
" Gala, ini ponselmu ... Lily sudah tidur kau juga tidur sana, tenang saja Ibu sudah mengajarinya beberapa hal, yang akan memudahkan hubungan kalian." Tantan mengembalikan ponsel putranya.
" Aku yang kangen, eh di serobot Ibu." Gumam Gala segera membawa ponselnya kembali ke kamarnya.
Tapi tidak ada waktu protes, dia harus segera tidur, karena besok dia akan menjalankan rencananya dengan Ibunya.
Keesokan paginya,
Gala memberikan kejutan pada Omma dan Oppanya yang sedang duduk santai di bangku taman depan.
Gala menyamar menjadi kurir dengan membawa box besar.
" Selamat pagi, saya mengirimkan paket untuk Maya Zang, apakah benar ini kediamannya?" tanya Gala yang wajahnya tertutup box besar.
" Apa yang kau pesan Sayang?, besar sekali, apa kau tidak lihat kediaman kita sudah penuh dengan barang - barangmu dengan Tantan?" ujar Hujan Zang.
" Lah tapi aku tidak pesan, maaf Tuan, tapi saya tidak memesannya, tolong di bawa kembali saja, terimakasih!" ujar Maya.
" Tapi ini harus di terima nyonya." ujar Gala.
" Siapa pengirimnya?" tanya Maya.
" Ini barang yang anda pesan sendiri, dari toko Xxxx tinggal terima saja." ujar Gala.
" Kau berbohong lagi, katanya sudah tidak belanja online!" ujar Huan kesal, bukan masalah uangnya tapi tempat mereka sudah sangat penuh, dan mereka hanya pakai sekali saja.
" Hei Tuan Muda, kau memfitnahku ya, kau membuatku bertengkar dengan suamiku, bawa pergi barangnya, atau aku akan memukulmu sampai lumpuh!" Maya mengomel tidak karuan.
" Kau ketahuan bohong, lalu melimpahkan kesalahan pada orang lain, kasihan dia hanya kurir bekerja untuk menghidupi dirinya mungkin bahkan keluarganya, jika kau membatalkannya apa kau tidak kasihan, kau sangat egois." Huan Zang semakin kesal pada istrinya.
" Tapi aku sungguh tidak pesan, kenapa kau tidak percaya padaku!" Maya sudah berbicara dengan otot.
" Kau ini, Tuan tolong letakkan saja di sana, terimakasih karena sudah mengantar." ujar Huan Zang.
Saat Gala akan meletakkan, Maya memintanya untuk membawanya dan mengancam jika berani meletakkannya akan dipatahkan lehernya.
Gala terkekeh, mendengar neneknya itu yang masih sangat galak soal kebenaran.
Gala meletakkan box itu tanpa ragu.
"Bajingann kau--" Maya sudah mau memukul Gala namun terkejut saat melihat wajah kurir itu.
" Surprise ... " Ujar Gala.
" Ah,...Oh... Cu--cu--cucuku ... " Maya langsung memeluk Gala dengan sangat erat.
__ADS_1
" Oh, anak nakal ini." Huan jadi terharu karena dia juga sudah lama tidak bertemu dengan cucu satu-satunya itu.
" Kau sangat senang membuat Omma dan Oppa bertengkar Gala." ujar Huan.
" Maafkan Gala, Omma Oppa, karena Gala juga sudah lama tidak mendengar kalian mengomel." ujar Gala.
" Kapan kau datang cucuku?" tanya Maya.
"Semalam, aku ingin menemui kalian tapi sudah tidur, jadi aku menemui kalian sekarang." ujar Gala.
" Bagus, kau masih ingat kami, itu sudah cukup, ayo masuk Omma akan masak untukmu !" ajak Maya.
" Gala sudah makan Omma, Omma, tolong masakkan makanan yang tahan seminggu, sebelum Gala Kembali nanti ya." ujar Gala.
" Baik, Omma akan masakkan sambal cumi, sambal udang, kering kentang juga dan apa aja nanti yang bisa bertahan satu Minggu." ujar Maya.
" Terimakasih Omma ..." ujar Gala.
" Tapi tidak biasanya, kau meminta seperti ini Gala, apa kau sangat rindu masakan rumahan?" tanya Maya.
