CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN

CINTA DARI SANG, KOMANDAN BAYANGAN
74. Kesempatan


__ADS_3

" Bara, kau ini kenapa tidak bisa sedikit bersahabat, dia berguna untuk kita!" ujar Gala.


" Siapa?, Bonnie?, karena dia pintar membuat senjata?, bagaimana kalau kita cari yang lebih ahli lagi?" tanya Bara.


Bara sangat tidak puas dengan Bonnie.


" Lebih baik?, mau tunduk atau tidak?" tanya Gala.


Bara terdiam, benar juga mungkin para ahli itu sulit untuk di tundukkan.


" Bonnie itu bukan orang yang sulit di ajak kompromi, dia sangat mencintai Deya, apa kau tidak mengerti?, kau ini sungguh kaku Bara." tegas Gala.


" Memang begitu bawaanku!" Ujar Bara cuek.


" Sudahlah, aku tidak mau mendebatmu!"


Gala pun segera pergi.


Sementara itu Bonnie menemui saudaranya yang sudah ditangkap dan mendapatkan siksaan dari anak buah Bara.


" Beno, apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Bonnie.


" Tidak, kau tidak usah memikirkan ku, selamatkan dirimu sendiri!" ujar Beno.


" Aku memang tidak bisa menyelamatkanmu Beno, maafkan aku!" ujar Bonnie.


" Aku sudah tahu konsekuensinya, aku akan menyusul Ibu dan Ayah, apa yang ingin kau sampaikan padanya, aku akan memberitahu mereka." ujar Beno.


Bonnie memeluk saudaranya itu, Bonnie tahu jika dia melakukan semua ini juga karena terpaksa, tapi semua perbuatan ada pertanggung jawabannya.


" Kenapa kau melakukan semua ini, aku hanya punya Kau Beno, dan aku masih sama tidak bisa melindungi keluarga ku dengan baik!" ujar Bonnie.


." Sudahlah, aku senang kau memilih sandaran yang benar, aku yang salah, karena memilih sandaran yang tidak kokoh, kau menyukai adik Panglima, maka menikahlah dan bahagialah, jangan memikirkan ku!" ujar Benno.


" Maafkan aku, aku sangat egois Benno!" ujar Bonnie.


" Aku mau makan buah apel, aku mau makan makanan kesukaan kita rendang, penjaga bilang aku bisa menikmati hidup baik sebelum aku dieksekusi, tapi aku sebenarnya ingin melihatmu menikah Bonnie, tapi sepertinya itu tidak mungkin ya." ujar Benno.


" Setelah aku menikah, lalu melihatmu di eksekusi, apa kau ini sudah gila?, bagaimana bisa aku bahagia atas pernikahanku Benno!" ujar Bonnie.

__ADS_1


" Baiklah, aku tidak akan melihatmu menikah!" Beno mengusap kepala Bonnie.


Adiknya itu sudah tumbuh menjadi anak yang kuat, dan tahu memilih mana yang baik dan benar, tidak seperti dirinya yang sudah salah jalan, dan kini hidupnya tidak akan lama lagi.


" Bennoo, aku akan membelikan apa yang kau mau, tunggu ya, nanti kita makan bersama, aku juga akan beli obat untuk lukamu!" ujar Bonnie.


Bonnie pun segera pergi untuk membelikan makanan dan obat untuk saudaranya itu.


Tapi sebelum itu dia menemui Gala lagi, dia masih ingin ada perubahan dalam hukuman saudaranya.


Bonnie mendatangi Gala di kediaman Jimmy.


" Ada apa lagi Bonnie?" tanya Gala.


Bonnie langsung berlutut pada Gala, dan memohon untuk memberikan keringanan lagi untuk saudaranya.


" Bukankah sudah sepakat?, kenapa kau memohon lagi padaku?" tanya Gala.


" Tuan, tolonglah sekali ini Benno adalah orang yang setia, meskipun dia salah dia juga tidak kabur dia langsung pasrah saat ditangkap anak buahmu, dia tahu perbuatannya salah makanya dia tidak melawan." ujar Bonnie.


" Lalu aku harus apa?" tanya Gala lagi.


" Tolong bebaskan dia dan ajak dia menjadi anak buahmu, dia mau menjadi pasukan berani mati untukmu Tuan." ujar Bonnie membujuk Gala.


