Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
Berdiri di kaki sendiri


__ADS_3

Hari ini terasa melelahkan buat Ros,setelah persidangan tadi Ros izin tidak masuk kantor lagi,Tian mengizinkan,dia menyadari mungkin Ros butuh waktu buat sendiri,dan Tian pun tidak terlalu banyak bertanya akan persidangan mereka tadi.


Ben langsung mengambil pakaian dan barang-barangnya di rumah yang ditempati mereka dengan Ros didampingi oleh pak Burhan dan 2 satpamnya,Ros hanya diam,tak sedikitpun niat untuk membantu Ben.


Diluar rumah tak jauh dari rumah mereka,ibu-ibu yang ada disekitar perumahan pun berkumpul sambil berbisik-bisik,ada yang menyalahkan Ros,ada yang menyalahkan Ben,ada pula yang hanya diam namun prihatin akan anaknya Ros.


Setelah semua selesai,Ben pun pergi bersama pak Burhan dan ke dua satpam tadi,yang membuat Ros kecewa,Ben sama sekali tidak menanyakan anak mereka,memang terlalu Ben,tak ada sedikitpun jiwa kebapakan nya,dan Ros hanya bisa mengurut dada.


Niatnya ingin menjemput putrinya,belum lagi naik ke teras mba susan sudah meletakkan jari teunjukknya di bibir,


"Sstttt,,,nanti aja jemput,baru tidur." dan Ros mengurungnkan niatnya,dan berbalik arah pulang ke rumah,mungkin dia butuh sendiri juga.


Sesampainya dirumah,ditutupnya pintu dan pergi menuju kamar,dan membaringkan tubuhnya,karena beberapa hari terakhir dia begitu stres,hingga Ben berhasil keluar dari rumah membuat hatinya sedikit tenang,di pejamkan matanya mencoba mengingat sedari awal pertemuannya dengan Ben.


Ros tidak pernah menyangka jika rumah tangga yang dibina nya selama dua tahun terakhir sedang berada di ujung tanduk,ingin mempertahankan tapi hati kecilnya tidak bisa dibohongi terlalu sakit mempertahankan orang yang tak mau menghargainya sedikit pun,menganggap dirinya yang terlalu bucin,atau orang bodoh yang siap menerima apa adanya seperti apapun perlakuan yang diberikan.


Dibukanya aplikasi WA nya,,iseng-iseng dimainkan jarinya buat status "berdiri dikaki sendiri,akan lebih kuat dan pasti semakin kuat" dan segera di posting,selesai diposting tidak segera keluar namun scroll-scroll melihat status-status di sana,dan terhenti di status boss barunya siapa lagi kalau bukan Pak Tian "merindukannya" dengan emot love yang banyak,Ros jadi geli melihatnya.


"Lebay juga nih si boss,,ganteng-ganteng tapi ngidap penyakit lebay" dalam hati ingin tertawa sekeras-keranya,setidaknya ada hiburan disaat hatinya kacau begini.


****


Di kantor Tian saat ini hanya sendiri,rencana hari ini ingin turun ke lapangan untuk kunjungan,namun urung dilakukan karena ingin tau penyelesaian masalah Ros,sengaja pak Burhan diminta melaporkan hasil persidangan antara Ros dan Ben ke dia,dengan berbagai alasan jika kenyamanan dan keamanan dari karyawan harus di utamakan,pak Burhan ya oke-oke saja,toh yang kasih perintah anak pemilik perkebunan.


Tian sedikit lega dengan berita yang disampaikan pak Burhan jika Ben saat ini sudah mengangkut semua barang-barangnya dan tinggal di salah satu perumahan kosong khusus staff tapi sudah jauh dari rumah yang ditempati Ros,dia senyum-senyum sendiri di ruangannya sambil menatap layar benda pipih miliknya,terlihat ada foto selfie Ros disana,terkadang diperbesar entah mau melihat apa,baginya Ros begitu sempurna,sesempurna cerita papa Musa dulu,dan dibukanya aplikasi WA nya,tak sengaja melihat postingan status WA Ros di urutan atas,"berdiri di kaki sendiri,akan lebih kuat dan pasti semakin kuat" tak disadarinya di tekannya balas dan mengirimkan emot penuh cinta,belum lama terkirim Tian tersadar dan segera menghapusnya,padahal diseberang sana sempat melihatnya di layar HP nya yang terkunci.


Dasar Tian yang tak bisa menyimpan perasaannya,dia mengagumi istri orang lain.

__ADS_1


Ternyata seharian setelah di tinggal Ros si boss ganteng ini tidak fokus sedikitpun dengan kerjaannya,beberapa rencana kunjungan ke beberapa Divisi pun ditunda,fikirannya hanya ke Ros,bahkan sebelum pak Burhan menyampaikan hasil sidang pun Tian menduga-duga Ros akan mengamuk memaki-maki Ben tanpa jeda,sambil membayangkan mimik wajah Ros seperti saat datang dengan kesal kepadanya kemaren,itu yang membuat bibirnya tak lepas dari senyuman,sebegitu menarik kah Ros di hadapan seorang Tian?hanya Tian lah yang tau.


