
Gala memilih berjalan kaki untuk menuju ke kota, dia ingin mengajarkan Lily sedikit cara bertarung dan membela diri.
"Lily, kau tangkap apapun yang bisa di makan untuk bertahan hidup." Gala memberikan belatinya.
Tentu Lily akan selalu ditemani Oddie dalam memburu. Sementara Gala membuat api dan mendirikan tenda untuk mereka bermalam.
Setelah lama berburu Lily kembali membawa seekor rusa.
"Paman lihatlah Paman, Lily membawa rusa." Lily menyeret rusa yang sudah babak belur.
"Kau menghajarnya?" tanya Gala.
" Ya, aku melemparinya dengan batu saat pingsan aku memukulinya dengan kayu." ujar Lily.
Gala tersenyum melihatnya, setidaknya Lily sudah sedikit ceria lagi.
Gala segera mengeksekusi rusa itu menjadi rusa panggang.
"Paman aku mau mandi ya!" ujar Lily.
"Ambil air dan basuh tubuhmu di dalam tenda!" pinta Gala.
"Oh, baik." Lily pun mengikuti perintah Gala, setelah selesai membasuh dan berganti baju, Lily segera mencuci dan menjemur bajunya.
"Sini ... " Gala meminta Lily untuk duduk di dekanya. Lily pun segera menghampiri Gala.
Baru ingin duduk Gala sudah menarik Lily ke pelukannya.
"Hangat? " tanya Gala.
" Iya Paman. " jantung Lily berdegup sangat kencang. Lily jadi teringat Gala datang dengan kuda saat terjadi kekacauan.
Pamannya itu sangat keren, dan ada untuknya di saat genting.
"Kenapa cemberut?" tanya Gala pada Lily yang terlihat cemberut.
"Paman, apa di kota juga ada peperangan?" tanya Lily.
"Ehm, bisa saja terjadi, ada apa?, apa kau takut?" Gala mengeratkan pelukannya.
"Paman, Lily sekarang hanya punya Paman seorang yang Lily percaya, Paman jangan memutuskan hubungan dengan Lily, apapun kesalahan Lily." pinta Lily pada pamannya Gala.
"Kau memanggil Bara dan Deya Kakak , kenapa kau memanggilku Paman Lily?" Gala masih bingung juga dengan panggilan Lily padanya.
"Oh bukankah katanya kau adik ayahku?" tanya Lily.
"Jika aku adik ayahku, kau seharusnya memanggilku Om, dari mana aku adik ayahmu, aku memanggil ayahmu saja Om." ujar Gala.
__ADS_1
"Tapi, Lily lebih suka memanggil Paman." Ujar Lily yang sudah terbiasa.
"Ya sudahlah yang penting Lily bahagia, sekarang makanlah yang banyak besok pagi Paman akan melatihmu." ujar Gala.
Selama perjalan menuju ke kota, mereka lebih banyak berhenti untuk berlatih, 2 minggu mereka baru sampai ke kota.
"Mana kota yang akan kita tinggali paman?" tanya Lily.
"Ini masih di perbatasan, tunggu orangku datang menjemput." ujar Gala.
Mereka duduk di bawah pohon, sambil memakan makanan yang mereka bawa dari hutan.
Lily sangat menyukai ubi bakar, jadi dia membawa ubi bakar untuk persediaan di kota.
"Kenapa kau harus membawa semua ubi ini?" Gala sangat heran dengan Lily.
"Lily tidak tahu kota itu seperti apa Paman, nanti kalau sulit berburu kan kita bisa makan ubi ini dulu." ujar Lily polos.
Gala menepuk jidatnya, tapi itu hal wajar karena ini pertama kalinya Lily datang ke kota, dan cara bertahan hidup di kota sangat berbeda dengan di hutan.
"Di kota itu kita tidak usah berburu Lily, yang penting banyak uang kau bisa membeli apapun yang kau mau!" jelas Gala.
"Oh sungguh?, bagus sekali apa Paman punya banyak uang?, tapi Lily tidak punya uang Paman." Lily merogoh sakunya hanya ada 2000 rupiah.
Itu sisa membayar sekolah, di basecamp tidak ada jajanan seperti di kota, makanan pun sudah di sediakan tidak ada jual beli makanan di hutan mereka menyimpan uang tidak untuk membeli kebutuhan pokok, hanya kebutuhan sekunder dan tersier saja.
