CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN

CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN
64. Balasan


__ADS_3

" Tuan saya berterima kasih sekali pada kebaikan Anda." ujar Zidan.


" Tidak masalah, siapkan mobilnya!" pinta Gala.


Selagi ada Gala, tugas Zidan menjadi sopir untuk Kirana.


Gala tentu yang bertanggung jawab penuh untuk keselamatan Kirana.


Sebenarnya sangat terbebani menjadi anak seorang Kenan, yang akan mencalonkan dirinya menjadi seorang presiden.


Tapi bagaimana lagi, siapa yang tahu takdir orang, tapi jika tidak menjadi anak Kenan, Kirana juga tidak akan bertemu dengan Gala lagi.


" Nona, masuk saja dengan Zidan aku di sini!" ujar Gala.


Kirana pun segera masuk ke dalam bersama Zidan.


Kirana mengikuti pelajaran seperti biasa, karena beberapa hari lagi Kirana akan mengikuti ujian kelulusan.


Dia akan segera lulus dan lanjut kuliah, tapi Kirana masih belum tahu mau kemana dia akan lanjut kuliah.


Setelah selesai jam sekolah Kirana segera kembali pada Gala.


" Tuan apa anda punya saran untuk Kirana?, kira-kira Kirana lanjut ke jurusan apa yang untuk kuliah?" tanya Kirana.


" Waduh, saya mana bisa memberikan saran pada anda, karena anda sendiri lah yang tahu keinginan dan kemampuan anda!" jawab Gala.


" Aku akan mendengarkan saran Tuan, karena Kirana tidak ada tujuan." ujar Kirana kekeh untuk meminta pendapat Gala.


"Zidan, kau kan lama mengikuti nonamu, apa kau punya saran untuk nonamu?" tanya Gala pada Zidan yang sedang fokus menyetir.


" Wah, saya tidak berani berpendapat!" jawab Zidan.


Zidan ini memangnya siapa, sarannya tidak mungkin di dengar oleh nonanya, selama ini , nonanya tidak pernah mendengar perkataannya.


" Ya, tidak usah aku akan pikirkan sendiri saja Tuan." sahut Kirana.


Kirana sangat kesal, tapi dia mencoba menahannya dengan sebaik mungkin agar tidak memiliki image buruk di depan Gala.


"Bagus, pilihan sendiri pasti lebih memuaskan!" tegas Gala.


Astaga, Tuan Gala ini benar- benar tidak tahu menyenangkan hati wanita.


Dalam hati Zidan.


" Sudah sampai Nona." ujar Gala membukakan pintu mobil untuk Kirana.

__ADS_1


" Terima kasih." Kirana pun segera masuk.


" Tuan, kita bicara sebentar!" pinta Zidan.


" Jangan bahas bagaimana caraku memperlakukan nonamu, bukankah kau yang memintanya, agar aku tidak terlihat memberikan harapan untuknya, sekarang kau akan mengatakan aku terlalu sadis?, memang aku sadis, makannya jangan sampai kau melihat kesadisanku yang sesungguhnya!" tegas Gala segera masuk.


" Lah, aku belum bicara, bagaimana bisa dia tahu semua apa yang ingin aku bicarakan?" Gumam Zidan.


Zidan pun segera mengikuti Gala masuk.


" Zidan, ..." Panggil Kenan.


" Ya Tuan Kenan." Zidan buru-buru menghampiri Kenan yang berjalan masuk ke ruangan bacanya.


" Ada apa Tuan?" tanya Zidan.


" Setelah Kirana lulus, aku akan menyekolahkannya ke luar negeri, kau carikan Fakultas terbaik di Jerman!" pinta Kenan.


" Tapi, apa Tuan sudah membicarakan ini pada Nona?" tanya Zidan pada tuannya.


" Sepertinya lebih aman dia di luar negeri, dia bisa pakai identitas lain untuk tinggal di luar negeri, sebelum pemilu dia harus sudah angkat kaki dari sini!" tegas Kenan.


" Bagaimana jika Nona memberontak?" tanya Zidan.


" Kau kan paling tahu tentannya, ini untuk kebaikannya, aku tidak mau putriku terseret dalam urusan politik!" ujar Kenan.


"Baik Tuan, saya mengerti." jawab Zidan.


Jika di kirim.ke Jerman apa benar nonanya mau, sedangkan yang dimau ada di sini, meskipun badai menyerang jika nona masih tidak menyerah itu akan sulit.


