
Dikiranya Rosa akan menertawai pengakuannya barusan, ternyata tidak, Rosa hanya tersenyum membuat pak Tian tidak merasa malu.
" Makasih buat kejujurannya, bagiku ciuman pertama atau ke berapapun itu tak penting, yang terpenting, kamu selalu memperlakukan aku baik."
Sesaat hening, kembali terasa ada kecanggungan diantara mereka.
" Mau ke dalam apa disini saja Sa?" Pak Tian menoleh ke arah Rosa.
" Penampilanku seperti ini."
" Emang harus seperti apa?"
" Ini kan hanya pakaian rumahan."
" Mau ganti baju maksudnya? aku bisa bawa kamu ke butik teman aku." Jawab pak Tian.
" Ohhh tidak,, bukan seperti itu maksudku, aku hanya merasa tak pantas berpakaian seperti ini saat bersamamu." Sedikit menyesal dengan pakaian saat ini, setidaknya tadi pakaiannya bisa yang sedikit lebih baik mengingat tadi Linda sudah menghinanya.
" Salahnya apa? ohhhh pantas dari tadi kamu selalu aja menekuk wajahmu saat kita di Resto,"
Rosa hanya bisa menggigit bibir bawahnya, dan tak berani menatap pak Tian.
" Kamu pikir aku malu?" Lanjut pak Tian seperti mengetahui alasan Rosa tidak mau masuk ke Mall.
" Bukan begitu, yang iya nya aku yang minder jalan sama kamu dengan penampilanku seperti ini."
" Rosa sayang, mikirmu jaaauuuuhhhh banget, lihat tuh mba Susan gak jauh beda sama kamu dengan pakaian rumahan nya, dia nyaman aja ko jalan sama mas Pur, dan mas Pur juga gak ada protes dengan pakaian mba Susan, lah kamu? yang melihat itu bukan kamu, tapi aku, aku yang menilai itu pantas gak nya, atau kamu pingin berpenampilan kayak perempuan tadi itu, hmmm siapa perempuan tadi?, dengan heels tinggi, make up tebal, baju kurang bahan." Pak Tian tertawa dan sedikit nyinyir dengan penampilan Linda.
" Bukan gitu, aku merasa minder aja jalan sama kamu, dan tadi sudah segitunya dikatai sementara kamu sangat modis dan tampan, opsss,," Rosa langsung menutup mulutnya dan memandang pak Tian.
" Hahaha Rosa, sekarang kamu baru akui aku tampan, dari kemaren-kemaren kek, padahal dari dulu udah cari perhatian kamu dengan ketampanan ku." Pak Tian dengan percaya dirinya kembali tebar pesona ke Rosa dan membuat Rosa kesal.
__ADS_1
" Ihh,, dasar, " Rosa mencubit paha pak Tian karena dibuat kesal dengan candaannya membuat pak Tian sedikit meringis karena merasa sakit karena cubita Rosa.
" Heiiii,, jangan marah dong, kan bercanda, percayalah, aku akan selalu membuatmu nyaman dimanapun kita bersama, aku suka kamu apa adanya, yang aku minta cukup kamu berikan hatimu juga cintamu untukku, dan kupastikan memberimu semuanya bahkan hidupku." Diraihnya lagi tangan Rosa dan diciumnya, " Cuma kamu Sa, tak ada yang lain, dan jangan ada kata minder atau apapun dari kamu"
Rosa hanya menatap mata pak Tian, ditemukan kesungguhan disana, dan dibalas dengan senyuman manis dan anggukan.
" Gimana masih mau masuk?"
" Hmmm,, oke"
Mereka keluar dari mobil dan memasuki Mall dengan bergenggaman tangan.
Ada sepasang mata yang melihat mereka memasuki Mall, sejak melihat keduanya keluar dari mobil dia tak bisa menutupi keterkejutannya dan pandangannya tak lepas hingga Rosa dan pak Tian hilang diantara orang-orang yang berlalu lalang, siapa lagi kalau bukan Ben, yang sedari tadi hanya di dalam mobil karena masih kesal dengan keributan yang diciptakan mamanya dan juga Linda, dia memutuskan hanya di mobil menunggu, Ben hanya memainkan ponselnya, namun tak mengetahui jika mobil yang disebelahnya adalah milik pak Tian, hampir tiga puluh menit sudah Ben bermain ponsel saat melihat Rosa dan Tian keluar dari mobil, padahal setahunya mobil pak lebih dulu parkir baru mobil yang direntalnya, Ben mengepalkan tangannya dan menduga Rosa dan pak Tian sudah sengaja keluar lama, dan melakukan perbuatan yang tidak-tidak, pemandangan yang membuatnya sangat cemburu, Ben cemburu dengan kehadiran pak Tian di kehidupan mantan istrinya.
Ben turun dari mobil rentalannya dan menuju mobil pak Tian untuk mengintip dari kaca pintu mobil keadaan di jok tengah dimana Rosa dan pak Tian keluar, terlihat rapi, dan kosong, benar mereka terakhir turun dari mobil.
Wajah Ben memerah karena marah.