"Tenang saja, Paman memiliki banyak uang untuk membelikan apapun yang Lily mau." Gala meraih pinggang Lily dan mendudukkan Lily di pangkuannya.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya datanglah orang Gala dengan mobil jeepnya.
"Lily, ayo kita ke kota." Gala segera membukakan pintu untuk Lily.
Dan segeralah mereka menuju kota.
Saat memasuki kota, Lily benar - benar takjub melihat gedung - gedung tinggi, keramaian yang berbeda dengan kampung asalnya.
"Paman lihat itu ada orang di menara!" Lily menunjuk layar di sebuah gedung.
"Itu namanya gedung, bukan menara dan itu hanya papan iklan Led." ujar Gala.
Lily iya iya saja, meskipun tidak mengerti, nanti dia lama-lama juga mengerti jika mau beradaptasi.
"Wah paman, itu anak-anak seusia Lily sedang apa bergerombol - gerombol?" tanya Lily heran.
" Mereka sedang nongkrong, kumpul-kumpul, seru-seruan dengan teman mereka." jelas Gala.
"Oh, apa Lily nanti bisa punya teman seperti mereka?, apa di sini teman harus dibeli?" Lily terus bertanya, tiada habisnya.
__ADS_1
Gala tertawa mendengar pertanyaan Lily.
"Jika dalam pertemanan, dia melihat dari segi banyaknya uangmu, lebih baik kau tidak berteman dengan mereka Lily, mereka buka orang yang tulus, orang yang tulus itu akan berteman denganmu, meski kau ini tidak banyak uang." Gala mengusap kepala Lily.
Lily adalah tugas terbesarnya saat ini, karena Gala harus mengajari semuanya pelan-pelan, di kota tidak ada binatang buas tapi banyak sekali manusia yang menyerupai binatang buas, bahkan mereka lebih buas dari binatang buas.
Sampailah mereka di kediaman Manggala.
"Ini rumah kita Lily." ujar Gala mengajak Lily turun dan masuk.
Rumah di kota jelas sangat berbeda dengan di kampung asal Lily.
"Paman ini rumah?, kok beda dengan rumah Lily?." Lily sangat menyukai rumah Gala yang sangat mewah itu.
"Wah ada taman bunga, ada sungai kecil banyak ikannya." Lily berlari ke sana - ke sini sangat heboh.
" Itu namanya kolam ikan, bukan sungai Lily." jelas Gala.
"Oh kolam ikan?, mereka datang dari mana ikannya paman, apa dari bawah tanah?" Lily heran.
"Paman membuatnya sendiri, ikannya paman beli." Gala harus menjelaskan semuanya.
Lily benar - benar merasa itu luar biasa, bisa membeli ikan tanpa harus memancing atau pun menangkapnnya di sungai.
Gala menarik tangan Lily, memasuki kediamannya Gala menunjukkan kamar yang sudah lama disiapkan Gala untuk Lily.
"Ini kamar Lily, apa Lily menyukainya?" tanya Gala.
"Wah Paman, ini luar bisa paman." Lily langsung melompat ke atas ranjang yang terlihat lebih empuk dari kasur kapuknya.
"Eh, kok mantul- mantul Paman?" Lily langsung berdiri dan melompat - lompat begitu senang di ranjang barunya.
Lily terlalu asyik melompat - lompat sana-sini tidak melihat sisi yang dia lompati.
"Awas ... " Gala langsung menangkap Lily agar tidak jatuh.
"Wah, Paman keren bisa menangkap Lily." Lily memeluk Gala karena sangat bahagia.
"Anak nakal." Gala mendudukkan Lily di ranjang dengan perlahan.
"Lily mau mandi?" tanya Gala.
"Oh ya, di mana? dimana bilik kamar mandinya?, apa ada sungai ?, apa Lily mandi di kolam ikan tadi? "Lily memang sangat suka mandi.
Tapi kamar mandi di hutan itu dibuat di dekat sungai. Seperti kamar mandi umum. Mereka harus mengantri, tapi untuk keluarga Zero mereka memiliki kamar mandi yang berbeda dengan penduduk lain.
Tapi Lily malah suka mandi di kamar mandi umum penduduk karena seru, langsung dekat sungai.
__ADS_1
" Hahahahah." Gala selalu tertawa saat dengan Lily, apalagi Lily sedang dalam masa adaptasi.
Banyak tingkah lucu Lily yang membuat Gala tertawa. Gala sangat bahagia, karena sekarang Lily bersamanya, di bawah perawatannya.