
Setelah menjalankan rencana kedua, kini tinggal menunggu musuh bergerak dan membuka jalan untuk Gala dan Bara untuk segera mengakhiri.
Di kediaman Bong.
"Sialan, ini pasti ulah Mala yang bekerja sama dengan orang luar!" Bong sangat marah karena seseorang berani mengusik harta miliknya.
Tapi Bong tidak bisa mengetahui siapa yang sudah berani mencari masalah dengannya.
"Kalian semua tidak berguna, bagaimana bisa kalian tidak menemukan dalang dibalik ini semua?, kalian juga tidak bisa menemukan keberadaan Mala!" Bong sudah mendidih.
Jika dia tidak segera mengamankan hartanya yang lain dia bisa miskin dan tidak bisa mengendalikan bisnisnya lagi.
"Kalian harus memindahkan hartaku dengan baik ke luar negeri. " ujar Bong.
Anak buahnya tanpa berpikir panjang lagi, mereka segera memindahkan semua harta yang tersisa milik Bong, ke 7 negara terpisah.
Tapi, sayang sekali Gala dan Bara mengetahui semuanya, Gala langsung meraup semua kekayaan Bong dan menggantinya dengan emas - emas palsu dan juga uang palsu.
Gudang penyimpanan milik Gala.
" Gala, berhentilah menggilai harta rampasanmu ini." ujar Bara kesal.
Karena sedari tadi Gala, menghitung tidak habis-habis harta rampasannya dengan muka yang menyebalkan.
"Wah, Ibu pasti akan sangat bangga padaku, aku harus mengirimkan gambar kekayaanku padanya." Gala memotret semu emas dan uang dengan mata uang bermacam negara.
Bara tahu jika Gala akan sangat sulit diajak bicara jika sudah berhadapan dengan uang.
Bara langsung menyeret Gala keluar dari gudang.
"Apakah kau tidak mau menyelesaikan semuanya? " tanya Bara.
"Apa kau meremehkan kinerjaku? " tanya Gala .
"Hah, baiklah aku serahkan sisanya padamu." ujar Bara.
Bara merasa senang karena tidak perlu repot lagi mengurus masalah yang rumit itu. Tapi Gala langsung menyeret Bara ke mobilnya dan segera melajukan mobilnya dengan kencang.
"Sialan kau, kenapa aku ikut aku mau pulang." ujar Bara.
"Enak saja, kau yang mau jadi Panglima tapi tidak terlibat, apa kau kira aku ini pembantumu!" ketus Gala.
"Bukan begitu, aku harus melihat keadaan Mala." Ujar Bara.
Gala tak habis pikir dengan sahabatnya itu, seperti sahabatnya itu sudah jatuh hati pada Mala tanpa di sadarinya.
__ADS_1
Gala pun juga tidak memungkiri jika Mala adalah wanita cantik tanpa goresan sedikitpun, tapi dia bukanlah wanita baik-baik.
"Dia kemungkinan mengandung anak Daddy, kau tidak bisa menyukainya." ujar Gala.
"Aku menganggapnya seperti adikku sendiri, ada apa denganmu?" tanya Bara.
"Jelaskan padanya, jika kau hanya menganggapnya sebagai adiknya, kau tidak bisa memberikan harapan padanya." tegas Gala.
Bara terdiam, sebenarnya Bara sendiri juga masih sangat ragu dengan perasaannya, Bara juga tidak tega jika harus mengatakan hal itu pada Mala.
"Kau saja tidak jelas dengan perasaanmu, kalai aku sudah jelas aku sangat menyukai Lily aku sudah jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama." ujar Gala.
"Pedofil." ujar Bara.
"Jika aku Pedofil aku tidak akan menunggunya dewasa, aku akan mengambilnya tanpa ragu diusianya yang masih di bawah umur." Gala tidak habis pikir dengan Bara yang sembarangan berbicara.
Bara pun meminta maaf pada Gala dengan ucapannya, lalu bertanya pada Gala bagaimana rasanya jatuh cinta. Gala sendiri juga tidak begitu mengerti tapi dia ingat kata ibunya.
"Kata ibuku, jika kita merasa nyaman, dan tidak ingin jauh lalu ada rasa ingin melindunginya, dan memberikan apapun untuk membuatnya bahagia itu namanya jatuh cinta." ujar Gala.
"Apa benar seperti itu?" tanya Bara. Bara merasa semua yang dijelaskan oleh Gala itu ada pada dirinya untuk Mala.
"Mommy pasti juga melihat gelagatmu, tak masalah kau mau dengan Mala, tapi tunggu dengan jelas anak siapa yang ada dikandungnya." ujar Gala.
"Tidak masalah anak siapapun, jika bukan anak Daddy aku juga akan merawatnya." Bara seakan tidak mempermasalahkannya.
"Kenapa?, Daddy dan Mala kan tidak menikah." Bara merasa sangat kesal kenapa dia baru menyadari jika dirinya telah jatuh cinta dangan Mala.
