
" Sayang kamu lapar ya?" Tanya Pak Tian saat mereka memasuki kamar.
" Belum,, cuma mau istrahat, capek banget." Ucap Rosa yang menyeret baju pengantinnya yang menjuntai panjang ke lantai.
" Ya udah, aku telp ke bawah biar makan malamnya aja diantar selepas magrib nanti," Ujar pak Tian dan langsung menghampiri telepon dan menghubungi petugas hotel, jika siang ini tak perlu mengantar makan namun makan malam lebih awal diantar nantinya.
" Mau dibantu?" Pak Tian menawarkan diri membuat Rosa memandang ke arah suaminya.
" Kan lihat sendiri butuh bantuan, ko nanya lagi?" Dengan bibir manyun Rosa menjawab pak Tian.
" Gitu aja marah,, minta cium kayaknya ini," Pak Tian terkekeh menggoda Rosa.
Rosa hanya diam tak menanggapi ucapan pak Tian, dan mulai membuka kancing bajunya satu persatu, dan dengan sabar pak Tian ikut membantu Rosa menanggalkan pernak pernik yang menempel di rambut dan tubuh Rosa, termasuk kebaya yang membalut tubuh cantik Rosa dan meninggalkan kemben dan celana leging selutut.
" Berat juga,, pantes papa kasian liat kamu,," Pak Tian mengangkat kebaya pengantin yang dipakai istrinya Rosa.
" Jadi kamu pikir itu cuma sekilo gitu?" Rosa sambil membuka printilan yang ada dikepalanya, terkadang terlihat menjerit kecil karena sakit dengan penjepit penjepit kecil yang diselipkan di rambutnya.
Pak Tian yang melihatnya kembali menghampiri Rosa dan membantunya merapikan rambut yang tadi disasak dan di bentuk cantik oleh Hairdo profesional yang dipilih oleh mamanya, membuat cantik sempurna di hari bahagia mereka saat ini.
" Duluan ya mandinya,," Ucap Rosa pada Pak Tian yang kini sudah sah jadi suaminya.
" Mandi bareng,," Pak Tian dengan genit menggoda Rosa.
" Gak ah,, sendiri sendiri aja," Rosa menolak dengan sisir yang masih ditangannya merapikan rambut kusut nya.
__ADS_1
" Sayang malu ya,,?" Pak Tian masih menggoda Rosa.
" Kamu tuh ya,,," Rosa meletakkan sisir di meja rias dan mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket meningggalkan pak Tian yang masih berharap diajak mandi bareng sama istrinya.
" Ko ditinggalin?" Pak Tian menjatuhkan tubuhnya di kasur king size dikamar tersebut.
Sebenarnya hati Rosa lagi tak karuan, dia merasa Grogi dengan situasi saat ini, hanya berduaan dengan pak Tian yang sekarang telah menjadi suaminya, Rosa begitu bingung memulai dari mana, bukan tak ingin bermanja manja, namun takut dikira terlalu agresif dari suaminya sendiri.
Cukup lama Rosa di kamar mandi, hingga dirinya tersadar dengan suasana sepi, biasanya pak Tian akan sibuk jika dirinya terlalu lama melakukan sesuatu, dengan segera Rosa menyudahi acara mandinya dan keluar melihat situasi dalam kamar mereka, takut pak Tian pergi keluar dan tak mengunci pintu.
Ternyata pak Tian ketiduran, membuat Rosa tersenyum lega, dengan masih memakai stelan kemeja pakaian pengantin tadi, pak Tian masih terlihat tampan dengan rahang yang tegas, membuat siapa saja segan dan hormat padanya.
Rosa masih menggunakan handuk yang melilit tubuhnya, saat pak Tian terbangun dan menyadari jika istrinya sudah selesai mandi dengan mencium wangi lembut khas wangi baru mandi, membuat pak Tian terpana dengan penampilan istrinya yang seksi dengan handuk terlilit dikepala, yang akhirnya pak Tian menghampiri Rosa yang akan mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
" Aku berpakaian dulu," Rosa berusaha ingin melepas pelukan pak Tian karena merasa risih.