****


Jam 9 malam,terdengar pesan WA masuk di HP Tian.


"Maaf Pak,tadi bapak kirim pesan ke saya,namun sudah dihapus,ada yang bisa saya bantu pak?"


Tian yang membaca pun kebingungan mau jawab apa,dan menemukan alasan,,


"Iya buk,tadi waktu lihat postingan ibu,secara bersamaan ada chat masuk dari sodara,saya balas,namun malah tak tau balas status ibuk,maaf ya buk,jika jadi salah paham" Tian pun berbohong.


"Oh,begitu pak,,baiklah,makasih,"


"Ibuk baik-baik saja kan?"


"Iya pak,saya baik-baik saja."


"Baik juga pak"


"Ya sudah,semangat ya bu,ibuk pasti akan lebih baik setelah ini"


"Amin,makasih pak"


Tian tidak lagi melanjutkan chattingannya,rasanya bingung mau ngetik apalagi,sedang yang di ajak chatt hanya membalas seadanya saja,


"Emang harus gimana Tian cara membalas chatt mu,harus sedikit manja,atau gimana?" Tian membatin dan mulai memijit kepalanya yang dirasa mulai error,benar-benar membuat fikirannya kacau,apa dia harus jujur ke Ros,sedangkan Ros masih sah istri orang,terus sabar sampai kapan?jangan-jangan nanti mereka balikan lagi,tinggallah Tian gigit jari dan pastinya akan kecewa kedua kalinya.

__ADS_1


Jika harus jujur ke Ros,akan ada harga diri yang dipertaruhkan,jatuh cinta dengan karyawan sendiri dan parahnya masih berstatus istri orang,gimana lagi nanti tanggapan karyawan-karyawannya jika sampai tau,apa harus pakai muka tembok kah?


Terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya,


"Pak,,"


ternyata suara pak Ujang yang bekerja di Paviliunnya,pak ujang bekerja khusus bagian Paviliun beserta istrinya.


"Iya,,"


"Makan malamnya sudah siap dari tadi ko bapak tidak makan-makan nanti keburu dingin pak,tak enak lagi"


Tian hampir melupakan makan malamnya,dan dilihatnya jam sudah menunjukan 9.15


"Iya pak,saya segera makan,ada pekerjaan yang harus diselesaikan" Lanjutnya berbohong dan segera bangkit dan beranjak membuka pintu,masih ditemui disana Pak ujang dengan kumis tebalnya tersenyum manis kepadanya.


"Jangan lama-lama makannya pak,tidak bagus sama kesehatan bapak" Pak Ujang sedikit menasehati "ibu udah dari tadi nyiapin makanannya,kami kerja disini kan untuk membantu menyediakan kebutuhan Bapak,takut jika nanti Boss besar sama Nyonya yg telepon menanyakan bapak tidak tau mau jawab apa" Tian hanya tertawa kecil mendengar kepolosan pak Ujang.


Pak Ujang dan istrinya bu Titik khusus ditempatkan di Paviliun ini,mereka sangat dipercaya oleh papanya Tian pak Musa untuk mengurus kebutuhan dan perawatan di Paviliun,sehingga saat ditinggal ber lama-lama pun kondisinya tetap baik dan terawat,dan Tian pun begitu menyukai kinerja mereka,setidaknya dia merasa terurus dan terbantu untuk menyediakan kebutuhannya sejak dia memutuskan menggantikan papanya di kebun.


Di meja telah tersedia makan malam untuknya,ada sop dan ikan gurame bakar,terasa menggoda selera makan nya,


"Yuk duduk pak,bu,makan sama-sama"


"Udah pak,dilanjut aja,tadi sudah makan" Pak Ujang berbohong.


"Kapan bapak makannya,udah stop dilarang menolak,sini bu duduk,,dan mulai hari ini dilarang panggil saya bapak,,soalnya saya belum bapak-bapak,dan kalo mau panggil nama saya aja,saya sudah menganggap ibu bapak pengganti orangtua saya disini"

__ADS_1


"Tapi pak,," bu titik merasa sungkan mereka di gaji seperti karyawan lain,terkadang pak Musa juga sering kasih tambahan diluar gajinya masa tidak hormat seperti itu,bu Titik ikut membantu suaminya bekerja karena mereka tidak memiliki anak,namun memiliki dua keponakan perempuan yang mereka besarkan sejak kecil sejak adik bu Titik bercerai dengan suaminya dan sejak saat itu juga tidak pernah bertemu adiknya atau mantan suami adiknya,saat ini keponakannya sudah berkeluarga dan ikut suami masing-masing sehingga mereka hanya berdua saja.


Akhirnya mereka makan bersama,walau masih canggung,tapi mereka merasakan ada kehangatan dari seorang anak Boss.


__ADS_2