
"Gala, kau sudah kaya apa uang sedikit itu juga masih kau minta? " Bara benar-benar tak habis pikir dengan sahabatnya.
"Sedikit itu tetaplah uang, tetap harus kau kembalikan ingat 3 kali lipat." ujar Gala.
Dengan berat hati Bara pun segera melunasi hutang-hutangnya pada Gala.
"Sudah lunas, tolong bantu aku membelikan keset yang sama seperti punya Deya." ujar Bara mengingatkan.
"Berisik." Gala pun segera pergi.
"Abang Gal, Abang mau kemana?" tanya Deya yang baru keluar dari kamar.
"Ada apa Deya?" tanya Gala.
"Deya mau lihat-lihat kampus di sini Bang." Ujar Deya.
"Kau mau lanjut kuliah?" tanya Bara.
"Kenapa nggak boleh?" ketus Deya.
Bara benar - benar selalu dibuat emosi dengan jawaban Deya, padahal niat Bara itu baik.
"Hah, lupakan saja anggap aku tidak bertanya, aku mau bermain bersama Sagara!" Bara pun segera naik ke lantai 2 dengan langkah kesal.
Gala langsung menasehati Deya, untuk bersikap lebih dewasa lagi pada Bara.
"Deya juga tidak bermaksud menyinggungnya, Abang Bara saja yang baperan." ujar Deya.
"Deya, kau sebaiknya serius jika kuliah jangan main-main, sayang sekali uangnya kalau kau main-main, memang orang tuamu mampu, tapi juga jangan begitu seenaknya." ujar Gala.
"Iya Abang, tapi kalau tidak kuliah Deya sangat bosan." keluh Deya.
"Apa yang kau bosankan, bukankah kau berjanji menjaga Sagara?" tanya Gala.
"Iya, tapi kalau Saga, tidur siang aku bingung mau apa?, lagian Daddy dan Mommy sangat protek sekali, Deya tidak boleh memegang Saga sama sekali, hanya melihat saja." protes Deya.
"Kalau begitu ikut membantu Abangmu saja, memeriksa beberapa laporan dari bawahannya, nanti kau dapat uang." ujar Gala.
"Itu terdengar bagus." Deya pun setuju dengan pekerjaan yang diberikan padanya.
Tapi setelah Bara mendengarnya, Bara tidak akan setujui anak ceroboh seperti Deya, bagaimana bisa mengerjakan pekerjaan yang begitu penting.
"Gal, apa kau gila membawa Deya ke tempat kerjaku?" Bara benar - benar kesal.
"Deya, meskipun suka membuat onar tapi dia cukup cermat, dia memiliki bakat dalam meniru tulisan, daya ingatnya juga tidak buruk." ujar Gala.
"Bagaimana jika dia melakukan kesalahan?" Bara masih meragukan Deya, meskipun Bara tahu jika Deya memiliki bakat unik.
Tapi sedikit kesalahan saja, akan berdampak besar.
__ADS_1
"Sepertinya, dia juga sama sepertimu dalam mengerjakan misi pun kau juga tidak pernah tuntas." sindir Gala.
Bara langsung terdiam, karena semuanya yang dikatakannya fakta.
"Aku akan bertanggung jawab atas pekerjaan Deya.". Gala menjamin Deya.
"Kau terlalu mempertaruhkan dirimu Gal." Bara sangat tidak mengerti dengan penilaian Gala pada adiknya.
"Deya, tunjukkan pada Abangmu kau bisa melakukan pekerjaan dengan baik, jangan mengecewakan aku!" ujar Gala.
" Tenang saja Abang, semuanya akan baik-baik saja, Deya tidak akan mengecewakan Abang Gala!" jawab Deya sangat percaya diri.
Bara hanya memegangi kepala saja, dia tidak bisa berbuat apa-apa jika Gala sudah memberi ijin.
Gala pun memberitahu Deya apa saja yang harus dia kerjakan, dan jangan sampai salah.
Bara hanya mengamati Deya dan Gala yang sangat terlihat akur.
Sebenarnya, Abangnya itu dia apa aku?
-Dalam hati Bara-
Bagaimana bisa adiknya lebih menurut dengan Gala dari pada dengan dirinya.
"Anak pintar, besok akan ada beberapa laporan jadi hal seperti tadi tolong lakukan dengan jeli dan teliti oke?" Gala merasa senang karena dia akhirnya bisa bertemu dengan Deya setelah belasan tahun tidak bertemu.
