
Mereka menghabiskan waktu bersama dengan sangat bahagia.
Setelah itu Gala mengembalikan Oddie kembali ke distrik, sebenarnya juga berat untuk Lily berpisah dengan Oddie lagi, namun Oddie sekarang adalah bagian dari militer.
Gala dan Lily pun pulang dan beristirahat.
Di perbatasan.
Boni dan Deya benar-benar membantu mengawasi pembangunan di sana, dan sudah banyak relawan dari berbagai tempat datang untuk mengajar di sana.
"Abang bilang kita sudah bisa pulang Kak!" ujar Deya.
"Ya, ayo segera berkemas." ujar Bonie.
Saat mereka berpamitan anak-anak malah menangisi mereka, karena tidak mau berpisah dengan Deya dan Bonie.
Deya dan Bonie pun berusaha menenangkan dan menghibur mereka dan juga berjanji akan kembali mengunjungi mereka.
Akhirnya merekapun mau ditinggal oleh mereka, Deya dan Bonie pun segera kembali ke kota dan melaporkan semua pada Jimmy.
Bonie pun kembali ke tempatnya dan Deya kembali ke kediaman Jimmy setelah mandi Deya segera lari ke kamar Saga, menggendong mencium Saga sampai Saga dibuatnya menangis.
"Anak ini pulang-pulang malah bikin adiknya menangis!" ujar Jimmy.
"Gemas Dad!" ujar Deya.
"Deya, kau tidak tahu jika abangmu ada yang mengejar-ngejar?" tanya Ria pada Deya.
" Hah?, kon di kejar-kejar Mom?" Deya tidak mengerti maksud Ria.
" Ada seorang gadis yang tergila-gila oleh abangmu!" jelas Ria.
"Wah, siapa itu?, aku harus tahu dia layak tidak untuk jadi adik iparku!" ujar Deya.
"Dia, kau dan Lily adalah tipe yang sama tahu kau tahu Baratha abangmu paling tidak menyukai gadis berisik!" ujar Ria.
"Abang itu tidak asyik Mom, ya begitulah seleranya pasti yang penurut dan mudah diatur, dulu Ayah juga begitu tapi dapatnya juga ibuku!" ujar Deya.
Tentu saja karena Deya itu adalah kloningannya Suzy sedangkan Baratha itu kloningan ayahnya Petter.
Ria tertawa mendengar ucapan Deya.
" Ya bilangin abangmu, hati-hati jangan terlalu membenci anak itu, nanti malah jadi cinta!" ujar Ria.
" Ok." Deya pun segera menuju kediaman Panglima tentunya sudah lama juga tidak ribut dengan abangnya.
Namun saat tiba di pintu gerbang terlihat ada wanita yang mengintip di balik pohon.
__ADS_1
Deya langsung memutar ke arah pohon itu dan menyorotinya dengan lampu mobilnya.
Deya keluar dari mobil dan berteriak
" Hei kau, apa yang kau lakukan!" teriak Deya.
Semua penjaga segera keluar dan mengepung wanita itu.
" Nona lagi, Nona lagi" celetuk salah seorang penjaga.
" Siapa dia?" tanya Deya.
" Dia wanita yang terus mengejar Panglima Nona!" jawab penjaga itu.
Deya langsung ingat dengan ucapan Ria, jadi wanita yang di maksud ibu angkatnya ada di depan mata.
"Bawa mobilku ke garasi, dan tolong bawa dia ke teras depan! " pinta Deya.
Mereka pun mengikuti perintah Deya, gadis itu diikat tangan dan kakinya.
Deya segera membuka laptopnya untuk mencari tahu identitas gadis itu.
" Nona ada satu lagi!" teriak pengawal membawa seorang pria masuk.
Rupanya itu Zidan pengawal dari Kirana.
"Kau ini bukan pengawal biasa, kenapa kau tidak tahu hukum di negara kita?" tanya Deya.
Zidan hanya diam saja, Deya mencari identitas Kirana Deya mengetahui jika Kirana anak seorang pengusaha kaya raya, matanya langsung berkunang-kunang tahu jika Kirana adalah anak dari orang super kaya.
" Lepaskan ikatannya, aku tidak tega bermain kasar dengan gadis kecil ini!" ujar Deya.