Pembicaraan mereka terhenti seketika, kini saatnya mereka berdua memberikan serangan pada Bong. Bukti dan saksi sudah mereka dapatkan dan segera diserahkan pada kepolisian.
Bong pun segera diselidiki oleh kepolisian, Bong tidak pernah takut dengan polisi dan hukum karena dia merasa jika dia akan segera bebas dalam hitungan menit.
Dalam hal ini Gala sekalian saja menjadika. Bong sebagai umpan, untuk memancing para penegak hukum yang doyan sogokan.
Selama Jimmy masih menjabat aturan lama yang dibuat oleh ayah Gala akan tetap ada.
Bahwa kemiliteran bisa ikut campur dalam persoalan masyarakat, termasuk kasus yang ditangani pihak kepolisian.
"Tolong tangani kasus ini, aku akan mengirimkan beberapa kebutuhanmu aku akan mengurus semua utang istrimu." ujar Bong pada polisi yang menangani kasusnya.
Bong masih memiliki kaki tangan di luar untuj membantunya jika terjerat hukum, hal seperti ini bukan pertama kalinya dia terjerat hukum, sudah puluhan kali, tapi paling lama dia akan keluar dalam waktu 5 hari saja.
Tentu polisi yang menangani itu tergiur dengan tawaran Bong, dia tahu jika keluarganya juga terlibat hutang piutang untuk pengobatan anaknya. Berarti memang Bong adalah orang yang memiliki pondasi kuat.
Akhirnya polisi itu membantu Bong dalam menghilangkan beberapa bukti yang sudah ada ditangannya.
"Dia benar - benar membakar habis bukti kita, bagaimana ini Gala?" Bara sudah panik, jika bukti itu hilang maka usaha mereka akan sia-sia.
__ADS_1
"Hancurkan saja, aku masih punya salinan 1000 lembar, jika dia membakarnya lagi aku masih ada lebih banyak lagi, dan rekaman ini juga bukti." Gala menunjukkan kamera di tangannya.
Bara langsung bernafas lega mendengarnya.
"Tapi bukannya semua hartanya kau raup habis dan kau ganti dengan yang palsu?, bagaimana dia membayar polisi itu?" tanya Bara.
"Itulah pertunjukan menariknya, maka keduanya harus dibinasakan dengan segera jika hukum tidak bisa menegakkan mereka, maka aku yang akan turun tangan!" ujar Gala.
"Aku ingin lihat!" ujar Bara.
Bara dan Gala pun segera kembali ke kediaman Jimmy terlebih dahulu, karena pertunjukan itu masih butuh waktu beberapa hari.
"Kau bisa menemui pujaan hatimu, aku ingin pergi dulu." ujar Gala.
Gala pergi entah kemana, karena memang Gala tidak bisa berdiam diri terlalu lama di rumah.
Sementara Bara, semenjak ada Mala dia selalu ingin pulang terus menerus.
Tok tok tok
Bara mengetuk pintu kamarnya yang kini ditempati Mala dan semenjak Mala tinggal di sana Jimmy tidak pindah ke kediaman keduanya.
"Kakak sudah pulang?" Mala terlihat senang melihat Bara kembali.
"Aku melihat lampu kamarmu masih menyala, kenapa belum tidur?, kau tidak boleh sakit." ujar Bara.
"Aku menunggu Kakak kembali, aku tidak bisa tidur jika belum melihat Kakak." ujar Mala manja.
"Ya sudah aku temani kau tidur, kau harus segera tidur, ingatlah kau sedang mengandung anakmu." Bara menoel hidung Mala.
Wajah Mala langsung cemberut mendengar perkataan Bara.
"Bagaimana jika ini anak Kakak?, bukankah kita juga pernah berhubungan sebelumnya?" ujar Mala.
Bara langsung membungkam mulut Mala, karena Bara tahu jika itu tidak mungkin anaknya. Tapi Bara tidak tega memberitahu yang sebenarnya.
Bara membawa masuk Mala dan menutup pintunya. Dan melepaskan tangannya.
"Apa kakak tidak mau mengakuinya?, tidak apa-apa aku sangat mengerti profesi kakak, aku akan diam meskipun ini anak Kakak. " Ujar Mala yang memaksakan senyumannya.
Bara mendudukkan Mala di ranjang, lalu memeluknya.
"Mala, meskipun itu bukan anakku aku tidak akan meninggalkanmu, apa kau mengerti?" Bara mengecup kening Mala dengan lembut.
Bara sudah menyadari perasaannya, namun untuk saat ini Bara tidak bisa mengambil keputusan, karena itu akan sangat rumit, Bara tidak memberitahu perasaannya pada Mala, karena Bara mempertimbangkan beberapa alasan.
Alasan pertamanya adalah dia masih ingin fokus pada impiannya yang tinggal beberapa langkah lagi, lalu alasan keduanya karena masih tidak jelas di dalam kandungan Mala itu anak siapa. Bara tidak mempermasalahkan masalalu Mala, bahkan jika anak itu bukan anak Jimmy, Bara bisa menjadi ayahnya. Namun tidak dengan situasi sekarang.
__ADS_1