
Pak Tian dengan lesu kembali ke paviliun, rasanya seperti tak punya tujuan hidup setelah Rosa pergi meninggalkannya tanpa kata, dia pikir setelah mendapat restu dari orangtua Rosa akan lebih mudah melangkah untuk mendapatkan restu kedua orangtuanya mengingat papanya dulu sangat menginginkan Rosa menjadi menantunya, tapi apa yang diharapkan berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, kali ini papanya yang enggan menerima Rosa dengan memberikan pertanyaan sederhana tapi malah membuat Rosa tersinggung dan pergi meninggalkannya.
Dilewatinya papanya yang duduk santai di teras depan dengan secangkir teh yang disiapkan mamanya, tanpa sepatah katapun pak Tian masuk dan langsung menuju kamarnya dilantai atas, namun sebelum ketemu tangga sudah berpapasan lagi dengan Greta yang baru keluar dari kamarnya, terlihat Greta memberikan senyum terbaiknya pada pak Tian namun hanya ditanggapi dengan tatapan tak suka, dan kembali dengan tujuannya ke kamarnya.
" Ka Tian,," Panggil Greta sedikit manja.
Pak Tian tak menoleh sedikitpun, dan berlalu begitu saja dari hadapan Greta, membuat Greta mengerucutkan bibirnya kesal karena dicueki pak Tian, dan pergi sambil menghentak hentakkan kakinya pergi keluar Paviliun, bukan tak didengar pak Tian suara hentakan kaki Greta, tapi dia tak begitu peduli dengan kehadiran Greta, apalagi melihat sikap Greta membuatnya makin yakin jika Greta tak pantas untuk dicintainya.
Baginya Rosa sangat berbeda, dia mampu menyembunyikan perasaannya, bahkan menjaga dirinya baik baik guna menghindari tatapan buruk orang lain karena statusnya, tapi papanya seperti sudah menutup mata dan ingatan, apa yang sudah diberikan Rosa pada perusahaannya dan sebegitunya dulu memuji dan menceritakan keistimewaan Rosa padanya berharap dirinya mau dan bertanya dan menginginkan Rosa menjadi menantunya.
Dihempaskan tubuhnya di sofa, masih kepikiran dengan Rosa, diambilnya ponselnya dan mencari nama Rosa disana, dan memulai panggilan, dan masih sama, panggilan tak tersambung, berulang dan berulang namun tetap sama tak ada jawaban, membuat pak Tian makin stress dan berulang ulang mengusap wajahnya, ditahannya emosinya agar tidak kelepasan.
" Saa,, kamu dimana?" Ucap pak Tian diantara ke galauan hatinya.
Cukup lama pak Tian tak berbuat apa apa, hanya bisa terdiam meratapi nasipnya yang tak baik, baru merasakan kebahagiaan, namun hilang hanya sekejap tak meninggalkan apapun, yang hanya tertinggal hanya poto poto bersama yola, sementara poto bersama Rosa tak satupun pernah ada mengingat Rosa juga berlaku hal yang sama karena takut akan tanggapan miring orang lain, dan pak Tian sangat menghargai itu dari seorang Rosa.
Terdengar notifikasi dari ponselnya dan dengan malas dibukanya kembali ponselnya yang tadi sempat di letakkan asal di sofa tempatnya duduk, ada pesan dari no baru dan segera dibacanya,
" Bang,, maaf ini Lian,,"
" Maaf bang, aku diam diam mengirim pesan ke abang, ka Rosa tak tau, tapi aku minta tolong abang juga, jangan sampe kaka tau aku chat abang"
" Aku gak tau apa yang terjadi antara abang sama kaka"
" Tapi aku lihat kaka sangat sedih, dan terus menangis sejak pergi tadi "
__ADS_1
" Saat ini kami masih di bus bang, aku tak bisa memberitahu abang tujuan kami kemana, aku takut kaka semakin menangis sedih"
" Yola juga nanyain abang terus, tiap ditanya kaka malah nangis, tapi sekarang Yola sudah tidur"
Terlihat satu poto yang dikirim menunjukkan Rosa yang memandang keluar jendela bus dan Yola yang sudah tertidur, keadaan di luar bus terlihat sudah gelap sementara di tempatnya masih terlihat sedikit terang dan baru akan gelap beberapa menit lagi.
Pak Tian benar tak menyangka jika Rosa nekad pergi meninggalkan nya, dia tak yakin kalau Rosa kembali ke kampungnya, dilihatnya jam di tangannya sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam, dan Rosa sudah hampir lima jam meninggalkan perkebunan.
Dicoba nya menghubungi nomor Lian yang baru mengabarinya, namun tak dijawab, berulang kali dihubungi tetap tak dijawab, pak Tian maklum, mungkin Lian takut Rosa tau, dan dengan cepat di ketiknya pesan dan dikirim ke Lian.
