
Hari ujian pun tiba.
Selama dua Minggu, Kirana mulai mengikuti ujian kelulusan sekolah.
Semua di rasa lancar, karena Kirana ini meskipun sulit di atur dia termasuk anak yang cerdas.
" Ini hari ujian terakhir Nona, apakah ada yang sulit?" tanya Zidan.
" Tidak sulit, semua sesuai yang dipelajari!" jawab Kirana.
" Syukurlah!" Zidan yang merasa lega.
" Dimana Tuan Gala?" tanya Kirana celingukan mencari Gala.
" Di depan, ada apa Nona?" tanya Zidan heran.
" Tidak apa-apa, akhir-akhir ini kau sering keluar masuk kamar Tuan Gala, hubunganmu dengan Tuan Gala sangat baik ya?" tanya Kirana penasaran.
" Kami memang tidak pernah bertengkar Nona, hanya saja saya selama ini tidak bisa tidur, berkat Tuan Gala, saya bisa tidur saat lelah." ujar Zidan jujur.
" Memangnya kau di apakan oleh Tuan Gala?" tanya Kirana lagi.
" Diberikan terapi dan minuman untuk membuat saya rileks dan segera tidur." ujar Zidan.
Kirana mengangguk mengerti.
" Hallo Nona, ujiannya sukses?" tanya Gala sambil membukakan pintu untuk Kirana.
" Semoga saja." jawab kirana segera masuk ke dalam mobil.
" Nona, apakah ada tujuan ?" tanya Gala.
" Tidak ada, aku mau pulang, katanya paketku sudah datang aku ingin segera membukanya." ujar Kirana.
Akhirnya mereka pun kembali ke kediaman Gruvy.
" Nona paket anda di ruang tengah." ujar penjaga.
" Ya pak , terima kasih!" Kirana segera membawa paketannya masuk ke dalam kamarnya dan meng unboxingnya.
" Wah jaket ini bagus untuk Tuan Gala, aku akan memberikan padannya." Kirana segera turun dan mencari keberadaan Gala.
Rupanya Gala sedang bersama dengan anjingnya Odie dan pawangnya.
" Tuan, kita bicara sebentar!" ujar Kirana.
Pawang Oddie pun segera pergi membawa Oddie.
" Tuan ini untukmu, kita sudah memasuki musim dingin." ujar Kirana memberikan jaket untuk Gala.
" Saya tidak membutuhkannya Nona, saya tidak suka memakai jaket tebal, itu membuat pergerakan saya mudah terbaca lawan, pakaian ini meski terlihat tipis namun, lebih hangat dari jaket ini!" ujar Gala.
" Jadi, anda tidak mau menerimanya?" tanya Kirana terlihat sedih.
__ADS_1
" Maafkan saya, Nona ... saya tidak bisa menerima, berikan pada Zidan saja, dia mungkin butuh jaket seperti ini." tegas Gala.
" Tuan, kenapa kau terus menolak ku?, aku sudah bersabar dan berusaha, tidak bisakah kau menghargainya?" ujar Kirana.
" Saya sangat menghargai Anda Nona, ..." ujar Gala.
" Tapi kau tidak mau menerimanya!" Kirana menyodorkan lagi jaketnya.
" Saya sudah memiliki kekasih, saya tidak bisa menerima pemberian dari wanita lain." jelas Gala.
" Jangan anggap aku orang lain, kekasihmu kenapa harus marah?, aku hanya memberikan jaket!" Kirana mulai kesal.
" Maaf, ..." Gala pergi meninggalkan Kirana dengan jaketnya.
" Tuan, aku tidak akan menyerah!" teriak Kirana.
Kirana berlari masuk ke dalam rumah sambil menangis, Gala terlalu Kejam karena berterus terang dengan alasannya menolak pemberian Kirana karena kekasihnya.
" Awas saja kau nanti akan jatuh cinta padaku!" ujar Kirana sambil menangis.
Terdengar suara mengetuk pintu dari luar.
" Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Zidan.
Zidan tentu merasa tidak tenang jika nonanya bersedih.
Tidak ada sahutan dari dalam, namun tiba-tiba pintu terbuka. Kirana sudah siap dengan pakaian rapi dan membawa tas.
"Zidan, katanya kau setia padaku kan?" tanya Kirana balik.
" Tentu saja, Nona." jawab Zidan tanpa ragu.
" Antar aku ke Mbah dukun sekarang!" ujar Kirana sangat yakin.
" Apa?" Zidan sangat terkejut, mau apa Nonanya ini ke Mbah dukun, bukankah dia yakin dengan hasil ujiannya selama ini.
