
Setelah telepon dari seberang terputus, Rosa menyesali perbuatannya yang telah membuat pak Tian hancur hancuran seperti saat ini, dan apa yang dilihatnya sulit untuk dipercaya, lelaki yang dulu selalu tampil rapi dan berpenampilan menarik kini tak lebih dengan orang yang frustasi berat, kelihatan kurus rambut tak terurus, brewokan, kumis yang dibiarkan tumbuh tidak teratur, awalnya Rosa tak mengenali namun saat melihat mata dan hidungnya pak Tian, baru yakin jika itu benar Heru Kristian yang dia Cintai.
Ternyata waktu enam bulan bisa merubah seseorang seperti Pak Tian, Rosa hanya bisa menangis melihat kondisi pak Tian sekarang.
Flashback
" Mama,, uncle mana?" Yola yang mulai jelas kosa katanya menangis mencari pak Tian selepas bangun tidur siangnya.
" Uncle gak ada,," Ucap Rosa yang kebingungan melihat Yola yang menangis kencang saat bangun tidur.
" Uncle tadi ada mama!"
" Dimana nak,, uncle tak ada, Yola mimpi ya?" Rosa mulai paham mungkin Yola memimpikan pak Tian dan mengira jika pak Tian ada bersama mereka.
" Uncle,, uncle,, hiks hiks hiks" Tangisan Yola makin menjadi dan mengundang perhatian beberapa pelanggan yang sedang berbelanja.
Ini bukan yang pertama, Yola sering menangisi pak Tian, apabila sudah bosan bermain sendiri kerap kali mencari pak Tian dan menangis memaksa Rosa harus mengutamakan Yola dulu dan menenangkan nya baru kembali pada pekerjaannya, itu sebabnya Rosa enggan untuk melamar kerja di perusahaan, mengingat Yola yang sering menanyakan keberadaan pak Tian, beruntung Rosa memilih membuka usaha Toko kelontong yang bisa dikelolanya tanpa harus meninggalkan Yola.
Tapi kali ini Rosa benar kewalahan menghadapi Yola yang menangis terus, mungkin selama ini tak pernah bermimpi tentang pak Tian, dan kali ini bermimpi tapi mungkin begitu nyata dalam ingatannya sehingga dikiranya pak Tian ada bersama mereka, padahal Rosa sudah memberi boneka dan mainan yang pernah dibelikan pak Tian , tapi masih saja menangis, Rosa tak tau harus berbuat apa, antara kesal, marah, bingung, kasian bercampur aduk, jangankan Yola dia sendiri sangat merindukan pak Tian.
" Yuk, sama uncle kecil aja," Parulian yang baru selesai mengantarkan pesanan muncul menghampiri ibu dan anak ini.
__ADS_1
" Hu,Hu,Hu,Hu" Yola masih terisak saat Lian mengambilnya dari gendongan Rosa, Yola tak menolak malah membenamkan wajahnya di pundak Lian.
" Udah ka, biar aja Yola aku yang jaga, kan udah kubilang dari dulu, dulu, dulu, dulu dan dulu dia itu rindu bang Tian, kaka yang terlalu egois" Parulian sedikit kesal dengan kaka sepupunya.
" Tau apa kau, sembarang," Rosa masih tak mau disalahkan.
" Iya, aku mungkin tak tau apa apa ka, tapi perasaan anak kecil tak bisa dibohongi, " Lian berusaha melembutkan hati Rosa.
" Akh udahlah,, bawa aja dia ke atas, gak ada lagi kan pesanan yang mau diantar?" Rosa mengalihkan pembicaraan mereka.
" Gak ada,, ya udah, Andi aja yang bantuin kaka menjelang tutup sebentar lagi." Ujar Lian dan berlalu menggendong Yola naik ke lantai atas.
Andi adalah pekerja mereka yang baru tiga bulan membantu mereka ditoko, setelah merasa kewalahan dengan situasi toko yang selalu ramai pembeli.
Rosa begitu ragu dengan perasaannya, antara ingin menghubungi pak Tian dan takut jika nanti dia tak dianggap lagi oleh lelaki yang dicintainya, Rosa berfikir keras apa yang harus dilakukannya.
" Tapi apakah nomornya kemaren masih aktif ya?" Rosa bertanya pada dirinya sendiri.
Dicarinya kontak pak Tian, dan segera dibuka blokiran nya selama enam bulan terakhir, namun masih ragu untuk menghubunginya, Rosa untuk sementara menenangkan hatinya dengan menyibukkan dirinya melayani pembeli bersama Andi pekerjanya.
Hingga malam menjelang saat makan malam sudah usai, Rosa menemani Yola yang sudah tidur terlebih dahulu, dipandangi nya putri semata wayannya yang tidur memeluk boneka pemberian pak Tian, Rosa lebih lega setelah Lian bisa menenangkan Yola dari tangisannya, tapi tak bisa dipungkiri jika dia sangat kasian dengan Yola yang hanya bisa menahan rindu pada orang yang sama sama dirindukan nya juga.
__ADS_1
Dengan tangan yang gemetar dicoba nya mengirim pesan WA ke kontak pak Tian.
" Hai,,, apa kabar kamu Her? Nomornya masih aktif ternyata."
Pesan terkirim dan langsung ceklis dua, dan tak lama ceklis nya langsung berwarna biru tanda pesan sudah dibuka.
Benar saja, pak Tian langsung menghubunginya membuatnya makin gemetaran, bingung dan takut jika pak Tian bertanya banyak hal, sehingga panggilan pertama di abaikan begitu saja berharap takan ada lagi panggilan selanjutnya setelah panggilan yang diabaikan sebelumnya.
Tapi panggilan yang kedua pak Tian masuk lagi ke ponselnya, Rosa berusaha menenangkan hatinya yang dag dig dug tak karuan, hatinya begitu cemas mau tak mau akhirnya digeser nya tombol hijau ponselnya dan menerima panggilan dari pak Tian.
Rosa hanya mampu menangis menyesali apa yang telah terjadi, hanya kata maaf yang terucap dari bibirnya, tak mampu rasanya bercerita pada Tian tentang Yola yang sering menanyai keberadaannya apalagi tentang kejadian hari itu saat Yola menangis lama karena memimpikan pak Tian, Rosa merutuki dirinya sendiri dan menangisi dirinya yang tak punya pilihan harus pergi meninggalkan pak Tian dulu.
Tangisnya makin menjadi setelah mendapat kiriman poto pak Tian saat itu, hampir tak dikenal inya sosok yang dulu selalu tampil maskulin, dengan penampilan yang sangat menarik tiba tiba berubah seratus delapan puluh derajat, awalnya Rosa tak yakin jika itu adalah Heru Kristian.
Dikiranya pak Tian akan baik baik saja setelah ditinggal pergi, namun kenyataan jauh dari pikirannya, lelaki tampan itu begitu sangat terpuruk dan hancur, tak pernah terpikir olehnya akan berakhir seperti itu.
Andai saja dulu dirinya tak se egois itu, dan mau bertahan bersama pak Tian, mungkin ceritanya akan beda tak seperti ini, tapi kini hanya penyesalan yang ada membuat Rosa merasa paling bersalah atas semuanya,
Rosa berjanji besok akan mengirim alamatnya yang saat ini ditinggalinya, tak tega rasanya membiarkan pak Tian terpuruk lebih lama lagi,
Flashback berakhir.
__ADS_1
" Maafkan aku Her, aku mencintaimu, ternyata kamu masih seperti dulu, dan ku kira kamu akan memakiku, kami merindukanmu, kami begitu menyayangimu," Ucap Rosa terbata dalam tangisannya.