" Gak usah, ini perintah," Dengan mendominasi pak Tian masih memeluk Rosa.
" Mandi dulu gih, biar seger,," Rosa masih berusaha menghindar, sementara jantungnya sudah berdegup kencang.
" Jangan banyak alasan,,, kita udah sah," Pak Tian mulai mencium leher jenjang Rosa, membuat Rosa merasa tak bisa berbuat apa apa lagi untuk menolak.
Pak Tian membalikkan tubuh Rosa agar menghadap padanya, tanpa menunggu lama pak Tian mulai mencium dan ******* bibir Rosa dengan rakus, awalnya Rosa begitu kaku namun kini dia mengimbanginya, dengan berani mulai membalas pagutan demi pagutan dari pak Tian, hingga mereka merasa kehabisan nafas.
Dengan ciuman yang makin panas, gunung kembar Rosa pun tak luput dari remasan tangan pak Tian, membuat Rosa semakin menjadi seperti tak memikirkan lagi kecanggungan nya beberapa saat lalu, hingga tubuh mereka polos mereka tak menyadarinya sama sekali.
__ADS_1
Akhirnya mereka melakukan penyatuan, dengan cinta dan kasih sayang yang tulus, Rosa memeluk tubuh suaminya pak Tian, sementara pak Tian terus mengecup kening dan pucuk kepala Rosa dengan sayangnya, hingga pak Tian melakukan pelepasan benih cintanya kerahim Rosa berharap benihnya jadi Tian junior di kemudian hari.
Dengan tubuh yang ditutupi selimut, pak Tian memeluk tubuh istrinya dan berulang-ulang mencium kening Rosa.
" Makasih ya sayang,,"
" Hmm,," Rosa hanya bergumam sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
" Loh ko cuma hmm,, terus ko wajahnya ditutupin gitu?" Pak Tian merasa lucu dengan tingkah Rosa.
" Malu akhh,,," Ucap Rosa yang memang merasa malu, disiang bolong seperti ini melakukan hubungan suami istri, walau dulu sudah pernah menikah, tak pernah sekalipun Ben menggauli nya jika tidak malam hari.
" Hahaha,,, emang kenapa? Toh kita udah sah juga, terus kita melakukan nya tanpa dilihat orang, terus malu sama siapa sayang?" Pak Tian tertawa melihat sikap Rosa yang dirasanya sangat lucu dan menggemaskan.
" Tuh kan,,," Rosa melepaskan tangannya dari wajahnya, dengan cemberut dan wajah yang memerah Rosa memandang manja ke arah suaminya.
Tapi bukannya kasian pada istrinya, malah kembali menghujani Rosa dengan ciuman ciuman mesranya, pak Tian begitu gemas setiap melihat wajah manja istrinya.
Rasanya tak bosan bosan menikmati tubuh Rosa yang baru beberapa jam lalu sah menjadi istrinya, dan Rosa pun hanya bisa pasrah bukti betapa cintanya dia pada pak Tian, Rosa ingin memberikan seluruh hidupnya untuk melayani suaminya.
Hingga menjelang magrib, pak Tian sudah tiga kali melakukan pelepasan, membuat tubuh Rosa kelelahan dan tertidur pulas, pak Tian pun baru beranjak meninggalkan Rosa saat dirasakan tubuhnya sangat lengket dan harus dibersihkan, di ciumnya pucuk kepala Rosa sebelum meninggalkan ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya dengan mandi di bawah shower, terlihat gurat bahagia di wajahnya, dengan bersiul siul kecil pak Tian begitu bangga karena keperjakaannya diberikan pada istrinya.
" Jadi junior kecil ya,, biar gak sia sia!" Gumamnya dalam hati tapi dengan senyum mengembang.
Pak Tian keluar dari kamar mandi dan sekarang sudah terlihat lebih segar, segera dipakainya pakaian tidurnya, dan terdengar suara bell berbunyi membuat pak Tian segera menghampiri pintu dan mendapati pelayan mengantarkan makan malam mereka.
__ADS_1