Cinta Karena Cerita

Cinta Karena Cerita
kita nikah


__ADS_3

Rosa membawa tiga gelas teh hangat dan setoples cemilan, teh diberikan pada pak Tian dan parulian yang ikut duduk di tikar dimana tadi Rosa dan Yola duduk.


" Minum her!" Dengan senyum manis Rosa memberikan teh pada pak Tian.


" Makasih Sa,," Ucap pak Tian yang sedang menciumi pucuk kepala Yola yang sedari tadi tak mau melepaskan pelukannya dari pak Tian.


" Abang tinggal dimana selama ini?" Tanya Lian yang heran baru dia hari yang lalu dikasih alamat, hari ini sudah sampai, sementara jika pak Tian tinggal di perkebunan papanya butuh waktu sehari semalam untuk sampai di tempat mereka tinggal saat ini.


" Tinggal di kota B, hanya enam jam dari sini, kerja di pertambangan timah setelah memutuskan pergi dari kebun papa, Kemaren sih sempat memutuskan buat kembali ke Amsterdam, tapi akhirnya tiket yang udah ku boking aku batalin karena kepikiran sama Yola," Jawab pak Tian tersenyum getir mengingat apa yang terjadi enam bulan lalu.


" Sempat abang kembali ke sana, entah bila bila abang pulang lagi yakan," Parulian bicara tapi matanya mengarah ke Rosa, membuat Rosa merasa tujuan kalimat itu ke dirinya.


" Loh,, ko mandang aku?" Ucap Rosa merasa kikuk.


" Kaka merasa juga?" Lian terkekeh melihat tingkah kaka sepupunya.


" Kalo jadi ke sana, kemungkinan besar tak kembali lagi ke Indonesia," Pak Tian menjelaskan.


" Selamat tinggallah sama kaka ya kan" Jawab Lian lagi dan lagi memandang Rosa membuat Rosa jengah dan mencubit paha Lian dengan kuat, terdengar suara Lian menjerit kesakitan.


" Kaaaa,,, ihhh sakit tau ka,, sadis kalilah kakaku ini!" Ucap Lian lagi sambil mengelus elus pahanya yang dicubit Rosa.


" Rasain" Rosa sedikit kesal dengan Lian.


Pak Tian ikut terkekeh melihat Rosa dan Lian.


" Gimana kabar ibu Sa?" Sambil menyesap teh yang dibuatkan Rosa pak Tian teringat dengan orangtua Rosa yang tinggal sendiri di kampung.


" Baik, mungkin dalam waktu dekat mamak akan berkunjung kesini, katanya tunggu padinya dipanen dulu," Lanjut Rosa.


" Ohh,, ibu bertani ya disana?" Pak Tian sangat salut dengan orangtua Rosa yang masih mau bekerja keras tanpa mengharapkan dari anak-anak nya.


" Iya,, katanya biar bisa sibuk tak memikirkan bapak terus" Rosa menekuk wajahnya setiap mengingat tentang bapak.


" Maaf Sa, jadi buatmu sedih" Pak Tian jadi merasa bersalah pada Rosa karena melihat air muka Rosa yang berubah.


" Gak papa her, kadang teringat aja sudah nyusahin bapak di hari tuanya"

__ADS_1


" Lah kapan kaka nyusahin, bapak menyayangi kaka, hanya saja orang yang tak bertanggungjawab memanfaatkan keadaan." Jawab Lian tak suka kakanya menyalahkan diri sendiri.


" Iya Sa, berhenti menyalahkan diri sendiri, kamu berhak bahagia!" Pak Tian menimpali.


Kali ini Rosa tersenyum mendengar ucapan Pak yang dirasa selalu mendukungnya dalam situasi apapun.


Mereka bertiga saling bertukar cerita tentang apa yang mereka sudah lewati selama enam bulan terakhir, tanpa mereka sadari Yola pun sudah tertidur di pangkuan pak Tian.


" Sa,,, Yola tertidur nah" Posisinya memeluk tangan Pak Tian, seolah takut ditinggal.


" Ya ampun, tanganmu sampai dipeluk erat gitu" Ucap Rosa dengan membulat kan kedua bola matanya.


" Sepertinya dia benar takut kehilangan lagi ka" Lian pun ikut berkomentar.


" Ya udah,, pindahin ke kamar aja her, biar kita makan malam, pasti kamu sudah lapar kan?" Rosa beranjak menuju kamar yang tak jauh dari ruangan TV di ikuti oleh pak Tian.


" Iya, tadi makan jam sepuluh, malas aja minta supir berhenti jadi bawa tidur aja" Ucap pak Tian jujur jika sekarang dia merasa lapar.


" Ko gak ngomong tadi, kan bisa kita tadi langsung makan, gak ngeteh," Ujar Rosa sambil menyiapkan kasur tipis yang selalu digunakan buat tidur dirinya dan Yola.


