
" Wah merepotkan berhubungan dengan Abg sepertinya aku akan berpikir dua kali lagi deh!" ujar Jack.
" Bahahah, begitu saja menyerah kau Dex!" Sahut Jack.
" Sudah kita fokus saja dengan menjaga Lily, sambil cosplay menjadi Tuan, saat diperlukan." ujar Dex.
Jack mengangguk mengerti.
Setelah Bryna berpamitan, Jack dan Dex segera mengajak trio kwek-kwek itu untuk pergi bermain, kemana pun yang mereka inginkan.
Tentu saja agar Lily teralihkan oleh rasa cemburunya pada Gala yang dia sendiri tidak tidak tahu sedang cemburu.
Sementara di kediaman Gruvy.
Kirana masih berusaha menembus hati Gala, dengan segala cara yang dia bisa.
Dia hanya berusaha semampunya saja, sampai dia lelah sendiri dengan keinginannya.
Zidan mulai khawatir dengan nonanya ini, bagaimana bisa dia begitu keras kepala, takutnya ini akan membuat nonanya terobsesi dan akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Ketua pasukan putih itu.
" Nona, ... sudahlah Nona, ini sangat melelahkan, Tuan Gala bahkan tidak melirik anda sedikit pun!" ujar Zidan.
Zidan terus menasehati nonanya agar tidak salah jalan, apalagi ayahnya sedang dalam masa pencalonan, yang dalam artian masih rawan-rawannya.
" Aku tahu batasannya." jawab Kirana.
" Apa anda sudah yakin tidak salah lagi?, bagaimana dengan Panglima?" tanya Zidan.
Zidan bermaksud membuat hati nonanya ragu agar mundur.
" Aku sudah yakin Dan, aku jatuh cintanya pada Tuan Gala, bukan pada Panglima, karena saat itu mengira dia adalah Tuan Gala." ujar Kirana.
Zidan malah di buat syok dengan jawaban Nonanya yang diluar BMKG nya.
Akhirnya setiap hari Kirana membuat keributan yang mengharuskan Gala selalu maju untuk melindunginya.
Karena tugasnya melindungi tentu saja Gala selalu menjadi garda terdepan, sampai di kejar anjing, di kejar Ayam, di kejar katak, sampai di kejar semut pun Gala maju melindungi Kirana.
" Nona, sudahkah kau mencari keributan?, ini bukan waktu - waktu untuk anda bercanda dengan saya!" tegas Gala.
" Aku tidak bercanda!" Kirana langsung menyangkal.
__ADS_1
" Lalu di mana Zidan, apa dia ini makan gaji buta?" tanya Gala pada Kirana.
" Kan sudah ada Tuan, jadi aku minta Zidan mengerjakan tugas ku." jawab Kirana jujur.
Jujur saja Kirana ini sangat lucu, cantik dan menggemaskan saat sedang mencari perhatian pada Gala. Tapi sayang sekali Gala tidak tertarik karena menurutnya Emily masihlah segalanya untuknya, apalagi masalah cemburu kemarin saja, sangat lucu.
Tidak ada manusia selucu Emily nya.
" Nona, lain kali jika bercanda aku tidak akan menolong anda!" tegas Gala.
" Tidak aku tidak bercanda loe Tuan." karena menurut Kirana itu tidak bercanda.
Gala pun membuka pintu mobil untuk Kirana, namun saat akan masuk tiba-tiba pundak Kirana kejatuhan ulat dari atas.
" Ah, ah, ah, Tuan tolong ... " Kirana melompat kesana kemari sampai jingkrak - jingkrak kar ulatnya tidak jatuh -jatuh.
" Nona tenanglah bagaimana saya membantu jika anda begitu!" ujar Gala.
Saat seperti itu Kirana mengingatkan Gala akan Lily yang juga gulung-gulung karena mengira dirinya sakit parah setelah dicium Gala, Gala pun tersenyum tanpa di sadarinya sambil mengambil ulat itu dari pundak Kirana.
Astaga Tuhan, dia tersenyum?, dia tersenyum di depanku?, Tuhan bagaimana bisa ada makhluk begitu sempurna seperti dirinya.
