
Akhirnya mereka tiba di perkebunan sudah sore, setelah mengantar Rosa, Yola, Parulian, Mas Pur dan mba Susan ke perumahan, pak Tian langsung pulang ke paviliun.
Tiba di Paviliun pak Tian sungguh terkejut tapi sangat senang melihat mama dan papa nya ada disana seperti memberi kejutan, karena sebelumnya tak ada pemberitahuan padanya jika orangtuanya akan datang hari itu.
"Pa, ma,,,,,," Pak Tian tak bisa menutupi keterkejutan nya di balik kerinduan yang sudah lama tidak bertemu saat melihat pak Musa dan mamanya duduk ngeteh di sofa ruangan depan Paviliun.
" Hmmm,,, " Pak Musa hanya menggumam sambil menyeruput tehnya, mama Maria mengalihkan pandangan dari majalah ke arah putranya yang baru datang dan tersenyum.
" Udah lama ma?" Pak Tian menyalami dan mencium pipi wanita yang telah melahirkannya ini.
" Sejak siang tadi, kamunya kemana, ditelponin ko malah gak diangkat?" Mama Maria bertanya ke anak sulungnya.
" Iya ma, tadi nyetir gak tau kalo mama telpon." Pak Tian mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan melihat benar banyak panggilan dari mamanya,
" Oohhh pantes, nada dering nya gak ada" Ucap pak Tian sambil menepuk jidatnya, dan ponsel dimasukkan kembali ke sakunya.
" Katanya kamu liburan?" Pak Musa pun ikut bertanya.
" Ehh,, iy,,iya pah,, biar gak gila ngurusin kebon papa nih,," Ucap pak Tian asal dan duduk disamping oak Musa.
" Loh ko gila, bukan nya kamu menikmati pekerjaan kamu di perkebunan papa? Buktinya gada pernah kasih kabar ke papa juga mama." Pak Musa menjawab ucapan putranya, karena sudah tiga bulan putranya jarang mengabari keadaannya di kebun, biasanya anaknya tak seperti itu, mereka paham jika putranya sangat bekerja keras demi tercapainya target yang diberikan padanya sehingga tidak terlalu sering mengabari mereka.
Dan sungguh memuaskan, dari neraca pendapatan per tiap bulan mendapatkan kenaikan, bahkan tahun ini naik beberapa persen dari tahun-tahun sebelumnya, sangat terlihat kesungguhan anaknya dalam mengelola perkebunan.
" Papa sok tau,,, anak tampan papa ini harus merelakan ketampanannya jadi sia-sia demi memajukakan perkebunan papa ini." Pak Tian sedikit bergaya di depan papanya, membuat pak Musa terkekeh melihat tingkah anaknya.
" Makanya, kamu tuh nikah, biar gak sia-sia ketampanan kamu itu, pulanya mamamu itu dah pingin punya menantu!"
" Loh ko mama,, bilang aja papa yang pingin punya cucu" Ucap mama Maria yang membuat pak Musa makin terkekeh.
__ADS_1
Mama Maria hanya tersenyum melihat anaknya tersipu malu, dan tak diduga sudah berdiri seorang gadis di dekat mama Maria, dia Greta.
" Ka Tiannn" Greta seperti tak percaya bertemu pak Tian, tak sungkan langsung di hampiri dan di peluknya pak Tian membuat pria tampan ini risih.
" Kamu ngapain disini?" Pak Tian terkejut dengan keberadaan Greta di Paviliun mereka dan mendapatkan pelukan yang dirasanya terlalu berlebihan.
" Ohhh,, itu, tadi saat masih dikota mama sama papa singgah dibutiknya, ya udah mama ajakin aja sekalian." Ujar mama Maria menjelaskan.
" Hhmmm,, gimana sama butik nya?" Pak Tian seperti kurang senang Greta ada di Paviliun bersama mereka.
" Tenang aja ka, ada yang jagain ko"
" Ohh gitu,, ya sudah saya naik dulu, mau mandi" Pak Tian beranjak dari duduknya, moodnya tiba-tiba rusak dengan kehadiran Greta.
" Loh ka Tian ko malah pergi?" Greta dengan manja menarik tangan pak Tian.