" Masih bisa ditahan ko Sa," Pak Tian meletakkan Yola dengan hati hati agar tak terbangun.


" Boneka darimu,, gak boleh di cuci, bisa nangis tujuh hari tujuh malam kalo diancam aja mau dicuci, apalagi kalo tak melihat ini," Rosa mencium pipi Yola sebelum meninggalkan nya lagi.


" Kasiannya " Pak Tian pun akhirnya mencium pucuk kepala Yola sebelum keluar dari kamar.


Parulian sudah sibuk mengangkat makanan ke tikar, saat Rosa dan pak Tian keluar dari kamar, semua sudah tersedia.


" Ka,, makan yuk, udah lapar aku,," Ucap Lian yang tak sabaran.


" Iya,, " Rosa pun duduk tak jauh dari pak Tian di tikar yang sama dan mulai menyendokkan nasi ke piring dan memberikannya ke Pak Tian dan parulian, baru setelahnya untuk dirinya sendiri.


Terlihat parulian juga menuangkan air minum ke gelas dan memberikan ke pak Tian dan Rosa.


" Tuh pilih aja lauknya,," Rosa menunjukkan beberapa lauk yang di masaknya sore tadi, ada ayam goreng sambal ijo, ikan asin goreng lengkap sambal tuktuknya, dan rebusan sayur bayam, membuat lidah ikut bergetar karena nikmatnya.


" Kamu yang masak Sa?" Tanya Pak Tian dan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.

__ADS_1


" Gak,, catering " Jawab Rosa sambil tersenyum lebar.


" Kaka yang masak bang," Lian tak suka Rosa berbohong.


" Segar Sa, makan rebusan tapi ada sambelnya gini, ikannya lagi kriuk kriuk, kayak kerupuk, sedap" Komentar pak Tian yang sangat lahap makan.


Rosa mengira pak Tian akan memilih ayam sambalnya ternyata memilih ikan asin, entah sejak kapan pak Tian menyukai menu seperti itu, Rosa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pak Tian bertambah tambah makannya, mungkin karena lapar juga, tapi setidaknya dia pasti menyentuh ayam sambal itu juga.


Beruntung Rosa menambah memasak nasi sore tadi, mengingat parulian yang sering makan ditengah malam ketika menonton bola, daripada makan mie instan yang tak sehat makanya Rosa selalu menyisakan nasi diwaktu malam, jika malamnya tak dimakan Rosa dengan sabar mengolahnya lagi besok pagi menjadi nasi goreng untuk sarapan mereka bertiga.


Mereka menyudahi makannya setelah semua habis dan hanya bersisa ayam sambal dua potong, Rosa segera membereskan bekas makan mereka di bantu Lian mengangkat ke wastafel.


" Kalo mau bergadang nonton bola lagi nanti, naikkan lagi nasinya ke Rice cooker Lian, itu lauknya masih ada dua potong lagi." Ucap Rosa sambil menyapu tikar yang mereka duduki saat makan tadi.


" Iya ka,," Lian langsung mengerjakan apa yang disuruh kan Rosa, karena rencananya juga malam ini akan menonton bola.


" Her,, kamu tidur bareng parulian aja ya dikamar sana," Rosa menunjukkan kamar yang ditempati Lian.


" Tidur bareng kamu juga boleh" Goda pak Tian membuat wajah Rosa memerah.


" Huss,, dengar Lian " Rosa merasa risih dengan ucapan pak Tian.


" Hahaha,,, tidur barengnya kalo udah sah lo Sa, makanya kita nikah!"


" Kita nikah, tapi kan bukan cuma kita berdua, keluarga juga perlu tau."


" Papaku tak perlu tau Sa," Masih terlihat gurat kekecewaan di wajah pak Tian.


" Gak boleh seperti itu, mereka juga akan jadi orangtuaku nantinya jika kita menikah.


" Aku gak mau Sa, kamu diperlakukan tak baik sama papaku, asal kamu tau Sa, kemaren sebelum kamu bertemu papa dan mama di paviliun, ternyata Ben bertemu terlebih dahulu dengan papa, dan memfitnah kita lagi."


" Apa?, Ruben?"


" Iya, makanya papa bicaranya seperti itu, akupun malas menjelaskan pada papa karena aku tau papa pasti tak mempercayai ku, makanya aku ikut pergi hari itu juga meninggalkan papa dan mama di perkebunan."


" Heran,,, udah dianggap tak adapun masih aja cari cari muka,," Ucap Rosa kesal.

__ADS_1


" Sudahlah, jalan keluar nya kita nikah, agar mereka tak punya peluang buat memfitnah kita terus." Ujar Pak Tian dan memandang Rosa menunjukkan keseriusannya.


Rosa hanya bisa tertegun mendapat tatapan yang penuh harapan padanya.


__ADS_2