Tentu saja Kirana langsung klepek-klepek karena untuk pertama kali dirinya melihat Gala yang berwajah poker itu tersenyum begitu tampan tiada tandingan dan membuat hatinya meleleh ke sana kemari.
" Sudah Nona ... " Ujar Gala, melihat Kirana terpesona olehnya Gala langsung kembali kesetelan pabrik.
Kirana langsung pingsan.
" Nona ... " Gala segera membawa Kirana ke rumah sakit karena melihat kulitnya mulai bintik-bintik.
Rupanya dia kena bulu ular gatal itu dan membuat tubuhnya yang sensitif itu langsung panas dingin dan kemerahan.
Setelah selesai mendapatkan perawatan, dan Kirana sudah merasa membaik.
Gala pun membawa Kirana kembali, dan Gala langsung menghadap pada Kennan untuk meminta maaf karena tidak bisa menjaga Kirana dengan baik.
" Saya sebenarnya merasa tidak enak hati dengan kelakuan anak saya, malah anda yang selalu datang meminta maaf pada anak saya." ujar Kenan.
" Karena saya lalai Tuan." ujar Gala.
" Anak itu memang sulit di atur, jadi maafkanlah segala ketidak baikkan yang dia perbuat!" berkali-kali Kenan mengatakan hal itu pada Gala karena memang anaknya adalah biang masalah.
__ADS_1
" Ya, sudah tugas saya." Gala hanya menjawab dengan singkat.
"Saya tetap mempercayakan keamanan keluarga saya pada Anda." ujar Kenan.
" Selama kita masih satu tujuan tentu keluarga anda tetap aman, namun jika tidak sejalan maka kita akan menjadi lawan." tegas Gala.
" Tuan, anda mengatakan hal ini karena kemarin saya bertemu dengan beberapa kaum penjilat itu, tenang saja saya tidak akan berbalik arah Tuan." Kenan tentu saja tidak akan melepaskan pegangan sekuat Gala dan Panglima dia orang pintar buka orang bodoh.
" Baiklah kalau anda sudah tahu, maka tidak ada yang perlu saya bicarakan lagi!" Gala pun segera pergi.
Kenan pun bernafas lega, rupanya memang dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari pasukan putih.
" Haduh, bagaimana bisa putriku ini bermain-main dengan Tuan Gala, aku sungguh mengkhawatirkan semua ini, benar - benar membuat orang tua tidak bisa tenang sama sekali anak itu." Kenan di buat pening oleh putrinya.
Gala pun keluar dari ruangan Kenan, dan berjalan ke luar.
" Tuan, ..." panggil Kirana.
Terlihat Kirana hanya mengenakan dress tipis keluar, Gala segera melepaskan jaketnya dan merangkapkan pada Kirana.
" Nona, ini hanya sebuah bentuk pengabdian, bukan sebuah perhatian, di luar dingin anda harus segera masuk ke dalam." tegas Gala.
Gala tidak ingin Kirana salah paham dengan apa yang dia lakukan padanya.
" Ya ... " Kirana berbalik masuk dengan wajah tersenyum, apapun yang di katakan Gala hanya akan menjadi angin lalu untuk Kirana, karena perlakuan Gala berbeda dengan ucapannya.
Gala selalu ada dan siap siaga menjaga Kirana, dan lagi tadi Gala sempat tersenyum pada dirinya yang membuatnya terbayang - bayang wajah Gala yang begitu tampan.
Bukannya Kirana mundur malah akan menginjak gasnya sedalam menungkin untuk mengejar Gala, karena semua tidak tahu jika tidak berjuang sampai akhir.
" Tuan Gala, ..."
" Apa Zidan?" Gala tahu Zidan memperhatikannya setiap kali di kediaman Kenan.
" Jangan memberikan perhatian kecil seperti itu, Nona ku akan semakin salah paham." ujar Zidan.
" Kalau begitu, kau jelaskan padanya!" jawab Gala.
" Sudah tapi dia sangat keras kepala, bisakah anda memberikan pengertian yang lebih jelas, agar dia tidak terluka dalam." Zidan sangat khawatir dengan Kirana.
" Kau menyukainya bukan?, maka perjuangkanlah!" tegas Gala segera pergi meninggalkan Zidan yang ketahuan oleh Gala jika dirinya menyimpan rasa dengan nonanya.
__ADS_1