
"Deya, apa yang kau tertawakan?" tanya Boni.
Deya menggeleng kepala.
Tiba-tiba ada seorang awak kapal menabrak Deya.
"Hei, apa matamu itu katarak!" teriak Boni.
"Tidak apa Kak, kita lanjutkan perjalanan saja." Deya mendorong Boni untuk melanjutkan jalannya.
"Nona maafkan saya." ujar orang yang menabrak Deya tadi.
"Iya tidak apa-apa, sepertinya anda lelah." Ujar Deya sambil memberi kode aman pada orang itu.
Karena orang itu adalah Bara abangnya.
"Bara, kau seharusnya menabrak Bonito itu sampai tercebur ke laut, ngapain kau menabrak Deya!" Gala yang masih terhubung langsung mengomel.
"Abisnya muka Deya malah di centil-centilkan membuat kesal saja, bagaimana bisa wanita begitu sembrono." Bara masih mengomel.
"Deya, kau tidak boleh centil - centil!" tegas Gala.
Deya sedari tadi hanya menahan tawa, mendengar dua kakaknya mengomelinya, rasanya sangat menyenangkan karena dipedulikan. Sudah lama sekali mereka tidak bekerja sama. Sayangnya kurang Oddie.
Saat di perbatasan mereka pun akan berpindah kapal ditengah laut.
"Kak, toilet mana ya?" tanya Deya.
" Aku antar ya." ujar Boni.
" Beritahu saja arahnya." ujar Deya.
Salah satu rekan Boni langsung memberi arahan pada Deya.
"Kak aku mau BAB, kasihan kelamaan kalau menunggu, aku segera kembali Kak." Deya segera menuju toilet, Bara pun mengikuti Deya ke toilet.
Mereka segera masuk ke dalam toilet dan mengunci.
"Abang sepertinya kita akan memasuki perairan tetangga, Abang apa sudah siap menyusup ke kapal?" tanya Deya.
Bara segera mengenakan baju selam simple nya, lalu memasang alat komunikasi agar aman dan terus bisa berkomunikasi.
Setelah sudah berganti pakain Deya melihat keadaan di luar lalu segera memberitahu Bara segera keluar, namun tiba-tiba Boni muncul.
"Deya." panggil Boni.
"Bahaya." Deya keceplosan karena terkejut.
__ADS_1
"Apa yang bahaya, Deya." Boni langsung menghampiri Deya karena khawatir.
Bara langsung bersembunyi di balik pintu.
"Tidak kak aku sedang main game tadi, karena udah kebiasaan kalau di toilet harus pegang ponsel." Deya langsung mematikan ponselnya dan memasukan di saku.
"Ayo, kita akan segera berganti kapal." ujar Boni menggandeng tangan Deya.
"Bajingan itu benar-benar ingin mati." Bara yang melihat adiknya digandeng benar - benar langsung darah tinggi.
"Apa, apa?" Gala menyahut dari sana.
" Dia memagang tangan Deya, kau harus memotong tangannya nanti Gal." ujar Bara.
Deya benar - benar kacau dengan kedua abangnya bukannya fokus misi malah fokus pada hal yang tidak penting.
" Uhuk, uhuk. " Deya memberi kode pada Bara jika aman.
Bara segera keluar dan berlari menceburkan diri.
" Oh, banyak kapal?, kapal kita yang mana Kak?" tanya Deya.
"Iya, kan kita kerja sama dengan negara tetangga, kapal kita yang 402, ayo bersiap kita akan melompat, apa kau bisa?, jika tidak aku akan menggendongmu." Boni sangat perhatian pada Deya.
"Berani kau menggendong Deya, aku akan memutilasimu." ujar Gala.
Deya malah mengulurkan kedua tangannya untuk di gendong, dengan senang hati Boni langsung menggendong Deya bak seorang putri. Boni benar - benar terlihat keren saat melompat ke kapal lain.
"Wah, kakak Boni keren sekali." puji Deya.
Mendengar Deya memuji Boni membuat Bara tak tahan ingin segera keluar dan menghajar Boni.
"Bara, tenanglah jangan mengacau." Gala mengingatkan.
Bara langsung mengurungkan niatnya.