" Dia sangat pintar, dia hanya berlagak seperti itu, dia lebih kuat dari Bonnie, Benno sangat kuat dalam bertempur sedangkan Bonnie tidak!" ujar Bonnie.


Gala terdiam, selama ini dia belum mengamati saudara Bonnie karena tidak nada waktu untuk hal itu.


" Oh, begitu? ... Kita lihat nanti saja, apakah bisa dia merubah niatku, aku akan mengamati nya sendiri, dia akan aku eksekusi jika memang tidak memuaskan ku, tapi jika dia ada nilai plus aku akan mempertimbangkan lagi, tapi hukuman ganas tetap akan menantinya, meskipun dia terbebas dalam kematian!" ujar Gala.


Bonnie terlihat cukup senang dengan ucapan Gala, dia segera mengucapkan terimakasih banyak pada Gala, dan berjanji akan setia sampai akhir hidupnya nanti.


" Sudahlah, kau pergilah temui saudaramu itu, beri makan dia dengan enak, sebelum keputusan ku jatuhkan nanti!" tegas Gala.


Bonnie segera berdiri dan pamit, dia terlihat sangat bahagia meskipun hasilnya belum jelas, tapi setidaknya ada seberkas harapan untuk saudaranya.


" Merepotkan orang-orang ini!" Gumam Gala.


Gala sebenarnya sangat merindukan Lily, tapi keadaan masih tidak beres, Gala takut jika memaksa menemui Lily, Lily akan terseret dalam masalah.

__ADS_1


" Tuan, beberapa oknum yang hendak menghadang jalannya kotak Suara sudah kami ringkus dan sudah kami amankan." Lapor anak buah Gala.


" Iya, sudah di amankan dulu lalu diintrogasi, dengan jelas dan detail apa rencana mereka sebenarnya!" ujar Gala.


" Baik, hanya itu Tuan, kalau begitu saya pamit !" Ujar Anak buah itu segera undur diri.


Sementara itu di kediaman Leon dan Tantan.


" Kau sudah baikan?" tanya Leon pada Zidan.


" Terimakasih karena sudah memberikan saya kesempatan hidup Tuan." ujar Zidan.


" Zidan Anggota dari BIN sudah mati, kini sekarang namamu adalah Haiden Zang!" tegas Leon.


" A--a--apa ?, kenapa saya memakai marga anda?" tanya Zidan bingung dan terkejut.


" Kalau tidak mau, aku masih bisa mengubahmu menjadi mayat!" tegas Leon.


" Ta--tapi Tuan, itu sangat berat, saya bukan siapa-siapa, saya tidak pantas sama sekali!" ujar Zidan.


" Mau kau jadi Heiden, tidak kau jadi mayat, hanya 2 itu pilihanmu!" tegas Leon.


" Tapi bagaimana dengan keluarga saya?" tanya Zidan.


" Mereka hanya tahu kau sudah gugur, kau lebih baik tidak berhubungan dengan keluargamu, agar mereka tidak ikut terseret urusan mengerikan!" ujar Leon.


" Jadi saya harus putus hubungan dengan keluarga saya?" tanya Zidan.


" Ya, itu lebih baik karena Zidan sudah mati ini akta kematian Zidan!" memperlihatkan pada Zidan, sejak awal Leon sudah mengincar Zidan, jika putranya tidak mau, dia mau mengambil Zidan untuk di didiknya.


" Sudahlah kau ku beri waktu 1 hari untuk memutuskan, mau mati atau tidak!" tegas Leon, saat Leon berbalik, Zidan langsung menyetujuinya.


" Apa?, yang jelas?" tanya Leon.


" Tuan saya mau menjadi Heidan, saya akan setia dan menurut pada anda!" ujar Zidan sungguh - sungguh.


" Bagus panggil aku Ayah mulai sekarang, istirahatlah, kau juga harus memanggil istriku Ibu mulai sekarang juga." Leon segera pergi.


Dia sangat senang karena mendapatkan Zidan ditangannya.

__ADS_1


" Sekarang aku malah menjadi putra dari mantan Panglima Perang, apa aku ini pantas?" gumam Zidan.


Tapi dia sudah setia mati-matian pada Kirana, rupanya Kirana malah tidak melihat kesetiaannya, bahkan memintanya mati untuk hidupnya, benar - benar menyakitkan hatinya.


__ADS_2