" Lian, jika kamu tak mengijinkan abang tau klian pergi kemana, abang minta tolong jagain kaka mu dan Yola ya, abang janji menyelesaikan masalah ini da membawa Rosa dan Yola kembali, abang tidak akan mengganggu klian, namun abang akan selalu ada kapanpun kamu hubungi,"
" Makasih sudah mengabari abang, abang bisa lega, dan tau klian baik baik saja"
" Tetap hati hati ya, kalo berkenan kabari abang jika klian sudah sampai"
Dia teringat tentang tiket yang sudah di boking nya tadi, haruskah dia kembali ke Amsterdam meninggalkan semuanya termasuk Rosa yang sudah menjadi separuh hidupnya saat ini, walau nanti disana dia bisa melupakan dengan kesibukannya, tapi bukankah dia sudah berjanji pada orangtua Rosa untuk menjaganya dan menjadikan istrinya, pak Tian bingung dengan dirinya sendiri, ternyata lebih rumit dari apa yang dibayangkan nya, tak semudah apa yang dipikirkan nya selama ini.
Kini hubungannya dengan papanya sedang tak baik, dan pak Tian tak ingin membahas apa apa lagi dengan papanya, sekarang dia mau fokus dengan tujuannya kemana, karena dia yakin tidak akan pernah menikahi Greta.
" Apa aku harus membatalkan tiket tadi ya?" Pak Tian menggigit sisi ponselnya sambil berfikir keras.
" Jika aku membatalkan, berarti aku harus mencari Rosa dimana keberadaannya, dan pastinya meninggalkan kebun ini, aku tak mau menikah dengan Greta, jika aku disini, tak menutup kemungkinan akan ada drama pemaksaan menikahi Greta yang tak kucintai" Pak Tian berbicara pada dirinya sendiri.
Pak Tian membatalkan tiket yang sudah di boking nya dengan pertimbangan yang sudah matang, dan segera mengumpulkan pakaiannya di koper, laptop dan barang barang berharga nya, dan malam ini dia harus pergi dari perkebunan papanya, setelah semua beres segera di seret nya koper dan turun ke bawah, tanpa memperdulikan panggilan mamanya yang sedang duduk di ruang depan dengan papanya.
__ADS_1
" Tian,,," Mama Maria memanggilnya namun Pak Tian diam saja, dan duduk di pintu sedang memasang sepatunya.
" Tian,," Ulang mama Maria dan sedikit menaikkan volume suaranya.
Pak Tian hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus ke sepatunya.
" Kamu mau kemana? Mau pergi dengan wanita itu, wanita yang rela meninggalkan suaminya demi harta dan laki laki bodoh sepertimu," Ucapan papanya yang kejam membuat pak Tian tak kuasa menahan amarahnya.
" Papa masih mengira Rosa bercerai karena aku? Kalo Rosa seperti itu kenapa tidak sedari dulu saat dia masih gadis? Kenapa harus bertahun tahun bekerja jadi karyawan papa? Kenapa harus Ruben jika dia mampu mencari yang lebih baik, pikiran papa sudah diracuni orang, mungkin Greta atau bisa jadi Ruben" Ucapnya membuat pak Musa tersentak kaget dengan tuduhan putranya.
" Darimana kamu tau Ruben?"
" Hahhh,,, berarti benar papa sudah bertemu Ruben,,ck ck ck,, papa, papa, hanya menebak saja aku sudah benar, sepertinya Ruben itu ingin dihajar Rosa untuk ketiga kalinya" Ujar pak Tian yang tak habis pikir tentang Ruben.
" Sudahlah, jika mau menjadikan Greta menantu, ya tak apa apa, iklas ko, tapi buat lagi anak laki laki papa untuk bisa dinikahkan dengan Greta, kalo aku tak sudi menikah dengan perempuan yang terlalu agresif, Rosa yang dulu papa kenalkan dengan hayalan ku sendiri adalah wanita yang nyata yang kutemui, wanita baik baik seperti papa ceritakan dulu, wanita yang pintar dan menghargai orangtua, itu yang papa mau dulu, jika dulu aku tak menanggapi bukan aku tak penasaran dengan Rosa, mungkin jalannya saja yang harus panjang untuk menemukannya, walau hanya janda dari Ruben, tapi aku mencintainya, seperti papa mencintai mama." Ada yang memaksa keluar dari pelupuk matanya dan akhirnya jebol air matanya jatuh juga, pak Tian begitu terpuruk saat cintanya terlepas begitu saja karena keegoisan papanya.
" Terus mau kemana?" Pak Musa masih bertanya karena kehilangan kata kata untuk menahan putranya.
" Kembali ke Amsterdam," Ucapnya berbohong.
" Tian, disini aja nak" Mama Maria tak ingin anak laki-laki satu satunya pergi lagi jauh.
" Tidak ma, buat apa disini, Rosa juga sudah pergi sejak siang tadi tak tau rimbanya, biar papa sadar, jika Rosa tak sedikitpun tergiur dengan satu pokok tanaman sawit papa, dia hanya pekerja yang punya loyalitas dengan tujuan memajukan perusahaan papa, tak lebih, jika aku mencintainya baginya itu hanya bonus." Pak Tian tak ingin berlama-lama lagi membahas hal yang tidak penting, dan berlalu ke arah Garasi.
Dikeluarkan mobilnya yang selalu digunakan jika membawa Rosa dan Yola, dan segera berlalu dari Paviliun setelah memasukkan kopernya terlebih dahulu.
__ADS_1
" Saa,,, aku merindukanmu"