
Sudah sebulan setelah Rosa memutuskan pergi dari perkebunan milik pak Musa dan meninggalkan pak Tian, Rosa memilih kota kecil di provinsi yang berbeda namun masih dipulau yang sama di pulau Sumatera, mereka mengontrak sebuah Ruko lantai dua, dengan modal tabungan yang Rosa punya dia membuka toko kelontong di ruko tersebut agar bisa sambil menjaga Yola, mengingat tak berniat lagi untuk bekerja di perusahaan.
Selama itu juga Parulian membantu Rosa dalam proses membuka usaha baru ini, dari merenovasi ruangan lantai bawah yang akan dijadikan tempat usaha hingga menyediakan barang barang sembako hingga semuanya kelar, dan untuk lantai atas mereka jadikan tempat tinggal mengingat lantai bawah seluruhnya dimanfaatkan untuk tempat usaha.
Hari pertama sampai ke tiga membuka usaha belum ramai, mungkin belum banyak yang tau, namun di hari keempat terlihat lonjakan orang orang yang berbelanja membuat Rosa dan Parulian sedikit kewalahan dan selalu terlihat sibuk, Rosa merangkap sebagai kasir dan Parulian yang menyediakan dan melayani kebutuhan pembeli.
Selama sebulan ini mereka bekerjasama, dan saling membantu, mereka tak mau terburu buru mencari orang mengingat usaha mereka masih baru dan masih bisa ditangani walau selalu repot, namun mereka mengakali nya dengan menjadwalkan waktu buka dan tutup, agar mereka tak terlalu capek setiap harinya, untuk pagi mereka akan mulai buka jam enam pagi, dan siang akan tutup sekitar tigapuluh menit sampai satu jam dan akan tutup kembali pada jam lima sore.
Awalnya pelanggan ada saja tak Terima dengan waktu yang terjadwalkan seperti itu, namun Rosa dan Parulian memberi pengertian jika mereka belum sanggup menambah orang untuk membantu di usaha kelontong yang masih baru dibuka, sehingga pelanggan pelanggan paham dan mengikuti jadwal yang sudah ditentukan oleh Rosa.
Malam ini Rosa dan Parulian sedang duduk di tikar kecil yang digelar dan menghitung keuntungan sejak memulai usaha membuka Toko kelontong mereka, ternyata setelah dihitung Rosa keuntungan yang didapat Rosa di bulan pertama dari hasil penjualan sangat lumayan, semua sudah bersih setelah terlebih dahulu menyisihkan kebutuhan kontrak ruko, air dan listrik, dan kali ini Rosa juga memberikan tiga juta buat Parulian.
" Ko banyak kali ka?" Parulian terkejut, melihat yang diberi Rosa uang tiga juta dirasa sangat kebanyakan.
" Udah, gak papa, kamu kan lebih capek dari kaka sejak mulai kita buka toko,"
" Oh iya nanti kalo bulan depan keuntungannya bertambah dari bulan ini kita harus cari orang buat bantu dan sepertinya kita juga butuh kendaraan agar barang kita lebih mudah sampai ke pelanggan" Ucap Rosa pada Parulian.
" Iya ka,, kita tak punya kendaraan satupun, motor aja tak punya, kemaren ada yang mau belanja katanya kalo bisa diantar mau berlangganan ke kita" Balas Lian.
" Kaka awalnya gak mikir kendaraan juga, tapi kalo nanti kita kredit apa bisa? Soalnya kita cuma pendatang disini dan KTP nya bukan disini,"
" Kalo kita beli yang bekas kontan duit kaka gak ada ya ka semuanya udah kaka buat ke modal, sewa ruko aja baru separuh kaka bayar" Ujar Lian perasaan terhadap keadaan Rosa yang baru merintis usahanya.
" Hmmm,, iya, ya mau gimana lagi, sabar aja dulu" Ucap Rosa sekalian menguatkan hatinya.
" Tapi tunggu, kayaknya ada yang kaka lupakan" ucap Rosa dan beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar menuju kopernya, dicarinya sesuatu dan ditemukan perhiasannya yang sudah lama disimpan, dan Parulian hanya melihat kesibukan Rosa yang membongkar isi dari koper.
" Dek, lihat kaka masih punya perhiasan, besok temani kaka menjualnya ke toko mas ya, kita beli aja mobil kecil bak terbuka yang bekas saja," Rosa begitu semangat setelah mendapatkan simpanannya.
