CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN

CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN
50. Identitas Si Nona


__ADS_3

"Tuan, Panglima saya adalah anggota BIN, saya mempertaruhkan nyawa saya untuk tidak menyebarkan apa yang seharusnya tidak kami ketahui, jika sampai itu terjadi maka anda bisa membunuh saya!" ujar Zidan berlutut dan bersumpah dia juga mengeluarkan identitas dirinya.


"Rupanya bukan pengawal biasa, jadi siapa identitas Nonamu sebenarnya?" tanya Bara.


"Dia adalah putri dari Tuan Kenan Gruvy, dia berada di bawah perlindungan pasukan putih!" ujar Zidan.


Gala dan Bara terkejut, rupanya gadis ini memiliki identitas luar biasa, Bara melihat ke arah Gala sebagai pemimpin pasukan putih kenapa tidak mengenali anak sekutunya.


"Apa yang kau lihat?, aku bukan petugas catatan sipil, kenapa aku harus tahu wujud putrinya, dia pengusaha jujur dan Daddy memintaku menjaganya!" ujar Gala.


"Lalu bagaimana ini, dia salah mengenalimu!" ujar Bara.


Gala melemparkan kartu identitas milik Zidan, lalu meminta Zidan untuk segera membawa nonanya pergi dari tempat itu.


"Jangan pernah mengikuti Baratha lagi, apa kau tahu resikonya?" ujar Gala.


"Baik!" Zidan pun segera membawa Kirana kembali dengan penjagaan prajurit Gala di antar selamat sampai rumah.


Kenan Gruvy sangat terkejut melihat putrinya pingsan.


"Zidan, apa yang terjadi dengan Kirana?" tanya Kenan khawatir.


" Kami di jalan, di hadang puluhan bandit Tuan, tapi Nona hanya pingsan karena ketakutan, untungnya kami di selamatkan oleh pimpinan pasukan putih!" ujar Zidan.


Zidan tidak berani menceritakan kebenarannya pada Kenan, karena itu adalah rahasia dalam kemiliteran.


" Kau bawa Nonamu ke atas dan panggil dokter!" pinta Kenan.


Zidan pun segera membawa Nonanya segera ke kamar lalu memanggil dokter pribadi untuk memeriksa apakah nonannya terluka.


Tak lama kemudian Kirana terbangun, Kirana mencoba mengingat semuanya, Zidan langsung meminta nonannya agar tidak membocorkan rahasia yang mereka ketahui pada siapapun termasuk juga pada ayahnya.


"Iya, aku tahu ... aku ingin sendiri dulu!" ujar Kirana.


Zidan mengerti nonanya sedang syok berat karena jatuh cinta pada orang yang salah, Zidan pun segera keluar memberikan waktu untuk menyendiri.


Sementara di markas militer.


"Kenapa kau tidak mencaritahu dari mana mereka bisa mengikuti kita sampai di tempat ini?" ujar Gala.


"Ini pasti ada seseorang yang memberikan informasinya pada orang itu, benar - benar harus dicincang jadi perkedel!" Bara terlihat kesal.

__ADS_1


"Kau segera urus, jika tadi sampai terjadi sesuatu pada mereka, lawan akan mendapatkan bahan bahwa kita menggunakan orang sipil untuk umpan, agar komplotan bandit itu keluar!" ujar Gala.


" Baiklah, apakah masih ada yang kabur?" tanya Bara.


" Aku sudah memporak - porandakan semua tempat dan para bandit yang tidak bisa ditakhlukan itu!" ujar Gala.


" Oke, kalau begitu aku akan kembali mencaritahu siapa pengkhianat yang ada dikediamanku!" ujar Bara nampak terkobar emosi membara.


Gala pun juga mendapatkan panggilan dari Kenan secara tiba-tiba.


Mau tidak mau Gala harus mendatangi Kenan yang mengundangnya ke rumah.


"Tuan, apa yang bisa saya bantu?" tanya Gala.


"Tuan, saya mengucapkan terimakasih pada anda karena menyelamatkan putri saya!" ujar Kenan berterima kasih dengan tulus.


Rupanya mereka tidak membocorkan apa yang mereka ketahui.


Dalam hati Gala.


" Hanya kebetulan lewat saja, saya malah tidak tahu jika dia putri anda Tuan!" ujar Gala.


Kenan memberikan satu koper kecil emas batangan pada Gala, mata Gala langsung berbinar - binar melihat kilauan emas dihadapannya.