" Nona, saya yakin anda lulus kok!" ujar Zidan salah paham.
Kirana menarik Zidan masuk ke kamarnya.
" Aku mau minta bantuan Mbah dukun buat takhlukan Tuan Gala agar tunduk padaku!" ujar Kirana.
" Nona ... " Zidan tidak setuju dengan niat nonanya itu pastinya.
" Pokoknya ayo, kita pergi diam-diam jangan sampai Tuan Gala mengikuti kita!" Kirana menyeret Zidan berjalan lewat pintu belakang secara mengendap-endap, Zidan ingin menolak, tapi kalau di tolak sudah pasti nonanya akan pergi sendiri nanti malah repot sendiri.
Zidan terpaksa mengikuti Nonanya, entah Mbah dukun mana yang mau di datangi oleh nonanya, dapat ide begitu juga dari siapa Zidan juga tidak tahu.
Tuan Gala maafkan saya.
Dalam hati Zidan.
Nonannya ini benar-benar dibutakan oleh cinta, sampai cara apapun akan ditempuhnya, perjalanannya cukup jauh dan pelosok, dan tentunya auranya cukup horor.
__ADS_1
Orang kalau sudah nekat, jalur kematian pun akan ditempuhnya.
Akhirnya sampailah mereka di sebuah gubuk reyot, yang atapnya pun sebagian sudah hilang.
" Nona, apa ini rumah orang?" tanya Zidan.
" Ssssst ... permisi, permisi, apakah ada orang?" teriak Kirana dengan keras.
Tak lama pintu pun terbuka, terlihat seorang pria tua dengan pakaian kejawen, menggunakan cincin akik besar-besar memenuhi jarinya, dan juga kalung berbandul besar tergantung dilehernya.
" Mbah, saya ada perlu!" ujar Kirana.
" Masuk!" ujar Mbah dukun itu.
Kirana menarik Zidan masuk duluan, karena Kirana takut juga rupanya.
" Nona,..." Zidan bingung yang ada perlu nonanya yang disuruh maju dirinya.
" Kamu depan Dan, aku di belakangmu!". ujar Kirana.
" Kamu kalau ada perlu ya jangan setengah-setengah, cepat ke sini!" tegas si Mbah dukun.
Kirana segera menghampiri Mbah dukun yang duduk yang di depannya sudah ada kemenyan yang membuat kepalanya pe ing karena baunya.
" Mana fotonya, siapa nama lengkapnya, tanggal, bulan dan tahun lahir, siapa nama kedua orang tuannya dan kakeknya!" ujar Mbah dukun.
" Hah?, Mbah mau sensus penduduk?, kok nggak sekalian kartu keluarga sama KTP Mbah?" Ujar Kirana terkejut, kenapa jadi kayak surat pengajuan ke kelurahan.
" Mbah saya kan mau guna-guna orang, bukan cari surat keterangan tidak mampu loe Mbah." ujar Kirana.
Zidan terkekeh di belakang, mendengar ucapan nonanya.
" Jelas kamu ke sini kan juga karena tidak mampu menakhlukan hatinya kan?" ujar Mbah dukun.
" Eh, benar Mbah, tapi kan saya nggak tahu juga nama lengkapnya, saya cuma tahunya Gala saja, dia anak siapa saya juga nggak tahu Mbah." ujar Kirana.
" Sulit, kalau begitu uanga 50 juta!" pinta Mbah dukun langsung ke intinya.
" Mbah, jangan merampok nona saya!" tegas Zidan pasang badan.
" Aku tidak ada urusan denganmu, ini urusan antara aku dan nonamu, siapa suruh bawa keterangan tidak lengkap, kau kira gampang meminta makhluk halus buat cari informasi lengkap?" ujar Mbah dukun.
" Eh, tapi Zidan bisa kok Mbah, cari informasi lengkap, nggak usah nyuruh makhluk halus, kalau susah ada Zidan." ujar Kirana menyodorkan Zidan.
" Nona, Nona, saya tidak bisa membantu anda untuk hal seperti ini, saya tidak berani membocorkan informasi Tuan Gala." ujar Zidan menolak.
" Halah, bilang saja nggak bisa, cepat 50 jutannya!" tegas si Mbah dukun.
Zidan sudah mengode nonanya untuk tidak memberi namun bagaimana lagi Kirana tentu saja dengan senang hati memberikan uang 50 juta untuk mendapatkan Gala.
Hanya 50 juta itu tidak ada artinya untuk Kirana.
Zidan berpikir keras bagaimana cara menyadarkan nonannya ini, agar tidak terpengaruh oleh si Mbah dukun itu.
__ADS_1