"Kak, apa masih jauh ?" tanya Deya.
"25 menit jarak tempuhnya." jawab Boni
"Kenapa tidak banyak orang?, apa hanya ada nahkoda?" tanya Deya terus untuk memberikan informasi pada kedua abangnya.
"Ada, tapi mereka sedang istirahat selama 10 menit." ujar Boni.
"Deya kau berada di sisi kapal mana?" tanya Gala.
Gala tahu Bara tidak bisa berbicara di dalam air.
__ADS_1
"Kak Boni, di sisi kanan ini anginnya cukup kencang ya?"
ujar Deya.
" Kita masuk saja jika kau dingin." ujar Boni.
Deya menggeleng kepala.
Bara segera mengambil sisi kiri Kapal, lalu melihat keadaan sekitar bagian kiri. Segera mengambil trol tali yang bila mana di tekan dia akan mengait kapal dengan kuat dan sempurna.
Bara perlahan segera naik, dan menyobek baju selam tipisnya. Lalu mengendap perlahan untuk memasuki kapal, untuk mencari tempat persembunyian.
25 menit kemudian mereka sampai di sebuah Pulau kecil. Namun Pulau itu tidak terlihat seperti pulau pada umumnya. Karena sangat sepi dan semua yang ada di sana hanya orang - orang yang mengenakan baju yang sama itu bisa dihitung dengan jari.
"Mereka siapa?" tanya Deya
"Mereka adalah pekerja di sana, itu adalah pulau terbengkalai yang kami buat menjadi tempat pembuatan senjata dan juga bom." ujar Boni.
Menakjubkan, jika tidak bisa menaklukkan Boni dan anak-anak buahnya itu sangat di sayangkan oleh Bara.
"Tempat ini ilegal ya Kak?" tanya Deya.
"Benar, kami tidak ada tempat di negara kita, kau tahu kekuatan militer dan aturan negara sangat ketat, aku sangat sulit melegalkan rakitan dan senjata ku di sana, mencari tempat yang aman untuk merakit saja tidak ada yang ku rasa aman, karena semua pulau, hutan gunung tempat yang tidak terjangkau dari masyarakat pun tetap ada penjaganya."
keluh Boni.
"Aku tidak tahu aturan di negara kita, aku besar di luar negeri." ujar Deya.
"Kalau di Amerika aku malah bisa menjual langsung pada negaranya, tapi itu hanya senjata-senjata umum saja." ujar Boni.
Tidak ada yang ditutup-tutupi oleh Boni pada Deya, karena Deya benar - benar terlihat sangat natural dalam aktingnya, begitu asyik, sangat hamble.
Mereka segera turun dari kapal, dan berjalan memasuki Pulau. Bara sepanjang perjalanan mengukur jarak dari awal naik kapal sampai ke pulau itu.
Bara memberitahu jarak pada Gala, sementara Deya memberitahu perkiraan jumlah orang yang ada di pulau itu. Gala pun segera membuat perhitungan untuk menempuh dan membawa beberapa pasukan ke pulau itu.
Setelah sudah matang dengan perhitungannya, Gala segera mengerahkan beberapa pasukan menggunakan satu pesawat untuk mengangkut 30 orang dan Gala segera kembali ke markas dia membawa 3 orang bersamanya menggunakan helikopter menuju titik yang sudah di tentukan.
Bara memerintah anak buahnya untuk menunggu dengan beberapa kapal perbatasan.
Setelah Deya memberi kode siap, Gala memerintahkan bawahnya untuk melompat, begitu juga dengan Gala.
Mereka akan terjun menggunakan parasit dan mendarat di pulau itu.
"Apa itu?" Boni agak terkejut, tiba-tiba ada beberapa orang terjun payung di atas pulau itu, sedang mereka tidak melihat ada pesawat atau pun helikopter, dari mana mereka datang itu sangat mengejutkan Boni.
Karena semua fokus ke atas, Bara pun segera turun dari kapal dan masuk ke dalam Pulau dan bersembunyi di tempat yang dirasanya aman.
__ADS_1
Boni terlihat sangat terkejut, lalu menarik Deya untuk bersembunyi, Boni tetap tidak mencurigai Deya. Padahal Deya lah mata-mata di depan mata.