Andaikan Gala bisa membawa Lily dengan segera ke kota, tapi Gala masih sangat sibuk, dia akan khawatir jika meninggalkan Lily tanpa pengawasannya langsung.
Gala sangat merindukan Lily.
" Abang Gal, ada apa?, kenapa kau murung?" tanya Deya.
"Tidak ada." jawab Gala.
"Dia merindukan kekasih hatinya!" sahut Bara.
"Abang sudah punya pacar?" tanya Deya.
"Ya, Emily adalah kekasihnya." sahut Bara.
"Abang pacaran dengan Emily?, tapi dia bukannya masih kecil?, mungkin masih 16 tahun kan?" ujar Deya.
Gala hanya tersenyum saja sambil mengusap rambut Deya.
"Kau bisa memulai pekerjaanmu sekarang, aku pergi dulu ya." ujar Gala segera pergi.
Kini di ruangan itu hanya tinggal Deya dan juga Bara.
"Abang, memangnya benar Abang Gal pacaran dengan Emily?" tanya Deya.
__ADS_1
"Kenapa, jangan bilang kau menyukai Gala." ujar Bara.
"Mana mungkin, Deya menganggap Abang Gal, seperti Abang sendiri, hanya saja Emily itu masih kecil apa tidak kelamaan menunggunya, keburu Abang Gal tua dong."
ujar Deya.
" Hahahahaha. " Bara tertawa mendengar perkataan Deya.
"Kau ini, apa sebaiknya aku coblangin ke beberapa temanku di luar negeri saja ya?" ujar Deya.
"Jangan ikut campur urusan Gala, Gala itu sudah permanen jatuh hati pada Emily, orang lain tidak akan tampak dimatanya." ujar Bara.
Bara mengerti, karena sudah tahu rasanya jatuh cinta, Bara tidak tahu cintanya pada Mala itu permanen atau tidak, tapi saat ini Bara tidak mau berurusan dengan wanita lagi.
Karena ditinggalkan itu sangat menyedihkan.
Bara hampir terpuruk karena cinta. Bara memutuskan untuk tidak menggunakan hati lagi kedepannya.
"Abang, kau juga tidak boleh menutup hatimu loe." Deya berdiri dan duduk di samping Bara.
"Kau anak kecil tidak usah menceramahi orang dewasa." tegas Bara.
"Tapi Deya lebih berpengalaman dari Abang, Deya sudah berganti kekasih berapa kali." ujar Deya.
"Apa kau bilang?" Bara terkejut.
"Abang, jangan gitu aku juga kalau pacaran ditemani kakek dan Aunty, setiap kali kita kencan mereka ikut, akhirnya paling lama pacaran juga sebulan." Ujar Deya.
"Pfffft, ... Baguslah, meskipun kau ini sangat menyebalkan, Abang tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu, bagaimana pun Deya itu adalah adik satu-satunya Bara, jadi kalau ada yang mau dekati Deya, harus dapat restu dulu dari Abang Bara dan Gala." tegas Bara.
"Tidak mau, masak harus begitu, terlalu lebai." Deya merasa bukan anak kecil lagi, jadi tidak mau terlalu dikekang.
"Muach, muach, muach ... " Bara mencium pipi Deya dengan gemas, meskipun sudah sebesar gaban, tapi di mata Bara Deya tetaplah adik kecil yang harus slalu dilindungi.
" Abang, tidak boleh mencium Deya begitu, Deya sudah besar." Deya mengusap pipi bekas ciuman Bara.
Bara malah mencium pipi Deya lagi sebanyaknya. Karena sudah kesal akhirnya Deya menonjok perut Bara dengan sekuat tenaga.
" Uhuk ... " Bara langsung terbatuk. Padahal sejak kecil Deya selalu malas berlatih fisik.
Bagaimana bisa dia punya kekuatan sebesar itu.
-Dalam hati Bara-
"Abang, selama di luar negeri aku juga berlatih bela diri, lalu Paman Leon dan Bibi selalu mengajari ku bertarung setiap kali datang mengunjungi kami." ujar Deya berbangga diri.
"Pantas saja, baru kau dan Gala yang bisa memukulku." ujar Bara.
Pantas saja Gala beriskeras membawamu masuk ke sini, rupanya dia sudah tahu kemampuanmu. Hah aku terlalu meremehkan Deya selama ini.
__ADS_1
- Dalam Hati Gala -