengurus pasukannya, sementara Grey masih menunggu kabar dari Deya untuk bergerak.


Gala masih meminta Jimmy memberikan waktu cuti 3 hari untuk dirinya.


" Lily lagi, Lily lagi!" ujar Bara.


" Kali ini kan misi kita agak lama, aku ingin waktu yang cukup dengan Lily!" sahut Gala.


Jimmy pun tidak masalah dengan permintaan Gala, karena Gala pasti sudah memperhitungkan waktunya dengan baik, untuk misinya.


" Dad, sebaiknya tidak usah, bagaimana jika tidak sempat?" ujar Bara.


" Bara kau diam saja, aku tahu kapan harus bertindak!" tegas Gala.


" Sudah-sudah, Gala hanya 3 hari tidak boleh lebih, kau harus menjaga keamanan Kenan dan juga wakilnya, aku dengar mereka sudah mendapatkan beberapa kali teror!" ujar Jimmy.


" Siap Dad." jawab Gala.


"Ya sudah kalian bisa segera melakukan apa yang seharusnya di lakukan." tegas Jimmy.


" Daddy mau berangkat sekarang?" tanya Gala.


" Ya, Daddy akan kembali setelah semuanya beres, kan ada Paman kalian Jack dan Dex untuk di andalkan, mereka bisa menjadi Daddy di saat kalian butuh!" ujar Jimmy santai.


Jimmy sangat ingin menyusul hidup santai seperti kedua sahabatnya yang sudah menikmati hidup damainya lebih dulu.


Apalagi kini Ria dan Jimmy sudah ada Saga, tentu hidup mereka akan lebih bahagia karena memiliki putra yang melengkapi rumah tangga mereka.


Jimmy membawa keluarganya menyusul Leon dan istrinya yang sibuk berkeliling dunia setiap hari memamerkan hidup santai mereka.


Memang Jimmy selalu tertinggal satu langkah dengan Leon.


"Saga, kau harus merepotkan paman Leonmu nanti di sana ole Nak." ujar Jimmy pada Saga.


" Ajarkan yang benar, kau ini terlalu kekanakan." Ria mulai mengomel.


Hari itu juga mereka bertiga tanpa pengawalan kusus terbang menyusul ke tempat Leon.

__ADS_1


__ADS_2