Dalam hati Zidan.


Sementara di tempat kursus Emily.


Jack dan Dex sudah menemukan orang yang mengatai Lily gatal dan murahan.


" Astaga, model seperti ini kenapa sangat belagu, mereka ini apa tidak mengaca?" ujar Dex.


" Sebenarnya aku tidak suka menilai penampilan orang lain, tapi tampilan mereka sangat membuatku gatal, untuk mengomentari, apa itu kuciran ditengah seperti pocong, dan baju yang mereka pakai saja tidak modis, hati yang kotor memang membuat diri sulit bercermin karena banyaknya kotoran." sahut Jack.


" Heh, kalian biawak betina!" Jack memanggil kedua senior Emily.


Mereka kira jika senior Emily ini cantik modis, dan sexy, rupanya mereka ini seperti biawak betina.


" Kalian panggil kami ?" ujar salah satu dari mereka.

__ADS_1


" Iyalah, memangnya siapa lagi biawak di sini selain kalian?" ujar Jack kesal.


" Memangnya kita kenal?" ujar salah satu senior Lily, panggil saja mereka Jeje dan Wiwin.


" Apa kalian tidak pernah mengaca sebelum mengatakan orang lain gatal dan murahan?" Dex menarik keduanya masuk ke dalam mobil.


Jeje dan Wiwin meronta melepaskan diri, tapi Jack dan Dex mengikuti keduanya dengan kencang sampai tidak bisa bergerak.


" Bawa ke rumah bordil saja, aku ingin tahu harga mereka!" ujar Jack.


keduanya membawa 2 biawak itu untuk dijual di tempat yang jauh.


Keduanya sudah menangis, namun karena mulut mereka di sumpal kaos kaki jadi hanya terdengar rintihan keduanya.


Keduanya pun dijual di tempat pelacuran oleh Jack dan Dex dan hanya laku 500 ribu saja.


" Lumayan, untuk uang bensin kan Jack!" ujar Dex senang.


Keduanya sudah menyingkirkan 2 biawak itu untuk Emily, jadi tidak akan ada yang mengganggu Emily lagi, tadinya kalau 2 senior itu cantik mau buat main-main dulu oleh Jack dan Dex namun rupanya mereka seperti biayawak, selera sopir-sopir saja itu.


Setelah itu Jack dan Dex kembali pulang, seperti biasa mereka melakukan aktivitas seperti biasa, karena mereka melakukannya dengan sangat rapi dan bersih jika pun orang tuanya lapor polisi juga mereka tidak akan terlibat.


Keesokan harinya kamar 2 biawak itu di cilik sampai ke telinga Lily dan 2 sahabatnya.


Lily pun menceritakan semua pada Jack dan Dex jika di tempat kursus nya ada 2 kakak senior nya hilang di culik.


Ketiga anak itu terlihat agak takut, bagaimana jika hal serupa terjadi pada mereka, entah bagian nasib kakak senior yang di culik itu.


" Lily, kau jangan pernah mau loe, diajak ngobrol dengan orang asing, nanti takutnya diculik, kau ini yang paling polos!" ujar Kristin.


" Hei, jangan menyakitiku, aku tidak mau di culik!" sahut Lily.


" Semoga kita dijauhkan dari orang-orang yang sudah menculik kakak Senior kita!" sahut Keinara.


Mereka tidak tahu 2 penculik yang mereka bicarakan justru berada di dekat mereka, bahkan tinggal satu atap dengan mereka.


" Jack, jika mereka tahu itu kita, apa mereka akan kabur sekarang?" bisik Dex pada Jack.


" Bahahaha, seru juga, tapi kasihan juga sebaiknya tidak diberitahu, lihat wajah tegang mereka, mereka cukup ketakutan." ujar Jack.


" Paman, kalian jangan keluar loe nanti diculik!" ujar Lily.


Keduanya malah tertawa terpingkal-pingkal.


" Lily dua pamanmu itu, siapa yang mau menculik? mereka saja sangat seram!" sahut Kristin.

__ADS_1


" Hahaha benar Lily, tidak ada yang berani menculik kami, kalian tenang saja, penculik itu tidak akan menculik kalian semua karena paman- paman di sini!" tegas Dex menenangkan mereka.


Sementara Jack masih tertawa.


__ADS_2