" Sudah pasti, cucu kita ini mana ada waktu memakan masakan rumahan, keluarganya di sini semua." sahut Huan Zang.
" Ini untuk Lily Omma." jawab Gala.
" Lily itu calon istri Gala putri Om Zero."
jelas Gala.
" Oh ya ... Astaga aku hanya bertemu dengannya saat dia berumur 2 tahun saat itu, sekarang katanya kau mengasuhnya, kenapa jadi calon istrimu?" Maya sudah tua jadi tidak ingat banyak hal.
" Gala sangat mencintainya Omma." jawab Gala.
Maya memandang cucu satu-satunya itu membelai wajah Gala, rupanya cucunya sudah sangat besar dan dewasa.
" Cucuku, gadis itu sangat lucu ...yang Omma ingat, sekarang seperti apa anak itu tumbuh, jika kalian sudah saling mencintai maka segera menikah, Omma dan Oppa sangat ingin melihatmu menikah, jika memang Tuhan mengijinkan, kami juga ingin melihat cicit kami." ujar Maya berkaca-kaca.
Gala jadi ikut berkaca-kaca mendengar ucapan Ommanya.
" Omma dan Oppa harus melihatku menikah, dan juga harus menimang anakku!" ujar Gala memeluk keduanya.
" Makanya cepat menikah!" ujar Maya.
" Haduh kalian ini sedang apa?" ujar Leon yang baru kembali dari lari pagi.
" Jika kau mau lewat, lewat sana!, jangan mengganggu waktu kami!" tegas Maya pada Leon.
__ADS_1
Leon pun segera masuk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Ada apa Sayang?" tanya Tantan.
" Itu Gala dan Ayah Ibu sedang main Teletubbies." jawab Leon.
" Hahahah, kau pasti kena semprot ya, siapa suruh mengganggu!" Tantan menertawakan suaminya.
" Siapa yang mengganggu?, aku hanya lewat saja loh." jawab Leon duduk di samping istrinya.
Tak lama 3 orang di luar tadi masuk membawa box besar yang di bawa oleh Gala.
Maya memamerkan semua barang-barang yang di belikan Gala untuknya.
" Lihat, Gala selalu ingat Ommanya tidak seperti anak dan suami itu Tantan." ujar Maya terlihat sangat senang.
" Jika aku tidak ingat aku tidak akan tinggal di sini Ibu." sahut Leon.
" Ya, jika aku tidak ingat denganmu aku akan mengira Luna Maya istriku!" sambung Huan Zang.
Tiba-tiba tas yang berada ditangan Maya mendarat di wajah Huan dengan keras.
"Agh ... Kau ini aku hanya bercanda apa harus sekasar itu, aku ini sudah tua rapuh masih saja kau aniaya!" ujar Huan mengomel.
" Aku ini masih sangat segar, aku bisa mencari berondong jika aku mau, kau ini menyebalkan!" sahut Maya kesal.
Gala mencoba melerai keduanya, mereka sudah berumur tapi kekuatannya cukup kuat, benar - benar tidak bisa diremehkan orang tua di depannya ini.
Gala menenangkan keduanya agar baikan lagi, mereka pun akhirnya berbaikan lagi, dan mengobrol bersama selama 2 jam.
Setelah itu Gala dan Ibunya pergi ke ruang bawah tanah anah untuk menemui Zidan dan juga Kirana.
Rupanya penjaranya masih sangat aman dan nyaman untuk keduanya.
" Tuan Gala, anda datang untuk menjemput kami?" Kirana langsung bangkit dan mendekati pintu jeruji.
Seakan dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
Sementara Zidan hanya berdiri dari kejauhan,
tidak berani mendekat. Mereka di kurung secara terpisah.
" Tuan, aku tahu kau peduli padaku, sampai kau memncariku, seperti ini, jika aku tahu cara seperti ini membuatmu peduli padaku, dari dulu aku akan lakukan!" tegas Kirana.
Zidan menepuk jidatnya, nonanya benar - benar menjadi bodoh, bukankah terlihat jelas wajah Gala itu sudah sangat mengeeika. Bagi Zidan, seperti singa yang sedang marah dan lapar.
__ADS_1