Ben kembali ke dalam mobil, rasanya hari ini benar-benar membuat hatinya marah, tak Linda, mamanya pun ikut membuat kepalanya pusing, sekarang Rosa, jika bukan karena pak Tian anak pemilik perkebunan tempatnya bekerja, mungkin sudah dihajar nya pak Tian yang sudah berani menggandeng Rosa mantan istrinya, berbicara kasar ke mamanya dan menghina Linda kekasih hotnya.
Keributan tadi membuatnya takut di beri sanksi atau di berhentikan, jika dia sampai diberhentikan, akan hilang pemasukannya mengingat gajinya tidak mencukupi lagi sejak dimutasikan ke bagian pengadaan barang, loh ko ada pemasukan di luar gaji? Sedang kebutuhan mamanya dan Linda sangatlah besar, jika tidak mamanya bisa marah-marah sepanjang belum adanya transferan begitu juga Linda tidak akan mau melayani kebutuhan utamanya.
Saat Rosa dan pak Tian mencari keberadaan mba Susan dan mas Pur dari belakang terdengar ada yang memanggil.
" Ka,,, ka Tian"
Mereka bersamaan mencari asal suara dan menemukan seorang wanita muda cantik berusia sekitar dua puluh lima tahun dengan berpenampilan modis, dengan pakaian yang bermerk juga tas branded nya sudah ada bersama mereka, wanita itu sangat cantik, dengan make up minimalis, tanpa sungkan langsung memeluk pak Tian membuat genggaman tangan pak Tian telepas.
" Greta,, apa-apaan nih main peluk-peluk aja, malu tuh sama orang-orang pada liatin." pak Tian mendorong tubuh Wanita itu dengan pelan, takut tersinggung.
" Ka Tian sombong,, kangen tau " Wanita muda itupun cemberut melepaskan pelukannya, dilihatnya Rosa dengan pandangan tak suka.
__ADS_1
" Sombong gimana,, nih kenalin Rosa "
" Hai, saya Rosa, " Rosa dengan ramah mengulurkan tangannya, namun Wanita muda tadi serasa enggan menyambut tangan Rosa.
" Greta." Wanita itu menyebut namanya tanpa menerima tangan Rosa.
" Oke kami lanjut ya,, mau cari sesuatu, sampai ketemu lagi" Pak Tian menyadari ketidak sukaan Greta pada Rosa sehingga tak ingin berlama-lama berada di situasi seperti itu, di genggamnya lagi tangan Rosa dan meninggalkan Greta yang terlihat kesal karena merasa di abaikan.
Sementara Rosa dan pak Tian sudah bertemu dengan mas Pur dan pak Ujang yang sedang menemani Yola bermain di pusat permainan yang ada di Mall, dan tak lama mba Susan dan bu Titik juga smpai dengan troli berisi belanjaan yang tak terlalu banyak.
" Udah nih, kita belum pulang? " Mba Susan kelihatan lelah setelah belanja.
" Tergantung kitanya, udah jam lima lewat juga," Pak Tian menimpali.
Mas Pur menjemput Yola yang ada di seberang kolam bola, dan mengajaknya pulang.
Mereka berjalan beriringan, kali ini pak Ujang yang mendorong troli belanjaan hingga ke mobil.
Hampir jam enam juga saat mereka meninggalkan area Mall, dan melanjutkan perjalanan kembali ke perkebunan, yang pastinya akan sampai malam disana.
Seperti keberangkatan tadi Yola minta di pangku pak Tian, dan terlihat semua sudah kelelahan karena tak lama meninggalkan kota semua tertidur kecuali pak Tian dan mas Pur, sebenarnya pak Tian juga mengantuk karena kurang tidur namun merasa kasian dengan mas Pur yang sedang mengemudi, akhirnya mereka bercerita sepanjang perjalanan, hingga tiba di perkebunan sudah malam.
Berhubung perumahan staff yang ditempati Rosa lebih jauh maka pak Tian mengantar Rosa, Yola mba Susan dan mas Pur terlebih dahulu karena mereka tinggal di perumahan staff, sebenarnya mas Pur meminta pakai motor saja, namun ditolak pak Tian alasan Yola yang masih kecil terkena angin malam.
Tiba di perumahan, dibangunkan Rosa untuk membukakan pintu rumah, dan mba Susan mengeluarkan beberapa belanjaan yang dibelinya tadi, tak lupa makanan yang mereka bawa dari Resto di bagi mba Susan agar bu Titik tak memasak lagi malam ini.
Pak Tian mengikuti Rosa dari belakang dengan menggendong Yola yang masih tidur, Rosa menunjukkan kamar mereka untuk membaringkan Yola setelah menghidupkan lampu.
Pak Tian membaringkan Yola di kasur dan mencium pipinya, didekatkannya beberapa boneka yang ada di atas kasur ke samping Yola, dan segera keluar kamar.
" Udah malam, tidur ya,, saya pulang dulu." Sebelum berlalu di kecupnya kening Rosa yang tak jauh darinya, pak Tian pun pulang dengan menyetir sendiri mobilnya setelah terdengar pamit pada mas Pur dan mba Susan.
__ADS_1
Di ujung jalan ada yang memperhatikan kepulangan pak Tian, ternyata Ben mengikuti mereka dari kota tadi hingga sampai dikebun.