Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
Pertemuan yang mengharukan


__ADS_3

Perjalanan ke kampung Rosa membutuhkan waktu lima belas jam, karena berbeda kota dan Provinsi,


Mereka hanya berlima, istri pak Burhan tiba-tiba harus dilarikan kerumah sakit karena penyakit Diabetes yang sudah lama di idapnya, mau tak mau pak Burhan membatalkan perjalanan kali ini.


Pak Tian tidak bisa berbuat banyak karena situasi dan kondisi yang tak memungkinkan pak Burhan tak jadi ikut, akhirnya mereka memutuskan berangkat juga tanpa pak Burhan.


Mereka berangkat dari kebun setelah magrib, agar tiba di kampung Rosa besok pagi, pak Tian dan mas Pur bergantian menyetir agar tak terlalu capek.


****


Dengan Rosa sebagai penunjuk jalan mereka tiba di depan sebuah rumah yang sederhana, memiliki perkarangan yang luas, ada berbagai pokok buah-buahan yang sedang berbuah disana mengelilingi rumah, ada buah sawo, jambu air, rambutan, nangka dan masih ada lagi.


Rosa sejak tadi terlihat seperti kuatir , meremas tangannya sendiri, bahkan juga menggigit bibirnya, pak Tian yang melihat dari kaca spion merasa kasian.


" Ini kan Sa rumahnya, udah sampai nih " Pak Tian memarkirkan mobilnya dihalaman rumah, dan Rosa hanya mengangguk namun tak sedikitpun bergerak dari duduknya yang dibelakang pak Tian.


" Yuk Sa, kita turun " Mba Susan ikut bersuara.


Terlihat Rosa hanya menggelengkan kepalanya, sepertinya belum yakin dan siap bertemu orang tuanya.


" Oke, kita masuk duluan, kamu tunggu disini, gmn?" Mas Pur mencoba memberi saran agar Rosa bisa lebih Rileks sebelum bertemu mereka.


Tak ada jawaban dari Rosa, dia malah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Pak Tian dan mas Pur turun dari mobil, namun Yola malah teriak minta ikut.


" Antell,,, itutt, antel ituutt" Dengan suara ceprengnya teriak-teriak membuat pak Tian berbalik dan mengambil Yola yang masih di mobil bersama mba Susan.


" Mba ikut aja!" Mba susan turun juga dari mobil menggendong Yola.


" Ros,, mba pastikan semua baik-baik, kamu disini aja, tunggu ya." Mba susan berusaha menenangkan hati Rosa yang gundah.


Mereka berjalan beriringan menuju teras rumah orangtua Rosa, pintu depan terlihat terbuka dan terdapat beberapa pasang sendal disana.

__ADS_1


Pak Tian lebih dulu tiba di depan pintu, dan langsung mengetuk pintu.


" Permisi pak, permisi bu"


Seorang wanita dengan usia mungkin sudah lebih setengah abad menghampiri pintu dan merasa heran dengan kedatangan dua orang pria muda dan berdiri di pintu rumahnya, tapi ternyata bukan hanya berdua, ditemukan juga seorang wanita menggendong anak balita perempuan.


" Iya,, mau cari siapa pak?" Wanita tua itu bertanya.


" Ini rumah dari Orangtua Rosa? "


" Iya,," Dengan ragu wanita tua itu membenarkan.


Namun ada yang luar biasa terkejut dengan kehadiran Pak Tian dan Mas Pur di ambang pintu, apalagi menyebut nama Rosa, siapa lagi kalo bukan Ben, ibunya dan seorang pemuda yang mirip dengan Ben, bisa dipastikan itu adalah adik dari Ben.


Pak Tian dan mas Pur juga tak kalah terkejutnya melihat Ben berada di sana, namun masih bisa menutupi keterkejutan nya. Sementara mba Susan belum tau jika Ben ada di dalam.


" Silakan masuk dan duduk dulu, " Dengan masih bingung wanita yang tak lain mamak Rosa ini mempersilahkan masuk ke rumahnya.


Disana terlihat duduk seorang laki-laki tua tersrnyum ke arah mereka dan mungkin usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari mamak Rosa dan diketahui adalah Bapak Rosa.


" Eh Ben,, kamu juga ada disini." Mba Susan tidak bisa menutupi keterkejutan nya.


" Kalian saling kenal pa Yola? " Bu Rosni bertanya heran, ko bisa orang yang tak di kenal datang kerumahnya dan malah mengenal menantunya.


Yang di tanya serba salah, tak ada satupun pertanyaan yang di jawabnya, sepertinya dia berada di situasi yang tak bersahabat, apalagi dilihatnya pak Tian yang akhir-akhir ini membuatnya cemburu.