Tidak, tidak aku harus bersikap baik, barangkali anak ini cukup bisa dimanfaatkan.
Dalam hati Deya.
Pasti wanita ini sudah mengetahui identitas Nona, kenapa tiba-tiba berubah sikapnya begitu cepat.
Dalam hati Zidan.
"Ayo - ayo duduklah di kursi dengan baik!" Deya membantu Kirana berdiri dan duduk.
Kirana sangat bingung dengan perubahan Deya yang begitu cepat.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak menakutiku, hallo aku adalah Deya Narashima, aku adalah adik kandung Panglima Baratha!" Deya menyombongkan diri.
Kirana yang tadi bingung kini langsung berubah juga sikapnya menjadi patuh.
__ADS_1
" Ayo katakan padaku Nona, kenapa kau mengintip di kediaman Abangku?" tanya Deya.
"Maafkan saya Nona, saya sangat menyukai kakak anda, tapi rupanya dia tidak!" Kirana langsung memasang wajah tak berdayanya.
"Oh seperti itu, aduh tapi memang semua itu harus ada effort yang nyata Nona, abangku pernah jatuh cinta dan ... " Deya tidak melanjutkan perkataannya.
"Dan apa?" Kirana sangat penasaran.
" Aduh, saya jadi teringat sesuatu, Nona apa kau tahu sepatu terbaru dari Diorrrrr, aduh aku karena terlalu lama di perbatasan aku sepertinya kehabisan, padahal ukuran sepatuku 39 kira-kira apa masih ada ya?" ujar Deya mengode.
Benar saja wanita ini mata duitan, padahal dia adik dari seorang Panglima, apa dia kekurangan uang?
Dalam hati Zidan.
" Tenang saja Nona, aku akan membelikan sepatu Dioooorrrrr itu untuk Nona, tolong ceritakan semua tentang kakak anda, apapun yang anda minta pasti akan aku beli!" ujar Kirana.
Dalam hati Deya tertawa terbahak-bahak karena bisa memanfaatkan kisah abangnya untuk mendapatkan sepatu mahal.
"Nona, anda kenapa begitu baik sekali, tapi jika hanya sepatu tidak sekali tas dan kacamatanya itu seperti kurang klik kan Nona, uh nasib-nasib ..." Deya terus mengode tambahan.
Wah Dia ini benar-benar perampok tanpa senjata.
Dalam hati Zidan.
"Nona, kau dimanfa-- emmmm ..." Belum selesai bicara Deya langsung menyumpal mulut Zidan dengan melempar sepatunya.
Kirana terkejut dengan kecepatan dan ketepatan Deya, jadi dia percaya jika dia adalah adik Panglima.
" Aduh, pengawal anda kok tidak sopan Nona, memotong penbicaraan orang lain, pengawal seperti ini pasti sudah dikebiri abangku!" ujar Deya.
"Jangan hiraukan dia, saya akan membelikan kacamata, tas dan sepatu Dioooorrrrr, besok saya akan bawa barangnya!" ujar Kirana sungguh-sungguh.
"Jangan-jangan Nona, saya bisa beli sendiri kok, tenang saja hanya saja, ah sudahlah Nona lupakan saja, saya lepaskan anda, lain kali jangan datang lagi ke kediaman Abang saya!" ujar Deya.
" Nona, ini kartu nama saya, besok kita ketemuan di resto depan SMA Purwana saya akan bawakan sepatu, tas dan kacamata terbaru Dioooorrrrr, anggap sebagai tanda pertemanan kita!" Kirana memberikan kartu namanya untuk Deya.
" Nona, anda baik sekali, jika saya menolaknya maka saya sangat kurang ajar, besok jam berapa Nona?" tanya Deya berbunga - bunga.
" Jam 2 siang ya!" ujar Kirana senang.
" Oke, sekarang sudah sangat larut, sampai ketemu besok!" ujar Deya.
Deya pun meminta orang - orang abangnya untuk melepaskan Zidan.
" Wah Zidan, lain kali jangan ikut campur masalah tuanmu!" ujar Deya memperingatkan Zidan.
Zidan hanya mengangguk pasrah, Dia menyadari Deya bukan sembarangan orang yang bisa dia lawan dari cara melempar sepatu ke mulutnya saja itu sudah membuatnya down.
__ADS_1