" Haha ... Tuan sebenarnya jangan terlalu sungkan kita bukan kenalan baru!" ujar Gala segera mengambil koper emas itu tanpa keraguan.


" Aduh, tapi sebenarnya saya ini tertarik dengan kalung mutiara yang hanya ada satu yang diluncurkan oleh perusahaan anda, berapa harganya Tuan?" tanya Gala.


"Jika anda mau saya berikan pada anda secara gratis!" Ujar Kenan bersemangat membara.


"Astaga, anda ini bagaimana boleh begitu Tuan, saya jadi sangat tidak enak hati sekali, kalau begitu jangan sungkan-sungkan Tuan, saya akan sangat tidak menghargai persaudaraan kita jika saya menolak!" Gala sangat senang akhirnya dia bisa mendapatkan kalung mutiara yang hanya ada satu itu untuk Lily.


Zidan yang tak sengaja mendengar dan melihat percakapan tuannya dengan kloningan Panglima, atau pemimpin pasukan putih itu menggeleng kepala.


" Bagaimana bisa Panglima dikelilingi perampok tanpa senjata seperti mereka!" Gumam Zidan.


Terdengar suara pintu kamar Kirana terbuka, Kirana hendak turun ingin menemukan ayahnya, tapi Zidan menunjukkan jika saat ini ayahnya sedang ada tamu.


Kirana terkejut dengan tamu yang dimaksud oleh Zidan, kenapa ayahnya mengenalnya.


" Nona, ingatlah apa yang aku katakan tadi." ujar Zidan.

__ADS_1


Tapi Kirana terus memperhatikan Gala yang sedang berbincang begitu asyik dengan ayahnya.


"Nona, sebenarnya dia adalah pemimpin dari pasukan putih, dan dia juga berperan sebagai kloningan Panglima Baratha, dia lebih menakutkan dari Panglima, dialah yang menyelamatkan anda, pantas saja Panglima tidak mengenali anda, memang bukan dia yang menyelamatkan anda, tapi orang yang gagah juga berdarah dingin di bawah sanalah penyelamat anda!" Ujar Zidan menjelaskan semuanya dengan jelas.


"Pasukan putih ini, yang menjaga keluarga Gruvy selama ini!" tambah Zidan.


"Bagaimana ini Zidan, aku bingung dengan hatiku saat ini, aku harus tetap mengejar Panglima atau mengejar penyelamatku yang sebenarnya?" tanya Kirana.


" Hem, sebaiknya anda tidak mengejar keduanya, Panglima bukan orang yang mudah ditakhlukan, apalagi Pemimpin pasukan putih itu!" ujar Zidan.


"Aku akan turun menemui mereka!" Kirana memang anak yang super ribet sekali, tapi dia anak yang baik dan tahu berterima kasih.


Kirana turun menghampiri ayahnya, dan menyapa Gala.


" Oh putriku kau sudah baikan?" tanya Kenan pada putrinya.


" Sudah Ayah, semua berkat Tuan ini, terimakasih Tuan sudah menolong saya." ujar Kirana.


"Tidak usah sungkan." ujar Gala.


Memang benar, Gala cukup dingin dan menakutkan, tapi memang Gala dan Bara memiliki postur tubuh yang sama, tapi setelah dilihat jelas wajah mereka berbeda jika Gala itu wajahnya wajah asia dan Bara kebule-bulean.


Tapi keduanya benar - benar dianugrahi wajah yang sangat tampan dan sangat berkharisma.


"Tuan bolehkah saya mengajak anda makan untuk mengucapkan terimakasih pada anda?" tanya Kirana.


" Tuan tolong jangan tolak putri saya!" pinta Kenan.


"Tentu saja, saya tidak menolaknya, tolong beritahu saya kapan dan dimana?" ujar Gala.


"Di restoran jepang di dekat perusahaan ayah saya!" ujar Kirana.


Gala mengangguk, menyetujui.


"Kirana, kau apa memutuskan kembali ke rumah?" tanya Kenan.


" Ya." jawab Kirana.


Sekarang dia ingin menenangkan diri dulu, urusan pindah sekolah lagi biar diuruskan oleh Zidan seperti biasa.


"Tuan, kalung mutiara itu biar di bawa putri saya sekalian besok!" ujar Kenan.

__ADS_1


" Oke, kalau begitu saya undur diri dulu Tuan." Gala juga berpamitan pada Kirana dan segera pergi meninggalkan kediaman Gruvy.


__ADS_2