__ADS_1
" Duit yang kaka kasih barusan aku pulangin dulu ke kaka, nanti bisa buat tambah tambah beli mobilnya, nanti urusan kebutuhan ku entah beli rokok aku minta ke kaka" Rosa tertegun dengan ketulusan adik sepupunya, yang selama sebulan terakhir jadi teman dan penolongnya.
" Terus buat peganganmu gimana dek?"
" Kan gak kemana mana ka, nanti kalo udah benar-benar dapat keuntungan banyak, nanti keuntungannya semua kasih ke aku" ucap Parulian bercanda.
" Bibirmu,,," Rosapun tertawa mendengar ucapan Lian.
" Udah pakai aja ka, kita cari yang murah, besok siang jam istrahat kita ke toko mas, aku temani kaka, abis itu kita ke showroom mobil bekas" Ujar Lian tak kalah semangat dari Rosa.
" Ka,,,"
" Ya,,,"
" Kaka gak kangen sama bang Tian?"
" Ka..." Lian memanggil Rosa di tengah lamunannya.
" Eh,, hmm iya rindu" Rosa yang terkejut tanpa sadar keceplosan, dan segera menutup mulutnya saat tersadar memandang ke arah Lian.
" Hahaha,, kaka ini lucu, suka kali menyimpan perasaan sendiri."
" Sok tau aja," Rosa mengerucut kan bibirnya menutupi rasa malunya.
" Taulah,, kaka sama abang itu saling cinta,"
" Cinta apaan? Kaka udah senang ko seperti ini."
" Senang itu beda sama bahagia, kaka senang sudah jauh dan terhindar dari orang-orang yang kaka rasa membawa masalah ke hidupan kaka, tapi kaka mengabaikan kebahagian kaka sendiri, ya sama aja bohong" Bicara Lian tiba-tiba terdengar dewasa.
__ADS_1
" Duhh dek,, tau apalah tentang kebahagiaan, udahlah prinsip kaka ya kalo gak diterima ngapain kita paksain, kita berhak dengan kebahagiaan diri kita sendiri."
" Lah,, emang kaka gak bahagia sama bang Tian?"
Rosa kembali terdiam, digigitnya bibirnya menyadari kekeliruan nya, keputusannya yang tidak melibatkan pak Tian, membuatnya menjauhi pak Tian dan memblokir semua akses komunikasi sehingga sampai detik ini tak diketahuinya seperti apa kabar dari pria yang masih dicintainya.
Jujur selama ini Rosa sangat bahagia dengan hubungannya dengan pak Tian, tak ada seingatnya perlakuan buruk di terimanya dari pak Tian, sejak awal pertemuan hingga terakhir bertemu, pak Tian begitu baik, perhatian dan selalu jadi orang terdepan ketika Rosa dalam masalah, dan telah berjuang memperbaiki hubungannya dengan kedua orangtuanya.
" Ko kaka nangis?" Rosa buru buru mengusap air mata di pipinya, tak sadar air matanya jatuh bebas dari pelupuk matanya.
" Ihhh,,, semua aja diperhatiin " Rosa mencebikkan bibirnya ke arah Lian.
" Kaka yang terlalu melow,, terlalu cinta sama bang Tian, tapi munafik seolah bang Tian gak penting"
" Sembarangan "
" Hahaha,,,"
" Udah ah,,, sana tidur, besok kerja" Rosa menghindari pembicaraan mereka tentang pak Tian, dia beranjak dari duduknya dan membawa kembali uang yang tadi diberikan Lian padanya.
" Okee,, tapi kaka baik baik aja kan?" Lian sedikit kuatir karena tadi melihat air mata Rosa.
" Baiklah,," Ucap Rosa pada adik sepupunya ini. "ya sudah, jangan lama bangun ya besok,"
" Oke ka,," Jawab Lian dan memasuki kamarnya, karena tak mau membantah kakanya.
Rosapun memasuki kamarnya, dan menyimpan uang dan perhiasan ke kopernya lagi karena belum sempat membeli lemari untuk tempat menyimpan pakaian atau barang berharganya.
Dihampiri Yola yang sudah sedari tadi tidur di kasur busa tipis yang dibelinya setelah mendapatkan kontrakan.
__ADS_1