" Kenal bu, sangat kenal, kami diperusahaan yang sama hingga saat ini" Terlihat mba Susan sangat tenang namun mampu membuat Ben ketar-ketir, sementara adiknya yang tak tau apa-apa hanya terdiam, dan juga Ibu Ida mulai gelisah merasakan bakal ada yang gak sesuai rencana mereka.


" Kalo boleh tau, kami belum mengenal bapak dan Ibu dan perlu apa dengan kami dan ada apa mencari kami orang tua Ros?" Bu Rosni mulai bertanya tapi pandangannya tak lepas dari Yola, sepertinya di mengenali wajah itu, tapi siapa?, bu Rosni mencoba mengingat-ingat.


" Mbu,, nyenye,,," Tiba-tiba Yola yang dari tadi memperhatikan dan menunjuk ke arah bu Rosni menyebut kata Nenek.


" Ntar ya anak pintar," Mba Susan memberi pengertian ke Yola.

__ADS_1


" Bu,, maaf sebelumnya, perkenalkan saya Susan tetangga Rosa, dan sebagai kaka Rosa di sana dan dia suami saya, dan ini adalah pemilik perkebunan yang saat ini dimana kami dipekerjakan, dan ini Yola cucu ibu,," Dengan tenang mba Susan menerangkan.


" Hah,, Yola?, dari tadi sudah bertanya-tanya dalam hatiku, sepertinya aku mengenal anak ini, tapi ini wajah Rosa anakku waktu kecil," Bu Rosni mendekati mba Susan dan memeluk Yola.


" Mbu,, nyenye.." Yola dengan intonasi kata yang belum jelas dan pasrah di peluk bu Rosni.


" Bukan nenek, tapi opung Yola, opung ya nak" Mba Susan mengajari Yola untuk menyebut opung.


" Oppon" Yola menyebut ulang di pelukan bu Rosni.


" Iya nakku,, ini opungmu, mamamu mana nak, ko gak ikut?"


" Rosa ada ko bu, ada di mobil, dia takut ibu masih marah" Mba Susan jujur membuat bu Rosni terkejut dan sedikit berlari di ikuti mba Susan yang sebelumnya sudah memberikan Yola ke pangkuan Pak Tian.


" Anakku,," Dengan langkah cepat bu Rosni langsung ke mobil yang terparkir, ada tangisan kerinduan buat anak perempuannya.


Sementara Rosa yang melihat kedatangan mamaknya segera membuka pintu dan turun, dia hanya berdiri tertegun melihat kondisi wanita yang telah melahirkannya, berlari ke arahnya dan langsung memeluknya, ternyata tak ada kemarahan disana, yang ada hanya kerinduan.


" Mak,, maafkan aku " Hanya itu yang terucap dari mulut Rosa.


" Kenapa kau baru pulang nak, mamak sama bapak rindu" Di ciumi anak perempuan yang dirindukan ini, dan di tuntunnya masuk ke rumah.


Mba Susan yang melihat merasa terharu, hinga air matanya ikut jatuh melihat pertemuan mereka.


Rosa tak seragu tadi saat diajak turun dari mobil sama pak Tian, kali ini Rosa memasuki pintu dan mencari keberadaan bapaknya.


Rosa berlari dan terhenti di depan pak Sagala, dilihatnya laki-laki hebatnya hanya bisa duduk menunggunya, dan dengan air mata kerinduan di tekuk nya lutut nya agar bisa lebih sejajar dengan pak Sagala,


" Pak,, Ros pulang, maafin aku pak" Isakannya membuat pak Sagala ikut menangis, di elusnya kepala putri kesayangannya, dan berulang-ulang di ciuminya pucuk kepala Rosa, karena untuk berkata-kata saja saat ini pak Sagala tak sanggup.


Hanya keharuan yang terlihat, Ben yang melihat kedatangan Rosa di buat makin ketar-ketir, dan Ibu Ida yang makin gelisah saja duduknya, namun tak ada yang memperdulikan mereka saat ini, tapi bukan tidak diperhatikan, pak Tian mengawasi mereka, jika mereka memanfaatkan saat haru ini untuk kabur, karena dia yakin Ben punya rencana yang gak baik datang ke rumah mantan mertuanya.


Sementara Rosa belum juga menyadari keberadaan Ben di rumah orang tuanya, Rosa masih dengan kerinduannya memeluk pak Sagala cinta pertamanya, hingga saat Rosa berdiri ternyata ada orang yang di kenal dan sangat di kenal duduk dekat tak dengan bapaknya.

__ADS_1


" Kamu bang?"


__ADS_2