" Lagi capek, mau istrahat,,"
" Gak ah, gak usah." Pak Tian makin tak nyaman aja dengan Greta yang dianggapnya terlalu sok dekat padanya.
Mama Maria dan pak Musa cuma bisa geleng-geleng kepala melihat pak Tian dan Greta, terlihat anaknya tak begitu suka dengan Greta anak dari sahabat lama mereka.
Pak Tian berlalu dan naik ke kamarnya, kesal hatinya melihat Greta yang mau saja diajak mamanya ikut ke perkebunan, pastinya akan membawa masalah padanya, padahal pak Tian berniat memberi tahu tentang hubungannya dengan Rosa pada mama papanya, eh malah Greta di ajak juga.
Dengan malas, pak Tian pergi membersihkan dirinya, dengan berlama-lama dikamar mandi membuatnya lebih bisa menenangkan pikiran nya yang baru saja di usik dengan keberadaan Greta.
Pak Tian menyelesaikan acara mandinya dan keluar dengan handuk terlilit di pinggangnya, tak taunya Greta sudah ada di kamarnya.
" Ngapain kamu disini? Sana, apa tak punya pikiran kamu, main masuk saja," Ucap pak Tian kesal.
__ADS_1
" Ihhh,, kaka ko gitu, tadi udah ijin ko sama tante Maria," Ucapnya manja yang malah membuat pak Tian tambah eneg melihat Greta.
" Bukan berarti kamu itu sembarangan masuk, sana keluar saya mau pakai baju" Dengan wajah kesal didorong nya Greta keluar dari kamar nya.
" Udah gak bener ini" Omel pak Tian sambil mengunci pintu.
Segera di carinya pakaiannya dan memakainya, hatinya begitu jengkel, baginya Greta terlalu berani masuk ke kamarnya tanpa sepengetahuan nya, pak Tian kembali turun dan menemui papa mamanya yang masih di ruangan dimana dia meninggalkan mereka tadi.
Terlihat juga disana Greta yang cemberut lagi di bujukin mama Maria.
" Udah,, itu si Tian tante nanti yang bilangin" Ucap mama Maria lembut.
Pak Musa mslah cuek aja seperti tak mau tau apa yang sudah terjadi.
" Mama apaan sih, orang lagi mandi pun ?" Tiba-tiba pak Tian sudah duduk kembali disamping pak Musa dengan bersidekap tangan di dadanya.
" Nak, Greta itu tamu loh, masak cuma masuk ke kamar kamu aja semarah itu?" Mama duluan protes tentang perlakuan anaknya.
" Lah,, bukan marah ma,, tapi kesal aja, main nyelonong aja, mana aku baru keluar dari kamar mandi cuma pakai handuk,"
" Itu aja dimasalahin, udah ah, " Mama Maria tak mau memperpanjang masalah yang dirasanya terlalu dibesar-besarkan pak Tian.
Pak Tian masih menunjukkan kekesalannya, terlihat ada ketidak sukaan pada Greta yang dirasanya terlalu berani, bahkan didepan kedua orangtuanya, tapi malah mamanya tidak ambil pusing, membuat rusak moodnya yang sebelumnya sangat senang akan kedatangan papa mamanya.
" Kita makan aja yuk" Pak Musa menarik tangan pak Tian mengajak anaknya ke dapur tanpa memperdulikan kekesalan anaknya.
Yang ditarik menurut saja karena dia juga merasa lapar, ternyata bu Titik sedang menyiapkan makan malam di meja saat mereka tiba di dapur, tak lama mereka duduk disusul mama Maria dan Greta ikut bergabung.
Seperti merasa tidak bersalah Greta malah duduk di samping Pak Tian, membuat pria tampan ini menarik nafas panjang dan mengeluarkan lagi secara kasar, dia mungkin heran ko bisa bertemu dengan gadis yang agresif seperti ini.
__ADS_1
Malas protes, pak Tian mengisi perutnya tanpa bicara, percuma juga bicara malah bikin tambah jengkel hatinya.
" Duluan ya ma, pa,,, capek mau istrahat duluan" Pak Tian menyelesaikan makannya, tanpa menunggu jawaban berlalu meninggalkan orangtuanya yang saling pandang menatap anaknya yang berlalu.